
Jangan lupa bantuan LIKE dan VOTE-nya ya guys, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Kuala Lumpur
"Hallo, Aiman," ucap Datuk Emran begitu telepon tersambung.
"Ya siap, Datuk," jawab Aiman.
"Ai dengar kabar, budak tu dah menyusul ke Stockholm." Datuk Emran mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan pena.
"Sape Datuk? Perempuan tu?" Aiman terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Iyelah, sape lagi. Budak tu datang bersama pemuda bernama Dega, teman Adrian. Sekarang mereka dah stay di hotel yang sama dengan korang!" sambung Datuk Emran.
"Jadi ape perintah Datuk tuk saye?" Aiman bersiap dengan perintah selanjutnya.
"Tak de ape-ape. Korang awasi saje die. Nanti ai kabari lebih jaoh." Datuk Emran mengakhiri teleponnya.
Ia lantas meraih sebuah foto di atas meja.
Rupa-rupanye yu nak kenal dengai ai, ye Tuan Sakamoto ...! Okelah, kalau macam tu!
πππ
Sutra baru saja kembali ke kamarnya. Hanya sepuluh menit ia menemui Aiman dan yang lain. Ia beralasan kalau Kama sedang kurang fit lalu meminta Aiman membelikan vitamin booster untuknya dan Kama.
Sutra juga tak lupa memesan makanan untuk mereka berdua di antar ke dalam kamar. Sambil menikmati makan malam di atas ranjang, Sutra menceritakan pertemuannya dengan Dega di loby hotel serta kehadiran Chelsea bersama dengan Dega.
Apa? Chelsea?
"Kamu gak lagi becanda kan, Mas?" Kama menghentikan makannya setelah mendengar nama Chelsea. Ia jadi teringat dengan ancaman Chelsea padanya saat di telepon waktu itu.
Gue bakal bikin kenangan baru bersama Adrian. Dan gue pastiin dia akan gantian ngelupain lo? , ucapan terakhir Chelsea di telepon.
"Enggak, aku serius, Babe," saut Sutra.
"Dega bahkan minta ketemu lagi sama aku malam ini. Ada hal penting yang mau dia ceritain," sambung Sutra.
Duh, aku harus apa? Aku gak mau Chelsea melakukan apapun dengan Mas Adrian. Tapi aku juga gak mau kelihatan cemburuan, nanti dia malah ge-er.
Chelsea memang gila. Dia bahkan bisa cari kami sampai ke sini, padahal Abah sudah atur rencana besar untuk kami lari. Siapa sih sebenarnya Chelsea ini? Kok dia bisa temukan kami?
Kama bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak bisa menganggap remeh soal Chelsea. Tapi juga tidak mau berubah protektif pada suaminya.
"Yaudah kamu ketemu aja sama dia, Mas," ucap Kama terpaksa.
"Kamu serius, Babe? Gak apa-apa aku tinggal sendiri di sini?" tanya Sutra heran.
Mana mungkin aku tinggal kamu sendiri, Babe ...
"Iya, gak apa-apa kok. Siapa tau Dega lagi dalam masalah dan butuh bantuan dari kamu, Mas." Kama berusaha menjawab setenang mungkin.
"Oke, kalau gitu." Mereka lantas melanjutkan makannya hingga selesai.
Selesai makan, Sutra memindahkan piring mereka ke meja tamu di luar kamar. Ia lalu naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Kama dari belakang.
"M-mas ..., itu aku masih berasa sakit. Jangan sekarang ya ..." Kama menangkap gelagat Sutra ke intinya. Ia menolak dengan halus.
"Ha? Hahaha ..." Sutra terkekeh dan melepas pelukannya.
"Enggak, Babe. Aku cuma mau peluk kamu. Emang kalo di peluk, itunya sakit juga?" Ternyata niat Sutra bukan untuk mengulangi penyatuan mereka.
Huuuuh, kirain.
Kama tersenyum. Ia lantas berbalik menghadap Sutra lalu merebahkan kepala di atas dadanya, masuk dalam dekapan lengan kekar suaminya.
"Babe ...," panggil Sutra
"Hem ...," saut Kama.
"Menurut kamu kita perlu cerita ke Aiman gak soal Chelsea?" tanya Sutra.
Kama belum menjawab, tapi Sutra sudah melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku memang gak tau apa niat dia sama aku, Babe. Tapi aku khawatir dia ngapa-ngapain kamu."
Justru aku yang khawatir sama kamu, Mas.
"Jangan khawatir, Mas. Aku gak takut kok sama dia," ucap Kama.
"Cuma aku heran aja, dari mana dia sampai tau kalau kita ada di sini," sambung Kama.
"Itu juga yang aku pikirin, Babe. Padahal Abah udah pisahin kita buat ngelabuin dia, tapi ketauan juga." Sutra berusaha mengingat-ingat informasi tentang keluarga Chelsea.
"Aku gak mau ya gara-gara dia kita pisah lagi! Gak akan!" sambung Sutra.
Kama lalu mendongak hingga pandangan mereka bertemu. Ia lantas tersenyum.
"Kita gak akan pisah, Mas."
Cup !
Jawaban Kama berhasil membuat Sutra mendaratkan kecupannya di bibir perempuan berambut keriting itu.
πππ
Tepat jam 10 malam waktu Swedia, Sutra turun ke loby untuk janji bertemu dengan Dega. Setelah mereka bertemu, Sutra lantas mengajaknya naik ke kamar yang ia tempati.
"Bukannye kite ke bar ya, Sut? Kok malah di mari?" tanya Dega yang mengekori langkah sahabatnya.
"Gak bisa gue ninggalin Kama. Kita ngobrol di kamar gue aja ya," ucap Sutra tepat di depan pintu kamarnya.
Ceklek !
Mereka berdua pun masuk dan duduk di living room.
"Buseeet, gede bener kamar lu! Pasti mahal pan yak?" Mata Dega berkeliling menyapu luasnya kamar suite executive yang di tempati Sutra.
"Gak tau. Gue di endorse soalnya, hahaha ..." Sutra menjawab asal dengan candaan.
"Kampret, lu! Endorse apaan, kayak artis aje lu! Eh, bini lu mane?" tanya Dega.
"Tuh, di kamar, lagi istirahat." Sutra membawakan dua botol air mineral dan beberapa snack ke atas meja.
"Udah buruan, lu mau cerita apa, Ga?" tanya Sutra sembari membuka bungkus snack.
"Hem," saut Sutra sambil mengunyah.
"Gue udeh tidur ame Chelsea, Sut," ungkap Dega.
"Terus?" tanya Sutra lagi.
"Loh, kok lu biasa aje, kagak ade kaget-kagetnya." Dega protes dengan reaksi Sutra.
"Kenapa gue mesti kaget, kan lo udah pernah cerita sebelumnya," ucap Sutra.
"Ah, masa sih? Perasaan baru minggu lalu deh gua ML ame die," ucap Dega polos.
Uhuk uhuk uhuk !
Spontan Sutra terbatuk, ia segera minum untuk meredakan tenggorokannya yang tersangkut. Begitu terkejut dengan pengakuan Dega barusan.
"Ah, norak lu, makan kripik aje ampe batuk-batuk," ejek Dega.
"Gue kaget, dodol!" Sutra memukul lengan sahabatnya.
"Gue pikir tadinya lo cuma tidur di apartemen Chelsea. Ternyata lo beneran nidurin dia?" Sutra meyakinkan.
"Iye, makanye gua mau curhat ame lu, pe'ak ...!" umpat Dega. Cara komunikasinya dengan Sutra memang asal, tidak ada tata bahasa yang baik di antara mereka.
Tiba-tiba saja Kama keluar dari kamar dengan tertatih. Ia mendekat pada Sutra dan Dega.
"Loh, Babe, kok kamu keluar? Bukannya masih sakit?" dengan sigap Sutra menuntun Kama duduk bergabung dengan mereka.
"Eh, hai Kam. Ape kabar? Lu sakit ye?" Dega menyapa Kama.
"Gak, cuma keseleo sedikit kakinya." Kama beralasan lain, menutupi sakit yang sesungguhnya.
"Jadi kamu beneran tidur bareng Chelsea ya, Ga?" Ternyata sejak tadi Kama menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar. Ia memutuskan keluar begitu mendengar topik penting itu.
"Ha? E ..., pegimane ye ..." Dega menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus menjawab apa.
"Udah Ga, cerita aja. Kama orangnya feer kok." Sutra menyakinkan Dega.
"Hehehe, gua malu ..."
__ADS_1
Jeduk !
Dega menendang kaki Sutra.
"Eh, kampret! Sakit be-gok!" umpat Sutra sembari memegangi kakinya yang sakit.
Kama hanya diam namun terus memperhatikan kelakuan dua laki-laki di hadapannya.
"Ahahaha ..." Dega semakin kuat tertawa menutupi kegugupannya.
"Babe, maklum ya, ni orang rada gila emang. Ketawa terus dari tadi." Sutra menerangkan tentang tabiat bodoh sahabatnya.
"Dega gak gila, Mas. Dia gugup." Jawaban Kama tepat sasaran. Dega langsung mengatupkan mulutnya, terdiam.
"Sekali lagi aku tanya ya, Ga. Kamu beneran tidur bareng, Chelsea?" Kama mengulangi pertanyaannya.
Dega lantas mengangguk.
"Gimana ceritanya? Lo pacaran sama dia?" Sutra ikut bertanya.
"Kagak ...," jawab Dega.
"Terus? Dia suka sama lo?" tanya Sutra lagi.
"Kagak juga ...,"
"Jadi apaan, dodol?! Bikin penasaran aja lo!" Sutra geram, ia melempar Dega dengan kripik yang di makannya tadi.
"Kecelakaan,"
Dega lantas menceritakan segalanya dengan detail. Ia juga menambahkan dengan moment terakhir saat Chelsea mengelabuinya hingga sampai di Stockholm.
"Astagaaaa, be-gok banget lo jadi cowok, Ga! Hahaha ... Gue pikir selama ini lo emang beneran Don Juan, eh gak taunya lebih cupu dari gue. Hahaha ...," Sutra tak henti menertawai Dega. Istilah pakar wanita yang dulu sering Dega sematkan pada dirinya sendiri, langsung luntur tak bersisa di mata Sutra.
"Makanya gua bingung, Sut. Kagak tau mau cerita ame sape. Kok gua blo'on banget yak? Ah, pusing gua! Mana gua udah genep satu minggu kagak pulang ke rumah ini." Wajah Dega murung. Seketika ia teringat dengan kedua orang tuanya yang telah ia bohongi lantaran tidak pulang juga ke rumah.
"Terus Chelsea minta kamu tanggung jawab, gak?" Kama bertanya.
"Nah itu die yang gua tunggu-tunggu. Tapi die kagak bilang ape-ape nyampe sekarang. Die malah santae. Gua yang kepikiran, ampe tidur di apartemennya saban hari," jelas Dega.
"Wah, asik donk. Jadi tiap malem lo nidurin dia, Ga?" Mata Sutra berbinar menanyakan perkara itu, membuat Kama dan Dega menoleh, melotot padanya.
Plak !
Jeduk !
Kompak pukulan dan tendangan mendarat di tubuh Sutra. Kama memukul lengan suaminya, sementara Dega menendang kaki Sutra yang satunya lagi.
"Adu-du-du-duh! Kampret lu, Ga!" Sutra mengeluh kesakitan sembari mengumpat Dega
"Sakit, Babe ..." Lalu sedetik kemudian ia merengek pada Kama.
"Hahaha ..., kelakuan lu, Sut. Sok manja, jijik gua!" Dega terkekeh melihat sahabatnya.
Panjang lebar Dega menceritakan kisahnya. Sampai akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama demi membuat Chelsea sadar dan membuka mata, melihat kenyataan kalau Sutra bukanlah miliknya dan tidak mungkin menjadi miliknya.
"Kamu yakin dengan rencana ini, Babe?" tanya Sutra setelah Dega pergi.
"Insya Allah yakin, Mas." Kama naik ke atas tempat tidur perlahan.
"Asalkan kamu gak tergoda sama dia, aku yakin rencana ini pasti berhasil," sambung Kama lagi.
"Gak ada tempat untuk siapapun di hatiku kecuali kamu, Babe." Sutra kembali mendekap Kama dalam pelukan.
"Kita buktikan sama-sama mulai besok, Mas." jawab Kama sembari memejamkan mata, berdoa dalam hati lalu tidur, bersiap untuk pertarungan dengan Chelsea besok.
πππ
Wohoo, waktunya melawan si cantik tapi gila, Chelsea ....
Siapakah yang menang di antara mereka, guys? Dan bagaimana kisahnya??
Yuk kita kepoin di next eps π
Cekidot !
Once again, tak lupe ai nak minta pada yu yu semua, jom dukung lah ai ni ...
Torehkan jempol dan vote seikhlasnya..
Terimakasih ππ€
__ADS_1