When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Kembaliiii


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


Malam pertama dan malam kedua Sutra dirumah sakit Ajeng menguasai keadaan. Ia tidak membiarkan Kama sedikitpun mendekati anak laki-lakinya. Tidak ada alasan pasti yang keluar dari mulut Ajeng, yang jelas ia tidak begitu respect dengan Kama, perempuan yang belum sampai sepuluh hari menjadi menantunya itu.


Namun kehadiran Ida terus menguatkan Kama. Ida membesarkan hati Kama lewat kata-kata bijak yang keluar dari mulutnya. Semula Ida juga bingung dengan sikap aneh ibunya Sutra, namun ia menepis semua, ia tidak mau membuat Kama semakin down.


Tapi Kama bukan orang bodoh, ia cukup perasa. Ia sudah tidak bisa menahan lagi dan berniat menanyakannya langsung pada Ajeng. Kebetulan pagi itu Kama pun meminta Ida untuk mengambilkan baju gantinya di apartemen. Tinggallah mereka bertiga di kamar, Sutra, Ajeng dan Kama.


"Ibu.., boleh Kama bertanya?" Kama memulai lebih dulu.


"Apa?" Ajeng langsung merespon.


"Kama salah apa sama Ibu? Sikap Ibu berbeda sekarang, Ibu seperti tidak suka dengan Kama" Kama mendekati ibu mertuanya. Mereka duduk di sofa single yang berjarak dua meter dari ranjang Sutra.


"Sudahlah, kamu gak perlu menanyakan itu!" Ajeng memalingkan wajahnya. Ia masih belum terima dengan keadaan yang menurutnya janggal hingga membuat anaknya harus terkena musibah.


"Tapi Kama mau tau, Bu. Ibu gak mungkin berubah sikap begini kalau gak ada apa-apa" saut Kama lagi.


"Oke kalau kamu maksa, Ibu kasih tau" Ajeng menghadapkan wajahnya kesamping, menatap Kama dengan serius.


"Sampai detik ini Ibu masih heran, buat apa Adrian berdiri sendirian dipinggir jalan itu sementara kamu ada didalam? Pasti ada sesuatu yang terjadi diantara kalian sebelumnya kan?"


Deg !


Jantung Kama seperti dipukul. Bagaimana mungkin ibu mertuanya bisa berasumsi sampai kesana. Seingat Kama memang tidak ada hal serius yang terjadi diantaranya dengan suaminya. Hanya saja ia meminta Sutra pergi agar tidak mendengar obrolannya dengan Mini. Apakah yang seperti itu jadi masalah? Apakah itu jadi penyebab utama Sutra mengalami kecelakaan seperti ini? Tentu saja tidak. Namun apa Ajeng mau memahami?


"Huh, kamu diam, artinya memang benarkan kecurigaan Ibu selama ini.." Ajeng memalingkan wajahnya dari Kama.


"Bu-bukan gitu Bu. Gak ada yang terjadi diantara kami. Kama berani sumpah! Kama hanya minta Mas Adrian pergi sementara Kama dan Mini ngobrol berdua" jelas Kama.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu minta Adrian pergi? Atau ada hal yang kamu sembunyikan ya, sampai kamu takut kalau dia sampai tau?!" ucapan Ajeng semakin tidak masuk diakal. Ia malah menuduh Kama yang bukan-bukan.


"Enggak! Bukan begitu, Bu. Kama gak seperti itu! Gak ada yang Kama sembunyikan dari Mas Adrian" Kama buru-buru membantah ucapan ibu mertuanya.


"Lantas?" Ajeng pun mendesak Kama untuk mengatakan alasannya.


"Kama cuma..."


malu...


Kama menyambung omongannya dalam hati. Tidak mungkin ia mengatakan langsung pada ibu mertuanya. Alasan paling konyol yang pernah ada. Seorang istri malu jika suaminya mendengar segala perbincangannya bersama sahabat yang isinya adalah tentang perasaannya terhadap suaminya sendiri.


Hadeh, ribetnya jadi seorang Kama. Memang usia tidak bisa dibohongi. Umurnya yang masih 16 tahun membuatnya malu untuk memulai bahkan mengungkapkan isi hati pada pasangan yang sekarang sudah resmi jadi suaminya. Ini pertama kalinya buat Kama, dan merupakan hal baru dalam hidupnya. Mengenal rasa, mengenal cinta, itu semua baru dipelajarinya dari Sutra. Dialah laki-laki yang mampu mendobrak hati Kama, menyentuh bahkan mengajaknya merajut asa.


Tapi lagi-lagi yang bisa memahami itu hanyalah Sutra. Dialah yang paling mengerti keadaan Kama, menerima segala sisi baik dan buruk seorang Kama, bahkan rela memberi cinta tanpa batas untuk Kama. Ya, Kama yang selalu berbalut sampul dingin dan keras luar dalam dirinya.


"Udahlah, gak perlu kamu jawab! Ibu gak perduli!" Ajeng menutup obrolan mereka dengan kalimat tegasnya. Ia kokoh terhadap asumsi buruknya mengenai Kama. Lalu berlalu pergi menuju kamar mandi.


Mas.., aku kangen kamu.. Please, kembalilah.. tolong aku.. Bilang kesemuanya kalau perasaanku tulus, aku gak menyembunyikan apapun dari kamu.. Aku hanya cinta kamu Mas..


Mas.., aku mohon, buka mata kamu Mas..! Kalau kamu memang benar-benar cinta sama aku, kembali sekarang Mas..kembaliiiiii..!


Ajeng baru saja keluar dari kamar mandi, tiba-tiba layar monitor detak jantung Sutra meningkat.


Bep bep bep bep !


Reflek Ajeng berlari menekan bel. Ia lalu berteriak memanggil dokter.


"Dokteeeeerrrrrrr........"


Keadaan Sutra kacau, ia tidak baik-baik saja.


πŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Jangan pernah ragukan cintaku Babe. Sekalipun aku sudah gak ada didunia ini, tapi ragaku gak akan bisa jauh dari kamu


Kalimat yang pernah keluar dari mulut Sutra tampaknya menjadi kenyataan sekarang. Entah apa yang terjadi, tapi kesedihan dan kemarahan Kama membuat tubuhnya merespon saat itu juga.


Itulah mengapa orangtua selalu mengingatkan, jangan pernah berkata yang bukan-bukan kalau tidak ingin kejadian.


Keadaan kacau Sutra tadi berlangsung selama 20 menit, hingga akhirnya Kama menerobos ke kerumunan dokter dan suster yang berusaha menangani suaminya.


Kama tidak mengatakan apapun. Ia hanya menggenggam jemari Sutra lalu berkomunikasi dengan cara yang ia bisa. Masya Allah. Saat itu juga keadaan Sutra kembali normal. Sutra bahkan merespon dengan menggerakkan sedikit jari-jarinya. Dokter bilang itu kemajuan baik untuk kesembuhan Sutra, dan meminta agar Kama tidak boleh jauh darinya.


Jangan tanya bagaimana reaksi Ajeng. Dia orang pertama yang protes. Namun langsung ditimpali oleh dokter dengan bahasa yang lugas.


"Kalau Ibu ingin anak Ibu segera pulih, lakukan saran saya. Namun jika tidak, saya lepas tangan. Kesembuhan itu bukan hanya datang dari obat-obatan, yang terpenting adalah doa serta dukungan orang terkasih. Dan menurut saya, istrinya lah yang paling tepat" ucap dokter tua yang ternyata bernama Dr. Martin.


Eh, kayak merk sepatu ya, Dokmar a.k.a. Dr.Martin. Merk famous dijamannya Siti Nurbaya dan Datuk Maringgi. Hahaha.


Mau tidak mau Ajeng terpaksa menerima. Demi kesembuhan anak laki-lakinya ia menekan perasaan kesalnya yang tidak tentu arah pada Kama.


Hari ini tepat satu minggu Kama dan Sutra menetap dirumah sakit. Kondisi Sutra masih sama, belum sadarkan diri. Benturan yang hebat yang mengakibatkan pendarahan dikepalanya yang terlalu banyak serta dua kali kejang membuat fungsi otaknya sedikit menurun hingga lambat untuk dia siuman.


Namun dokter juga menambahkan kalau kondisinya sangat stabil, semua bagian dalam tubuh dan otaknya tidak ada lagi yang bermasalah, dan terus membaik sejak Kama selalu disampingnya. Gerak motorik yang dilakukan Sutra pun semakin bertambah, dari mulai jari tangan hingga jari kaki.


Kama juga tidak segan untuk tidur disampingnya agar ia jadi orang pertama yang tau setiap gerakan yang dilakukan suaminya.


Sore itu Kama baru saja selesai mandi. Mereka hanya berdua dikamar rawat Sutra. Kama keluar dengan rambut yang setengah basah. Ia baru selesai keramas tadi hingga butuh waktu yang lebih lama dikamar mandi. Langsung Kama melangkah mendekati ranjang suaminya, mengecek keadaannya sembari memperhatikan layar monitor pasien. Semuanya stabil dan normal, Kama pun lega.


Namun,


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Nah, sekarang apalagi yang terjadi dengan Sutra? Akankah iaaaa...?


Aaaah..., daripada nebak-nebak, yuk kita kepoin di next bab nya gaes....

__ADS_1


__ADS_2