When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


Ketegangan diruang operasi berlangsung selama dua puluh menit. Selama itu pula Kama bertahan dengan posisi kacaunya. Jangan tanya sudah berapa banyak airmata Kama mengalir, karena ujungnya pun tidak pernah ada. Sepele memang, siapa sangka Sutra yang tadinya sehat-sehat saja harus mengalami kondisi menyedihkan seperti saat ini?


Siapa yang harus disalahkan? Si pengemudi mobil kah? Atau takdir yang telah menggariskan semuanya? Kembali lagi itu semua adalah rahasia dari Sang Pencipta. Tidak seorangpun dari kita yang mampu mengetahuinya. Hidup dan mati kita sudah ditentukan sejak pertama roh kita dihembuskan dalam empat bulan usia kandungan ibu kita.


Menit terus berjalan hingga akhirnya kondisi Sutra pelan-pelan stabil. Terdengar kalimat puji syukur dari salah seorang dokter disana. Usaha keras mereka membuahkan hasil.


"Alhamdulillah...." Tuhan masih memberikan waktu lebih lama untuk Sutra ada didunia.


"Selesaikan, siapkan semuanya!" perintah terakhir dari dokter tua itu.


"Baik dok" yang dijawab serempak oleh kelima suster.


Si dokter tua lalu menghampiri Kama, mengguncang pelan tubuhnya.


"Nak.., sudah, masa kritisnya sudah lewat. Ayo, kamu berdiri. Kita antar dia ke ruangannya" senyum ramah sang dokter membuat wajah sembab Kama sedikit bergairah. Dokter tua ini memang the best, tidak sekalipun wajahnya menyirat ketakutan atau kekhawatiran atas segala usaha menyelamatkan Sutra. Ia seperti memberi ketenangan lewat raut wajah ramah dan hangatnya.


Inilah yang disebut dokter diatas senior. Tidak hanya ilmu kedokterannya saja yang tinggi melainkan ilmu kejiwaannya pun demikian. Ia paham betul mental keluarga pasien, jadi wajah hangat dan tenangnya tidak berubah walau sekritis apapun pasien yang ditangani.


Pelan-pelan Kama bangkit. Dengan sisa kekuatan yang ada ia menuju keluar ruang operasi bersama dengan dokter tua itu.


Sampai di pintu keluar mereka disambut dengan tatapan penuh harap dan isak tangis keluarga. Bahkan Mr.William pun sudah hadir disitu sembari memeluk, menguatkan istrinya. Ajeng adalah orang yang pertama memburu si dokter tua dengan pertanyaan.


"Bagaimana kondisi anak saya, dok..?" suara Ajeng bergetar, ia tak henti menangis sejak tadi.


"Semua sudah terlewati bu, pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat" senyum ramah dokter tua begitu menenangkan.


"Alhamdulillah..., terimakasih dok, terimakasih..." Ajeng kembali menangkup kedua tangan berterimakasih.


"Sekarang kita tinggal liat perkembangan pasien hingga ia sadar nanti. Ingat, jangan putus doa" kembali si dokter tua mengingatkan bahwa hanya kekuatan doa lah yang paling besar dari apapun.


Si dokter tua pun berlalu dari sana. Tiba-tiba,


Gubrak !

__ADS_1


Gelap, dingin, dan sunyi, tak terdengar apapun lagi ditelinga Kama.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Kama berlari dalam kegelapan, tak ada cahaya sedikitpun yang menjadi penunjuk jalannya. Semua terlihat gelap. Tapi ia tak henti berlari, hingga akhirnya sebuah asap putih tampak dari kejauhan. Kama lantas mempercepat larinya agar segera sampai kesana.


Ternyata dari kepulan asap itu tampak seseorang yang begitu mengisi hatinya muncul.


"Mas Adriaan" reflek Kama mendekat dan ingin memeluknya. Tapi entah kenapa ia tidak bisa meraih tubuh Sutra. Berulang kali ia coba tetap tidak bisa. Tubuh laki-laki itu tembus seperti asap, tidak bisa dipegang hanya bisa dilihat.


"Mas, kenapa..?" dengan perasaan takut Kama bertanya.


"Kok aku gak bisa peluk kamu?" sambung Kama lagi.


Tidak ada jawaban dari Sutra, ia hanya diam sembari menatap mata Kama. Bahkan senyum yang kerap kali menghias bibirnya pun tidak ada.


"Mas, kamu marah ya sama aku?" khawatir Kama pun bertanya demikian.


"Maafin aku, Mas... Aku gak ada maksud apa-apa, aku cuma, aku bingung, aku gak tau gimana caranya, aku-" belum selesai Kama bicara wujud Sutra pelan-pelan menghilang.


"Mas, tungguuu" Kama berusaha menahan kepergiannya tapi gagal.


Sejenak Kama tersadar, matanya terbuka, ia melirik sekitar, ia baru saja siuman.


Ternyata didepan ruang operasi tadi Kama pingsan. Ia sudah betul-betul habis kekuatan menyaksikan perjuangan hidup dan mati suaminya dimeja operasi. Bahkan ia pun nyaris ingin menyusul Sutra jika hal buruk terjadi padanya.


"Nak..., kamu mimpi ya" suara lembut Ida memecah ketegangan diotak Kama. Ternyata Ida Ayu sudah sampai disana dengan menaiki private jet milik suaminya dan buru-buru menyusul ke rumah sakit.


"Biaang..., hiks..., Mas Adrian, Biaaaang..." kembali tangis Kama pecah sembari ia memeluk perut ibunya.


"Iya, biang tau. Kama yang sabar ya nak... Kita terus doakan supaya Adrian segera siuman" Ida mengusap lembut kepala Kama.


"Kama takut, Biang..." ucap Kama kembali terisak.


"Jangan takut, buang jauh-jauh ketakutan kamu. Bergantunglah pada setiap kemungkinan yang ada. Ciptakan aura positip didepan Adrian, Nak. Bantu dia dengan semangat agar bisa segera kembali siuman" Ida memberikan motifasi untuk anak satu-satunya. Wanita paruh baya itu paham betul bagaimana rasanya kehilangan, makanya ia tidak mau Kama merasakan hal yang sama.


"Iya Biang.. Sekarang Kama mau ketemu sama Mas Adrian.." Kama melepas pelukan mereka, menarik asal jarum infus yang menusuk punggung sebelah kiri tangannya.


"Eh, kok begitu caranya?!" Ida terkejut.

__ADS_1


"Gak apa-apa Biang, gak sakit kok. Jauh lebih sakit hati Kama saat ini melihat Mas Adrian begitu..." airmata Kama kembali menetes, tapi cepat-cepat di hapusnya.


Pelan-pelan Kama turun dari atas ranjang, menapakkan kakinya ke lantai sembari fokus agar tidak kembali tumbang.


Semenit kemudian Kama pun sudah siap untuk menemui suaminya.


"Ayo Biang, tolong anterin Kama. Kama gak tau dimana ruangan Mas Adrian" pintanya.


Masih terkejut, namun Ida memenuhi permintaan anaknya. Ia seperti melihat sosoknya yang dulu. Tegar dan kuat saat sudah memilih harus mencintai siapa.


Kamu persis Biang, Nak...


Ida lalu memegangi Kama keluar dari ruangannya menuju kamar rawat Sutra. Ternyata Sutra ditemani oleh ayah, ibu dan adiknya Quiny.


"Hei Kama, why did you come here? Are you okay now?" Mr.Will menyambut mereka, ia terkejut melihat menantunya itu masuk. Sebelumnya ia ikut menyaksikan Kama tergeletak pingsan dengan tekanan darah yang turun drastis. Sekarang ia malah melihat punggung tangan Kama yang masih meneteskan darah akibat jarum infus yang ditariknya paksa tadi.


Sementara Ajeng tidak perduli, kesedihannya terhadap keadaan Sutra jauh lebih besar dari kepeduliannya kepada Kama. Memang benar musibah yang menimpa Sutra murni kecelakaan, tapi entah kenapa Ajeng merasa ada sesuatu yang terjadi diantara Kama dan Sutra sebelumnya. Karena ia heran, untuk apa anaknya berdiri dipinggir jalan sendirian seperti itu?


Tapi feeling Ajeng memang tidak salah. Kedekatannya dengan Sutra membuatnya paham kalau anak laki-lakinya itu bukan tipe orang linglung yang suka berdiri tidak jelas dipinggir jalan. Memang ada alasan khusus yang membuat Sutra galau hingga akhirnya musibah pun tak sengaja menghampirinya.


"Kama gak apa-apa, Ayah, Kama baik-baik aja. Kama cuma gak mau jauh dari Mas Adrian" tanpa malu-malu lagi ia berucap. Sudah bukan waktunya lagi untuk malu, karena apa yang dikatakannya memang benar, ia tidak ingin jauh sedikitpun lagi dari suaminya itu.


Mr.Will lantas mengambil beberapa helai tissue, menghapus tetesan darah yang mengalir ke jari Kama. Ia lalu meminta Kama dan ibunya duduk disofa.


"My Quin, please push the bell.." perintah Mr.Will pada Quiny yang kebetulan berdiri dekat dengan bel pemanggil suster jaga. Ia bermaksud meminta suster untuk membersihkan serta menutup luka dipunggung tangan menantunya.


Kemudian tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berlima. Mereka seperti terikut dengan kediaman Sutra yang masih menutup matanya bergelut dengan mimpi panjang yang membawanya entah kemana. Hanya Sang Pemberi Kehidupan lah yang tau kapan Ia akan memberi petunjuk jalan pulang bagi Sutra untuk kembali menyatu pada raganya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


😭😭😭😭


Maafkan othor terpaksa membuat cerita yang semula kocak jadi sedih begini gaes.


Jujur othor baru saja kehilangan seseorang dua hari yang lalu, saudara dekat, adik sepupu paling kecil yang meninggal karena sakit.


😭😭😭😭


Mohon doanya ya... πŸ™πŸ˜­

__ADS_1


__ADS_2