
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Saat itu juga Kama merasa tersindir dengan kalimat Sutra. Yang dikatakan laki-laki itu memang benar, baru beberapa menit ia sadar, tapi Kama sudah ketus. Harusnya kan tidak boleh seperti itu.
Duh, aku bikin Mas Adrian sedih
"Eh, m-maaf, Mas. Aku gak maksud marah sama kamu. Aku cuma, aku bingung ngejelasinnya" ucap Kama tidak enak hati. Ia lantas mendekat, duduk di pinggir ranjang Sutra.
"Maafin aku ya.." ragu-ragu Kama meraih tangan suaminya.
"Iya, gak apa-apa. Aku juga salah, sampai lupa kenangan kita" jawab Sutra datar. Tampaknya ia cukup pintar bermain drama.
"Enggak, gak apa-apa kok, biar aku yang bantu kamu ngingetin" saut Kama.
"Tapi jangan pake marah-marah ya, kepalaku jadi nyut-nyut kalau kamu marah kayak tadi" pinta Sutra.
"Iya, aku janji" Kama menarik garis bibirnya, membentuk senyuman hangat disana.
Nah, gitu donk Babe
"Ngomong-ngomong, aku udah berapa hari sih disini?" Sutra menggerakkan kakinya, melatih sesering mungkin agar rasa kaku dibadannya berkurang.
"Seminggu" Kama memperhatikan gerak suaminya, sambil sesekali membantu sedikit.
"Oh ya, aku biasa panggil kamu dengan sebutan apa ya?" sekarang giliran tangannya ia gerak-gerakkan.
"Hm..." belum sempat Kama menjawab, Sutra sudah bicara lagi.
"Istriku? Sayang? Atau cinta?" tanyanya lagi. Wajahnya masih ia buat sedatar mungkin, seperti benar-benar hilang ingatan.
"Enggak ketiganya"
"Terus apa donk?"
"Babe" jawab Kama singkat.
"Ok, Babe. Aku mau minum donk, tolong ambilin Babe" biasanya Sutra akan tersenyum setiap kali bicara dengan Kama. Tapi berhubung ia sedang akting lupa ingatan, ia mengubah tabiatnya yang satu itu.
Kama lantas mengambilkan air di gelas. Tak lupa ia menaruh sedotan didalamnya, memudahkan Sutra untuk minum.
"Pelan-pelan, Mas" ucapnya sembari membantu Sutra minum.
"Makasih, Babe" tenggorokan Sutra sedikit lega. Setelah satu minggu tertidur, inilah pertama kalinya ia minum.
"Terus kamu panggil aku dengan sebutan apa?" Sutra menyambung pertanyaannya lagi.
"Mas Adrian" Kama meletakkan gelas diatas nakas.
"Kok gak cocok ya? Aku panggil kamu Babe, sementara kamu cuma panggil aku Mas? Masa gak ada panggilan sayang buat aku?" Sutra berlagak bingung.
__ADS_1
"Y-ya selama ini emang cuma begitu, Mas" saut Kama sedikit gagap.
"Yaudah kalau gitu sekarang kamu bikin panggilan sayang buat aku donk" pinta Sutra serius.
"A-apa? Aku-aku gak pinter, Mas" Kama gelagapan.
"Terserah kamu, enaknya nyebut apa?" tanya Sutra lagi.
"A-aku gak ngerti, Mas" sekarang Kama menggigit bibirnya, pertanda kalau ia sedang bingung dan gugup.
"Eh, aduh! Jangan digigit terus, nanti luka" seru Sutra spontan. Sontak wajah Kama memerah. Ia kembali teringat, Sutra pernah mengatakan kalimat yang sama padanya dulu saat kedekatan pertama mereka di poliklinik UI. Waktu itu tak sengaja Kama terduduk dipangkuan Sutra.
Mas, kamu pernah ngomong hal yang sama waktu itu di poliklinik. Aku masih ingat. Itu artinya tanpa sadar kamu juga ingat kenangan kita
"Kamu kenapa? Kok wajahnya merah? Demam ya?" Kama menggeleng.
"Terus kenapa?"
"Gak apa-apa, Mas. Oh ya, gimana kalau aku panggil kamu, Boo. Boleh?" berbekal ingatan manis itu, Kama jadi semangat. Ia menatap wajah tampan suaminya. Dan memilih panggilan sayang Boo yang pernah dilihatnya sekilas di novel kepunyaan Mini.
"Hm, boleh" sejujurnya Sutra sudah ingin tersenyum lebar saat ini. Kama memanggilnya Boo. Sebuah kebahagian yang luarbiasa baginya. Apalagi bibir Kama yang mengerucut saat menyebutkan kalimat itu, membuatnya semakin gemas.
"Panggil lagi donk" pinta Sutra.
"Boo... Boo-boo..." bibir Kama mengerucut sempurna mengucapkannya.
Cup !
Saat itu juga mata Kama melotot. Ia terpaku menerima kecupan dari Sutra. Jantungnya berpacu, seperti membawanya berlari jarak jauh. Namun karena tidak ada respon darinya, Sutra lantas melepas ciu-man mereka dalam hitungan detik.
"Kok kamu diem aja? Gak suka ya?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Sutra.
"Bu-bukan gitu, Mas..." susah payah Kama menjawab.
Babe, bibir kamu gemesin banget!
"Terus kenapa? Bukannya kita suami istri? Aku pasti sering cium kamu kan?" memang luarbiasa akting Sutra kali ini. Patut diacungi jempol. Dia pintar menjebak Kama dengan keadaan. Apalagi Kama terpaksa menurut karena menimbang kondisi Sutra yang sedang sakit.
"Ta-tapi kita-"
Ceklek !
Tiba-tiba pintu kamar dibuka. Ucapan Kama langsung terputus ketika sosok Ajeng muncul di ambang pintu.
"Eh, I-ibu" saut Kama
"Sutraaa" Ajeng menghambur ke pelukan anaknya.
"Alhamdulillah, Sut.., akhirnya kamu sadar juga. Allah kabulkan doa Ibu.." rasa bahagia dan syukur membuat mata Ajeng berkaca-kaca. Setelah seminggu penantian dan tangis dalam setiap doanya, hari ini terbayar sudah berkat kesadaran anak laki-laki kesayangannya.
Sutra menerima pelukan itu, namun dengan sangat terpaksa ia juga harus melanjutkan aktingnya pada Ibunya juga. Sutra lantas memasang wajah bingung.
Maafin aku Bu...
__ADS_1
"Ibu siapa?" tanyanya.
Dahi Ajeng berkerut, ia lantas menoleh pada Kama, menaikkan alisnya, meminta penjelasan atas apa yang baru saja ia dengar.
"Mas Adrian amnesia, Bu.." jawab Kama pelan.
"Apaa? Kamu serius? Dokter bilang apa aja tadi?" Ajeng syok mendengar kabar itu.
"Tadi dokter cuma ngobrol by phone, Bu. Tapi sebentar lagi dia akan visit kesini" jelas Kama.
"Ya Allah..., cobaan apa lagi ini..." wajah syok Ajeng berubah jadi sedih, meratapi kenyataan yang baru ia dengar.
Ibu, jangan gitu donk. Sutra minta maaf..., ini cuma acting kok Bu. Gak lama, cuma sampai Kama sadar posisinya sebagai istri
Buru-buru Kama menarik kursi, menempatkannya tepat dibelakang tubuh Ajeng. Menopang wanita paruh baya yang terlihat lemas dan hampir menangis. Kama juga tak lupa menuangkan segelas air untuknya.
"Ibu minum dulu, biar tenang" Ajeng menerima dan meminumnya sedikit.
"Makasih, Nak.." jawabnya lirih.
"Ayah dan Quiny dimana Bu?" Kama mencoba berbasa-basi.
"Ayah sebentar lagi akan nyusul kesini dari kantornya.. Kalau Quiny masih disekolah, Ibu gak kabari dia, takut dia maksa pulang dan nyusul kesini juga.." jelas Ajeng perlahan.
"Maaf ya Bu, kalau saya jadi buat Ibu sedih..." Sutra tidak mau membiarkan Ibunya terus sedih. Ia lantas meminta maaf sembari melanjutkan sandiwaranya.
"Hmuuuuffftt, gak apa-apa Sut, bukan salah kamu. Yaudah kamu istirahat ya, kita tunggu doktetnya datang" ucap Ajeng lembut.
Melihat keadaan sudah tenang, Kama lantas pamit melaksanakan ritual kamar mandi pada Ajeng dan menitipkan Sutra sekaligus.
Ceklek !
Tiba-tiba ada seorang lagi yang datang,
πππ
Hmm, siapakah gerangan?
Apakah dokter?
Atau Mr.William?
Atau Abah dan Biang?
Atau Aji dan Lulu?
Atau siapa?
Yuk, yg bisa nebak othor kasi hadiah pulsa 10k untuk 2 orang pemenang π
Langsung komen dibawah yah gaes, dan aku tunggu jawabannya sebelum jam 7 malam hari ini, karena kelanjutannya akan aku post diatas jam 7
Cekidot π
__ADS_1