
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Makasih mas, aku beruntung kenal kamu. Bener-benar beruntung.. Kamu adalah hadiah dari Tuhan untuk waktu sepuluh tahun yang kulalui dengan trauma.
Sutra menangkap binar bahagia dari bolamata Hazel milik Kama. Ini pertama kalinya ia melihat cahaya cinta dari sana. Reflek ia mengelus lembut ujung dahi hingga pipi Kama dengan satu tangannya yang bebas. Meresapi setiap sentuhan tangannya dengan penuh cinta.
Gemuruh detak jantung Sutra kembali terdengar. Sesuatu menariknya untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar sentuhan. Jika saja ia berani memiringkan sedikit kepalanya kebawah mendekati Kama,
mungkin hasratnya akan tumpah ruah disana. Di bibir tipis Kama yang berwarna pink itu.
"I.., i love you so much.." hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Sutra sembari terus menikmati cahaya cinta di mata Kama.
"I love you too.." Kama mengeratkan pelukannya, ia kembali menunduk dan menempel di dada pacarnya. Mendengar jelas kencangnya detak jantung Sutra saat itu sembari terus tersenyum bahagia.
Setelah saling menyatakan cinta mereka berdua terdiam tanpa suara. Menikmati kehangatan yang diantar dari tubuh pasangannya sembari berkutat dengan pikiran bahagia masing-masing.
Tanpa terasa khayalan indah Sutra sudah berlangsung selama dua puluh menit. Ia baru sadar setelah tubuh Kama berbalik membelakanginya. Ternyata setelah dicek, Kama sudah tertidur pulas, walau masi diatas lengannya.
Sutra sudah merasa lengannya mati rasa. Ia pun berencana memindahkan kepala Kama ke bantal. Ditariknya perlahan lengannya agar tidur Kama tidak terganggu. Namun yang ia dapati lebih dari itu.
Bruukk !
Masih dalam keadaan tidur Kama berbalik, dan menendang Sutra hingga jatuh. Apalagi tempat tidurnya kecil, memang ukuran single bukan double.
"Aaww!" keluh Sutra pelan. Ia bangkit perlahan lalu menarik selimut menutupi tubuh Kama.
Tendangan kamu kenceng juga, Babe. Itu lagi gak sadar, gimana kalau sadar? Pasti dua kali lipat dari ini
Setelah itu pelan-pelan Sutra keluar dari kamar. Ia berencana menelepon keluarganya serta Aji untuk mengabari keberadaan mereka dan meminta waktu agar dia bisa membujuk Kama untuk pulang.
πππ
__ADS_1
"Dah lah tu Sayang.., stop lah menanges.." bujuk Datuk Emran pada Ida Ayu.
"Mungkin dah naseb Ida macem ni Bang.., menanges sepanjang hidop.." airmata Ida terus saja menetes, tak pernah kering walau sudah bertahun-tahun mengalir.
"Tak baek lah cakap tu, Da! Abang dah balek untuk Ida dan anak kite, ape lagi? Serahkan semua sama Allah. Jangan bepikir burok! Allah dah kasi kite jalan macem ni, banyak-banyak lah kite besyukor.." Datuk Emran menasehati Ida Ayu.
"Tapi Kama, Bang.." tangis Ida Ayu membuat suaranya terdengar parau.
"Insya Allah Kama baek-baek saje. Berdoalah kite sama-sama" kalimat Datuk Emran memang benar. Ia sudah mengerahkan semua anak buahnya mencari Kama. Mereka hanya tinggal menunggu sembari terus memanjatkan doa.
"Kak.." tiba-tiba suara Wayan muncul tidak jauh dari mereka.
Datuk Emran dan Ida menoleh,
"Wayan sudah dapat kabar Kama, kak.." Wayan tersenyum menjelaskan.
Dengan cepat Ida menghampiri Wayan, memburunya dengan banyak pertanyaan.
"Dimana dia sekarang? Dia baik-baik aja kan? Apa katanya? Kenapa dia kabur? Apa yang ada dipikirannya?"
"Kama aman Kak.. Dia bersama Adrian sekarang. Tapi Adrian bilang Kama belum mau balik, dia masih butuh waktu menerima semuanya" Wayan bisa memahami alasan Kama, karena ia tau betul dengan penyakit psikis yang diderita keponakannya itu.
"Sape Adrian, tu?" tanya Datuk Emran heran, ada orang lain yang bersama dengan anak gadisnya.
"Pacar Kama, Bang.." jawab Wayan.
"Ape pula ni? Dah pacaran anak gadis kite?" Datuk Emran keberatan mengetahui anak gadisnya sudah punya pacar.
"Dah lah tu Bang.., yang penting Kama aman!" jawab Ida Ayu, ia tidak mau memperkeruh keadaan dengan sikap protective ayah Kama.
"Tapi apa maksud Wayan tadi? Kenapa dia butuh waktu?" tanya Ida heran. Wayan menjawab dengan mengalihkan pandangannya ke Datuk Emran.
"Mesti Abang yang jadi sebab?" tangkap Datuk Emran, dibalas anggukan oleh Wayan.
Wayan lalu mengajak mereka ngobrol serius diruang tamu. Ia menceritakan perihal penyakit psikis yang dialami Kama selama ini. Semua terjadi begitu saja karena keadaan. Apa yang disaksikan oleh Kama dengan mata kepalanya sendiri mendorong ia menyimpan rasa ketakutan yang berlebih. Apalagi melihat keadaan Biangnya yang jelas tidak baik-baik saja. Reflek menumbuhkan rasa takut itu menjadi besar, bahkan beranak pinak ke sikapnya yang cenderung aneh.
"Huu.., kenapa baru sekarang kakak tau soal ini Wayan? Hiks.." isak tangis Ida tak terbendung lagi.
__ADS_1
"Astaghfirullohaladziim.., besarnye dosa ku ya Allah.." suara Datuk Emran terdengar lirih, berusaha keras menahan tangis, menyesali hasil dari perbuatannya dulu. Berulang kali diusapnya kepala hingga wajah sembari mengucap kalimat Allah.
"Sudah begini jalannya Kak.. Yang penting sekarang Kama baik-baik saja. Dan kita harus sabar menunggu sampai dia mau balik kesini.." Wayan mendekap bahu Ida, mengusap-usapnya lembut menenangkannya.
"Kakak udah gagal jadi orangtua.., kakak gak bisa membesarkan Kama dengan baik.." stok airmata Ida tidak ada habisnya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Kak.. Gak ada orangtua yang mau anaknya jadi seperti Kama. Tapi Kakak juga harus bersyukur, dibalik penyakitnya Kama meraih prestasi terbaik yang kita sendiri tidak menyangka dia bisa seperti itu" Wayan mengingatkan sisi baik dari PTSD Kama.
"Sekarang jalan satu-satunya adalah kita tunggu dia datang kesini dengan kemauannya sendiri" sambung Wayan lagi.
"Abang setuju cakap Wayan tu. Jangan putus kite berdoa yang terbaek untuk kite semua.." Datuk Emran bangkit dari duduknya. Ia permisi branjak ke kamar meninggalkan Wayan dan Ida diruang tamu.
πππ
Tak terasa ternyata Kama sudah tidur lebih dari satu jam. Ia melihat jam dinding kamar hotel menunjuk ke pukul 4 sore. Tapi sosok Sutra tidak terlihat disitu.
"Mas..." panggil Kama, ia menduga Sutra sedang dikamar mandi. Namun tidak ada jawaban apapun.
Langsung Kama meraih ponselnya, menelepon Sutra.
"Hallo, Mas, dimana?" tanya Kama setelah teleponnya diangkat.
"Hallo, Babe.. Kamu udah bangun? Aku baru sampe loby. Tunggu ya aku ke kamar sekarang" Sutra menutup teleponnya. Ia baru saja turun dari motor matic yang disewa nya dari pihak hotel untuk menjemput tas dan koper mereka dari villa Mr.Ed.
Sutra mengikat koper Kama diboncengan belakang, lalu mengepit kopernya sendiri dibagian depan. Ditambah lagi dengan ransel yang dipakainya. Pelayan hotel yang melihat dengan sigap membantu Sutra membawakan barang-barangnya hingga ke kamar.
"Terimakasih, Bli.." ucap Sutra sembari menyelipkan uang tip ditangan pelayan hotel.
Kama menyambut kedatangan Sutra, menghampirinya dan memegang lembut lengan laki-laki itu.
Kok bayanganku kayak lagi disambut istri ya.., hehehe, pikiranku!
πππ
Haduuuh.., dikit lagi ampir kena ci*pok si Kama π€£
Akankah adegan ini ada kelanjutannya?
__ADS_1
Yuk, kepoin terus..