
Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Sutra baru saja menutup telepon dari temannya Bry. Lagi-lagi Bry mengingatkan Sutra untuk bersiap, karena sore ini supirnya akan menjemput untuk makan malam bersama.
Untung saja Bry menelepon saat Sutra dan Kama sudah selesai bertarung. Kalau tidak bisa kacau Kodomo Lang. Dia akan menelan rerumputan liar sendiri dalam sangkarnya sambil ngences-ngences. Bisa di bayangkan bagaimana menderitanya prajurit tempur itu kan guys. Hahaha.
"Siapa Mas?" tanya Kama.
"Temenku yang bantuin nyari kamu tadi pagi," jawab Sutra.
"Ada apa memangnya?" Kama bangkit dari rebahan dengan gulungan selimut untuk menutup tubuhnya yang polos.
"Eh, kok di tarik selimutnya, Babe." Tubuh Sutra yang juga polos, otomatis terpampang lantaran selimut itu di kuasai oleh Kama.
"Hiii ..." Spontan Kama berbalik membelakangi Sutra, lalu bergidik ngeri.
"Loh kenapa, Babe? Kok kamu hiii kayak gitu?" tanya Sutra heran.
"Pake bajunya buruan, Mas!" perintah Kama. Ia belum mau menoleh pada Sutra.
"Iya, tapi kenapa? Jawab dulu," pinta Sutra.
"Itu ..." Jawaban Kama rancu.
"Itu apa?" Sutra makin heran.
"Itu kamu ..., gede banget! Hiiii ..." Ternyata yang di maksud Kama adalah si makhluk berotot Kodomo Lang. Sudah selesai bertarung saja pun ia masih tampak kekar, membuat Kama bergidik ngeri membayangkan saat ia bangkit kembali.
Luar biasa memang Komodo Lang itu. Membuat reader ingin kenalan.
"Oh, hahaha ..." Sutra tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban Kama.
"Yaudah, aku langsung mandi aja deh kalo gitu." Sutra bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Namun baru tiga langkah ia berjalan, ia kembali menoleh pada Kama.
"Atau kamu mau mandi bareng aku, Babe?" tanyanya dengan senyum menggoda.
"Enggak!" jawab Kama tegas seraya melotot, membuat Sutra terkekeh tidak henti. Memang seru menggoda Kama untuk urusan yang satu ini. Dia di pastikan akan marah dan melotot hingga matanya hampir mencelat keluar.
Selesai mandi, Kama dan Sutra lantas memesan makan siang. Lalu terdengar bunyi ponsel di kamar.
Kriiiiiiing !
"Bunyi ponsel siapa itu, Babe?" tanya Sutra heran.
"Ponselku, Mas. Kemarin di kasi Bang Aiman. Bantu cari donk. Aku gak tau nyelip di mana." Kama mencari asal bunyi ponsel itu di ikuti oleh Sutra. Sampai akhirnya mereka menemukan ponsel itu terjatuh di bawah ranjang setelah panggilan masuk yang ketiga kalinya.
"Hallo," ucap Kama di telepon.
"Assalammualaikum, Kama." Terdengar suara pria dewasa di ujung telepon.
"Abah, waalaikumsalam," seru Kama yang mengenali betul suara pria itu.
"Iya, macemane kabar Kama? Sehat ke? Kama tak de luka? Tak de sakit?" tanya Datuk Emran.
"Alhamdulillah sehat, Bah. Abah dan Biang gimana? Baik-baik aja kan?" Kama bertanya balik.
"Alhamdulillah Abah dan Biang sehat. Tapi Abah khawatir betol lah dengan Kama. Aiman dah cerite kat abah." Datuk Emran langsung membahas intinya.
__ADS_1
"Sejak awal Abah dah tak nak dengan rencana Kama tu, but Kama paksa Abah. Macem ni lah jadinya. Untung Aiman tinggalkan earpiece tu dengan Kama, kalau tak, ah tak tau lah Abah nak cakap ape lagi," sambung Datuk Emran.
"Kama minta maaf ya, Bah. Tapi itu gak sepenuhnya salah Chelsea, kok. Kama jatuh waktu main ski, dan Chelsea gak tau sama sekali. Dia pikir Kama masih ada di belakangnya, ternyata Kama udah ketinggalan." Kama masih bisa berbohong untuk menutupi kesalahan Chelsea. Ia tidak ingin membuat ayahnya khawatir sekaligus marah pada Chelsea.
Sutra yang mendengar kebohongan Kama sampai ternganga lalu menggelengkan kepala. Tak menyangka kalau istrinya yang keriting masih bisa sebaik itu pada perempuan gila seperti Chelsea.
Aku gak ngerti apa yang ada di pikiran kamu, Babe. Masih juga kamu belain Chelsea. Heran!
"Dah lah, Abah tak nak bahas budak tu lagi. Abah dah peringatkan ayahnya. Abah rasa itu dah cukop bikin dia insaf," jelas Datuk Emran.
Apa? Abah peringatkan ayah Chelsea?
"Maksud Abah apa?" tanya Kama bingung.
"Tak nak Abah bahas lagi. Sekarang Kama hubungi lah Adrian. Die pasti khawatir betol dengan Kama." Datuk Emran mengingat menantunya.
"Mas Adrian ada di sini kok, Bah," ucap Kama.
"Oh ya. Mane dia? Abah nak cakap," pinta Datuk Emran.
Kama lantas menyerahkan ponsel pada Sutra.
"Hallo, assalammualaikum, Bah," ucap Sutra.
"Waalaikumsalam," jawab Datuk Emran.
"Adrian, Abah tak nak dengar hal burok lagi pasal Kama. Abah salahkan yu atas kejadian ini. Yu tak tengok Kama betol-betol sampai jadi macem ni!" Datuk Emran langsung menyembur menantunya.
"Iya, Bah. Adrian lalai, Adrian minta maaf ..." Sutra berbesar hati mengakui kesalahannya.
"Pertama dan terakhir! Tak de pengulangan! Paham ke?!" tegas Datuk Emran.
"Paham, Bah," jawab Sutra yakin.
"Dah, assalammualaikum," saut Datuk Emran mengakhiri bicaranya.
Waktu terus berlalu hingga jemputan dari Bry pun datang. Kama dan Sutra segera berangkat menuju ke tempat temannya itu.
Setelah menempuh satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah resort besar dengan dua lantai.
Wah, hebat. Bry sanggup menyewa resort sebesar ini.
Kama dan Sutra langsung di persilahkan masuk. Ternyata sudah ada banyak orang di sana.
"Hai, Bro, akhirnya lo datang juga," sapa Bry saat melihat kedatangan Sutra dan Kama.
Vara selaku istri Bry langsung menghampiri Kama dan mengajaknya bergabung dengan kumpulan cewek-cewek.
"Bry, ada acara apa ini sebenarnya? Rame banget?" tanya Sutra heran.
"Wedding anniversary gue. Acara kecil-kecilan lah. Kenalin Bro, ini semua temen-temen gue. Yang ini namanya Rayyan G Michael, partner bisnis yang juga sahabat gue. Dia datang dengan calon istrinya Nona Zoey Lestari." Bry tersenyum pada seorang wanita cantik yang memakai sweater warna biru muda.
"Kisah cinta mereka sangat unik, kita doakan semoga mereka berdua segera menikah tahun ini." Semua tamu bersorak dan bertepuk tangan untuk pasangan itu.
"Nah yang ini, sahabat gue kalo lagi ketemu kasus-kasus berat, Adrian Christoper, seorang jaksa yang handal. Dia datang beserta istrinya yang tak kalah keren Nyonya Penny Patterson, detektif cantik yang jago mengungkap banyak kasus." Wanita berwajah Asia dengan coat silver itu tersenyum.
"Terus yang itu sahabat gue, Devon Brahmana Putra, sang pecinta kebebasan. Dia datang bersama istrinya yang cantik Nyonya Alexandria Setiady, wanita yang sanggup meluluh lantakkan seorang laki-laki seperti Devon." Bry terkekeh saat memperkenalkan Devon, sebab ia tau betul karakter Devon saat masih kuliah dulu.
"Dan yang sweater cokelat itu, lo masih ingat gak sama dia? Dia adalah Ricki Ariando, orang yang pernah ribut sama gue di pub waktu di Inggris." Bry mengingatkan.
__ADS_1
"Oh iya, gue inget." Sutra tersenyum mengingat kejadian tiga tahun yang lalu saat mereka masih di Inggris. Cuma gara-gara tak sengaja saling menyenggol, Bry dan Ricki pernah saling pukul.
"Sekarang dia jadi rekanan gue. Gilak kan, kebetulan banget. Hahaha. Dia datang bersama sekretarisnya, Nona Yuna Ariana." Wanita yang disebut namanya itu tersenyum manis.
"Nah, kalau yang itu. Itu suhu dunia bisnis di Indonesia. My brother Moses Elruno. Gue banyak belajar dari dia sampai bisa seperti ini. Dia datang bersama istrinya yang cantik Nyonya Melati Arumi Putri." Wanita yang disebut namanya itu tersenyum malu-malu.
"Dan kalo yang itu bocah-bocah, gue nemu di jalan. Hahaha. Gak kok, becanda. Mereka adik-adiknya sahabat gue. Kebetulan mereka lagi liburan kesini juga sama orang tuanya, jadi sekalian gue undang acara malam ini biar rame. Alexander Adrian dan Keira Rosalie Retizen lalu Ainun Mudrikaj dan Reza Ferdian Syah." Bry menunjuk ke dua pasang anak remaja yang sedang berbincang di dekat panggangan barbekyu.
"Dan temen-teman semuanya, gue kenalin ini sahabat the best gue waktu di Inggris. Hanya tiga bulan kedekatan kami, tapi gue selalu terkenang dengan kepolosan dan jalannya yang lurus, Sutra Adrian Zanyar, arsitek hebat internasional, bersama dengan istrinya Kama Leandra Rahayu, pewaris tunggal Ibrahim corp di Malaysia." Semua tamu sontak bertepuk tangan mendengar kalimat Bry. Siapa yang tak tau dengan Ibrahim Corp, the king of real estate Malaysia.
Sutra reflek melotot mendengar kalimat Bry.
Gila si Bry, dari mana dia tau semua info itu??? Pake bilang aku arsitek internasional, hahaha, memang betul-betul gila dia ini.
Acara wedding aniversary Bry pun berjalan dengan seru. Memang tak banyak tamu yang datang, namun mereka tampak akrab satu sama lain. Saling berkenalan dan berharap bisa bertemu langkah di lain waktu nantinya.
Sementara itu di lain tempat ada pasangan yang sedang bersedih sekarang. Siapa itu? Mereka adalah Chelsea dan Dega. Chelsea terus saja menangis sejak menerima telepon dari ayahnya. Tuan Sakamoto mengatakan kalau Chelsea harus segera pulang ke Jakarta besok pagi. Tidak ada alasan untuk menolak.
"Gua ikut lu, Chels. Gua udeh janji bakal tanggung jawab. Jadi gua bakal bicara ke bokap lu soal itu." Setelah menguatkan batin dan jiwaraganya, Dega akhirnya mengatakan kalimat itu oada Chelsea.
"Enggak, masalahnya gak semudah itu, Ga ..., hiks," ucap Chelsea sambil sesekali terisak.
"Tapi masalah itu melibatkan gua, Chels. Jadi mau ato kagak, gua harus tanggung jawab." Dega meyakinkan Chelsea.
"Kamu gak kenal siapa Papi aku, Ga. Dia bisa berbuat apapun saat sedang marah. Dan ..." Chelsea menjeda kalimatnya.
"Dan ape? Kagak mungkin kan Papi lu bunuh gua, hehehe." Dega tertawa kecil, mencoba menyelipkan candaan agar pujaan hatinya tenang. Namun,
"Mungkin ..." Jawaban Chelsea sontak membuat Dega menelan ludah seraya melotot.
Ya Allah ..., habis cerita hidup gua di umur 24 tahun. Innalillahi ...
πππ
Oh my God, gimana nasib Dega nanti???? Apakah akan di bunuh oleh ayahnya Chelsea kah dia...
Yuk kepoin di next eps πcekidot !
Oh iya guys, kali ini author mau kenalin temen-temen author tercinta. Semoga readers bersedia ngintip lalu membaca kisah mereka yg keren-keren.
Temuin Rayyan dan Zoey π
Jaksa Adrian dan Detektif Penny π
Devon dan Alexandria π
Ricki dan Yuna π
Moses dan Melati π
Alex dan Keira π
__ADS_1
Ainun dan Reza π