
Cekreek..!
Suara pintu rumah terbuka, tampak aji keluar dari sana. Sontak Sutra mematikan mesin mobil nya dan kompak keluar dari mobil bersama Kama.
Mereka jalan beriringan masuk membuka pagar mendekati aji.
Memang aji ini selalu muncul di moment yang tepat, tepat buat Kama narik napas untuk bisa mengatur ritme detak jantung nya ke semula. Kawatir kalau tadi kena serangan jantung, eh serangan cinta mendadak, uhuuuyyy.
Dan tepat buat Sutra untuk berhenti menghayalkan adegan romantis di dalam mobil setelah pernyataan cinta nya. Hmm, kira-kira adegan apakah itu? Kelitikan kuping sambil tertawa manis ataaau cubit-cubitan sambil tersipu malu?
Ya cuma itu sih pilihan nya, takut kalau ngebayangin yang lain bisa mupeng sampai di sosor entok bab dua, hahaha.
"Malam aji.." ujar Sutra
"Ya, heum. Baru sampai kalian?" aji mulai mengintrogasi
"Sudah sepuluh menit aji, tapi masih ngobrol tadi di mobil" Sutra menjawab jujur, ia yakin pasti aji sudah sejak tadi mengintip mereka dari jendela rumah nya. Untung saja Sutra menyalakan lampu mobil nya saat ngobrol dengan Kama, jadi aji tidak akan menuduh yang macam-macam.
Emang the best punya satpam kayak aji, super kepo sekaligus resek juga, ada yang mau gak kira-kira? Gratis tanpa dipungut bayaran loh, ciuuuusss.
"Jadi udah selesai kan ngobrol nya? Sekarang kamu tunggu apa lagi?" tanya aji sekaligus menyuruh Sutra pulang
"Ah, iya aji, saya pamit sekarang. Selamat malam aji.., malam Kama.."
Sutra mengakhiri kalimat nya dengan tatapan penuh harap pada Kama, menunggu jawaban yang keluar dari mulut Kama atas kalimat yang di ucapkan nya tadi.
Kama menangkap tatapan itu, pikiran nya masih bingung tapi kaki nya berkata lain, ia melangkah mengantar Sutra hingga ke pagar seolah ingin memberi jawaban.
"Saya benar-benar serius soal tadi" ujar Sutra pelan di depan pagar, takut kedengaran aji
"E-ee, sa-saya ga tau.." Kama gugup, jantung nya kembali gak beraturan.
"Gak apa-apa. Kamu gak usah jawab sekarang. Saya akan buktiin dulu sumpah saya tadi. Doain saya ya supaya tesis saya lulus dan segera meja hijau" ujar Sutra lagi dan kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.
Memang sih Kama menjawab gak tau, tapi setidak nya Sutra masih punya harapan walau tipis. Terbukti Kama tidak langsung menolak namun bingung hingga tergagap menjawab.
__ADS_1
Mungkin akan ada seucrit kebahagiaan untuk Sutra yang menanti di depan, who know's..??
πππ
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi, tapi Kama belum juga tidur. Ia daritadi grasuk grusuk di dalam selimut tanpa bisa tenang. Kaki ke posisi kepala
dan kepala ke posisi kaki, begitu terus sampai negara api menyerang.
Eh enggak ding, ternyata Kama memutuskan untuk turun ke bawah mengambil segelas air agar bisa menyiram api-api kegelisahan yang semakin panas mengganggu ketenangan nya.
Kama melangkah menuruni tangga satu persatu, sambil terus berpikir. Entah perasaan apa yang dia rasakan dia sendiri pun tidak mengerti,
yang pasti otak dan hati nya tidak bisa tenang. Ini pertama kali nya selama 16 tahun ia merasakan perasaan yang begitu aneh seperti ini.
Kama menuangkan air es ke dalam gelas, ia menyandar ke dinding dapur dan menghabiskan segelas air es sekaligus.
"Hei, Kam.. Tumben kamu bangun?" suara tante Lulu mengagetkan. Ternyata sejak tadi tante Lulu sudah memperhatikan Kama.
"Eh, tante. Kok ada disitu? Bikin kaget aja"
"What? Are you ok? Kamu bahkan gak sadar kalau tante sejak tadi udah duduk disini" Lulu memperhatikan wajah Kama, dia heran Kama mengaku kaget namun berekspresi datar seperti itu.
"Tante habis kasi asi ke baby Jason, and now i'm hungry. Untung ada pizza di kulkas, barusan tante angetin pakai oven, kamu mau?"
"Boleh deh tan, semoga aja abis makan Kama jadi ngantuk" Kama duduk berhadapan dengan tante Lulu di meja dapur, ia langsung menggigit pizza yang ada di depan nya.
"Hei, slowly girl" hardik tante Lulu, ia semakin aneh melihat kelakuan Kama
"Are you ok? What's going on?"
(kamu baik-baik aja? apa yang terjadi?)
Kama terus mengunyah pizza dengan lahap tanpa menjawab.
"Berantem lagi ya sama mas Adrian? Soal apa sih? Cerita ke tante donk.." Kama menggeleng
__ADS_1
"So, what?"
"Tante.."
"Ya.."
"Kayak nya Kama sakit deh, besok temenin Kama ke dokter yuk" pernyataan Kama malah membuat Lulu kebingungan dan kawatir
"Hah? Really? Bagian mana kamu yang sakit, Kam?"
Kama menunjuk ke kepala dan dada nya.
"Kamu sesak napas? Sakit kepala? Atau gimana? Coba kasi tau tante yang jelas"
Kama kembali menggeleng
"Besok kita ke dokter aja ya tante, pliiiss"
"Oh my God, Kama.. Kamu bikin tante kawatir, gimana kalau aji tau nanti. Dia pasti lebih gak karuan liat kamu sakit"
"Jangan tante! Aji gak perlu tau! Kama gak mau aji heboh nanti. Kama gak ngerasa sakit apa-apa di fisik kok, cuma pikiran dan hati Kama yang bermasalah. Besok tante bawa Kama ke psikiater ya, tante mau kan? Biar Kama bisa konsultasi. Kama cuma butuh konsultasi tante, gak lebih" Kama menatap serius memohon bantuan Lulu
"O-oooh, oke oke, tante ngerti" seketika Lulu teringat dengan gangguan psikologi yang di derita Kama selama ini dan iya pun mengiyakan permintaan Kama.
πππ
Ternyata abis di tembak, Kama langsung butuh dokter π±
Itu artinya tembakan Sutra tepat sasaran, mengenai hati dan pikiran Kama yang terdalam..
Makin penasaran kan gimana kondisi Kama selanjut nya..
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
I Love U π