When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Tempur Anytime


__ADS_3

Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas 🙏🤗


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


Pagi menjelang. Selesai sarapan Kama, Sutra, Dega, Aiman and the gank langsung berangkat ke bandara. Mereka menaiki private jet yang di sediakan oleh Datuk Emran menuju Kuala Lumpur.


Setelah pesawat lepas landas dan lampu kabin menyala, Kama mengajak Dega bicara.


"Ga, kamu ada teleponan sama Chelsea lagi gak kemarin?" tanyanya.


Dega menggeleng lesu.


"Henponnya kagak aktip, Kam. Ade lima puluh kali gua teleponin, tetep kagak aktip. Pusing gua jadinye. Calon bini kagak ade kabar, setdah aaah!" umpat Dega dengan keadaan yang terjadi.


"Heh, apa lo bilang? Calon bini?" Sutra menyambar.


"Iye, nape emang?" tanya Dega polos.


"Hahaha, pede banget lo, Ga! Itu juga kalo bokapnya setuju, kalo enggak, ya say goodbye. Hahaha." Sutra menertawai sahabatnya.


"Yaelaaa, jelek banget doa lu, Sut! Sahabat KW lu! Mestinye lu inget, gua kejebak cinte ame Chelsea juga asal muasalnye dari elu." Dega menatap sinis.


"Kok jadi gue?" Sutra heran.


"Iyalah, pan elu yang dari dulu selalu nitipin die ame gua. Jangan pura-pura lupa lu! Semua berawal dari waktu die pingsan di apartemennye," jelas Dega.


Memang benar apa yang Dega bilang. Berawal dari kejadian Chelsea pingsan di apartemennya saat Sutra sedang tugas ke KL. Waktu itu Sutra terpaksa meminta bantuan pada Dega untuk mengecek keadaan Chelsea. Dan sejak saat itulah segala urusan bersama Chelsea selalu Sutra limpahkan pada Dega.


"Oooh, yang itu ya. Hahaha. Tapi lo kan menikmati saat-saat bersama dengan dia." Lagi-lagi Sutra tertawa mengejek sahabatnya.


"Menikmati apaan? Gua di gamparin mulu, di cakar, di pukul, tersiksa deh pokoknye." Dega mengungkap sikap Chelsea padanya selama ini.


"Terus kenapa lo betah sama yang bar-bar gitu?" Sutra menatap aneh.


"Kagak tau. Blo'on gua kalo ame die. Cakep banget sih, kagak tega gua ninggalin die, kesian. Saban hari topiknye bahas elu mulu, sampe hapal gua." Dega mengingat saat Chelsea selalu curhat tentang Sutra padanya.


"Oooh, jadi lo jatuh cinta sama dia berawal dari kasian?" Sutra menelisik.


"Kagak lah. Gua serius sayang ame die. Apelagi sejak kecelakaan (ML) malam entu, makin sayang gua ame die. Berasa kagak bisa ninggalin die, harus gua tanggung jawabin, sekalipun dia kagak minta. Gua sampe udeh tau die luar dalem. Ape cemilan kesukaannye, ape warna favoritnye, ape lagu yang sering die dengerin di ipod. Ah, pokoknye semua tentang die gua tau dah ..." Dega menerawang, mengingat saat kebersamaannya dengan Chelsea enam bulan belakangan ini.


"Aku sama Mas Adrian janji akan berusaha untuk bantuin kamu, Ga." Kama tertegun dengan pengakuan Dega barusan.


"Eh, iye, Kam. Makasih banyak ye. Lu bedua emang sobat kentel manis gua. Yang satu hobinya sedekah, satunye lagi baek banget." Dega tersenyum menatap Kama dan Sutra bergantian. Maksudnya adalah agar Sutra mengikhlaskan uang yang ia pinjam kemarin sebagai sedekah.


"The best couple, lu pada," sambung Dega lagi. Ia sengaja memuji-muji agar Sutra lupa dengan pinjamannya.


"Siapa yang lo maksud hobi sedekah?" tanya Sutra heran.


"Sapa aje dah, bebas. Gua mah terima-terima aje kalo di sedekahin." Dega tersenyum jahil.


"Eh, jangan macem-macem lo, Ga. Enggak, gue gak pernah bilang itu sedekah! Itu utang, dodol," bantah Sutra.


"Mas, udah deh ah, ribut terus. Lagian Dega lagi kena masalah gini kamu malah bicarain utang!" seru Kama kesal.


"Emang berapa sih utang Dega?" tanya Kama.


Wah, gawat. Kalo aku jawab jujur, bisa-bisa dia ngamuk. Kama kan super hemat. Fotographer wisuda aku yang cuma delapan juta aja sanggup dia tawar, apalagi hutang Dega yang dua puluh juta.


"Gak banyak kok, Babe. Cuma dua juta." Sutra terpaksa berbohong dan mengurangi satu digit di belakang nominal yang seharusnya. Sementara Dega ternganga mendengar jumlah hutangnya yang berkurang sangat banyak.


"Yaudahlah ikhlasin aja, Mas. Kasihan, Dega. Kamu jangan pelit-pelit, donk sama temen sendiri. Atau biar aku yang gantiin kalo kamu gak mau ikhlasin." Kama mengeluarkan ponselnya dari saku celana, bermaksud mentransfer uang dua juta ke rekening suaminya.


Duh, apes gue! Salah ngomong.


"Eh, enggak-gak. Gak usah, Babe. Iya, yaudah aku ikhlasin." Terpaksa Sutra mengiyakan dengan wajah yang yang gak karuan. Matanya melotot memandang Dega.


"Hahaha, makasi ye, Sut. Lu emang sahabat terbaik gua." Dega tertawa sembari menepuk-nepuk bahu Sutra.


Ah, nasiiib-nasib! Lenyap tak berjejak duit gue buat si Betawi!


🍃🍃🍃

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan udara yang sangat panjang, akhirnya mereka sampai di bandara internasional Kuala Lumpur. Kama dan Sutra sempat menemani Dega menunggu pesawat berikutnya yang akan membawa Dega pulang ke Jakarta.


"Sekali lagi makasi ye, Sut. Lu emang sobat kentel manis gua. Yang ikhlas yeee, biar jalannye mudah, kagak bikin dongkol di ati." Dega tersenyum girang menepuk pundak Sutra sembari berpamitan untuk naik ke pesawat berikutnya.


Si kampret ini, pake nyengir segala!


"Iya!" jawab Sutra singkat.


"Gua juga makasi banget ame lu, Kam, udeh mau repot bantuin masalah gua ame Chelsea. Gua tungguin kabar baik dari lu yak." Dega tak lupa berpamitan pada Kama.


"Iya, Ga. Kamu hati-hati ya. Inget, harus langsung pulang ke rumah ketemu orang tua." Kama mengingatkan.


Selepas kepergian Dega, Kama dan Sutra langsung menuju kediaman orang tua Kama, Datuk Emran Ibrahim, di Petaling Jaya Kuala Lumpur. Kawasan hunian mewah yang bernilai puluhan juta RM. Kedatangan mereka tepat di saat hari sudah mulai berganti gelap.



"Eh, rumah siapa ini, Babe?" tanya Sutra heran.


Ternyata kebodohan tidak hanya ada pada Kama, melainkan Sutra juga. Hampir dua bulan menjadi menantu Datuk Emran Ibrahim tapi Sutra tidak sekalipun tau rumah kediaman keluarga Ibrahim. Pasalnya selama ini mereka selalu bertemu di apartemen milik Datuk Emran.


"Rumah keluarga Abah lah, Mas," jawab Kama.


Sutra ternganga menatap kediaman itu dari ujung ke ujung. Rahangnya hampir tak bisa tertutup sanking takjubnya. Untung saja liurnya tidak ikut-ikutan menggenang.


Masya Allah, mertuaku ... Tajir banget ya ...


Turun dari mobil, kedatangan mereka sudah di sambut oleh Datuk Emran dan Ida Ayu di depan pintu.


"Assalammualaikum, Abah ..., Biang ..." Kama mencium tangan ayah dan ibunya bergantian. Di ikuti oleh Sutra di belakang.


"Waalaikumsalam," jawab Datuk Emran.


"Waalaikumsalam, ayo masuk. Kita langsung makan malam bersama," ajak Ida Ayu.


Mereka semua masuk menuju ke ruang makan keluarga Ibrahim. Ternyata ada banyak orang di sana, yakni sanak saudara Datuk Emran. Mulai dari adik-adiknya beserta suami, serta keponakan-keponakannya. Total jumlah keluarga itu ada dua puluh dua orang di sana, lalu bertambah dua dengan kehadiran Kama dan Sutra.


Ternyata Datuk Emran adalah anak laki-laki kedua dari Keluarga Ibrahim. Semula perusahaan Ibrahim Corp di pegang oleh Kakak tertuanya, sementara Datuk Emran hanya berprofesi sebagai dosen saat awal menikah dengan Ida Ayu delapan belas tahun yang lalu. Namun terjadi kecelakaan yang menyebabkan Kakak tertuanya meninggal, maka mau tidak mau Datuk Emran harus mengambil alih usaha keluarga, sebab hanya dia lah anak laki-laki yang tersisa.


Tak di sangka lewat kepemimpinannya, Ibrahim Corp melaju pesat. Dalam sepuluh tahun perusahaan itu sudah bisa menguasai enam puluh persen real estate di Malaysia. Belum lagi saham-sahamnya yang ada di beberapa perusahaan lain, membuat aset Keluarga Ibrahim tak bisa di hitung lagi banyaknya.


Selesai makan malam bersama dan saling berkenalan dengan keluarga besar, Kama dan Sutra di antar menuju kamarnya untuk beristirahat.


"Sama, aku juga belum lama tau kok Mas. Ini kedua kalinya aku ke sini," saut Kama sembari membuka koper, mengambil baju ganti untuknya.


"Wah, luar biasa ya, Babe. Ternyata Abah kamu wow banget," seru Sutra yang belum berhenti terkagum-kagum.


"Aku mandi duluan ya, Mas." Kama berlalu ke kamar mandi meninggalkan Sutra yang berkeliling melihat dekorasi kamar yang mereka tempati.


Kali ini Sutra sedang norak mode on. Ia terkagum-kagum akan property dan segala isinya milik keluarga Ibrahim. Rumah mewah bak negeri dongeng beserta dengan perabotannya. Sutra juga memandang keluar jendela. Tampak taman yang luas beserta air mancur dan susunan bunga di sertai lampu-lampu yang cantik menambah indah pandangan walau di malam hari.


Ah, luar biasa mertuaku! decaknya kagum tak henti.


Sesungguhnya bukan hal mengejutkan dengan aset berlimpah keluarga Ibrahim. Sebab Datuk Emran sendiri saja bisa membangun resort pribadi di pulau Trengganu - Malaysia yang di hadiahkannya untuk istrinya Ida Ayu. Jadi sudah di pastikan kekayaannya tak main-main.


Selesai dengan ritual kamar mandi pasangan fenomenal itu lantas naik ke atas ranjang, merebahkan diri dari rasa lelah selama perjalanan udara yang begitu panjang.


"Babe," ucap Sutra.


"Heum," jawab Kama.


"Kamu capek gak?" tanya Sutra.


"Enggak juga sih. Kan kita di pesawat santai, cuma duduk, rebahan, makan, itu doank. Kenapa, Mas?" Kama bertanya balik.


"Aku mau nunjukin sesuatu." Sutra meraih ponsel di atas nakas lalu membuka file dari sebuah halaman website.


"Nih," Ia lalu menyerahkan ponsel itu pada Kama, meminta istrinya untuk membaca.


Tanpa berpikir apapun dengan santai Kama mengambil ponsel Sutra lalu membacanya. Tiba-tiba pada detik kesepuluh wajah santai Kama berubah takut. Dahinya sampai berkerut.


“Bila seorang suami memanggil istrinya ke ranjang lalu tidak di turuti, hingga sang suami tidur dalam keadaan marah kepadanya niscaya para malaikat melaknati dirinya sampai Shubuh,” (Muttafaq ‘Alaih dari hadits abu Hurairah).


“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke ranjang lalu sang istri enggan memenuhi panggilannya melainkan yang di atas langit (Allah Ta’ala) marah kepadanya sampai suaminya ridha kepadanya,” (HR.Muslim).


Menolak ajakan suami bercinta dapat membuat suami kecewa dan menimbulkan konflik rumah tangga bila tidak ada komunikasi yang baik. Meski terkesan sepele, ternyata perkara ini menimbulkan dosa besar yang membuat shalat tidak bisa di terima.

__ADS_1


Ternyata Sutra menunjukkan artikel yang berisi penjelasan hukum menolak hubungan suami istri dalam Islam.


Selesai membaca Kama melirik Sutra dengan wajah tidak karuan.


"Kamu becandain aku kan, Mas?" tanyanya curiga.


"Memangnya wajah aku keliatan lagi becanda?" Sutra bertanya balik dengan wajah yang kesemsem, antara mau ketawa dan puas setelah berhasil menunjukkan artikel itu.


"Iya, itu kamu kayak mau senyum-senyum!" seru Kama kesal.


"Enggak, Babe ... Itu serius hadistnya, masa aku ngarang. Kalau gak percaya coba kamu buka di situs lain. Pasti isinya sama," jawab Sutra sok bijak. Padahal dalam hati ia sudah kegirangan membayangkan dirinya bisa minta jatah kapanpun dan sebanyak apapun.


Hahaha ... Yeeee yeeee yeeee, merdekaaaaa. Kita merdeka bro ..., merdekaaaaaa ... Tempuuur anytime ..., teriak batin Sutra menyemangati prajurit tempurnya.


Ah, serius itu, Ndan?


Alahmaaak, simpiiiiing abang rinduuuuuuu.


Kama sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Setelah ia cek di tiga situs berbeda, isi hadistnya tetap sama. Intinya haram menolak ajakan suami untuk bercemewew.


Cemewew adalah kata lain dari begituan. Maklum guys, di sini polisinya super ketat. Takut ada kata yang salah terus kena cekal lagi deh authornya. Hahaha.


"Jadi, kemarin malam aku dosa?" Kama teringat kelakuannya kemarin malam.


"Gak apa-apa, Babe. Udah aku maafin kok. Abis aku cinta banget sama kamu." Sutra mengusap lembut pipi Kama lalu menatapnya penuh mesra.


"Udah Mas, ke intinya aja. Aku tau kamu mau minta itu kan?" Skak mat. Tanpa basi-basi tebakan Kama tepat sasaran.


"Enggak ah, aku kan mau berbagi cinta. Masa pikiran aku begituan doank." Sutra mengelak dengan beralasan. Ia tidak mau Kama menganggap isi otaknya selalu mesum. Padahal memang iya.


"Berbagi cinta maksudnya apa?" tanya Kama polos.


"Kayak gini," Sutra meraih telapak tangan Kama lalu meletakkannya di dada.


"Berasa gak detak jantung aku?" tanyanya.


"He-eh, kenceng," jawab Kama.


"Itu buktinya, setiap berdekatan sama kamu aku selalu deg-degan, Babe. Aku pengen membagi perasaan ini sama kamu. Berbagi cinta," terang Sutra.


"Caranya?" tanya Kama lagi.


Cup !


Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir peach Kama.


"I love you," bisik Sutra.


Cup !


"I need you," bisiknya lagi.


Cup !


"I want you," Sekali lagi.


Seeerrrrr !


Bisikan tiga kalimat itu, berhasil membangkitkan perasaan mengelitik seorang Kama.


"Masss ..." lirihnya pelan.


"Heum,"


"Kamu selalu pinter mancing aku, ih," sambung Kama lagi.


"Yaudah kalo gitu kita terusin ya pancing memancingnya, Babe. Pleaseee ...," pinta Sutra.


Kama terdiam sesaat.


"Babe ...," Sutra kembali meminta dengan wajah memelas. Dan tak di sangka ternyata Kama tersenyum menatap wajah lucu suaminya seraya mengangguk.


Yess, akhirnyaaaa. Surgaaa, i'm comiiiing ...


🍂🍂🍂

__ADS_1


Finally Sutra gak perlu lagi takut di tolak. Ada senjata ampuh yang bisa membuat Kama takut dan langsung mengiyakan 🤣🤣


Kalau begitu terus bakalan hamil donk Kama jadinya 😱 iyakah? Bagaimana anaknya nanti? Mirip Kama atau mirip Sutra ya?


__ADS_2