
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Setelah kepergian orangtua mereka, Kama lantas melotot pada Sutra. Ia kesal dengan aksi buka baju Sutra yang menghasilkan penafsiran salah dipikiran orangtua mereka.
"Kenapa, Babe? Kok ngeliatin aku kayak gitu?" Sutra beranjak ke ranjang setelah menutup pintu kamar.
"Maksud kamu apa Mas? Kamu sengaja kan?" Kama menyusul dibelakang dan langsung memburunya dengan pertanyaan.
"Soal?" Sutra bertanya balik. Ia bersikap santai, konsisten dengan misi sandiwara yang telah diembannya berhari-hari.
Iih, Mas Adrian nyebelin! Pake pura-pura gak tau segala! Untung dia lagi sakit, kalo dia sehat, udah aku tinggal ke bawah
"Kamu sengaja kan bikin orangtua kita salah paham?" Kama menjabarkan pertanyaannya.
"Salah paham soal apa, Babe?" tapi Sutra masih pura-pura tidak mengerti.
"Kamu jangan becanda donk, Mas! Aku serius! Aku kesel sekarang!" seru Kama, kesalnya semakin bertambah.
"Loh apa masalahnya, Babe? Memangnya apa yang bikin kamu kesel?" lagi-lagi Sutra berlagak bodoh.
"Astagaaa, Mas...! Itu maksud kamu apa lepas kemeja sebelum buka pintu kamar? Kamu sengaja buat orangtua kita salah paham kan?!" Kama menekan kalimatnya. Ia sudah benar-benar kesal sekarang.
Sutra menarik pinggang Kama yang berdiri dihadapannya, melingkarkan tangannya disana.
"Hei-hei-hei, calm down Babe. Aku bingung sama kamu deh. Kamu marah-marah gak jelas. Memangnya apa yang harus membuat mereka salah paham?" Sutra mendongak, menatap wajah cantik istrinya.
"Aku memang gak tau apa yang ada dipikiran orangtua kita, dan gak bisa mencegah juga. Tapi apa yang bikin kamu sampai marah begini coba? Memangnya kenapa kalau aku lepas kemeja tadi? Kamu kan istri aku, bukannya kamu juga udah sering liat aq lepas pakaian dari atas sampai bawah" Sutra mengerutkan dahinya seolah bingung.
Seketika itu juga wajah Kama memerah malu.
Apa katanya? Aku sering liat dia lepas pakaian???? Iiih, mana pernah!
"Ngaco kamu, Mas!" sontak Kama memukul tangan Sutra.
"Loh kok ngaco? Kita kan udah menikah, salahnya dimana sih? Kamu yang bilang sama aku kalau kita baru aja menikah, itu artinya kita masih tergolong pengantin baru kan. Dan setau aku pengantin baru itu masih lengket-lengketnya, bener gak?" Sutra kembali bertanya dengan tampang bodohnya.
Eh, ya ampuuun! Hampir aja aku lupa! Mas Adrian kan lupa ingatan! Dia gak tau gimana hubungan pernikahan kami yang sesungguhnya. Pantas dia santai begitu, gawat!
"I-i-iya..., ka-kamu bener Mas. Tapiiii..." Kama akhirnya menjawab terbata-bata.
Hehehe, lucunya, kamu sampe gagap gitu Babe
"Tapi apa?" Sutra menaikkan alisnya.
Tiba-tiba Kama teringat dengan pesan Dr.Ridwan yang mengatakan kalau Sutra tidak boleh banyak berpikir maupun banyak beban.
__ADS_1
Aku gak mungkin mengatakan yang sebenarnya ke Mas Adrian. Aku gak mau bikin sakitnya makin parah. Gak! Pokoknya apapun caranya aku harus bantu dia untuk sembuh, sekalipun aku haruus...., akh!
"Yaudah kalo gitu sekarang kita...itu yuk..., aku udah gak kuat" Sutra menatap mata Kama penuh arti. Rencananya mengerjai Kama masih berlanjut.
"A-apa, Mas?" tangan Kama seketika berkeringat dingin, pikirannya sudah menjurus kemana-mana. Ia membayangkan kalau Sutra akan mengajaknya bermain tepuk pramuka. Prok, prok, prok, begitulah bunyinya.
Buat pasangan halal pasti tau permainan tepuk yang satu ini. Tapi tolong kalau mau praktek volumenya dikecilin, jangan sampai ada tetangga yang jomblo jadi nguping. Kasihan, mereka tidak akan kuat menanggung kecemburuan.
"Makan, aku laper banget" walau Sutra memasang wajah memelas tapi sesungguhnya ia tertawa dalam hati sebab berhasil mengerjai Kama.
Aaaah, aku pikiiir....
Kama dan Sutra lantas turun ke lantai bawah. Dibantu oleh Retno mereka menikmati makanan resto yang dipesan oleh Ajeng tadi.
Sembari makan mereka berdua berbincang,
"Mas, besok pagi aku berangkat ke Depok ya. Mau ngurus ijin cuti kuliah" ucap Kama mengawali.
"Oke, aku anterin" saut Sutra sambil terus menikmati makanan.
"Eh, jangan, gak usah Mas. Kamu istirahat aja dirumah, aku bisa sendiri kok" Kama menghentikan makannya, memastikan agar Sutra tidak perlu ikut ke Depok.
"Yaudah kalau gitu kamu gak usah pergi" saut Sutra enteng.
"Loh, kok gitu? Jangan donk Mas, ntar urusan kuliah aku berantakan. Aku harus secepetnya urus cuti sebelum mata kuliah berjalan aktif" jelas Kama.
"Iya, aku paham, Babe. Tapi aku gak mau kamu jauh dari aku. Jakarta - Depok kan jauh" Sutra sudah menghabiskan makanan di piringnya sampai bersih. Ia lantas meraih gelas berisi air putih dan menenggaknya.
"Ntar aku tungguin kamu di apartemen" sambung Sutra lagi.
"Yaudah terserah" Kama ikut menenggak air putih, mencoba tenang sembari memahami perubahan sikap Sutra yang selalu ingin menempel dengannya.
πππ
Jam sudah menunjuk pukul 7 pagi saat ini. Selesai sarapan dan berpamitan pada orangtua, Kama dan Sutra pun berangkat ke Depok dengan supir keluarga William.
Sepanjang perjalanan Sutra memang betul-betul terus bermanja pada Kama. Bahkan sejak kemarin malam, ia persis seperti cicak yang melekat di dinding. Lengan, bahu, dan dada Kama menjadi space favorite untuk Sutra menempel.
Ia terbayang akan kesan malam pertamanya dengan Kama. Walau berakhir tragis, namun perjalanan step by step nya sungguh merupakan kenangan terindah baginya. Intinya, Sutra rindu dengan keimutan si pucuk cream yang menggetarkan sanubari waktu itu.
Keadaannya sudah terbalik. Biasanya perempuan yang menempeli pasangannya seolah takut lepas atau dicomot orang. Tapi kali ini justru Sutra yang melakukan demikian. Walau sejujurnya Kama merasa risih dengan kelakuan suaminya itu. Namun lagi-lagi Kama harus memikirkan keadaan Sutra. Sakitnya menjadi alasan besar untuk Kama tidak bisa menolak bahkan pasrah.
Memang pilihan yang tepat bagi Sutra memerankan sandiwara yang luarbiasa mulus ini. Dia betul-betul menang banyak.
Dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai dihalaman kampus Kama, dan supir pun menghentikan mobil.
"Aku turun ya Mas. Kamu langsung ke apartemen kan?" tanya Kama sebelum ia turun dari mobil.
"Iya. Kiss dulu donk..." pinta Sutra.
__ADS_1
Iih, astaga! Makin-makin deh Mas Adrian!
Raut wajah Kama berubah, dahinya berkerut sembari matanya melirik ke arah supir. Menandakan kalau ia malu dengan permintaan Sutra barusan.
"Mas...!" keluh Kama.
Sutra tersenyum, ia tidak perduli dengan penolakan Kama. Pria itu bahkan dengan cepat menarik lengan istrinya dan
Cup !
Ia mendaratkan kecupan kecil di daging kenyal milik Kama.
"Love you! Jangan lama-lama ya, Babe" saut Sutra setelahnya.
Kama terpaku membatu. Aliran darahnya berhenti sedetik, terkejut dengan kelakuan Sutra yang tiba-tiba. Namun kemudian wajahnya pun memanas, malu dan kesal bercampur jadi satu. Sebab disaat yang sama Pak Wiryo, supir mereka menoleh kebelakang, melihat adegan manis pengantin baru itu.
"Eh, maaf-maaf Mas, Mbak, saya gak sengaja, hehehe. Sok atuh, dilanjut, mangga..." saut Pak Wiryo sembari mengangkat jempol, yang kebetulan ia berasal dari Cimahi.
Reflek Kama mencubit lengan suaminya.
"Aawww! Sakit Babe..." rengek Sutra.
Oh, ya ampun, Mas Adrian, manjanyaaaa! Iiiiihh....
"Udah ah, aku turun sekarang ya!" ucap Kama tegas yang langsung diiyakan oleh Sutra.
Selepas Kama pergi, mobil pun kembali melaju. Supir mengantar Sutra ke apartemen yang ia sewa selama ini. Lokasinya tidak jauh dari UI.
"Yaudah pak, terimakasih ya. Bapak langsung balik aja ke Jakarta" ucap Sutra begitu mobil sampai didepan lobi towernya.
"Loh, gak ditungguin Mas?" tanya pak supir.
"Gak usah pak. Biar malam ini saya dan Kama nginap disini aja. Nanti saya kabarin ke rumah" jawab Sutra sembari turun dari mobil.
Babe..., aku udah gak sabar ngabisin malam hanya berdua sama kamu. Hehehe...
"Oh, oke Mas. Saya permisi..." saut pak supir.
πππ
Adudududu...rencana apalagi yang ada diotak Sutra ya gaes??
Yuk kita tebak apa yang akan ia dan Kama lakukan malam ini diapartemen?
a. ngobrol
b. nyemil kacang
c. kelonan
__ADS_1
d. begituan