When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
PULAU TIDUNG


__ADS_3

Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat πŸ€—πŸ™


happy reading..


--- Sutra Pov ---


Satu jam kemudian kami sampai di dermaga Marina. Aku meminta Kama menunggu dimobil sementara aku menanyakan jadwal keberangkatan kapal kepada petugas dermaga. Suatu kebetulan ternyata ada lima orang anak muda yang berencana sama dengan kami untuk pergi main ke Pulau Tidung. Mereka adalah tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Aku lantas menemui mereka dan sepakat membagi biaya sewa speed boat bersama. Lumayankan bisa menghemat sedikit biaya perjalanan. Setelah sepakat, akupun meminta Kama turun dan mengunci rapat mobilku.


Kami bertujuh memulai perjalanan kami dengan speed boat. Diatas kapal kami semua berkenalan.


"Hai, kenalin saya Sutra.., dan ini Kama.." aku memperkenalkan diriku dan Kama sekaligus pada mereka. Mau tau apa respon mereka? Awalnya mereka terkejut lalu kemudian tertawa terbahak-bahak.


Hahaha, akupun juga ingin tertawa dengan mereka. Siapa yang tidak tertawa mendengar ada dua orang yang memiliki nama unik seperti kami. Kamasutra! Pasti bayangan mereka sudah panas dingin mengingat pose-pose aduhai di buku yang berjudul sama. Tapi apa daya, Kama keburu marah. Ia sepertinya tidak suka ditertawakan oleh mereka, dan melampiaskannya padaku. Terbukti Kama melototiku terus sejak tadi.


Aah, harusnya tadi ku sebut saja namaku Adrian bukan Sutra..


"Hai, Kamasutra, hahaha" salah seorang cewek menggoda dengan menggabungkan nama kami.


"Hai, Kama.. Jangan didengerin, Stella cuma becanda kok. Kenalin aku Daniel.." cowok putih bermata sipit itu menjabat tangan Kama lebih dulu. Wajahnya sangat mirip dengan Daniel Mananta presenter tv itu.


Hiih, aku gak suka! Kayaknya dia sengaja membuat Kama terkesan dengannya.


"Hai, bro.." ternyata si mata sipit itu tak lupa menjabat tanganku juga.


"Hai, bro, salam kenal.." jawabku


"Hai, Kama.., kenalin namaku Raisa dan ini pacarku Daud" seorang cewek yang sejak awal terus menempel dengan pacarnya itu ternyata bernama Raisa dan Daud. Aku jadi teringat dengan pasangan artis Raisa dan Hamish Daud, nama belakang nya sama.


Ha**haha, kok bisa kebetulan ya..


"Hai, Sutraa,.." sapa Raisa padaku dan aku merespon dengan senyuman


"Diih, ganteng banget sih kamu.., senyumnya itu loh, bisa kesem-sem aku, hihihi" kali ini cewek bernama Stella tadi menggodaku. Entah kenapa aku langsung melihat respon Kama, aku kawatir dia jengah, eeh malah dia asik ngobrol dengan si mata sipit tadi.


Halaaah, ngerusak kencanku saja manusia satu itu!


"Hai, bro, kenalin gue Vino.." terakhir cowok pendek rambut kribo menjabat tanganku


"Hai, Kama.., gue Vino" sautnya lagi pada Kama.


Selesai kami semua berkenalan, aku bermaksud menggeser duduk ku mendekat pada Kama. Namun Stella lebih gesit lagi, ia pindah duduk diantara aku dan Kama.


Aiih, mau apa sih anak ini!


Aku semakin tidak bisa menghentikan pembicaraan si mata sipit dengan Kama. Memang sih mereka tidak ngobrol yang macam-macam, dan duduk mereka pun berseberangan. Tapi tetap saja aku gak suka. Kama kan pacarku, kok malah dia yang nemenin ngobrol!


"Kamu kesibukkan nya apa nih?" tanya Stella padaku


"Kuliah" sengaja kujawab singkat, agar dia bosan bicara denganku


"Oya, kuliah dimana?"


"UI"


"Woaa, kereen! Pasti kamu banyak yang naksir kan dikampus.., ganteng banget soalnya!" sambung Stella lagi dengan lebih mendekat padaku.


"Halah Stel.., modus lo.., hahaha" saut Vino si kribo. Aku ikut tertawa biar gak canggung. Dan Kama ngapain? Kulihat dia masih sesekali menjawab pertanyaan si mata sipit.


Huuh, tau gitu ku sewa saja sendiri speed boat ini, gak perlu bergabung dengan mereka! Gak papa lah aku tekor diongkos, asal jangan tekor hati kayak gini!


Selama satu jam mau tidak mau aku meladeni Stella dengan obrolan membosankan. Ya, tau sendiri lah karakter ku bagaimana, gak tegaan dengan perempuan. Entah apa yang Stella tanya akupun gak terlalu fokus, mataku terus mengawasi Kama. Sejak setangah jam lalu Kama sudah berhenti bicara dengan si mata sipit, dia tertidur menyandar di kursi. Syukurlah, aku tidak perlu lama-lama menahan cemburu.


Tak berapa lama kapal speed boat yang kami sewa sampai di Pulau Tidung. Si mata sipit dengan sigap mau membangunkan Kama, tapi kutahan, enak saja dia! Baru kenal kok udah kayak teman dekat, aku jadi teringat dengan si cunguk Reyhan.


"Biar gue aja, bro.. Kalian duluan aja turun.." dan dia langsung setuju.


"Oh, oke.." jawabnya.


Udah pergi aja lo sana, yang jauh sekalian!


Aku lantas membangunkan Kama dengan lembut. Kuusap-usap kepalanya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ingin kucium saja dia ini.


Wajahnya yang tertidur pun terlihat sexi, ooh, sungguh cobaan buatku!


"Kam.., bangun yuk.. Udah sampai.." kataku


Pelan-pelan Kama membuka matanya,


"Eh, aduh maaf mas.. Saya ketiduran" jawab Kama


"Gak papa, yuk turun.." kuberanikan diri menggenggam tangan nya dan membawa Kama turun, dan alhamdulillah dia mau. Aku juga tak lupa menanyakan jam keberangkatan pulang dengan bapak pengemudi kapal.


"Wah, cantik yah.. Persis kayak di google" ucap ku begitu keluar dari kapal dan turun ke dermaga. Ternyata ramai juga pengunjung pulau ini. Wajarlah, inikan hari Minggu.


"Loh, kamu belum pernah kesini juga, mas?" aku tersenyum dan menggeleng.


"Pertama kali dan itu sama kamu" aku mengajak Kama berjalan sambil menikmati indahnya Pulau Tidung. Memang tidak salah pilihanku, pulau ini sungguh keren untuk dikunjungi.


Keindahan panorama pantai dengan pasirnya yang lembut berwarna putih bersih dan lautnya yang jernih berwarna kebiruan langsung menyapa dan memanjakan mata kami. Aku melihat orang berbondong-bondong menyusuri jembatan diujung sana. Panjang sekali jembatan itu, menuju kemana ya kira-kira?


"Maaf pak, numpang tanya, itu jembatan kemana ya?" aku bertanya pada seorang laki-laki paruh baya yang berdiri di dekat kami.


"Oh, itu namanya Jembatan Cinta dik, menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Kalian darimana memangnya?" tanya laki-laki itu


"Kami dari Jakarta pak.."


"Teman atau pasangan kekasih?" tanyanya lagi

__ADS_1


"Pacaran pak" saut Kama pelan. Waah, senangnya, Kama mengakuiku sebagai pacarnya.


"Hehehe, baru jadian ya, masih malu-malu gitu. Tapi cocok banget kok, yang cowok ganteng dan ceweknya sangat menarik, mirip penyanyi Hollywood, siapa itu namanya saya lupa, rambutnya persis seperti kamu loh, keriting. Ah iya saya ingat, Mariah Carey waktu masih muda"


A**issh, bapak ini imajinasinya aneh-aneh juga sepertiku, hahaha.


"Yaudah kalian coba telusuri Jembatan Cinta sana. Jembatan itu memberikan aura positif bagi hubungan asmara, dan dipercaya bisa membuat hubungan kalian jadi langgeng"


"Nanti setelah itu kalau capek mampir di warung saya ya, banyak pilihan makanannya kok.. Tuh, yang sebelah situ.." ia menunjuk ke deretan warung tenda yang tidak jauh dari situ.


"Oh, oke pak.. Terimakasih banyak ya pak.. Kita jalan kesitu dulu" akupun pamit padanya.


Aku menggandeng tangan Kama berjalan mengarah ke Jembatan Cinta.


"Kita coba ya.." ajak ku pada Kama sambil memandang ke Jembatan Cinta. Waah, panjang juga jembatannya, mungkin sekitar 800 meter.




Kama hanya diam memandang jembatan itu, kayaknya dia kepanasan.


"Kamu tunggu disini bentar ya, saya ke situ dulu.." aku menunjuk ke seorang ibu-ibu penjual payung.


"Bu, beli payungnya satu donk, yang besar ya.. Berapa bu?" tanyaku pada ibu penjual payung


"Dua ratus ribu, dik.. Mau?"


H**ah? Payung apa sampai 200 ribu harganya? Mungkin karena tempat wisata ya.. Yaudahlah daripada Kama kepanasan.


"Oke, satu ya bu.."


"Cukup satu, dik? Gak ambil dua aja? Beli dua jadi 300 ribu aja dik.."


"Gak usah bu, biar bisa dempetan payungannya" sautku cepat dan langsung memberikan uang merah dua lembar.


"Makasih, bu.." aku meninggalkan ibu penjual payung dan segera menghampiri Kama, lalu membuka payung yang kubawa untuk dipakainya.


"Pake ini ya, biar kamu gak kepanasan" ucapku padanya.


"Barengan aja mas.." kamipun jalan berdampingan dengan tanganku yang memegangi payung.


Ah, apa ya, kok kesannya kaku banget sih posisi kami. Kama sama sekali gak mau mengapit lenganku atau paling gak menempel sedikit lah..


"Hei, Kama..." tiba-tiba sebuah suara yang tidak terasa asing muncul dari belakang kami. Si mata sipit beserta teman-temannya datang. Aku dan Kama terpaksa berhenti dan menoleh ke mereka.


"Kalian mau nelusuri jembatan cinta juga ya?" tanya Stella mendekatiku


"Ah, iya.. Kalian juga?"


"Iyaa.., barengan yuk.." saut Stella lagi.


"Beli payung dimana, Sut? Pasti mahal kan.." saut Raisa yang terus menggandeng Daud, pacarnya sejak di kapal tadi.


Aku jadi iri, coba kalau Kama bisa seperti itu juga padaku. Kalau aku yang mulai duluan, aku kawatir Kama salah paham dan bisa saja dia menamparku.


"Yaudah yuk gaes, ntar makin panas cuacanya.." ajak Vino si kribo.


Kami bertujuh pun jalan bersama-sama memasuki Jembatan Cinta. Raisa dan Daud bergandengan jalan lebih dulu didepan, selanjutnya Stella dan Vino , lalu kemudian kami bertiga, aku, Kama dan Daniel, si mata sipit. Aku yang masih memayungi Kama, malah terkesan seperti asistennya saja. Si mata sipit berada tepat disamping kanan Kama dan mengajaknya ngobrol.


"Kam, kamu asli Jakarta bukan?" tanyanya pada pacarku. Ya, Kama sekarang kan adalah pacarku.


"Bukan.."


"Terus darimana?"


"Bali.."


"Ooh, pantesan wajah kamu menarik banget.. Apalagi kulitnya, eksoktis gitu.." puji si mata sipit.


Apa-apaan dia itu?! Woii, itu cewek gue! Ngapain lo puji-puji?!


"Heum, makasih.." saut Kama


"Terus itu, kamu pake parfum apa sih? Harum banget tau.., aku belum pernah nyium sebelumnya"


E**h, kurang ajar! Aku saja gak pernah bertanya kok! Jangan-jangan daritadi dia menikmati aroma parfum Kama, lagi! Gak bisa dibiarin ini!


"Eh Dan, foto yuk, foto.. Cakep banget ini lokasinya.. Pas lagi diatas.." Stella menarik si mata sipit untuk berfoto.


"Ayuk kalian ikutan sekalian.." ajak Stella lagi


"Gak, gak usah.., kalian aja. Sini biar aku bantu fotoin" aku menawarkan bantuan pada mereka. Seenggaknya baguslah mereka foto-foto daripada aku harus melihat si mata sipit itu ngajak Kama ngobrol terus.


"Kam, ayuk ikutan foto.." ajak si mata sipit pada Kama, aku reflek menoleh, ingin tau apa jawaban Kama.


"Gak ah.." Kama menjawab datar dan langsung beralih menikmati keindahan pemandangan sekitar dari atas jembatan.


Hahaha, rasain lo dicuekin!


Selesai membantu mereka foto-foto, aku kembali mendekati Kama.


"Yuk.." ucapku. Kama memandangiku lalu dia tersenyum sekilas sambil menyodorkan tangannya. Hah? Iya, dia menyodorkan tangannya untuk kugenggam.


Aiiih, aku mau melompat dari jembatan ini rasanya. Ini pertama kalinya Kama mau memulai duluan.


"Jangan dilepas ya mas.., biar mereka tau kalau kita pacaran" ucap Kama setelah kami bergandengan tangan.

__ADS_1


Masya Allah.., senangnya. Ternyata dia begitu mengakuiku didepan semua orang.


Sekarang aku jadi lebih tenang. Pandangan si mata sipit itu pun rasanya ingin membuatku tertawa dan bilang,


Nah, lo liat kan.., dia ini cewek gue! Jangan lo pepetin terus kayak tadi!


Aku dan Kama kembali jalan bergandengan menelusuri jembatan cinta. Pemandangannya sungguh indah. Laut biru terbentang luas, sejauh mata memandang. Perairan dibawah jembatan pun tidak kalah indah, kami bisa melihat terumbu karang dengan jelas karena airnya begitu jernih.


"Keliatan ya kalau saya cemburu, tadi.." aku iseng bertanya pada Kama


"Hah, cemburu kenapa?"


Ya**h, dia malah gak tau sama sekali.


"Saya cemburu ngeliat kamu ngobrol dengan si.., siapa itu tadi namanya yang matanya sipit?"


"Daniel..?" Kama sampai ingat namanya.


"Ah iya, si Daniel.."


"Saya juga males ngeladenin dia ngobrol.."


"Loh, kenapa? Saya pikir kamu senang ngobrol sama dia.."


"Cuma menghargai dan gak mau bikin kamu malu, mas.."


"Eh, gimana ceritanya, kok kamu bisa mikir kayak gitu?" aku heran dengan jawaban Kama.


Memangnya kenapa aku harus malu?


"Kalau saya diam saja atau menjawab pertanyaannya dengan kasar, mas pasti malu.. Karena sejujurnya saya gak nyaman diajak ngobrol dengan lawan jenis" Kama menjelaskan


"Oh gitu.., jadi kamu gak punya temen laki-laki dong ya?" aku mulai penasaran


"Ada satu orang. Itu si Reyhan"


Y**a aku tau lah kalau si cunguk itu!


"Yang lain, di Bali mungkin.." Kama menggeleng.


Hah? Serius? Kama gak punya teman laki-laki lain selain si cunguk. Waow, ini kejutan buatku..!


"Satu-satunya laki-laki yang paling dekat itu kamu, dan sekarang jadi pacar.." jelas Kama


Wah, tidak kusangka, aku wajib ge-er ini!


"Jadi sebenarnya gak ada yang perlu dicemburuin dari saya. Karena memang gak ada juga yang mau dekat dengan saya. Cuma kamu satu-satunya.." jelas Kama lagi.


"Kamu salah, saya justru kawatir banget dengan itu. Kamu terlalu menarik untuk tidak didekati. Bahkan kamu sendiri gak sadar kan dengan itu.. Buktinya si mata sipit itu, baru juga kenal tapi dia sudah nempelin kamu terus.." aku memperjelas kalimat terakhirku


"Cuma iseng mungkin.."


"Iseng sekalipun, saya tetap gak suka. Saya laki-laki Kama, dan sebagai laki-laki normal, bohong kalau tidak tertarik dengan kamu" aku menghentikan langkahku dan menatapnya serius


"Wajah kamu, penampilan kamu, bahkan aroma parfum kamu yang dia tanya tadi, sangat menarik! Saya bilang sangat, artinya itu sungguh terlalu. Bahkan Daud, pacarnya Raisa yang tampaknya kalem itu, terus mencuri pandang memperhatikan kamu. Dan bapak yang kita tanyain info soal Jembatan Cinta ini mengatakan kalau kamu mirip Mariah Carey, itu artinya apa coba..?"


"Hahaha.., mengarang!" Kama tertawa mendengar kalimatku


"Loh, itu serius kok! Kamu mau tau gak apa pendapat saya soal kamu.."


"Apa?" Kama bertanya penasaran


"Tapi janji ya, jangan marah dan jangan salah paham..?" aku ingin memastikan lebih dulu sebelum kukatakan apa yang ada dipikiranku tentang dia, dan Kama pun mengangguk.


"Kamu itu.., sexi dan sangat menggoda.." aku mengecilkan sedikit suaraku, dan..


Aku salah! Kama melepaskan genggaman tanganku dan berbalik membelakangiku. Dia marah, padahal sudah janji gak akan marah sebelumnya.


Yah, harusnya mulutku gak perlu sok jujur seperti itu, merusak suasana saja! Masi untung aku gak ditampar..


"M-maaf.., kamu jangan salah paham dulu.."


"Udah gak usah pegangan deh kalau gitu! Ntar mikir macem-macem lagi!" saut Kama


Aduh, aku jadi nyesal udah ngomong jujur sama dia.


"Kamu gak percaya dengan saya? Sejauh ini, selama kita dekat, saya pasti ijin lebih dulu kan untuk menyentuh kamu. Saya akan konsisten dengan itu. Atau kalau kamu masih ragu, setelah proyek saya di Malaysia selesai, gimana kalau kita tunangan aja?" aku sudah bingung bagaimana cara meyakinkan Kama hingga mulutku terlalu lancar mengutarakan isi hati dan otak yang tergila-gila padanya ini.


Kama kembali menoleh padaku. Dia menatapku dengan ekspresi yang terkejut.


Aduuh, kayaknya aku salah lagi ini. Apa sih otakku ini! Kok aku jadi seperti ngebet mau menikahinya. Sutraaa.., tahan Sut..! Lo malah bikin Kama jadi gak nyaman nanti..


"Gak, aduuh, maksud saya bukan itu.. Maaf kalau jadi bikin kamu gak nyaman.."


"Kamu serius, mas?" Kama bertanya padaku


"Saya selalu serius dengan setiap kalimat yang saya ucapkan sama kamu.. Tapi kalau kamu gak nyaman, saya minta maaf, dan kamu gak perlu mikirin itu.. Anggap aja saya lagi berandai-andai"


Y**ah semoga Kama bisa memahami maksudku. Aku sudah terlalu gila sampai mengajaknya tunangan di kencan pertama.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Nah loh..


Tunangan?? Gercep banget si Sutra ini..


Kira-kira respon Kama gimana ya gaes? Dia bakalan marah atau setuju??

__ADS_1


Yuk, kepoin di next episode


__ADS_2