
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Aduuh Mas..., ngapain kamu nanyain itu? Aku kan malu ngomonginnya. Lagipula aku juga bingung harus mulai darimana!
"Ayo donk cerita, aku pengen tau" pinta Sutra lagi.
"M..., pe-pertama kali kita pelukan itu di.., rumah sakit. Waktu itu kamu hampir nabrak aku, tapi aku gak apa-apa. Aku baik-baik aja, cuma pingsan.. Terus kamu panik, kamu kalut, dan berantakan. Kamu takut banget aku kenapa-kenapa waktu itu.." pelan-pelan Kama coba menceritakan.
Aku ingat saat itu, Babe. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa dengan kamu
"Terus?"
"Ya itu, aku.., a-aku peluk kamu, biar kamu gak ngerasa bersalah lagi. Aku gak maksud apa-apa waktu itu. Aku cuma, aku mau bikin kamu tenang Mas, biar kamu tau kalau aku baik-baik aja" jelas Kama.
"Waktu itu kita udah dekat?" tanya Sutra lagi.
"Gak juga sih, cuma sebatas dosen dan mahasiswi" Kama menjawab dengan versinya.
Padahal saat itu aku sudah naksir berat sama kamu. Cuma kamunya aja yang gak peka Babe, bahkan terlalu cuek
"Oh gitu. Terus kalau ciuman pertama kita, kapan?" mungkin setelah ini Sutra bisa dikontak jadi pemain sinetron di Indosiar. Actingnya luarbiasa smooth, tanpa cacat sedikitpun. Ia bisa berlagak tidak ingat apapun walau didalam hatinya ia sedang tersenyum mengerjai Kama.
"Ha, e..., m..., k-kalau yang itu..." Kama menjeda-jeda kalimatnya. Ia betul-betul malu. Ciuman pertama mereka adalah saat Kama menenggak bir yang disangkanya kopi saat mereka di Bali waktu itu.
"Kamu nikmatin gak ciu-man kita waktu itu? Atau kamu diam kayak tadi pagi?" sontak mata Kama melotot. Belum juga ia berhasil menjawab pertanyaan sebelumnya, sudah disodorkan dengan pertanyaan baru yang membuatnya semakin susah bernapas.
Mas Adrian kok jadi begini..?? Aaaaahhh, aku sampai gak bisa berkata-kata lagi
Kama memalingkan wajahnya yang mulai memerah. Jangankan menjawab, menatap Sutra saja ia sudah hampir sesak napas. Bisa-bisanya Sutra bertanya demikian sesantai itu. Padahal sebelumnya laki-laki itu tidak pernah membahas hal-hal sensitif dengan Kama.
Nikmatin katanya?? Uuuh, aku kan jadi malu! Aku masih ingat kalau aku sendiri yang menyodorkan diri sampai dia menciumku malam itu
"Oke, aku paham sekarang. Pasti jawabannya kamu gak nikmatin. Makanya kamu diam, persis seperti tadi pagi" Sutra menjawab sendiri dan menyimpulkan dengan semaunya. Ini juga salah satu trik Sutra untuk menekan Kama semakin dalam.
Sutra menyandarkan kepalanya kebelakang. Sejak membuka mata tadi pagi posisinya sudah duduk bersandar ditempat tidur pasien yang sengaja dibuat tinggi bagian kepalanya agar memudahkan ia bersandar.
"Eh, enggak! Bukan itu maksud aku Mas..." tapi Sutra tidak mengindahkan bantahan Kama.
__ADS_1
"Sebenarnya kita menikah karena apa sih? Aku memang belum ingat apapun di kepalaku, tapi hatiku ngerasa kalau aku cinta sama kamu... Apa mungkin ini cuma perasaan aku sendiri ya, sementara kamu gak punya perasaan apapun denganku?" begitu lancarnya Sutra berucap. Piala best actor pantas disematkan untuk laki-laki satu itu.
Astaga Mas Adriaaaan.., bukan itu maksudku!
"Bukan! Bukan itu, Mas! Kamu salah paham! Aku, aku..., aku cinta sama kamu, Mas" acting Sutra berhasil, Kama menyatakan perasaannya.
"Ciuman pertama kita begitu hangat dan..., basah..." sambung Kama lagi, ujung kalimatnya ia kecilkan sembari menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang sudah tidak karuan warnanya. Entah dimana mau ditaruhnya rasa malu mengingat kejadian malam itu, berciu-man dibawah guyuran shower kamar hotel.
Wajah Kama memerah sempurna.
Pelan-pelan Sutra menarik dagu Kama, menaikkan wajahnya hingga sejajar dengannya. Ia lantas tersenyum. Dilihatnya blush on alami memenuhi pipi Kama.
"Pantas aku jatuh cinta sama kamu, Babe. Wajah kamu makin cantik dengan semu merah dipipi" ucap Sutra sembari menikmati pemandangan dihadapannya.
"Tapi gak secantik Chelsea, kan.." entah kenapa kalimat itu keluar dari mulut Kama yang biasanya cuek dengan segala hal. Tampaknya ia sedikit terganggu dengan kehadiran Chelsea tadi. Kama khawatir kecantikan paras Chelsea bisa menggoyahkan suaminya yang sedang amnesia itu.
"Chelsea? Perempuan tadi?" Sutra bertanya balik, dijawab Kama dengan anggukan.
"Hm..., ya aku akui dia memang cantik. Tapi buatku gak menarik. Kulitnya terlalu cerah, bukan seleraku. Aku suka yang seperti kamu..." jawab Sutra jujur.
"Oh ya, tadi waktu kamu pergi sama mereka, aku tiba-tiba ingat sesuatu" sambung Sutra lagi.
"Kamu ingat apa Mas?" Kama bertanya penasaran. Dia berharap itu adalah tanda kesembuhan amnesia suaminya.
"Iya, pernah! Waktu itu kita ke Pulau Tidung! Kencan pertama kita.." saut Kama antusias.
"Tapi kok aku ingat ada laki-laki lain ya dideket kamu. Kita gak cuma berdua kan?" tanya Sutra memastikan.
Halah Sut, lagaknya kayak bener aja yang lupa itu. Bikin gemes lu!
"Hehehe, yang kamu ingat itu si Daniel Mas. Cowok yang matanya sipit, ya kan?" Kama tertawa kecil mengingat kecemburuan Sutra waktu itu.
"Aku gak ingat namanya! Yang jelas aku gak suka dengan laki-laki itu!" ucap Sutra tegas.
"Sama, aku juga gak suka sama dia. Dia pernah datang ke kampus waktu itu" Kama yang tidak terbiasa berbohong menceritakan soal kedatangan Daniel tempo hari.
Apa? Serius kamu Babe? Kok aku baru tau sekarang? Kurang ajar tu orang!
"Oh gitu, terus aku dimana waktu itu?" Sutra berusaha tetap normal walau hatinya sudah kesal karena baru tau soal kedatangan Daniel.
"Kamu kerja Mas, di Kuala Lumpur" jawab Kama.
__ADS_1
"Ada urusan apa dia nemuin kamu, Babe?" tanya Sutra lagi, otaknya sudah mulai panas.
Ini yang dinamakan acting membawa luka. Berlagak ngingetin kenangan masa lalu, tapi malah dapat kejutan baru juga dari Kama. Hahaha. Sabar komandan. Ternyata masih ada hal luput dari Kama yang belum kamu ketahui.
"Dia datang bareng Stella, temennya"
Oh aku ingat si Stella itu! Pantas dia minta nomor kontak Kama, ternyata dugaanku benar soal si mata sipit itu! Mereka sekongkol!
"Terus ngajak nongkrong di cafe" sambung Kama lagi.
"Lantas kamu ikut dengan mereka?" Sutra semakin penasaran.
"Iya"
Astaga Babe! Kamu main dibelakang aku?!!
Sutra tidak sanggup lagi beracting, kesalnya sudah mau meledak. Ia tidak menyangka Kama mau diajak pergi bersama Daniel dan Stella waktu itu.
"Tapi aku terpaksa Mas, dan Mini sama Reyhan aku ajak sekalian. Jadi kita berlima" tambah Kama lagi.
Serrr...! Darah Sutra langsung turun mendekati stabil. Untung saja dia tidak jadi meledak. Bisa ketahuan sandiwara lupa ingatannya.
Hmuuuufffttt..., tapi tetap aja kamu nutupin dari aku Babe! Harusnya kamu cerita dari awal!
"Kalian ngobrol apa disana?" namun rasa penasaran Sutra belum juga reda.
"Ngobrol biasa, sampai akhirnya ngobrolin kamu"
"Soal?"
Ceklek !
Pintu kamar kembali terbuka. Ternyata Dr.Martin dan Dr.Ridwan sudah datang beserta dengan dua orang suster.
Ajeng dan kedua orangtua Kama pun muncul dibelakang mereka. Dan ada satu orang lagi bersama mereka. Seorang laki-laki tua etnis China yang memakai kacamata. Siapa dia?
πππ
Siapa ya?
Kepo gaes? Kepo bangeeet...
__ADS_1
Yuk cek n ricek di next episode π