
Sutra melaksanakan solat ashar di salah satu musholla pilihan Kama yang terletak dekat pantai carnaval Ancol.
Karena musholla nya kecil Kama duduk di pinggir tangga sambil memperhatikan Sutra solat dengan jarak yang sangat dekat.
Selesai solat ashar, mereka lantas berjalan di sepanjang bibir pantai sambil membahas tentang tata cara solat hingga Kama benar-benar paham.
Sesekali kaki mereka tersapu deru ombak kecil yg mengibas bibir pantai seperti di film-film romantis.
Kalau mengikuti adegan film, harusnya saat ini mereka berjalan sambil bergandengan. Namun kenyataan nya tidak. Jangan kan megang tangan Kama, baru di senyumin Sutra aja Kama udah naik darah, apalagi di pegang, mungkin Sutra langsung di tabokin sampai lemes. Hahaha, KDHTB (kekerasan dalam hubungan tak berhubung).
Bahkan angin yang berhembus pun menyibak kan rambut keriting Kama kesana kemari, membuat Sutra terhibur setelah bayangan di tabokin tadi.
"Kenapa sih? Kok bapak ketawa?"
"Gak papa, hehe. Rambut kamu lucu" Kama segera merapikan rambut nya, bermaksud mengikat nya satu dengan bentuk cepolan. Mirip style rambut Ken Arok, pendiri kerajaan Tumapel, haha.
"Eh, jangan!" reflek Sutra menahan Kama
"Jangan apa?"
"Jangan di ikat, di gerai aja, cantik kok.." sambung Sutra lagi
"O-ooh.." Kama menjawab singkat sambil mengalihkan pandangan nya dari Sutra, tiba-tiba ia merasa canggung karena di puji.
Tak terasa langkah mereka sampai di depan jembatan menuju restoran di atas laut. Banyak pasangan muda mudi yang bergandengan menyusuri jembatan itu sambil mengabadikan moment
mereka lewat jepretan kamera. Kebetulan pemandangan di sekitar jembatan tampak cantik dengan laut indah dan beberapa bangunan tinggi yang menjulang.
"Duh, mbak sama mas nya serasi banget! Ayuuk saya fotoin. Gak mahal-mahal kok. Di jamin hasil nya pasti bagus.." ujar seorang laki-laki yang mengalungkan kamera di leher nya. Dia adalah tukang foto keliling di kawasan Ancol.
"Gak mas, makasih" jawab Kama singkat
"Ayo donk mbak, mumpung sore gini, waktu nya pas banget! Langit nya cantik, tuuh liat deh" si tukang foto masih berusaha membujuk mereka
"Gak, gak usah mas" jawab Kama lagi
"Saya kasi bonus deh mbak, 2x jepret lima puluh ribu aja"
"Gak, saya gak mau" kali ni Kama mulai menggigit bibir nya
"Yaudah deh mbak, kalo gitu 3x jepret enam puluh ribu deeh"
"Ya ampun mas, saya gak mau!" akhir nya judes Kama pun keluar, dia udah ga sanggup dari tadi menahan kesal karena ulah si tukang foto.
"Diiih, mbak nya galak banget. Kasian si mas yang jadi pacar nya. Sabar-sabar ya mas ngadepin nya, hihi.." jawab si tukang foto lagi sambil berlalu pergi, dan Sutra pun terpaksa menahan tawa nya.
"Iiiih, bikin kesel aja daritadi!" Kama bergumam kesal sambil terus menggigit bibir nya
Sesungguhnya dari awal Sutra sudah ingin mengiyakan tawaran si tukang foto itu, namun ia tidak bisa, takut Kama marah dan salah paham.
Makanya ia menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Kama.
Dan lagi ia juga menikmati memandang wajah Kama yang berubah-ubah, mulai dari datar, heran, judes, hingga kesal sampai berujung seksi seperti sekarang, menggigit bibir, uuuuh....
"Bapak ngapain senyum-senyum?!" Kama menyadari sejak tadi Sutra tersenyum pada nya.
"Ngetawain saya ya?!"
__ADS_1
"Gak, saya suka.."
"Maksud nya? Suka apa sih?!" Kama mengencang kan suara nya, membuat Sutra tersadar dari keterpesonaan pasal bibir tadi.
"Hah? Em, itu.. di belakang kamu. Saya suka pemandangan nya. Yuk, kita liat ke situ yuk" Sutra langsung mengajak Kama menyusuri jembatan.
Tak terasa waktu berlalu hingga adzan magrib tiba dan Sutra kembali melaksanakan solat.
"Gimana? Kamu udah mulai ngerti kan gerakan solat?" Sutra menghampiri Kama setelah selesai solat magrib
"Hampir pak, tapi ntar di rumah saya baca lagi kok buku nya"
"Oke. Hm, sebelum pulang, kita makan dulu ya. Saya laper" ajak Sutra dan Kama mengangguk
Mereka masuk ke dalam mobil, berkeliling mencari restoran yang cocok dengan selera Kama, namun masih di seputaran Ancol.
Selesai makan, mereka langsung menuju pulang. Sambil menyetir Sutra membuka obrolan.
"Saya tau, kemarin kamu bohong sama saya kan" Kama melirik ke Sutra
"Soal pengakuan kamu yang gak nyaman sama saya" Kama terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa
"Kalau saya boleh tau, kenapa kamu sampai ngomong begitu kemarin?" Kama masih juga diam, ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya pada Sutra, bahwa semua itu karena Chelsea.
"Kok diam? Atauu, kamu mau ngetes saya ya?" Kama kembali melirik, ia jadi heran dengan dugaan Sutra sekarang.
Ngetes? Hiih, ngapain aku repot-repot ngetes dia! batin Kama
Kama menggeleng
"Saya kasi tau ke kamu ya, saya gak akan nyerah. Serius.. Saya gak akan mudah menyerah untuk kamu. Apapun itu.." ujar Sutra
"Bapak lagi ngomong apa sih? Saya gak ngerti"
Sutra tidak menjawab, ia malah menekan gas mobil nya lebih cepat, memburu sampai di rumah aji. Lima belas menit berlalu akhirnya mereka sampai di depan pagar rumah aji. Sutra tidak mematikan mesin mobil nya, namun menetral kan porsneling nya.
"Kamu.., kamu pernah pacaran gak?" Sutra kembali membuka obrolan, ia menatap Kama di samping nya
"Kenapa, kok bapak nanyain itu?" tanya Kama heran
"Di jawab donk.."
"Itu kan urusan pribadi saya. Bukan hak bapak untuk tau"
"Yaudah kalau gitu saya anggap kamu sudah pernah pacaran. Saya-"
"Enak aja! Belum!" reflek Kama memotong
"Hah? Serius?" Sutra terkejut, mata nya berbinar mengetahui kenyataan bahwa Kama juga sama seperti nya.
Oooh, pantas saja dia gak mengerti semua kalimat ku sejak kemarin. Padahal aku sudah memberi kode-kode cinta pada nya,
tapi dia tetap gak paham. Hihihi, sama-sama bodoh ternyata, batin Sutra.
Padahal kode cinta yang sejak kemarin di ungkapkan Sutra pun sebenar nya juga gak jelas, melompat kesana kemari.
"Huuh, iya!" Kama menghela napas kasar, ia kesal lantaran keceplosan menjawab
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu, saya senang dengar nya" Sutra tersenyum lebar
"Eh, jangan bapak kira saya gak laku ya!"
"Gak, bukan itu. Maksud saya..., saya juga sama belum pernah pacaran"
"Hah? Hahaha.." Kama terkekeh
"Mau becanda atau mau bohong? Mana mungkin tampang kayak bapak gak pernah pacaran"
"Loh, kenapa? Memang aneh ya tampang kayak saya belum pernah pacaran" tanya Sutra heran
"Pasti! Pembohongan publik! Gak akan ada yang percaya, termasuk saya"
"Sumpah! Saya gak bohong! Saya juga gak pernah kan bohongin kamu"
"Saya gak mau tau, bukan urusan saya juga"
"Saya berani sumpah, kalau ternyata saya terbukti bohong sama kamu, saya gak akan lulus S2"
"Bapak yakin? Mau sampe kapan ngerjain tesis terus? Hihihi.." Kama menyindir, ia tetap tidak percaya
Tapi Sutra punya jawaban pasti, ia menjebak Kama dengan kalimat nya.
"Jumat nanti deadline saya. Saya pasti buktiin sama kamu"
"Kalau nanti ternyata tesis saya lulus dan masuk jadwal meja hijau, kamu mau kasih saya apa?" tanya Sutra penasaran
"Ya kasih selamat lah, mau apa lagi" jawab Kama santai dan Sutra menghela napas panjang
"Saya mau yang lain" ujar Sutra
"Gampang, tinggal minta ke orang tua bapak"
Kama benar-benar menguji kesabaranku, batin Sutra
"Orang tua saya gak bisa ngasih yang saya mau. Karena saya..., saya mau kamu.." ujar Sutra sambil menatap Kama serius.
Kama seketika membisu, ia segera mengalihkan pandangan nya ke depan. Di saat yang sama tiba-tiba jantung Kama jadi gak stabil, ritme nya kencang kayak lagi di kejar entok yang napsu pengen nyosor.
Oh my God, kebayang kan nikmat nya disosor entok yang mupeng, huwaaaaa
Sutra sendiri juga gak kalah heboh dengan Kama. Jantung nya seperti ingin melompat keluar sanking kuat nya berdegub. Ia tak menyangka akhir nya bisa mengucapkan kalimat itu pada Kama.
Suara detak jantung nya melebihi tabuhan drum grup band Dewa yang membawakan lagu Separuh Nafas.
πππ
Hmm, penasaran kan dengan jawaban Kama setelah ini..
Sutra bakalan di terima atau enggak ya???
Yuuk ikutin terus di episode selanjut nya
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
i love u π