When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Ketauan


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


"Nikah? Siapa yang mau nikah, Sut?" tanya Ajeng saat ia sudah sampai diruangan yang sama dengan Sutra dan Kama. Sedangkan Mr.Will masih tergeletak sebentar dikamar, lelah habis pergumulan yang dahsyat bersama istrinya. Maklum udah tua.


Sutra terdiam, tenggorokannya tiba-tiba saja kering sekering gurun Sahara yang hanya memiliki curah hujan kurang dari 20 milimeter pertahun. Aduh maaf, kok jadi belajar ilmu pengetahuan alam ya, hahaha.


Kama diposisi duduknya juga terdiam, bukan karena kaget atau gelagapan seperti yang dialami Sutra, melainkan ia menunggu jawaban laki-laki itu. Toh yang ditanya juga Sutra bukan dirinya. Maklum orang cuek mah bebas, udah bisa punya rasa 50 persen saja dia sudah beruntung jadi manusia hidup.


Wajib menjawab tapi takut harus menjawab apa. Begitulah yang ada dibenak Sutra sekarang. Sebelum Ajeng mengulang pertanyaan yang sama, Sutra berusaha keras menekan tenggorokannya hingga akhirnya keluarlah sebuah suara batuk yang ditempeli banyak getaran disana. Untung gak ditempelin setan. Layaknya orang yang terkena batuk berdahak parah.


"Uhuuurrgghhhkk... uuurrrrggghhhhkk...." inilah akibat dari pertanyaan Ajeng yang berhasil menumbuhkan penyakit di tenggorokan Sutra.


"Loh, kamu kenapa, Sut?" Ajeng sampai khawatir mendengar parahnya suara batuk Sutra.


"Retno..." Ajeng memanggil asisten rumah tangganya.


"Ya bu.." Retno muncul dari ruang depan.


"Tolong bikinin teh jahe buat Sutra ya Ret, sekarang.. Tiba-tiba tenggorokannya serek banget ini" pinta Ajeng dan Retno bergegas melakukan.


"Kamu abis minum atau makan apa sih? Kayaknya tadi baik-baik aja.." sambung Ajeng sembari mengusap punggung anaknya. Wanita paruh baya itu sudah duduk disamping Sutra sekarang.


Karena belum mendapat jawaban dari Sutra, Ajeng lantas melihat ke arah Kama yang duduk didepan mereka, menaikkan sebelah alisnya dengan maksud meminta Kama yang menjawab.


"Tadi kita abis minum hot chocolate, Tante dan gak makan apa-apa" Kama menjelaskan.


Ajeng mengerutkan keningnya,


"Apa mungkin kamu kecapekan ya abis dari Bali kemarin, masuk angin sampai batuk-batuk gitu.." cepat-cepat Sutra menggeleng. Ia tidak mau kekhawatiran ibunya merembet kesana kemari.


Sekuat tenaga akhirnya Sutra berucap,


"Errrngh-gak bu.., ini cuma keselek aja.."

__ADS_1


"Beneran kamu?" Ajeng memastikan.


"Iya bu.." perlahan tenggorokan Sutra mulai normal.


"Yaudah, tapi nanti diabisin ya teh jahenya.." pinta Ajeng lagi yang dijawab anggukan serta senyum oleh Sutra. Ajeng memang nomor satu untuk urusan perhatian. Pantas kalau Mr.William dan anak-anaknya begitu mencintai dan menyayangi Ajeng.


"Oh iya Kama, Tante minta maaf ya soal tadi, Tante bikin suasana jadi gak enak, lagi banyak pikiran soalnya. Maklum orangtua, hihihi.." Ajeng lalu menyindir perkara debatnya dengan Mr.Will saat dimobil tadi.


"Gak apa-apa, Tante.." giliran Kama mengeluarkan senyum manisnya.


"Kama mau makan apa siang ini? Biar Tante buatin.." senyum Kama menarik simpati Ajeng dan membuat ia bersemangat ingin masak.


"Hm.., apa aja deh Tante. Masakan Tante pasti semuanya enak" sejujurnya bukan sifat Kama yang pintar memuji seperti ini. Namun sejak pacaran dengan Sutra, gadis itu sudah banyak belajar dari google tentang bagaimana berinteraksi dengan keluarga pacar. Untungnya zaman sekarang sudah canggih. Mau apa-apa tinggal cari dan tanya ke google.


"Iih, kamu bisa aja... Yuk, bantuin Tante masak" Ajeng tersipu, ia lalu mengajak Kama kedapur untuk mengolah makanan dengan bahan-bahan yang ada.


Bantu masak? Duh, aku bahkan gak pernah sekalipun berkutat di dapur


Sepeninggal Kama dan Ajeng ke dapur, Sutra mengusap dada, menghembus napas panjang pertanda lega. Pertanyaan menakutkan dari ibunya tadi tidak perlu dia jawab.


Aalhamdulillaaaaah..., selamaaaaat...


"Tante baru tau loh dari Sutra kalau Datuk Emran itu ayah kamu.." Ajeng memulai obrolan.


"Yes, me too. We were so surprised.." tambah Mr.Will


"Iya Tante, Om, Kama juga baru kemarin ketemu Abah" Kama duduk di sofa single terbuat dari bambu yang berbentuk bulat.


"Pasti perasaan kamu campur aduk ya saat itu. Tapi alhamdulillah akhirnya ayah dan ibu kamu sudah menikah lagi sekarang. Tante ikut senang dengernya" Ajeng tersenyum lebar, ia seperti bisa memahami perasaan Kama.


"Iya, alham-du-lil-lah..." Kama mengeja kalimatnya, takut salah karena ia baru saja belajar.


Satu keluarga itupun kompak tersenyum senang mendengarnya.


"So Datuk Emran is taking your mom with him?" tanya Mr.Will


"Rencananya begitu Om.. Tapi kok sepertinya Om dan Tante kenal dengan Abah ya?" Kama bertanya balik.

__ADS_1


Ajeng dan Mr.Will saling menatap heran. Bagaimana mungkin mereka tidak kenal siapa Datuk Emran? Apalagi sekarang anak laki-laki mereka bekerja dengan orang yang dimaksud.


"Hahaha..." tawa Mr.Will pun pecah.


"Are you kidding? Who doesn't know him? He's a big businessman in Malaysia.." sisa tawa Mr.Will belum habis. Pria paruh baya itu merasa lucu dengan pertanyaan pacar dari anaknya.


"Maksud Om, Abah saya pengusaha besar di Malaysia?" kening Kama berkerut, ia meyakinkan diri kalau ia tidak salah dengar dengan kalimat ayah Sutra.


"Loh, masa kamu gak tau Kama..?" sekarang giliran Ajeng yang heran.


Ah, fakta apa ini? Ada anak yang gak tau apa profesi bapaknya. Ini yang salah bapaknya atau anaknya yang gak perduli?? Oh Kama, ternyata kamu belum sepenuhnya sembuh. Berobat gih. Obatnya cuma satu, kawin sama Sutra. Ahahaha, menang banyaaaak Sutra.


"Kamu beneran gak tau, Babe? Itu proyek aku di Malaysia juga punya Abah kamu kok.." Sutra ikut bicara dan hasilnya Kama menggeleng pasti.


"Hahaha..., surpriiise..." tawa Mr.Will kembali pecah, sungguh fakta yang mengejutkan bagi mereka semua. Kama tidak tau apa-apa tentang siapa ayahnya.


By the way, Mr.Will ketawa-ketawa terus nih. Efek abis tempur, jadi bawaannya hepi. Udah buruan, yang lagi bete, tempur gih sono, biar hepi, hahaha. Tapi inget, harus sama pasangan halal ya. Kalau masih haram jangan, tahan dulu, simpen buat stok halalnya nanti.


Lantas kemudian Mr.Will pun menceritakan sepak terjang bisnis Datuk Emran sepengetahuannya. Apalagi 80 persen bisnis Datuk Emran bergerak dibidang property, jadi sedikit banyaknya ia tau dimana saja letaknya. Kama mendengar sesekali ternganga. Raut wajahnya berubah-ubah sepersekian detik. Ia tidak menyangka kalau ayahnya sekaya itu. Bahkan calon suaminya pun bekerja dengan ayahnya.


Jangan-jangan Mas Adrian sudah tau kalau siapa abah..


"Jadi dari awal kamu udah tau donk Mas kalau kamu kerja sama Abah aku?" Kama melirik ke Sutra.


"Enggak, aku malah baru tau setelah kita balik ke villa. Makanya aku ketakutan setengah mati. Gak taunya aku macarin anak bos aku. Untung gak distop proyeknya.. Padahal sebelumnya Abah kamu baik banget selama aku kerja di KL. Dia puas dengan hasil kerja aku. Eh setelah ketauan, jadi galak begitu, hehehe.." Sutra jadi mengingat ketakutannya saat menghadapi Datuk Emran.


"Pantes Abah langsung tanya tujuan kamu ke aku ya. Jangan-jangan Abah memang sudah ada rencana untuk menikahkan kita.." Kama berasumsi.


"Ha, apaaa? Menikahkan?" Ajeng langsung melotot mendengar kalimat Kama. Akhirnya terbongkar juga soal menikah didepan kedua orangtua Sutra.


Nah loh..., hayooo, udah gak bisa ngelak lagi Sut. Sudah buruan jelasin dan minta doa restu ke ayah dan ibu. Mumpung calonnya juga ada didepan mata, sekalian deh kalian rundingkan apa dan bagaimananya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Nah, kira-kira orangtua Sutra setuju gak ya???


Ajeng...

__ADS_1


Mr.Will....


Yuk, kepoin di next bab


__ADS_2