
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Hari ini pun tiba, hari dimana Sutra Adrian Zanyar akan mendapatkan gelar sarjana dari pendidikan magisternya. Setelah solat subuh laki-laki itu sudah bersiap dengan segala macam ***** bengeknya. Memang ia bukan wanita, tapi ia termasuk orang yang memperhatikan penampilan.
Sutra juga mencukur bersih brewoknya. Biar apa? Biar kelihatan bersih aja, pake ditanyak lagi. Hahaha. Maksudnya biar keliatan muda walau sesungguhnya tidak tampak muda juga. Sebab yang namanya orang bule, walau usia masih muda facenya tetap saja kelihatan tua.
Hari ini Sutra mengenakan kemeja putih polos lengan panjang dan celana bahan berwarna abu-abu. Ia juga menata rambutnya sedikit ke atas menggunakan gel rambut. Pokoknya berasa udah penampilan paling oke lah yang dia punya.
Padahal jujur othor aja lebih suka penampilan Sutra yang casual, tapi berhubung mau wisuda tidak mungkin brewokan kayak semak belukar. Tapi tenang readers, brewok Sutra cepat numbuh kok. Apalagi dia brand ambasador nya produk Wak Doyok, cream penumbuh bulu asal Malaysia, jadi dalam waktu singkat akan lebat seperti semula. Hahaha, mohon maaf kehaluan othor sampe nyangkut ke produk penumbuh bulu, suka yang buluan soalnya. Biar hareudang aja gitu π€€
(untuk yang gak tau apa itu Wak Doyok, silahkan searching di google π)
Sutra juga tidak lupa menelepon Kama, sekedar mengingatkan acara wisudanya dimulai tepat jam delapan pagi. Tapi jangan kaget kalau respon Kama biasa saja. Gadis itu malah melanjutkan tidurnya karena berhubung ini adalah hari sabtu. Jadi tidak ada alasan untuknya bangun lebih cepat sekalipun Sutra wisuda.
"Hallo, Babe.. Jangan lupa, jam delapan nanti acara wisuda aku" ucap Sutra diujung telepon.
"Hm.., ini jam berapa?" tetap dalam posisi tidur dan tutup mata, Kama bertanya.
"Jam enam pagi Babe. Ini aku, ayah, dan ibu baru mau berangkat ke Depok" tambah Sutra lagi.
"Hm.., hati-hati"
Klik!
Kama segera menutup telepon dan melanjutkan tidurnya. Tindakkan Kama memang benar. Masih jam enam pagi untuk apa dia bangun? Toh acara dimulai jam delapan, dan jarak kost Kama ke gedung Balairung, tempat diselenggarakannya wisuda pascasarjana UI, hanya memakan waktu lima belas menit. Apalagi kehadiran Kama tepat waktu tidak serta merta membuatnya bisa masuk ke dalam gedung. Karena hanya peserta dan dua orang pendamping yang diperbolehkan masuk, yakni ayah dan ibu Sutra. Jadi Kama memilih datang saat acara sudah selesai.
Waktu terus bergulir, Sutra dan kedua orangtuanya sudah sampai di Depok dan mengikuti rentetan acara wisuda di gedung Balairung UI. Hingga sampailah dipuncak acara yakni pemanggilan satu persatu peserta untuk naik keatas panggung guna penyematan tali di topi toga serta penyerahan tabung bulat oleh Rektor UI.
Setelah semua peserta selesai, masuklah acara penutupan dan beberapa kata dari sang Rektor, maka acara pun ditutup dengan yel-yel dari para peserta. Riuh tepuk tangan memenuhi seisi gedung. Selesai sudah perjuangan yang ditempuh oleh para mahasiswa selama beberapa tahun ini. Gelar master sudah tersemat di ujung nama mereka. Rasa bangga, haru, dan puas campur aduk jadi satu.
Begitu pula yang dirasakan Sutra saat ini. Laki-laki itu juga menyempatkan foto bersama teman-teman seperjuangannya. Serta tidak lupa juga mengabadikan moment tersebut dengan para pengajar mereka yang hadir disitu. Dega selaku sahabat Sutra pun hadir dan muncul disaat acara sudah bubar.
"Woii Sut! Selamet ye, udah wisuda aje lo.." tegur Dega dari belakang.
"Eh elo, Ga. Dateng juga lo, makasih ya.." senyum lebar tergambar jelas diwajah Sutra, namun bolamatanya terus berkeliaran mencari sosok yang dinanti sejak tadi.
"Eh om, tante.. Pegimane kabarnye? Sehat-sehat pan yak.." Dega tak lupa menyalami kedua orangtua Sutra bergantian.
"Sehat, Ga.. Kamu kapan wisuda? Mama papa kamu apa kabar?" Ajeng menyambut tangan Dega sembari menepuk lembut bahu Dega dengan tangan kirinya.
"Hi, Dega.. Hahaha, i laugh every time I hear you talk" saut Mr.Will sembari menyambut tangan Dega.
"Hehehe, maklum ya Ga.. Om ngerasa lucu dengan logat betawi kamu.." Ajeng menjelaskan maksud suaminya.
"Hahaha, kagak ape-ape, Tante. Dega easy going orangnye" Dega menyambut dengan tawa yang sama lebar.
"Kabar mama papa bae-bae kok Tante. Ntar deh kayaknye Dega kelar taon depan, itu juga kalo kagak males nyusun, hahaha" kembali Dega tertawa menjawab kapan ia akan wisuda.
__ADS_1
"Ah, dasar males lo! Udah gue ajak juga!" Sutra menyentil kening Dega dengan jarinya.
"Aawww!" ringis Dega membuat mereka semua kembali tertawa.
"Ah ya, wait a minute. Sepertinya ayah melihat teman ayah disana, ayo kita temui sebentar.." Mr.Will mengajak Ajeng menemui orang yang dikenalinya, meninggalkan Sutra dan Dega ditempat itu.
"Eh, Sut.. Gua kagak dateng sendiri ini.." ucap Dega lagi.
"Oh, sama siapa lo?" tanya Sutra, namun lagi-lagi matanya mencari sosok yang dinantinya.
Babe, kamu dimana sih? Kok gak kelihatan juga daritadi...
"Jangan kaget lu ye.., gua dateng ame Chelsea. Tuh die orangnye" Dega menunjuk ke sudut gedung, tampak Chelsea berdiri melihat ke arah mereka penuh senyuman. Gadis itu melambaikan tangan kepada Sutra.
Tapi Sutra bergidik ngeri. Ia reflek membalikkan badannya membelakangi Chelsea.
Bugg!
Sutra melayangkan tinjunya pelan ke bahu Dega.
"Kurang kerjaan lo! Ngapain lo bawa-bawa cewek gila itu kesini? Duh, bisa gawat gue kalau ketauan Kama!" protes Sutra kemudian.
"Ahahaha, norak lu! Baru juga pacaran udeh takut aje lu.." Dega menertawakan sahabatnya.
"Lo gak tau gimana obsessnya tu cewek sama gue. Yang ada gue ntar dicuekin lagi sama Kama. Ampun deh Ga, gue gak mau! Dia normal aja gue setengah mati ngadepinnya, apalagi dia cuek, kering kerontang hati gue, dodol!" umpat Sutra sembari merasa ngeri membayangkan kecuekan Kama.
"Kagak tau apenye, gua tiap hari ngeladenin die curhat. Sampe babak belur gua, Sut.. Noh, lu liat nih.." Dega menunjukkan bekas cakaran Chelsea di lengannya dan ujung pipinya.
"Hah? Dicakar kucing lo? Ganas banget mainnya, hahaha.." Sutra terkejut namun tidak bisa menahan tawanya.
"Halaaah, tapi lo seneng kan bisa deket-deket sama dia.., hihihi" goda Sutra.
Tiba-tiba sosok Chelsea mendekat ke tempat Dega dan Sutra ngobrol. Dega melotot dan memberi kode pada Sutra agar berhenti membicarakan gadis itu sebelum ia mendengarnya. Kompak mereka pun diam.
"Hai, Adrian..." sapa Chelsea begitu ia sampai diantara mereka.
"Hm, ya Chel.." jawab Sutra singkat, ia lantas menjaga jarak berdirinya dengan Chelsea. Ia sudah kapok berbasa-basi dengan Chelsea. Apalagi setelah tau kalau Chelsea mendorong Kama waktu itu.
"Selamat ya, udah dapat gelar master.." sambung Chelsea lagi dengan senyum lebar.
"Ya, makasih" kembali Sutra menjawab singkat dengan senyum sekedarnya.
Tak berapa lama Kama muncul disaat yang tepat. Gadis itu datang dari arah belakang Sutra berdiri.
"Mas.." tegur Kama sembari menyentuh punggung Sutra.
"Eh, Babe.. Sini.." reflek lengan Sutra meraih Kama masuk dalam dekapannya.
"Lama banget kamu, aku tungguin daritadi.." tanya Sutra.
"Oh iya, tadi aku ketiduran" jawab Kama santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Hah? Bisanya dia ketiduran, padahal udah aku telepon tadi pagi. Apa dia tidur lagi setelah itu? Huh, gak perdulian banget ni orang sama hari bersejarah ku!
__ADS_1
"Ada Chelsea, gimana kabarnya? Sehat?" Kama lantas menanyakan kabar Chelsea yang ada dihadapannya sekarang.
"Sehat! Ngapain lo nanya-nanya gue? Gak usah pura-pura baik deh!" ucap Chelsea ketus.
"Eh, aduuuh.., santai neng.." saut Dega menenangkan Chelsea. Ia mengelus bahu Chelsea lembut.
Sutra yang menyaksikan juga sudah mulai was-was. Takut kalau Chelsea akan menyerang Kama lagi seperti kemarin.
"Ternyata lo belum sehat juga. Tuh masih emosian.." saut Kama santai.
"Iih, elo ya..!" Chelsea mengepalkan tangannya menahan kesal. Buru-buru ditahan Dega sebelum terjadi hal yang memalukan.
"Udeh-udeh.., kite balik yuk! Pan lu dah janji kagak bikin ribut, pegimane sih! Udeh ntar lu ngamuknye ame gua aje!" Dega mengajak Chelsea pergi, serta memasrahkan diri untuk dicakar Chelsea lagi saat gadis itu menumpahkan kekesalannya nanti.
Ternyata gak Sutra gak Dega, setipe. Sama-sama bodoh ngadepin cewek. Nasibnya untuk disiksa cewek terus di cerita ini.
"Yaudeh Sut, gua balik ye.. Yuk, Kam, kite duluan.." pamit Dega pada Sutra dan Kama sembari menarik tangan Chelsea beranjak dari tempat itu.
Sebelum pergi Chelsea sempat menatap kesal pada Kama, seolah ingin mengatakan, "Awas lo, tunggu pembalasan gue!"
Kayak bisa aja Chelsea mau balas dendam ke Kama. Kama kelihatannya aja ketus, padahal dia baik hati, walau ucapannya sadis.
"Aku pikir kamu gak dateng, Babe.." Sutra mengajak Kama ke tepi, duduk di kursi gedung sembari menunggu orangtuanya kembali.
"Aku ngantuk banget Mas, tadi malem begadang ngerjain tugas kampus yang diinfoin Mini" Kama menutup mulutnya yang menguap.
"Oh gitu, kirain kamu gak perduli sama acara wisuda aku" Sutra menyindir Kama.
"Emang boleh? Kalau boleh aku pulang lagi deh, nyambung tidur.." pinta Kama pada Sutra.
Ha, astagaaaa. Dia betul-betul gak peka dengan kalimatku! Malah mau lanjut tidur! Iih, ni cewek!
"Jangan donk, Babe! Ibu sama ayah aku mau ngajak kamu foto studio" saut Sutra cepat.
Tak berapa lama Ajeng dan Mr.Will muncul, ada gurat kesedihan di wajah Ajeng.
"Yuk, kita balik sekarang Sut.." ajak Ajeng kemudian.
Kama yang buru-buru menyalami ayah dan ibu Sutra pun turut ikut bersama mereka.
Mereka mengendarai mobil jeep warna hitam milik Mr.Will yang waktu itu hampir menabrak Kama di Dufan.
Mr.Will meminta Sutra yang menyetir, dan Kama duduk disebelahnya. Sementara ia dan istrinya duduk dikursi belakang. Sutra langsung menangkap kalau ada hal tidak baik yang terjadi pada ibunya. Tanpa bertanya apapun dia segera melajukan mobil menuju pulang ke Jakarta.
"Darling, please forget it..!" pinta Mr.Will dikursi belakang setelah mobil sudah jalan.
"Bagaimana aku bisa melupakannya sementara ia muncul didepan mata kita?!" suara Ajeng terdengar serak, ia menahan emosi serta tangisnya sejak tadi.
πππ
Oh my God, piye toh bu Ajeng?
Bikin kepo ae...
__ADS_1
Sopo yang ditemui tadi? Kok emosi? Kok nangeees??
Yuk kita kepoin di next episode gaes