
Taksi onlen yang dinaiki Sutra, baru saja menurunkan Sutra di depan halaman rumah nya. Lantas Sutra segera masuk ke dalam rumah. Dia ingin segera mandi dan pergi tidur walau hanya satu jam. Badan nya sangat capek lantaran duduk semalaman di kursi ruang tunggu rumah sakit.
"Assalammualaikum.." Sutra mengucap salam, masuk ke dalam rumah
"Waalaikumsalam..." ibu, ayah dan Quiny, menjawab kompak. Mereka bertiga tampak duduk di meja makan melihat Sutra masuk dari pintu samping rumah.
Tatapan mereka tajam setajam gunting kuku, ingin segera menjepit Sutra dengan banyak pertanyaan.
Sutra tersenyum pada ibu, ayah, dan adik nya
"Lagi pada ngumpul, mau makan siang ya?" tanya Sutra polos
Ayah, ibu, dan Quiny diam tak menjawab, mereka memandang Sutra, berharap mendapat penjelasan yang sejelas-jelas nya perkara kecelakaan kemarin sore.
"Oh no.., jangan sekarang ibu.., Sutra capeeek, biarin Sutra tidur 1 jaaam aja, please..." Sutra merengek ke ibu nya, dia menangkap maksud dari tatapan mereka bertiga, namun karena dia begitu capek, dia meminta untuk tidak membahas nya sekarang
"Gak bisa! Ibu udah kawatir semalaman!" ibu Sutra membantah, dia ingin penjelasan sekarang juga
Namun, ayah William sangat paham dengan Sutra, dia lantas membujuk istri nya untuk sabar dan membiarkan Sutra istirahat lebih dulu.
"Darliing.., i think he's very tired. Biarkan dia istirahat dulu.., we can wait" seraya mengelus bahu Ajeng (ibu Sutra), membujuk nya untuk tidak memaksa Sutra.
Selama menikah Ajeng belum pernah menolak permintaan suami nya, dia lantas mengangguk, menyetujui suami nya.
"Thank you, ayah. You are the best.." ucap Sutra mengacungkan jempol, seraya berjalan menuju kamar nya di lantai atas
πππ
Jam hampir menunjukkan pukul 2 siang ketika Sutra mulai terbangun dari tidur nya. Tangan Sutra segera meraih ponsel yang tergeletak diatas meja kecil di samping kasur. Dengan mata yang belum terbuka sempurna, dia melihat beberapa notifikasi pesan masuk di whatssapp, dari Dega, Chelsea, Om Rasyid, dan Kama.
KAMAAA...?
Membaca nama Kama, Adrian serasa ditepok raket nyamuk. Seketika ia tersentak, bangkit lalu duduk menyandar di kepala tempat tidur nya. Dia segera membuka pesan masuk dari Kama, yang dianggap nya adalah pacar nya saat ini.
-Kama-
β’ Saya minta maaf pak soal di rumah sakit tadi
β’ Saya bisa jelasin semua nya
β’ Saya mohon bapak mau mengerti
Tampak senyum lebar di bibir Sutra setelah membaca pesan masuk Kama. Sebenarnya dalam pesan itu Kama ingin menjelaskan perkara kesalah pahaman soal 'pacar' yang di ungkapkan nya ke aji, agar Sutra tidak menganggap buruk diri nya yang mengarang cerita tanpa meminta ijin lebih dulu.
Namun Sutra menangkap lain, logika nya menjadi terbalik ketika berurusan dengan seorang Kama.
Lantas Sutra segera menekan tombol calling Kama di ponsel nya
Tuuut..
Tuuut.. (nada sambungan telfon)
Tuuut..
__ADS_1
Tuuut..
Di nada sambungan yang ke empat Kama baru mengangkat telfon
"Hallo.." sapa Kama
"Kamu lagi sibuk ya? Kok lama ngangkat telfon aku?" tanya Adrian
Kama kaget ketika pak Adrian menyebut kan diri nya sendiri dengan sebutan 'aku', dia merasa heran, mungkin pak Adrian salah pencet nomer, pikir nya
"Hallo.." tegur Adrian lagi
"Ee, bapak salah pencet telfon ya? Ini saya, Kama pak" ucap Kama heran
"Maksud kamu?" Adrian bertanya balik
"Ya itu tadi, kok bapak sebut 'aku' , biasanya kan bapak ngomong pake 'saya'. Bapak pasti salah telfon orang kan..?" jelas Kama
Adrian mengerutkan dahi, dia heran cuma perkara sebutan 'aku' menjadi hal yang aneh buat Kama. Kan wajar kalau dia mengubah sedikit bahasa nya ke Kama agar tidak kaku
Aaah, serah deh. Aku gak mau di hari pertama jadian udah berantem sama dia. Mungkin Kama memang suka gaya bahasa yang kaku, pikirnya.
"Oh ya maaf, saya salah. Saya mau bilang ke kamu, nanti saya jemput kamu jam 5 sore ya.. Kita balik ke Depok sama-sama" ucap Adrian
"Bapak ga usah repot-repot, saya bisa minta anter aji kok" jawab Kama menolak
"Pokok nya saya jemput kamu jam 5. Saya gak mau nanti aji kamu menilai saya yang jelek-jelek lagi" ucap Adrian seraya mengakhiri telfon nya.
Setelah meletak kan ponsel di atas meja kecil, di sebelah ranjang, Adrian bangkit. Dia menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu, hendak melaksanakan solat dzuhur sebelum turun ke bawah menghadapi puluhan pertanyaan dari ibu, ayah, dan adik nya Quiny.
menunggu Adrian turun. Sementara Quiny baru saja pergi ke rumah teman nya, Olive, yang berjarak dua rumah dari rumah orang tua nya. Mereka mengerjakan PR bersama-sama.
"Ibu.., ayah.." sapa Adrian
"Heum, kamu makan siang dulu tuh, udah ibu siapin di meja" Ajeng menunjuk ke arah meja makan, dia tau anak nya Adrian pasti lapar.
Sementara William hanya tersenyum melihat Adrian.
Tak sampai 10 menit, Adrian sudah selesai dengan ritual makan nya. Ia beranjak ke ruang tv untuk bergabung bersama orang tua nya, dan bersiap dijejal dengan puluhan pertanyaan.
"Sutra udah selesai makan bu" ucap Adrian yang baru saja duduk di sofa ruang tv tepat di sebelah ibu nya.
"Terus kamu udah siap ibu tanyain?" Adrian mengangguk
"Kamu kenapa bisa gak hati-hati nyetir nya, Sutraa?? Gimana kalo ketabrak beneran?? Siapa dia?? Kamu kenal?? Kenapa kamu harus nungguin dia semalaman?? Apa yang terjadi dengan nya?? Kamu sampe begitu panik kemarin malam ada apa sebenarnya?? Ibu pusiiiiing mikiran nya semaleman! Jantung ibu deg-deg an teruuuss! Kamu bikin ibu ga tenang, Sutraaaaa..." Ajeng mengeluarkan semua isi hati nya, menanyakan semua hal yg dia kawatirkan semalaman tentang Sutra
Ayah William tertawa kecil, dia sudah menebak kalau istri nya pasti akan bertanya sepanjang itu dalam satu kalimat. Ngalahin panjang nya sabuk pak haji Dadang, bokap nya Dega.
"Sutra minta maaf udah bikin ibu kawatir, maafin Sutra ya bu.." ucap Adrian seraya memeluk ibu nya
"Heum, tapi jawab pertanyaan ibu semua nya" Ajeng sedikit jual mahal dengan pelukan Adrian, dia belum puas sebelum mendengar semua jawaban Adrian atas pertanyaan nya tadi
"Iya, Sutra kenal. Dia.., mahasiswi Sutra, bu. Mahasiswi om Rasyid sih sebener nya, tapi kan Sutra yang ngisi mata kuliah om selama ini" Adrian masih menjawab setengah dari pertanyaan ibu nya, dia sedikit ragu-ragu untuk menjawab sisa nya dengan jawaban yang tepat.
__ADS_1
Di sisi lain, William terus memandangi wajah Adrian, dia seperti tau apa yang ada di benak anak laki-laki nya itu.
"Terus...?" tanya Ajeng lagi menunggu Adrian menjawab pertanyaan nya yang lain
"Dia baik-baik aja, ibu, cuma pingsan. Tapi Sutra kawatir.., jadi Sutra tungguin sampai dia sadar, sampai dia bisa pulang" sambung Adrian
"Cuma itu aja? Ibu denger dari Quiny, kamu gak karuan disana. Quiny sampai takut ngeliat reaksi kamu!" Ajeng lantas bertanya lagi, dari cerita Quiny, Adrian lebih dari sekedar kawatir.
"Ah, oh ya, emm, mungkin waktu tu Sutra sedikit shock ibu.., kan hampir kecelakaan" ternyata Quiny mengadu sampai sedetail itu, pikir Sutra
"Lain kali kalo ada apa-apa, kamu harus cerita detail ke ibu, ya! Jangan bikin ibu mikir macem-macem!!" Ajeng menekan kalimat nya, memperingatkan Sutra untuk tidak membuat nya kawatir lagi
"Siaaap ratuuu..." jawab Adrian seraya memeluk ibu
"Ohya, kamu balik ke Depok hari ini kan? Bawa cemilan ya buat di apartemen. Biar ibu siapin" setelah melepas pelukan Adrian, Ajeng beranjak ke dapur, mempersiapkan bekal yang akan di bawakkan nya untuk Adrian.
Sekarang giliran ayah William, dia punya cara sendiri untuk menanyai anak laki-laki nya
"Hei, boy.." panggil William seraya tersenyum
"Yes ayah" jawab Adrian
"Are you ok?" tanya William
"Heum, i'm ok now" jawab Adrian seraya tersenyum
"No, not now. What happend last nite? Who is she? Is that her, fantastic girl..?"
(Tidak, bukan sekarang. Apa yang terjadi tadi malam? Siapa dia? Apakah itu dia, si gadis luarbiasa?) tanya william lagi menelisik
Sejenak Adrian melirik ayah nya, dia heran kenapa ayah nya selalu bisa menebak apa yang ada di pikiran nya,
"Ayah, are you a soothsayer? hahaha"
(Ayah, apakah kau seorang peramal?) tanya Adrian di akhiri tawa
"Hahaha. No, i'm your father" dengan ikut tertawa William menjawab
"You're really great, ayah. Yes, she is. Hampir aja Sutra menabrak nya. Sutra ketakutan setengah mati ayah" Adrian menjelaskan isi hati nya pada ayah William
"It's ok boy. God helps good people"
(Gak apa-apa, nak. Tuhan menolong orang-orang baik) jawab William menenangkan
"Alhamdulillah ayah.."
"So, kapan ayah dan ibu bisa mengenal nya?" tanya William lagi yang membuat Adrian terdiam, tidak tau harus menjawab apa, karena menurut nya semua ini masih terlalu cepat, terlalu cepat jadian, dan terlalu cepat jika mau di kenal kan........
πππ
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
I Love U π