
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Kama berkeliling gedung apartemen hingga setengah jam, tapi ia belum juga menemukan Sutra. Akhirnya ia memilih duduk di lobi sembari memperhatikan siapa saja yang datang.
Mas kamu dimana?? Jangan bikin aku takut!
Menit ke menit berlalu Kama semakin gelisah. Ia bahkan sudah ketakutan, merasa bersalah meninggalkan suaminya sendirian dalam keadaan sakit seperti itu. Perasaan kalut Kama memancing emosinya, tanpa ia sadari matanya sudah terisi penuh dengan hujan deras dari hati yang kacau. Hanya lapisan terakhirnya yang belum jebol, masih tertahan dibalik kaca bening matanya.
Namun jika hujan deras hati itu terus berlangsung, terpaksa pintu airmatanya dibuka. Layaknya katulampa di Bogor. Bisa dibayangkan bagaimana kota Jakarta kalau pintu air katulampa yang sudah full dibuka. Seperti itulah keadaan Kama sekarang.
Kesendirian Kama di lobi justru menarik perhatian orang yang melihat. Salah satunya adalah Baehaqi, penghuni lantai 8 apartemen yang terkenal dengan sifat urakannya.
Baehaqi yang baru saja turun dari taksi online sudah memperhatikan Kama. Ia seperti tidak asing dengan wajah Kama. Pria itu lantas menuju lobi dan bertanya pada resepsionis.
"Mbak, gadis itu siapa ya?" tanya Baehaqi dengan mulut yang bau alkohol. Ya, minum adalah hobi dari laki-laki itu.
"Eh, Mas Bae, udah lama gak ke apartemen. Ituuu, itu Mbak Kama, istrinya Mas Adrian" jawab salah seorang resepsionis.
"Oh, iya-iya, pantasan saya gak asing dengan wajahnya. Makasih ya Mbak" saut Baehaqi dan berlalu pergi. Ternyata laki-laki itu menghampiri Kama.
"Hei, Kama kan..." sapa Bae
Kama mendongak, ia melirik sepintas dan memilih untuk tidak perduli.
"Aku Baehaqi, temannya Adrian" Bae duduk di sofa yang berhadapan dengan Kama.
"Kok kamu sendiri? Adrian mana?" tanyanya lagi tapi Kama masih tetap diam.
"Oh iya, aku mau nanya, gimana sih cara naklukin hati cewek baik-baik? Aku udah kehabisan cara. Kamu ingat Alvina Devi kan? Cewek yang aku bawa waktu kita ketemu di acara premier filmnya Mbak Rosa, istrinya Mas Dion Wijaya" Bae kembali mengoceh.
Orang ini ngomong apa sih? Ganggu aja!
"Nah, itu gebetan aku. Tapi susah minta ampun merebut hatinya. Padahal aku serius, bukan main-main. Aku ingin menjadikan dia satu-satunya dalam hidupku, makmum disepertiga malamku" tambah Bae lagi.
Aku bener-bener gak ngerti dia ngomong apa! Mau ngapain dia disepertiga malam? Ah, tapi bukan urusanku kok! Aku harus cari Mas Adrian
Perlu kita ketahui kalau Kama masih belajar agama Islam. Ia belum sampai di tema solat sepertiga malam. Jadi wajar kalau ia tidak paham dengan apa yang Bae ucapkan.
__ADS_1
Kama lantas berdiri dan pergi meninggalkan Bae yang terus memandanginya.
Cewek aneh! Diajak ngobrol cuma diam dan pergi. Gue jadi heran, model begitu kok bisa bikin Adrian tergila-gila. Tapi wajarlah, Adrian kan bule cupu, yang gak pernah pacaran. Hahaha, bodoh! Pantes kalau laki-laki cupu berjodoh dengan perempuan aneh seperti dia. Ternyata masih banyak yang jauh lebih rumit dari kamu, Alvina. Itu artinya aku gak boleh putus asa. Aku harus yakin, aku pasti bisa mendapatkan hatinya! gumam Bae dalam hati.
πππ
Kama menutuskan kembali ke unit kamarnya. Airmata yang sejak tadi ia tahan sudah akan keluar. Jadi ia buru-buru naik ke lantai 11.
Begitu keluar dari lift, Kama segera berlari menuju unit. Dan ternyata ia mendapati sosok Sutra yang sedang membuka pintu kamar. Kama lantas mempercepat larinya.
"Maaaasss....." Kama memeluk Sutra dari samping bersamaan dengan jebolnya katulampa.
Burrrrrr.....!
"Hei, Babe, kamu udah pulang?" tanya Sutra biasa, ia belum tau kalau istri tersayangnya itu sudah berurai air bah.
Namun sedetik kemudian, Sutra baru sadar kalau bahu kemejanya basah.
"Babe..., kamu nangis? Kenapa?" Sutra menarik Kama dari pelukannya, melihat wajah Maria Marcedes KW itu sembari mengusap sisa airmatanya.
Tampak wajah sembab Kama yang murung disana. Namun tidak mengurangi kecantikan Kama dimata Sutra. Memang kalau sudah tergila-gila karena cinta, wajah kayak zebra cross pun pasti dibilang cantik.
"Kamu darimana Mas?" Kama balik bertanya
"Aku khawatir, kamu gak bawa ponsel. Aku takut kamu nyasar, kamu kan masih sakit..." bendungan katulampa masih terus mengalir.
"Oh my God. Aku minta maaf Babe, maafin aku ya. Kamu jangan nangis lagi..." Sutra jadi merasa bersalah. Ia mendekap erat Kama dalam peluknya.
Sejak Sutra mengalami kecelakaan, Kama jadi hobi menangisinya walau tanpa sepengetahuan Sutra. Rasa takut kehilangan Sutra semakin besar dibenak Kama.
"Yaudah sekarang kita masuk yuk..." ajak Sutra.
Sesungguhnya bukan tanpa alasan Sutra pergi meninggalkan kamar.
_flashback on_
Sutra duduk di sofa kamarnya. Ia lantas menelepon, mengabari ibunya, Ajeng bahwa ia dan Kama menginap di Depok.
"Assalammualaikum Ibu..." saut Sutra begitu telepon tersambung.
"Waalaikumsalam, Sut, ada apa?" tanya Ajeng dari ujung telepon.
__ADS_1
"Bu, Pak Wiryo udah balik tuh ke Jakarta. Sutra sama Kama nginep di Depok dulu sementara, sampai urusan Kama selesai, biar deket ke kampus. Capek kalo bolak-balik Jakarta - Depok" jelas Sutra sekaligus pamit pada ibunya.
"Eh, kok tiba-tiba? Kamu sengaja ya Sut? Ibu tau, pasti kamu mau berduaan dengan Kama kan!" Ajeng langsung menangkap maksud anaknya.
"Hehehe, Ibu curiga mulu nih. Ya gak gitu lah Bu. Urusan cuti Kama kan belum tentu selesai satu hari, jadi mungkin besok setelah beres kita langsung balik ke Jakarta" Sutra beralasan dan alasannya cukup masuk diakal.
"Ibu gak mau tau soal itu! Yang jelas Ibu yakin, kalau kamu pasti mau mepetin Kama terus, iya kan? Ngaku!" Ajeng sudah bisa menebak, ia paham dengan gelagat anaknya sejak Sutra mengajak kerjasama untuk sandiwara mahabarata, eh sandiwara amnesia.
Duh, pinternya si Ibu. Tau aja niat anaknya
"Astaghfirulloh Ibu..., pinter banget nebaknya, hehehe" Sutra tertawa kecil. Ia tak menyangka kalau Ibunya sudah bisa membaca rencana di otaknya.
"Tuh kan, bener! Iih, dasar kamu ya Sutra! Persis kayak ayahmu! Gak kuat disuru puasa!" pekik Ajeng saat itu juga.
"Yah, Ibu, Sutra gak pernah bolong kok puasa ramadhan..." saut Sutra masih dengan candanya.
"Terserah kamu deh! Pokoknya Ibu gak mau kalau Kama sampai hamil! Mertua kamu juga gak setuju soal itu! Inget ya Sut, Kama masih kecil, kasihan dia, Ibu gak tega. Awas kalau kamu buntingin dia!" pekik Ajeng lagi. Wanita paruh baya itu sampai mengelus dada mengingat kelakuan anaknya yang tidak bisa menahan selera.
Loh, emang bisa dicegah?
"Ya Allah, Ibu, tega banget ancamannya. Sutra mesti gimana donk kalo kelepasan?" tiba-tiba si pintar acting malah jadi bodoh saat membahas masalah begituan.
"Ibu, gak tau! Kamu yang pikirin sendiri gimana caranya! Assalammualaikum!" Ajeng langsung memutus sambungan telepon setelah mengucap salam.
Ya Allah, Ibu kejam, langsung nutup telepon. Apa aku telepon ayah aja ya...
Sutra lantas menghubungi ayahnya.
"Hallo, assalammualaikum boy..." saut ayah diujung telepon.
"Waalaikumsalam Ayah. Ayah sibuk gak? Ada yang mau Sutra tanya, penting" Sutra memijat kepalanya, membayangkan kalau rencananya akan gagal karena ancaman Ajeng.
"Not really, what's wrong Boy? (Tidak juga, ada apa, nak?)" tanya Mr.Will
πππ
Bagus, bertanyalah pada orang yang lebih berpengalaman Sut..
Karena malu bertanya, sesat dijalan
Jangan sampai jalanmu sesat, tak tau dimana letak gua... π€£π€£
__ADS_1
Flashback masih on gaes!!
Yuk kita saksikan gimana perbincangan Sutra dengan ayahnya, kepoin di next episode π