
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Hati-hati, ada adegan menggetarkan !!
-
-
"Ssshhhh ..., aaaakhhh Maasss ..." Kama melepas ciuman mereka. Desahannya kembali terdengar bersamaan dengan tetesan bulir hangat untuk yang kesekian kalinya.
"Maafin aku, Babe ..." Wajah Sutra sudah tidak karuan, napsu sudah menguasai. Sutra mulai mempercepat gerakan. Ada sensasi menggelitik yang sungguh nikmat dalam setiap interval iramanya. Semakin cepat terasa semakin enak.
Perih dan nikmat bercampur jadi satu. Itulah yang di rasakan Kama sekarang. Semakin di celup, Kerang Simping semakin mengikat, dan Kama semakin ketagihan walau sakit bukan kepalang.
Gimana ya bilangnya, sakit tapi enak banget, ya cuma di situ tempatnya. Buat teteh, mommy, dan kakak yang sudah menikah skaligus mengalami pasti paham gimana rasanya.
Gerakan maju mundur pun di tambah Sutra lagi ritmenya, seperti balapan liar. Untung lorongnya sempit dan padat, jadi balapannya tidak belok kemana-mana.
Sutra bekerja sungguh-sungguh di penyatuan sempurna mereka kali ini, hingga keringat mulai mengucur, walau di luar sedang hujan salju. Begitu pula dengan Kama. Tubuhnya yang semula demam dengan suhu tinggi, kini kembali panas berkat deru jantung dan pergulatan dahsyat terdalam yang baru pertama kali ia lakukan.
The true making love. Inilah yang di lakukan Kama dan Sutra saat ini. Tidak ada lagi jeda dan tidak ada lagi ruang pemisah.
Tanpa Kama sadari, ia malah sudah terikut irama yang di bawa oleh Sutra. Reflek ia mengangkat sedikit pinggulnya, lebih melebarkan paha hingga pinggangnya melengkung, membuat aksi celap-celup tereksplore semakin dalam.
"Ooh, Babe ..., sssshhh ..." Gerakan spontan Kama berhasil mengeluarkan desahan Sutra kali ini, menandakan kalau kegiatan celap-celup mereka akan menemui puncaknya.
"Uuuh, Maaassss ...," saut Kama tak kalah mendesah.
Lagi dan lagi mereka terus bekerja sama dalam satu irama. Mendorong di saat bersamaan agar saling bertumbukan di posisi yang tepat.
"Aaaarrrggh, Babe ..." desahan Sutra semakin berat. Sepertinya ia hampir sampai ke sana.
Sampai kemana? Haduuuh, jangan di tanya, please! Lagi nanggung ini, dikit lagi!
"Ssshhh ..., hhmmmnnhh ..., uuuuh ..."
Sutra lantas mengambil langkah pintar. Ia tidak ingin melewatkan si pucuk cream dalam penyatuan sempurnanya kali ini. Sutra menurunkan kepala, mencari pucuk cream dengan bibir lalu mengemutnya lahap, menambah kenikmatan di penghujung pencapaian mereka. Sementara tangan satunya memijat kembaran si pucuk cream di sebelah.
"Aaaaaarrrhhhh... Babe... Aaaaaaarrrhhh..." teriak Sutra. Sedikit lagi ia sampai.
"Ma-aasssshhhh... sssshhhhh..., aaaaahhh..." desah Kama tidak kalah hebat sembari mencengkeram Sutra tak karuan.
Saut menyaut desahan keluar dari mulut mereka, memenuhi setiap sudut ruang kamar yang begitu besar. Di iringi oleh hujan salju yang indah, untuk pertama kalinya Kama dan Sutra sempurna dalam penyatuannya.
Tubuh Kama menegang, begitu pula dengan Sutra. Hantaman kencang yang bertubi-tubi dari Komodo Lang membuat Kerang Simping babak belur. Ia bergetar, dan mencakar ke segala arah dengan kencang hingga akhirnya........
__ADS_1
"Maa-aaaaasssshhhh ...," lirih Kama di puncak pelepasan mereka bersamaan dengan cairan bening hangat yang kembali menetes di sudut matanya. Kali ini bukan karena sakit, melainkan kebahagian Kama karena telah melaksanakan tugas utamanya.
"Hhhhhh ..., Babeeee ...,"
Sssrrrrrr !
Pelepasan kenikmatan pertama mereka kompak di raih bersama, menjadi awal indahnya hubungan cinta di antara keduanya.
Di sini, di kota bersalju ini, Stockholm, Swedia, Kama resmi menyerahkan seluruh hidupnya untuk Sutra tepat di tanggal 1 Maret 2020, menjadi saksi bisu dari sebuah kata terindah yakni, CINTA.
Tak ada lagi jarak, tak ada lagi sekat, dan tak ada lagi yang bisa memisahkan mereka. Kama memang di ciptakan untuk Sutra. KAMASUTRA.
Tidak semua pernikahan langsung mendapat penyatuan sempurna di malam pertama mereka. Mungkin saja ada yang lebih bodoh dari Kama dan Sutra di luar sana.
Tapi jodoh tak pernah salah alamat. Allah mempertemukan kita dengan orang yang tepat, orang yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Karena rasa ingin belum tentu butuh.
Muntahan bubur sumsum hangat pun keluar dari pucuk kepala Komodo Lang, sebagai tanda sah nya penyatuan Kama dan Sutra. Rasa perih terkoyak yang di rasakan Kerang Simping sedikit terobati karenanya.
Sekarang posisi Sutra terkulai di atas tubuh Kama, namun tetap bertumpu pada lutut dan kedua siku. Sementara Kama mulai melonggarkan cengkeramannya di kedua lengan Sutra.
"Makasih ya, Babe ...," bisik Sutra pelan.
Tak hanya Komodo Lang yang bisa meninggalkan jejak. Kerang Simping pun juga bisa. Ia lantas memberi sedikit gerakan memijat di tubuh Komodo Lang, sebagai penutup dan ucapan terima kasih atas penyatuan luar biasa di antara mereka.
"Eh ...," ucap Sutra di sela-sela tarikan napas kepuasannya.
Sutra menatap pujaan hatinya dengan wajah terkejut namun bahagia.
Wajah Kama spontan memerah.
"Surprise ...," jawab Kama pelan sembari menarik Sutra dalam pelukannya.
"Apa itu artinya dia mau lagi?" Sutra berbisik di telinga Kama.
"Ih, Mas, yang ini aja belum di cabut, kok!" saut Kama sedikit sewot. Ia memukul pelan punggung suaminya.
Di kasi hati minta jantung, eh di kasi getaran minta nambah. Begitulah Sutra.
"Hehehe, yaudah, aku cabut sekarang ya ...," Sutra tertawa kecil selepas menggoda istrinya.
Pelan-pelan Komodo Lang bergerak mundur hingga keluar dari tubuh kekasihnya.
"Sekali lagi makasih ya, Babe ..." Sutra berbaring di samping Kama, menatapnya lembut sambil menyeka sisa air mata di sudut mata Kama.
"Iya, Mas ...," jawab Kama singkat. Sekarang posisi mereka rebahan dengan saling berhadapan.
"Kamu nangis terus dari tadi, pasti sakit banget, ya...?" Sutra membenarkan rambut keriting Kama yang sedikit menutup wajahnya.
"Bukan cuma sakit, tapi juga bahagia." Kama menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Sutra.
"Aku bahagia karena udah bikin kamu bahagia, Mas ..." Lagi-lagi wajah Kama bersemu merah. Detak jantungnya pun berirama.
"... i love you, Babe ..."
Cup !
Sutra mengecup dahi Kama, berterima kasih atas pengabdian yang di berikannya.
"Aku janji gak akan bikin kamu kecewa, Babe ...," ucap Sutra.
Cup !
"Dan akan selalu buat kamu bahagia ...," ucapnya lagi.
Cup !
Kriiiiing !
Tiba-tiba telepon kamar berbunyi. Sutra segera bangkit dan mengangkatnya.
"Hallo," ucapnya pada si penelepon.
"Bang, ini saye, Aiman." Ternyata Aiman yang menelepon. Ia meminta di sambungkan ke kamar Kama dan Sutra.
"Ya, Bang, kenapa?" tanya Sutra.
"Macemanenya Abang ni, saye telepon ke ponsel tak de jawaban. Tak tengok ke dah jam berapa sekarang? Saye dah tunggu Abang satu jam," protes Aiman.
Sutra lantas melirik jam dinding di kamar. Ternyata sudah pukul setengah delapan malam waktu Stockholm.
Astagaa, sudah jam segini ternyata.
"I-iya, Bang, maaf ... Tadi kita ketiduran. Kalau gitu kita ketemu di restoran setengah jam lagi ya. Saya dan Kama siap-siap dulu," saut Sutra pada Aiman.
"Siapa, Mas?" Sutra baru saja meletakkan gagang telepon.
"Bang Aiman, mereka udah nungguin kita di bawah satu jam. Buruan kita susul, yuk. Aku yang mandi duluan atau kamu?" tanya Sutra.
"Aku." Kama lantas bangkit dari tidurnya.
"Sssshh, aaarkh ..." Baru saja Kama ingin menurunkan kakinya di tepi ranjang, ia merasa kesakitan.
πππ
Diih, kenapa dengan Kama, gaes?
Apa? Apa? Apanya yang sakit?
__ADS_1
Kita cek di next eps yuk π