
Jangan lupa bantuan LIKE dan VOTE-nya ya guys, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
"Yakin masih mau ngurusin Chelsea? Atau kita ..." Kama sengaja menggantung kalimatnya.
Mata Sutra berbinar-binar memandang istrinya. Kalimat Kama barusan berhasil mengubah kemarahannya jadi penantian.
"Gak, gak jadi. Biarin aja si gila itu. Atau kita apa, Babe?" tanya Sutra dengan penantian menggebu-gebu ke arah sana.
Ke arah mana tuh? Arah yang selalu mengisi otak Sutra setiap saat jika bersama Kama.
"Sini Mas, rebahan sebelah aku." Kama menepuk posisi ranjang yang kosong.
Sutra langsung menurut. Ia merebahkan diri di samping Kama.
"Udah nih, terus kita ngapain? Itu tadi maksud kamu kita apa?" Sutra masih menanyakan soal tadi.
Kama lantas menempatkan kepalanya di atas dada Sutra. Melingkarkan tangannya di atas perut Sutra.
"Jangan kemana-mana, Mas, aku kangen," ucap Kama.
Lah, cuma begini aja? Aku pikir tadi ...
Sutra mendekap tubuh Kama dengan lengan kokohnya.
"Sama, aku juga kangen kamu, Babe. Kangen banget," jawab Sutra.
"Aku juga, Mas." Kama menikmati kehangatan yang di hantar oleh tubuh Sutra padanya.
"Tapi aku kangennya pake banget Babe, dan biasanya kalo kangen banget itu harus ..." Giliran Sutra yang menggantung kalimatnya.
"Harus apa?" Kama mendongak, menatap wajah suaminya.
Cup !
"Harus kayak gini." Gantian, kini giliran Sutra yang mendaratkan kecupannya di bibir peach milik Kama.
Cup !
Dua kecupan.
"Wajib kayak gini."
Cup !
Tiga kecupan.
"Kalau boleh sih nyambung ke yang lain," pinta Sutra dengan senyum penuh harap.
"Aku ngantuk, Mas. Semalaman gak bisa tidur karena gak ada kamu. Bobo yuk, satu jam aja." Bukannya menanggapi permintaan Sutra, Kama malah mengajaknya tidur.
__ADS_1
Huuuuuufffttt ...
"Tapi Babe, kita bakalan lebih nyenyak bobo kalau selesai olahraga." Sutra masih punya ide untuk rencana di otaknya.
"Olahraga apa di tempat dingin begini, Mas?" tanya Kama lirih. Suaranya makin mengecil seiring dengan kantuk yang tak tertahan.
"Biar aku yang ajarin kamu ya, oke." Tak ada jawaban apapun lagi dari Kama.
"Babe ...," panggil Sutra lembut sembari mengelus lengan Kama. Tetap tak ada jawaban.
Yaaah, dia tidur.
πππ
Chelsea tampak sedang duduk di kamarnya, menatap pepohonan bersalju dari jendela.
Aku udah bikin Adrian bener-bener marah kehilangan Kama. Wajahnya kacau, ia begitu panik dan khawatir. Apa itu artinya aku gak punya celah sedikitpun lagi untuk masuk ke dalam hatinya?
Adrian ..., maafin aku. Aaaah, apa yang udah aku lakukan? Kenapa aku bisa sejahat ini sekarang?
Chelsea mulai menyesali perbuatannya.
Jika seandainya aku yang hilang seperti Kama, apakah ada laki-laki yang akan panik dan khawatir seperti itu padaku?
Ceklek !
Tiba-tiba pintu kamar Chelsea terbuka. Chelsea langsung menoleh. Seorang laki-laki tampan masuk dan menghampirinya.
"Adrian dan Kama udah balik?" tanya Chelsea padanya. Ia pun menggeleng.
Dega ...
"Aku gak laper," jawab Chelsea sambil menatap wajah orang yang berdiri di hadapannya.
"Ntar lu sakit lagi, kan repot urusannye," ucap Dega.
"Biarin aja, Ga. Biar mati sekalian," jawab Chelsea asal.
"Lah, emang ade gitu orang kagak sarapan terus mati? Gua baru denger." Dega duduk di kursi kosong depan Chelsea.
"Paling sakit perut doank," sambung Dega lagi.
Huh, nyebelin!
"Udah buruan makan, Chels! Ntar kalo lu sakit pasti gua yang---" Chelsea memotong kalimat Dega.
"Apa?" tanya Chelsea.
"Gua yang repot lah, kan tadi udeh gua bilang," saut Dega.
Memang gak ada seorang pun yang perduli denganku. Termasuk Dega!
Raut wajah Chelsea seketika berubah. Ada kesedihan di sana dan Dega langsung menyadari itu.
"Chels, makan noh! Ato jangan-jangan, lu nungguin gua yang suapin yak?" Chelsea bergeming, tak perduli dengan pertanyaan Dega. Padahal Dega sengaja berkata demikian agar Chelsea sewot. Tapi kali ini tidak demikian.
__ADS_1
Dega lantas bangkit dari duduknya, lalu mendekat pada Chelsea. Ia duduk di tepi ranjang lalu menarik kursi Chelsea mendekat padanya. Sekarang posisi mereka saling berhadapan. Chelsea menatap Dega dengan mata sayu. Kesedihan masih penuh di sana.
"Chels ..." Dega mengambil mug dari tangan Chelsea lalu meletakkannya di atas nakas.
"Nanti setelah Adrian dan Kama balik ke sini, kita pulang ke Indo yuk," pinta Dega.
"Kenapa?" tanya Chelsea.
"Gua kagak tega ngeliat lu sedih begini terus. Udeh Chels, cukup. Jangan siksa diri lu lebih jauh lagi. Kagak ade artinye. Adrian kagak bakal pisah dari Kama. Usaha lu bakal sia-sia, percuma," jawab Dega.
"Gua juga kagak mau Adrian berbuat kasar ame lu. Gua kagak siap ngeliatnye. Yang ada entar gua yang ribut ame die."
"Kalau boleh jujur, sebenernye gua gedek liat kelakuan lu Chels. Ngejer-ngejer cowok sampe segitunye. Lu kayak kagak bisa ngeliat yang laen, padahal banyak cowok yang naksir ame lu." Dega meraih kedua tangan Chelsea.
"Gua kagak bilang kalo salah satunya adalah diri gua. Cuma ya lu paham aja dah sendiri. Gua udah ngaku waktu di Jakarta. Tapi bukan berarti gua minta lu harus milih gua. Semua terserah lu, pilih yang bikin lu bahagia. Jangan pilih yang bikin lu sedih kayak begini." Dega menunjuk wajah Chelsea dengan bibirnya. Maksudnya adalah agar Chelsea berhenti mengharapkan Sutra.
Namun kalimat Dega barusan berhasil meloloskan satu bulir hangat di pipi Chelsea.
"Eh." Dega menghapus air mata gadis pujaannya itu dengan tangan.
"Tu tandanye lu jangan milih gua, Chels. Gua udeh bikin lu nangis," sambung Dega.
Spontan Chelsea menarik ujung rambut Dega hingga ia meringis kesakitan.
"A-aaww! Sakit, Chels!"
"Dasar bodoh!" umpat Chelsea.
"Siape? Gua yang bodoh? Enak aje lu. Eh tapi bener juga sih, gua kagak lulus-lulus yak. Hahaha." Jawaban Dega tidak nyambung. Ia bahkan menertawai dirinya yang belum juga lulus kuliah.
"Udah cepetan!" Tapi Chelsea menyahut .
"Cepet apaan? Gua kagak paham." Dega menautkan kedua alisnya.
"Peluk aku, Degaaaaaaa." Chelsea hampir berteriak menunggu respon Dega. Ternyata gadis itu butuh dekapan hangat dari seorang Dega yang selalu ada di sampingnya setiap saat.
Hah, ape? Serius ...?
Dega masih sibuk berpikir dengan melebarkan bola matanya. Tapi Chelsea tak ingin menunggu lebih lama. Gadis itu segera masuk dalam dekapan Dega. Menyandarkan kepalanya di dada Dega sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang Dega.
"Bikin aku bahagia, Ga ... Aku maunya sama kamu ...," ucap Chelsea lembut penuh arti.
Bahagia sekaligus terkejut jelas tampak di wajah laki-laki Betawi itu. Ia tak menyangka kalau Chelsea akan mengatakan itu padanya.
Dega lantas mendekap Chelsea, membawanya lebih dalam pelukan.
"Gua janji Chels, akan bikin lu bahagia semampu gua."
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat di pucuk kepala Chelsea. Ternyata menyadari siapa dan di mana cinta sejati butuh perjuangan besar baginya. Ia sampai harus mempermainkan banyak perasaan di dalamnya, termasuk Kama dan Sutra. Tapi kini semuanya sudah jelas. Chelsea sadar dengan perbuatannya. Berhenti menggapai sesuatu yang tak pernah bisa di gapai.
πππ
Terlalu sibuk mengejar hal besar sering kali membuat kita lupa dengan hal kecil yang senantiasa mengelilingi kita. Padahal jika di kumpul menjadi satu, hal-hal kecil itu juga akan menjadi hal besar bagi hidup kita.
Next kita liat gimana kabar Tuan Sakamoto guys. Apakah ia sudah bertemu dengan The king of real estate, Johor - Malaysia???
__ADS_1
Cekidot di next eps π