
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Pagi-pagi sekali selesai solat subuh, Datuk Emran sudah memerintahkan Aiman, orang kepercayaannya untuk mencari tuan kadi, orang yang bisa menikahkan pria paruh baya berusia 50 tahun itu dengan Ida Ayu secara sah menurut agama Islam.
Rencana pernikahan mereka juga akan mereka bicarakan bersama dengan Wayan pagi ini. Mereka berkumpul di ruang makan villa dilantai atas sembari menikmati indahnya matahari yang baru muncul dari arah Timur, sambil menunggu sarapan pagi yang dimasak oleh chef yang sengaja dibawa oleh Datuk Emran dari Malaysia.
Udara pagi yang begitu segar serta angin yang sesekali bertiup menyibakkan rambut ikal Ida Ayu yang tetap terlihat begitu menawan dipandangan Datuk Emran. Wanita paruh baya yang berusia 38 tahun, namun tetap langsing dan menawan seperti saat muda dulu.
Mereka bertiga menikmati teh dan kopi lebih dulu sebelum makanan utama datang.
"Wayan.." panggil Datuk Emran memulai perbincangan.
"Ya, Bang.." saut Wayan, adik sepupu dari Ida Ayu yang sejak kecil dirawat oleh orangtuanya. Sudah seperti adik kandungnya sendiri.
"Abang dan Ida dah sepakat, kami mahu balek menikah macem dulu. Wayan setuju kan?" tanya Datuk Emran.
"Benarkah itu, Bang? Berita besar ini, Kak.." Wayan menatap Datuk Emran dan Ida Ayu bergantian.
"Kama harus tau soal ini Kak.." sambung Wayan lagi.
Datuk Emran melihat Ida, mempersilahkan calon pengantinnya yang bicara.
"Betul Wayan.. Ayo kita telepon Kama sekarang!" ajak Ida Ayu
Mereka lantas meminjam ponsel Datuk Emran. Ponsel pribadi milik Wayan dan Ida Ayu sudah hancur terlempar saat mereka panik ketika dijemput paksa oleh anak buah Datuk Emran dari rumah kerabatnya.
Wayan mengambil alih, ia mengabari istrinya Lulu lebih dulu. Apalagi nomor ponsel yang ia hapal betul hanyalah nomor istrinya. Wayan menceritakan segala hal yang terjadi secara singkat. Awalnya Lulu sempat histeris, ia berpikir kalau suaminya hilang ditelan hantu Bali, ia sampai menangis semalaman karena tidak mendengar kabar sama sekali dari Wayan.
"Huaaaaaa..., Honey..." Lulu menangis histeri.
"Sudah-sudah.., aku minta maaf sayang.." ucap Wayan menenangkan.
"Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus ganti rugi! Aku nangis semalaman gara-gara kamu! Jadi kamu harus ganti dengan perawatan mata yang mahal!" tegas Lulu setelah tangisnya reda.
__ADS_1
"Iya, sayang.., iyaa..." jawab Wayan.
Mendengar adik calon pengantinnya tak henti membujuk istrinya, Datuk Emran berinisiatif,
"Sayang, macemane kalau Abang suroh anak buah pi jempot mereka semue di Jakarta?" tanya Datuk Emran pada Ida Ayu.
"Jemput naik ape Bang?" Ida Ayu bertanya balik, ia heran. Kalau memang ingin keluarga Wayan dan Kama datang ke Bali untuk apa dijemput, mereka bisa pergi sendiri dengan pesawat.
"Private jet, sayang.. Sekarang juga Abang suroh pun bise" Datuk Emran memberi solusi yang praktis.
"Apenya Abang ni, berapa pula ongkosnya tu?" Ida Ayu terkejut. Pasti sangat mahal jika mereka datang dengan private jet dari Jakarta ke Bali.
Datuk Emran tertawa kecil,
"Hehehe.., tak berubah Sayang Abang ni.. Kalau dah menghitong pity , satu sen pun tak bole selip!" Ida Ayu tersenyum kecut. Ia mengakui kalau sejak dulu ia selalu selektif dalam hal keuangan.
"Private jet tu gratis dari Allah, Sayang.. Bayar pake doa saje lah, supaya family kecil kite ni selalu rukon dan bahagie.." sambung Datuk Emran lagi.
"Betolnya Abang ni? Ida penasaran, apelah usaha Abang tu? Banyak betol duet Abang, sampai cottage Ida pun nak Abang renov.." Ida Ayu mulai penasaran.
"Hehehe, pokoknya halal! Tak nak Abang bebisnes haram! S**o, buang jaohlah pikiran burok Ida.. Ganti dengan selalu doakan Abang.." kalimat Datuk Emran bersamaan dengan kabar lain yang datang dari Wayan setelah selesai bicara ditelepon dengan istrinya.
"Kak.., Bang.., Kama ada di Bali sekarang!"
"Apa? Betul itu Wayan?" Ida Ayu bangkit dari kursinya. Ia terkejut mendengar kabar bahwa anaknya sudah ada di Bali saat ini.
"Dah, jangan buang mase! Pi hubungi die teros..! Dimane die sekarang ni.." sambung Datuk Emran.
Wayan langsung menekan nomor ponsel Kama yang dimintanya dari Lulu tadi.
πππ
Kama sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia memoles wajahnya dengan pelembab ber-spf agar terlindung dari sinar matahari yang lumayan pekat di Bali. Ketika ia baru selesai memakai lip tint, ponselnya berbunyi. Ada nomor asing yang menelepon.
Seperti kebiasaan Kama sebelumnya, ia selalu tidak menggubris jika ada nomor asing yang menghubunginya. Tapi ponselnya tak kunjung berhenti berdering, bahkan sudah tiga kali. Kama lantas berjalan cepat keluar pintu, menemui Sutra yang sedang menunggunya selesai mandi bersama Arya.
"Mas.." panggil Kama
"Eh, ya Babe.. Udah siap ya mandinya.." Sutra menghampiri Kama.
"Ayo, Mas Arya gantian.. Mas duluan mandi. Biar kita berdua tungguin diluar" Sutra meminta Arya masuk dan mandi lebih dulu darinya. Tanpa basa-basi Arya pun menurut.
Ketika Arya sudah masuk ke dalam villa, Kama dan Sutra duduk dikursi taman kecil. Ponsel gadis itu kembali berdering, dan saat itu juga langsung diserahkannya pada Sutra.
"Loh, kok gak kamu angkat? Siapa tau penting.." ucap Sutra.
__ADS_1
"Udah empat kali nomor itu nelepon, Mas" saut Kama
"Yaudah angkat buruan!" Sutra menekan tombol hijau dilayar ponsel Kama lalu menempelkan ponsel itu ketelinga Kama.
"Hallo, Kama..!" suara tidak asing dari ujung telepon.
"Ajii...?!" tanya Kama tak percaya. Ternyata yang meneleponnya adalah Aji Wayan. Gadis itu langsung menggantikan tangan Sutra yang memegang ponselnya tadi.
"Iya, ini Aji. Kamu di Bali kan? Dimana posisinya sekarang?" tanya Aji ingin tau.
"Aji yang dimana? Biang mana? Kalian baik-baik aja kan?" Kama malah bertanya balik.
"Baik kok.. Kamu mau bicara dengan Biang? Aji kasi hapenya ke Biang ya.." Wayan menyerahkan ponselnya pada Ida Ayu.
"Biaang.." pekik Kama kencang. Ia lepas kendali karena terlalu khawatir memikirkan ibunya. Dengan sigap Sutra mendekap bahu Kama dari samping, menenangkan kekasih hatinya itu.
"Nak.., kamu dimana? Maafin Biang ya gak kasi kabar soal semua masalah yang terjadi. Biang cuma gak mau ganggu kuliah Kama.. Tapi Biang dapat kabar kalau kamu sudah ada di Bali sekarang, benar?" Ida berjalan menuju tepi teras atas villa, menikmati hembusan angin pagi yang menyapu wajahnya.
"Iya, Biang.. Kama sampai di Bali kemarin siang" jawab Kama pelan, ia sudah tenang karena mendengar suara lembut ibunya.
"Dimana? Bersama siapa?" tanya Ida lagi
"Di Sanur, di villa omanya Mas Adrian, Biang.. Kama datang bertiga, dengan Mas Adrian dan Mas Arya" jelas Kama
"Adrian pacar kamu itu ya..?" tanya Ida lembut
"I-iya Biang.." tiba-tiba Kama jadi canggung menjawab. Ia merasa malu dengan Biangnya.
"Kalau Arya siapa?" tanya Ida lagi
"Bodyguard keluarga tante Lulu, Biang.. Aji pasti kenal" saut Kama lagi.
"Kalau gitu sekarang biar Aji yang jemput kalian ya.. Ada berita penting lain yang harus Kama ketahui.." Ida ingin menyampaikan rencana pernikahannya dengan Datuk Emran.
"Apa itu Biang?" Kama jadi penasaran, ia tidak sabar ingin tau
"Kirim alamat Kama kesini sekarang ya, Nak.." kalimat terakhir Ida sebelum menutup sambungan teleponnya.
Kama semakin penasaran. Pikirannya menduga kemana-mana.
Berita apa lagi yang mau disampaikan Biang? Perasaanku jadi gak enak.. Ya Tuhan, kumohon lindungilah keluargaku dari orang-orang jahat..
πππ
Kama sudah menduga yang tidak-tidak..
__ADS_1
Kira-kira bagaimana sih reaksi Kama saat bertemu dengan ayah kandungnya nanti??