When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Dega Lepas


__ADS_3

Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


Sesuai pesan dan kesan yang disampaikan Datuk Emran lewat bibir Sutra, Tuan Sakamoto terpaksa menyetujui Kama, Sutra, Aiman and the genk ikut dengannya menemui Chelsea.


Mereka menempuh perjalanan selama satu jam lebih dari Jakarta menuju kota Serpong - Tangerang. Sebuah apartemen di BSD City.


Kok Chelsea bisa tinggal di sini? Ini jebakan apa bukan ya?


Sutra menerka-nerka dalam otaknya. Ia bahkan berbisik pada Kama untuk selalu berada di sampingnya walau apapun yang terjadi. Tak lupa ia mengatakan pada Aiman and the genk untuk lebih waspada. Sebab banyak kemungkinan bisa terjadi disini.


Sampai di parkiran mereka semua turun dan menuju ke lantai 17. Begitu lift terbuka mereka beriringan menuju ke salah satu kamar yang paling sudut. Tuan Sakamoto menekan bel lalu pintunya pun di buka oleh seorang laki-laki. Tampaknya orang itu adalah penjaga yang di tugaskan menemani Chelsea.


Tuan Sakamoto bicara pada laki-laki itu dengan bahasa Jepang. Lalu laki-laki tersebut menunjuk ke arah kamar. Mereka semua pun masuk, Kama dan Sutra duduk di sofa kecil sementara Aiman and the genk tetap berdiri berjaga-jaga.


Tuan Sakamoto membuka pintu kamar lalu memanggil nama Chelsea. Lagi-lagi ia bicara dalam bahasa Jepang. Entah apa yang mereka bicarakan, Kama, Sutra, Aiman and the genk tidak ada yang mengerti dan memilih diam sembari mengamati.


Tiba-tiba beberapa menit kemudian terdengar suara tamparan lalu disusul dengan suara tangisan Chelsea.


"Mas, kayaknya Chelsea di tampar ayahnya," bisik Kama di telinga Sutra.


"Kasihan, hmmnuuufftt," bisik Kama lagi di akhiri dengan hembusan napasnya yang panjang.


Seeerrrrr !


Seketika bulu kuduk Sutra merinding akibat hembusan napas Kama itu.


"Ya ampun, Babe ..., sempet-sempetnya kamu niup kuping aku. Geli tau," protes Sutra dengan berbisik pada Kama sembari tersenyum.


"Mas, kamu jangan ngaco deh, lagi di sini juga! Aku ga ada ngelakuin kayak gitu!" bisik Kama tegas.


Yah, barusankan dia yang lakuin, kok malah dia yang marah. Aneh!


Semenit kemudian Tuan Sakamoto pun keluar dari kamar, di ikuti Chelsea dari belakang dengan mata yang sembab dan sebelah tangan yang terkepal. Seperti ada sesuatu dalam genggamannya. Kama langsung berdiri dari duduknya ingin memeluk Chelsea, tapi di tahan oleh Sutra.


"Chels, apa kabar? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sutra mengawali pembicaraan.


Tak ada jawaban dari Chelsea ia hanya mengangguk lalu menatap Kama dan Sutra bergantian dengan wajah yang sedih. Matanya bengkak. Sepertinya bukan cuma barusan ia menangis, melainkan sudah berhari-hari.


Sekarang Kama, Sutra, Tuan Sakamoto dan Chelsea sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu apartemen.


"Yang kau katakan memang benar. Anakku hamil dengan laki-laki bodoh teman kalian itu. Untung saja kau tidak menipuku anak muda, kalau tidak aku tak tau apa yang akan kulakukan padamu!" ucap Tuan Sakamoto dalam bahasa Inggris. Emosi kekesalan mengetahui fakta kehamilan Chelsea masih jelas di wajahnya.


Alhamdulillaaah ...


Sutra lega saat tau bahwa Chelsea benar-benar hamil. Sungguh kebetulan yang luar biasa. Persis sinetron, eh maaf, ini novel bukan sinetron. Tapi kalau seumpama di angkat jadi sinetron, alhamdulillah, aminin bareng-bareng yuk guys. πŸ˜‡πŸ€—


"Kamu beneran hamil, Chels?" Kama yang masih kebingungan dengan polosnya bertanya.

__ADS_1


Chelsea lantas menunjukkan test pack yang sejak tadi ia genggam di tangan. Tampak dua garis biru di sana yang artinya Chelsea positif hamil.


Syukurin lu, Ga! Baru umur segitu udah mau punya buntut. Hahaha ...


Sutra menahan tawanya dengan pura-pura mengusap wajah.


"Iya, Kam," ucap Chelsea bersamaan dengan lolosnya air mata.


"Aku gak tau harus bilang selamat atau apa. Tapi, kamu yang kuat ya, jaga kesehatan terus," ucap Kama. Chelsea mengangguk sembari mengapus sisa air matanya.


"Jadi bagaimana, Tuan? Saya harap Tuan mau membuka hati dan mempertimbangkan niat baik teman kami itu." Sutra kembali berucap.


"Aku sudah membuat keputusan. Tidak perlu ada tanggung jawab ataupun pernikahan di antara mereka. Anakku akan baik-baik saja. Mulai besok dia akan ikut denganku kembali ke Jepang," jawab Tuan Sakamoto.


"Papiiiii ...," protes Chelsea.


Buuurrrr ! Air mata Chelsea tumpah seperti air terjun Niagara. Mata kanan dan kirinya serempak mengucur sederas-derasnya.


"Tapi Tuan, bukankah sebaiknya anda---" Ucapan Sutra terputus seiring dengan Tuan Sakamoto yang mengangkat telunjuknya.


"Aku yang bisa mengatur anakku, bukan kalian! Jadi tolong berhenti mencampuri urusan pribadi keluarga kami!" tegas Tuan Sakamoto.


Sutra tak kehabisan akal. Kembali ia ingin membawa nama mertuanya untuk menekan Tuan Sakamoto.


"Ayah kami, Datuk Emran, pasti sedih mendengar berita ini, Tuan. Sebab sejak awal beliau sudah setuju dengan rencana baik yang sudah kami utarakan."


"Berhenti membawa-bawa nama ayah kalian. Aku sudah bosan mendengarnya!" tegas Tuan Sakamoto.


"Sekarang aku akan melakukan sebuah penawaran yang bagus. Stop mengurusi urusan ini, atau hidup laki-laki bodoh itu berakhir hari ini juga?!" ancam Tuan Sakamoto.


Sontak suasana menjadi tegang dan berantakan. Aiman and the genk sudah bersiap akan melakukan sesuatu pada Tuan Sakamoto. Hanya tinggal menunggu perintah dari Sutra.


"Tunggu dulu, apa maksud ucapan, Tuan barusan?" tanya Sutra terkejut dan bingung. Ia sampai bangkit dari duduknya. Sementara Kama tidak bisa berbuat apa-apa. Sejujurnya ia ingin sekali memeluk Chelsea namun terikat janji untuk tidak bergerak dari samping suaminya.


"Cukup jelas kan kalimatku? Aku hanya minta agar kalian berhenti mengurusi urusan pribadi keluargaku atau hidup laki-laki bodoh itu berakhir hari ini juga?!" Tuan Sakamoto mengulangi kalimatnya.


Brengsek! Memang gak bisa di percaya nih orang! Pasti dia udah nyulik Dega lebih dulu.


"Di mana dia sekarang?" Nada Sutra sudah mulai kasar. Ia sudah muak bicara baik-baik dengan pria Jepang di hadapannya.


"Tenang, dia aman bersama dengan anak buahku. Hanya pukulan kecil tidak akan membuatnya mati begitu saja. Tapi aku bisa mengakhirinya dengan sekali tekan." Tuan Sakamoto menggoyang-goyangkan ponselnya sembari tersenyum licik.


"Oke, baik, kita buat kesepakatannya sekarang. Lepaskan Dega saat ini juga dan kami akan berhenti untuk membahas apapun," ucap Sutra.


"Good." Tuan Sakamoto tersenyum lalu menekan tombol di ponselnya untuk menelepon anak buahnya.


"Hallo, bebaskan laki-laki itu sekarang juga dan kasih dia ongkos pulang," perintah Tuan Sakamoto lalu menutup telepon.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dega yang baru saja selesai makan siang sedang menikmati acara tv di kamarnya.


"Eh, botak-botaaak ...," panggilnya pada salah seorang anak buah Tuan Sakamoto.

__ADS_1


Laki-laki botak itu pun datang menghampiri.


"Ada apa? Mau kue lagi? Kamu sudah makan kue tart tiga potong. Bahkan jatah kami pun sudah kamu makan, apa tidak cukup?" tanyanya kesal.


"Eh, botak! Gua bukan mau ngomongin entu, blo'on! Sensi amat lu," umpat Dega.


Laki-laki botak itu menarik napas dalam. Baru kali ini dia menculik orang tapi habis di maki sama orang tersebut. Kalau bukan karena perintah bosnya, mungkin mulut Dega sudah ia pukuli sampai tidak bisa bersuara lagi.


"Jadi apa?" tanya si botak.


"Entu tu acarenye bagus banget. Lu ame temen lu ikutan, buruaan. Ade giveaway, bisa dapetin henpon, duit, ame motor. Lumayan kan, botak," seru Dega antusias. Matanya tak lepas memandang layar tv yang sedang memutar acara bagi-bagi hadiah dari artis Baim Wongchocho.



"Botak, buruan, 'Tak ... Noh, catet nomer wa nye. Kalo lu beruntung, ntar lu di pidio call ame mereka langsung." Dega menepuk bahu si botak.


Bukannya tertarik untuk ikut, si botak malah semakin kesal dan memilih untuk pergi meninggalkan Dega daripada emosinya tak terbendung. Ah, memang berat dilema seorang penculik profesional harus berhadapan dengan anak Betawi sarap kayak Dega.


Sementara itu teman si botak baru saja selesai bicara dengan bosnya di telepon.


"Tugas kita selesai. Kata bos bebaskan anak itu," ucapnya.


"Serius?" tanya si Botak meyakinkan.


"Ya. Ayo tunggu apalagi," aja temannya.


Mereka lantas menghampiri Dega lalu menariknya hingga keluar rumah.


"Eh, eh, eh, buset dah ..., gua mau di bawa ke mane ni?" tanya Dega gelagapan. Heran karena tubuhnya tiba-tiba saja di tarik keluar rumah.


Sampai di depan pagar rumah tersebut. Si Botak lantas memberikan uang senilai dua puluh ribu ke Dega.


"Buat ape ni?" tanya Dega heran.


"Ongkos kamu pulang. Sudah pergi sana!" ucap si Botak.


"Eh ntar dulu, Botak. Ini kite di mane ni? Gua kagak tau daerahnye. Rumah gua kan di Depok. Lu maen ngasi dua puluh rebu aje, kagak cukup, blo'on!" protes Dega.


"Uang saya sudah habis lantaran menuhin selera makan kamu! Nih lihat, sisa tiga puluh ribu!" si Botak menunjukkan dompetnya pada Dega.


Ternyata habis selesai di obatin kemarin, Dega di layani oleh kedua orang itu. Di tanyai ingin makan apa saja. Dan ia menjawab sesuka hatinya.


"Lah, salah elu. Pan elu yang nanya gua mau makan ape. Ya gua jawablah semuanye. Nyang ade di mimpi gua juga gua jawab sekalian. Hehehe." Dega nyengir pada kedua orang itu.


"Sudah diam kamu! Jangan tertawa begitu. Bikin kesal saja. Sana pergi!" usir si Botak lagi sembari menendang pantat Dega menjauh darinya, lalu pergi masuk kembali ke dalam rumah.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Ah, babang Dega ucul 🀣🀣


Sempet-sempetnya nyuru penculik untuk ikut acara giveaway Baim Wong 🀣🀣


Mayan bisa dapet hengpong, duit, ame motor. Tapi pajak di tanggung pemenang ye ...

__ADS_1


Next kita liat gimana nasib Chelsea yang udah terbuntingi oleh Dega di next eps πŸ‘‡


Cekidot !


__ADS_2