When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
PACARAN


__ADS_3

TERIMAKASIH READERS YANG UDAH SAMPAI PART INI πŸ˜ŠπŸ™


KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT πŸ€—


JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)


I Love U 😘


.


.


.


--- Kama Pov ---


Aku baru saja selesai makan siang dirumah Mini. Senangnya aku hari ini, walau tadi sempat dikejar-kejar orang stres, tapi masalah ku dengan Mini akhirnya selesai, dan kami bisa dekat lagi seperti sebelumnya.


"Oh iya Kam.., gue sampe lupa. Itu si Reyhan gimana ceritanya ya? Kan dia naksir berat sama lo" tanya Mini


Reyhan? Hmm..,


"Buat lo aj ya Min.. Gue yang ini aja kebelit, diluar ekspetasi gue! Padahal gue gak minat sama sekali pacar-pacaran"


"Hiii, ngaco aja lo! Memangnya pak Adrian uler sampe ngebelit?! Tapi inget ya Kam.., kalo sampe lo bikin idola gue patah-patah, gue yang bakal patahin lo balik!" ancam Mini padaku


"He, kok jadi lo yang ngancem gue? Hehehe"


"Oh, jelas donk! Karena gue fans garis kerasnya pak Adrian dari awal. Jadi kalo lo nyakitin dia, itu sama aja lo nyakitin gue!"


Hah?? Serius Mini? Dia udah gila atau kena hipnotis pak Adrian sih? Kok bisa sampe segitunya ngebelain? Aneeh!


"Heum, gue usahain!" terpaksa kuiyakan agar Mini senang.


Oh iya, bicara soal pak Adrian, eh pak Sutra, aku baru ingat, hari ini kan waktunya kami ke Jakarta. Dimana dia sekarang ya?


Aku mengambil ponselku dari dalam tas, bermaksud untuk menghubungi pak Adrian. Ternyata begitu kulihat, ada 12 panggilan tak terjawab dari pak Adrian. Aku memang sengaja mengganti mode hening ponselku saat di angkutan umum tadi, takut kecopetan soalnya.


"Kenapa Kam? Kok jidat lo ngerut gitu?" Mini menyadari perubahanku


"Ada 12 pangggilan tak terjawab dari pak Adrian" jawabku santai


"Hah? Gilak lo memang! Cepet telfon dia sekarang!" perintah Mini padaku. Kok aku jadi ngerasa salah milih sahabat ya?


Kutekan call di nomor kontak pak Adrian, sesuai dengan instruksi fans gilanya itu. Setelah nada sambung kedua berbunyi, dia langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo, Kama!" serunya dari ujung telepon


"Hallo, pak"


"Kamu dimana? Saya nyariin kamu daritadi, saya telpon kamu berkali-kali tapi gak kamu angkat. Saya kawatir, Kama!" huh, dia mengoceh seperti biasa. Baru juga 12 kali telepon udah heboh, belum 20 kali kok.


"Saya baru aja nyelesaiin masalah pak. Saya ketemu orang yang saya ceritain kemarin"


"Kamu serius?"


"Iya, ini saya masih dirumahnya kok"


"Rumah? Chelsea kan tinggal diapartemen, bukan rumah" apa sih dia ini?! Kenapa bawa-bawa Chelsea?


"Kok jadi bahas Chelsea sih?! Saya kerumahnya Mini, sahabat saya!"


"Alamatnya dimana? Saya jemput kamu sekarang ya.."


"Bapak gak usah jemput saya-"

__ADS_1


Aduuh! Tiba-tiba kakiku diinjek Mini, dia protes karena aku menolak jemputan pak Adrian, idolanya. Dia lalu memaksaku menjawab oke dan memberitahukan alamatnya.


"Eeh, oke pak, iya saya share loc sekarang" aku buru-buru mematikan sambungan telponnya, takut kedengeran pak Adrian saat mengaduh kesakitan.


"Aduuuh, kaki gue..." rengekku kesakitan, tapi Mini tak perduli, ia mengambil ponsel ku dan langsung mengirimkan lokasi alamat rumahnya ke wa pak Adrian.


Oh Tuhaaan, aku benar-benar salah milih sahabat! Huummffftt, golongan orang-orang freak!!


Setengah jam kemudian pak Adrian sudah sampai dipinggir jalan besar depan gang rumah Mini. Dia meneleponku menanyakan mau dijemput kedalam atau dia yang menunggu dimobil. Tapi sesuai instruksi fans garis kerasnya yang gila ini, akulah yang harus menemuinya kesana.


Aku segera pamit pulang dengan orangtua Mini, sementara Mini mengantarku hingga kedepan gang, tempat pak Adrian menunggu. Saat aku dan Mini sudah sampai di depan, dengan mata berbinar-binar Mini langsung menyapa idolanya.


"Sore paaak..."


"Ah ya, soreee" jawab pak Adrian dengan senyum sok charmingnya itu! Hih, sok oke banget sih!


"Gak susah kan pak, nyari alamatnya.." ujar Mini lagi


"Gak kok, saya lumayan hapal seputaran Depok" jawab pak Adrian lagi-lagi dengan senyum. Aah, udahlah, bosan aku melihat pemandangan begini!


"Yok pak, cepetan! Udah sore, nanti kelamaan nyampe Jakarta!" seruku


"Min, gue pamit ya.." Mini menarik tanganku dan mendekatkan bibirnya ke kupingku


"Inget ya Kam, apa yang gue bilang tadi! Gue serius!" bisik Mini. Fix! Gue anti fans garis keras! Mini udah gilaaaaaaa!


Aku berjalan memasuki mobil pak Adrian tanpa melihat Mini lagi. Mini positif gila! Kata-katanya selalu membela pak Adrian sejak tadi. Kalau tau akan begini, mendingan aku gak perlu jelasin apapun ke Mini hari ini. Hiiiiii....


πŸƒπŸƒπŸƒ


--- Sutra Pov ---


Aaaaaaahhhh...., desah Kama pelan, tapi aku bisa mendengarnya. Kenapa dia?


"Gak papa"


"Oh iya, saya salah paham. Saya pikir masalah kamu itu dengan Chelsea, ternyata dengan teman kamu itu ya.."


"Kok bapak bisa mikir ke Chelsea?"


"Iya, bukannya dia pernah nampar kamu di kampus?"


"Oh, soal itu. Iya sih, tapi udah aku bales kok" jawab Kama santai.


Waoow, hebat juga kekasih ku si keriting ini, dia sudah membalas tamparan Chelsea. Baguslah, soalnya aku gak tega kalau harus membalaskan pada Chelsea.


"Saya tampar balik dua kali" sambung Kama lagi


Hah? Dua kali? Hmm, aku harus muji atau takut ya sama dia? Ternyata selain cuek, galak, tapi dia juga ganas. Nambah berat tugasku! Ooh, ya Allah.., perempuan seperti apa sebenarnya yang kucintai ini?


"Ah ya, ee, hebat kamu"


"Chelsea emang harus digituin pak.. Kalau gak dia ngelunjak! Seenaknya aja dia nampar saya di depan kelas, jadi tontonan banyak orang! Tapi..."


"Tapi apa?" Kama menoleh ke arahku, dia menatapku dengan pandangan penuh curiga


"Sebenernya bapak suka juga gak sih sama dia?" tanya Kama


Apaa?? Pertanyaan apa itu?!


"Enggak! Sama sekali gak! Satu kampus juga tau kalau saya nolak dia sejak awal!"


"Dan kamu.., kalau kamu setuju, saya akan buat satu kampus tau kalau saya cinta sama kamu sejak awal.." aku akan buktiin sama kamu, Kama!


"Gak perlu, pak! Jadi beban buat saya!"

__ADS_1


Apa lagi ini? Maksudnya..? Jadi perasaan cintaku adalah beban buatnya?! Ya Allah..., kejutan apa lagiii ini???


Aku menepikan mobilku ditempat lengang, menenangkan hati sekaligus meminta penjelasan atas ucapan Kama barusan.


"Kok minggir?" tanya Kama.


Aku menatap mata cokelatnya dengan serius, hatiku sudah seperti bola bekel, naik turun dengan kencang hanya untuk mencintai perempuan satu ini!


"Saya beban ya buat kamu?" tanyaku pelan, padahal aku marah dengan kalimatnya. Aaah, mencintainya membuatku kalah jauh dibawah. Aku sudah benar-benar jadi bucin!


"Ya iyalah! Masa bapak gak tau.."


Astaghfirulloh.., sekali lagi hatiku hancur lebur dibuatnya. Rasanya mataku nanar, darahku turun semua ke kaki. Otakku sudah tidak bisa berpikir. Dia mengaku mencintaiku, namun itu adalah beban buatnya..


"Saya akan dibully sama fans garis keras bapak dikampus! Jelas beban kan buat saya.. Saya butuh ketenangan dalam belajar, bukan digangguin fans bapak!"


Hah? Fans garis keras..?


"Maksud kamu?"


"Masa bapak gak tau, semua cewek dikampus suka sama bapak, termasuk Mini, sahabat saya. Dan tiba-tiba mereka harus terima kenyataan kalau bapak pacaran sama saya, terus gimana nasib saya nanti? Saya gak mau kehidupan perkuliahan saya gak tenang gara-gara itu!" jelas Kama


Jadi karena itu..?


"Tapi saya gak jadi beban di hati kamu, kan? Saya sempat salah paham tadi.." tanyaku memperjelas


Kama tersenyum menjawab,


"Awalnya sih gitu.., tapi sekarang udah gak.."


Duuh, senyumnyaaa, mengocok-ngocok hatiku. Ingiiin rasanya kugigit bibirnya itu! Sebentar membantingku, sebentar lagi mengangkatku! Mencintai Kama persis seperti naik hysteria di Dufan! Naik turun drastis tanpa aba-aba..


"Yaudah buruan jalan pak, keburu sore.. Kita mampir ke kost saya dulu ya.. Barang-barang yang mau saya bawa masih di kost soalnya" pinta Kama


"Artinya sekarang kita resmi pacaran kan?" Kama hanya mengangguk, tapi aku mau dengar jawabannya. Dengan Kama semua harus jelas, kalau gak mau ke ge-erran lagi seperti yang lalu-lalu.


"Saya mau dengar jawaban kamu, bukan cuma anggukan.."


"I-iiiya..., pacaran..." jawabnya malu-malu


Yess! Finally.., setelah 4 bulan akhirnya aku dan Kama resmi pacaran. Kalau ibu hamil, udah syukuran itu!


"Oh iya satu lagi..." aku menggeser porsneling ke lambang D, yang artinya Drive, lalu kuraih tangan kanan Kama untuk kegenggam dengan erat.


"Begini boleh ya.." pintaku padanya


"Terus nyetirnya gimana?"


"Inikan mobil matic, giginya udah masuk kok, tinggal aku lepas remnya.." Kama mengangguk dan sedikit menunduk. Aku melihat ada semu merah dipipinya, dia pasti malu-malu.


Aaah, manisssnyaaaa! Aku gak akan ngelepasin kamu, Kama! Sampai kapanpun! Terlalu sulit mendapatkan kamu, dan masih terus aku perjuangkan entah sampai kapan itu.. Karena aku yakin, kamu pasti akan memberikan kejutan-kejutan yang lebih dahsyat lagi padaku nantinya..


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Aseeeekkk


Finally, Kama dan Sutra pacaran jugaaa 😍


Next, ada kejutan apa lagi ya gaes?


Yuk, cekidot next episodenya...


Ni author nulisnya sambil demam loh gaes, demi pembaca setia aku paksain lanjut..


I love yu gaes, aku gak akan menyianyiakan jempol, vote, dan dukungan kalian semua πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2