
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
"Belum, tapi hatiku bilang karena kamu cuma satu untukku, cuma kamu yang bisa melengkapi hidupku sampai kapanpun ..." jawab Sutra pelan, hembusan nafasnya menyapu seluruh wajah Kama, membuat darah perempuan itu berdesir dan bulu kuduknya naik.
Dahi sepasang kekasih itu sudah menempel sekarang, menyisakan beberapa centi saja untuk adegan selanjutnya. Dan, Ya. Memang adegan itulah yang ada di pikiran Sutra.
Pria itu lantas memiringkan sedikit kepalanya, membuat hidung mereka berselisih. Jarak beberapa centi tadi segera sirna saat itu juga. Sepasang jelly-jelly kembali bersatu padu. Lembut, kenyal, dan tipis, itulah ciri khas jelly milik Kama.
Tangan Sutra masih dalam posisi yang sama, memeluk keseluruhan tubuh Kama dari samping, seolah mengikat, hingga ia tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Buka dikit mulut kamu, Babe ..." bisik Sutra pelan.
Ternyata kalimat romantis Sutra sebelumnya membuat Kama terpaku dan membatu. Kama terlalu terkesima dengan pengakuan Sutra sampai ia lupa kalau sekarang sudah masuk adegan selanjutnya.
Maaaassss....
Bukannya membuka mulut, Kama malah menunduk. Ia betul-betul malu sekarang. Tomat, udang rebus, stroberi, dan apapun itu sudah tidak bisa mewakilkan warna wajah Kama yang menahan malu.
Malu pada suami sendiri? Iya, itulah Kama. Ia seolah menerima siraman cinta yang bertubi-tubi. Kalimat romantis Sutra saja sudah membuatnya salah tingkah dan berdebar tak karuan. Ia merasa seolah menjadi satu-satunya perempuan paling beruntung yang bisa di cintai oleh laki-laki baik dan tampan seperti Sutra. Eh, malah di tambah dengan ciuman yang akan menuju ke penjelajahan lebih dalam.
Ah, ya ampuuuun, uh ...
Sutra lantas melonggarkan pelukan, lalu menarik dagu Kama hingga pandangan mereka kembali bertemu.
"Kenapa?" tanyanya.
"A-aku malu, Mas ..." ucap Kama terbata-bata.
Duh, gemesnyaa aku sama kamu, Babe... Malu-malu kamu itu bikin aku gak kuat, pengen nyerang sekarang.
"Gak apa-apa, aku kan suami kamu. Tadi sore juga kamu pinter." Ucapan itu terlontar dari mulut Sutra.
__ADS_1
Wah, kacau! Ngapain aku ngomong begitu! Aduuuuh, ni mulut kepinteran!
Ih, Mas Adrian!!
"Maksud aku, pasti kita juga sering melakukan ini kan sebelum-sebelumnya." Sutra meralat ucapannya.
Memang kalau sudah selera menggebu, ngomong pun jadi bersalahan. Kalau bukan karena sandiwara amnesianya, mungkin Kama sudah menampar Sutra saat ini akibat salah ucapnya tadi.
Apaan sering! Cuma sekali doank kok ...
Jantung Kama sudah melompat-lompat sekarang. Tidak ada kata tenang lagi di otak, hati, dan reaksi tubuhnya. Ya, tidak salah lagi. Hormon berperan besar dalam peristiwa ini. Norephineprine dan feromone berkejar-kejaran ingin menunjukkan taringnya.
Aura kecantikan Kama kian bersinar sekarang. Beyonce, Ariana Grande, dan Vanessa Hudgens seolah tergeser jauh dari wajah polos Kama yang begitu menggoda dengan balutan kaos kedodoran itu. Mata cokelat hazelnya tampak semakin bulat, wajahnya yang merona alami serta bibir tipis peachnya seolah memanggil, semakin menarik hasrat Sutra untuk melanjutkan aksinya.
Panggilan si tipis peach itu pun segera di sambut oleh Sutra. Dengan satu jari telunjuk, Sutra menekan lembut dagu bulat Kama hingga bibirnya terbuka sedikit. Dan,
Cup !
Jelly hot-hot pop. Ya, kenyal di luar namun panas membara di dalam. Pertandingan babak kedua pun di mulai. Sutra mengawali gerakannya dengan sangat hati-hati. Atas dan bawah bergantian ia hadapi sebelum masuk ke bagian tengah.
Tanpa sadar Kama melingkarkan tangannya di balik leher Sutra. Kini ia tidak diam lagi. Ia membalas dengan gerakan yang sama bahkan sedikit lebih nakal lagi. Lidahnya bereksplorasi di sana. Entah siapa yang mengajari, tapi ia seperti pernah melakukan adegan ini.
Hadeh, si Kama mah gitu ah. Lupa padahal pinter.
Sutra menemukan rival yang tepat dalam babak kedua ini.
Gerakan nakal lidah Kama seolah menjadi pertanda bagi Sutra untuk melakukan yang lebih. Jemarinya tak tinggal diam. Pelan tapi pasti tangan Sutra masuk ke balik kaos kedodoran Kama, melewati celah samping pahanya hingga berhenti di pinggul.
Loh, kok cuma sampai situ? Sabar, jangan grasak grusuk. Ingat kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama sampai bukit, eh maaf selip, lama-lama jadi bukit.
Memang kalau sudah mau menuju ke istana cinta sering ada kata-kata yang selip. Oke, kita lanjut ya guys.
Jemari Sutra kanan dan kiri sudah duduk di posisi tahap awal, yakni pinggul Kama. Pinggul ramping Kama yang lekukannya, aw jangan di tanya lagi. Pokoknya bikin Sutra ketar ketir. Pasalnya tak ada bagian di tubuh Kama yang tidak membuat Sutra tergoda. Bahkan kelingking jari kaki Kama sekalipun. Maklumlah bucin tingkat dewa.
Perlahan Sutra menarik pinggul Kama mendekat padanya. Tak hanya sampai di situ, ia juga meraba lembut bagian itu.
__ADS_1
Ooh, Babe.....
Nah, keliatan kan bucinnya Sutra. Baru kepegang bagian bawah pinggul dia udah semriwiiing.
Napas kedua insan yang di penuhi cinta itu pun kian menderu. Dada mereka naik turun di kuasai hormon. Ternyata mereka sudah masuk ke bagian tengah. Bertaut, beradu silih berganti terjadi. Tidak ada bagian selip yang luput dari cecapan mereka masing-masing sambil sesekali mengambil napas.
Walau mata mereka terpejam saat ini, tapi gerakan keduanya begitu harmonis. Pagutan, cecapan, seperti irama yang mengalun beriiringan. Ketika yang satu sedikit merubah gerakan, satunya pun mengimbangi.
Ini bukan lagi seperti pertandingan pemain baru. Namun sudah bisa di katakan sebagai pemain berpengalaman. Memang tubuh tidak bisa berbohong sekalipun otak melupakan. Hal yang sudah kita lalui beberapa kali akan terasa lebih mudah mengulanginya walau kita lupa. Persis dejavu. Terasa pernah namun tidak pernah, begitupun sebaliknya.
Tiba-tiba di menit ke lima belas, gerakan harmonis itu kompak terhenti dan lepas bersamaan dengan ponsel Sutra yang berbunyi.
Cut! Adegan selesai!
Shit!! Mengganggu saja! ,rutuk Sutra kesal
Aah, huh hah huh hah huh hah....., deru napas Kama yang belum stabil.
Kama dan Sutra hampir lupa kalau ada orang yang seharusnya mereka tunggu sebelum melakukan adegan yang lebih.
Siapa? Abang ojol pengantar makanan.
Pertandingan babak kedua pun terpaksa berakhir dengan posisi seri.
Kama reflek menundukkan wajah, malu dengan kelakuan liar yang baru saja ia lakukan.
Ya ampun, kenapa aku bisa seperti itu? Di mana aku belajar melakukannya? Gawat, jangan sampe Mas Adrian berpikir yang macam-macam. Aku yakin aku belum pernah melakukan ini!
πππ
Inilah yang ditakutkan, lagi enak, lagi syahdu, lagi harmonis, eeeeeeh dia datang
Kok adaaaa aja gangguan untuk pasangan fenomenal kita...., kenapa ya guys?
Jawabannya hanya satu
__ADS_1
Author ngiriiiii!! Kama dan Sutra mau enak-enakan sementara othor kebagian jatah nulis doank ππ padahal kan saya juga mauuu π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€π€€