
"Barusan saya sudah membagi bahan teori untuk kalian bahas per kelompok. Jadi minggu depan saya minta setiap kelompok untuk menjabar kan nya ke depan. Kalian bisa mencari referensi sebanyak-banyak dari mana saja. Saya tunggu penampilan terbaik dari setiap kelompok. Sampai jumpa minggu depan dan terimakasih.." ucap pak Adrian seraya mengakhiri kelas. Tak lupa ia juga menutup kalimat nya dengan senyuman. Membuat semua mahasiswi di kelas bersorak sorai kegirangan. Maklum lah fans garis keraaas.
Kemudian pak Adrian segera keluar meninggal kan kelas. Ia berjalan sambil menenteng dua buah buku sebagai referensi nya mengajar hari ini.
Selain wajah nya yang tampan, pak Adrian juga merupakan dosen favorit di jurusan Arsitektur. Ia selalu mampu menghidupkan suasana kelas setiap kali mata kuliah nya. Ia bahkan lebih senang berdiskusi langsung daripada harus menulis kan materi di white board.
Sesekali ia juga memberi kan pertanyaan bonus kepada mahasiswa. Bagi yang bisa menjawab dengan benar, mendapat voucher makan siang gratis di kantin kampus, seru kan?
Sampai sosok pak Adrian tak terlihat lagi, Kama baru berhenti memandang nya. Pikiran Kama masih teringat kejadian kemarin. Ia juga mempertanyakan bingkisan permintaan maaf yang ia titip di loby apartemen kemarin sore. Apakah sudah di terima pak Adrian atau belum? Sebab sikap pak Adrian tampak biasa-biasa saja. Bahkan pak Adrian tak sekalipun melirik Kama seperti sebelum nya.
Diiih, diiih, Maria Marcedes mulai kecarian minta di lirik. Jangankan dilirik, jiwa raga buat mu sekalipun Adrian pasti mau. Eh, mau gak ya? Coba kita tanya pembaca deh.
Sementara itu, di kursi belakang kelas, Mini sedang menarik rambut Reyhan,
"Iiih, lo gimana sih Rey?"
"A-a-aww.., sakit Min" rengek Reyhan ke Mini
"Kata nya lo mau pedekate ke Kama. Udah gue kasih tau, begook. Cepetan sana! Mumpung dia sendirian" ucap Mini
"Iyaa cereweeeet" jawab Reyhan, ia menyatukan bola mata nya ke tengah untuk mengejek Mini dan segera beranjak menghampiri Kama.
Reyhan menyentuh pundak nya,
"Kam, kantin yok" ajak Reyhan
"Ah, elo Rey.." Kama menoleh
__ADS_1
"Yok ah, jangan banyak mikir" ajak Reyhan lagi seraya menarik tangan Kama
Mereka berdua jalan menuju kantin fakultas teknik, dengan Reyhan yang masih memegang tangan Kama. Kama hanya diam dan menurut. Pikiran nya masih tertuju pada sikap pak Adrian tadi.
Apa pak Adrian masih marah ya? Kok dia cuek sih? Eh, tapi gak perlu juga dia harus perhatian ke aku! Ah, biarin lah..! Aku gak perduli! Toh, aku juga udah minta maaf lewat titipan kemarin.., pikir Kama
Begitu sampai di kantin, Reyhan memesan nasi goreng dan es teh manis. Kemudian dia menanya kan pesanan Kama
"Kam, lo pesen apa? Gue traktir" tanya Reyhan
"Aah ga usah Rey, sayang duit lo, mending buat beli buku" jawab Kama
Sejujur nya Reyhan tidak suka setiap kali Kama menolak tawaran nya saat ingin mentraktir. Dan ini sudah yang ke berapa kali nya. Reyhan merasa bahwa Kama tidak menghargai nya sebagai seorang cowok. Ini jadi salah satu penyebab niat Reyhan pedekate ke Kama jadi maju mundur, hingga Mini harus turun tangan.
Namun sesungguh nya maksud Kama baik, Kama tidak ingin membebani Reyhan yang seorang anak yatim. Apalagi Reyhan masih punya adik yang juga bersekolah.
Setelah ayah Reyhan meninggal, secara otomatis ibu Reyhan lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibu Reyhan harus menghidupi dua orang anak yang membutuh kan biaya pendidikan yang besar,
Reyhan sudah terbiasa mengumpulkan uang sejak ia masih SMA. Dia sangat mahir bermain bola maupun futsal. Sudah puluhan turnamen yang di ikuti nya,
dan selalu saja menang. Reyhan juga beberapa kali bergabung dalam tim sekolah lain sebagai pemain undangan, dan tetap selalu membawa kemanangan. Membuat nya di bayar dengan jumlah yang lumayan di beberapa sekolah karena berhasil mengharum kan nama sekolah tersebut.
"Kam, sekaliii aja lo iya-in, gue pasti seneng banget" jawab Reyhan pelan, mood nya jadi berantakan gara-gara Kama.
Tiba-tiba, seperti menggunakan ilmu teleportasi, Mini muncul di depan Kama dan Reyhan.
Ting..!
__ADS_1
"Gue mau donk, di traktir kan?" ucap Mini seketika
"Ah, elo Min, kok bisa tiba-tiba nongol?" tanya Kama
"Hihihi.." kemunculan Mini membuat mood Reyhan kembali, dia bahkan tertawa kecil pada Mini
"Lo pesen apa? Cepetan.." ucap Reyhan ke Mini
"Dua porsi mi goreng, satu es teh dan satu lagi teh anget" jawab Mini cepat
"Woww, itu perut atau drum minyak, Min? hahaha" Reyhan terkekeh dan Mini hanya senyum sambil mengedip kan sebelah mata nya sebagai kode ke Reyhan. Tapi sayangnya Reyhan tidak mengerti.
Mini sengaja memesan dua porsi makanan untuk diri nya skaligus untuk Kama,
agar mood Reyhan kembali seperti semula. Tampak nya Mini jauh lebih memahami Reyhan sekarang.
Sementara itu Kama tidak lagi merespon pembicaraan antara Mini dengan Reyhan. Lagi-lagi otak Kama mengingat pak Adrian. Dia yakin pak Adrian pasti belum menerima titipan nya kemarin sore,
atau kalau pun sudah, pasti pak Adrian belum membuka nya. Kenapa ya? tanya Kama dalam hati.
Yaah, gini deh kalo udah lain dimukut lain dihati. Tadi bilangnya gak perduli, tapi malah dipikirin terus. Aaah, dasar Maria Mercingband, eh salah Maria Mercedes Benz π
πππ
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
I Love U π