
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ๐๐ค๐
-
-
Karena belum ada jawaban dari Kama, Sutra lantas mengambil langkah lain. Orang pintar memang harus dihadapi dengan orang yang pintar juga. Sutra paham betul kalau istrinya Kama adalah manusia yang mengutamakan logika. Jadi ia tidak akan berbuat kalau tidak ada fakta yang menerangkan dengan jelas.
"Mana coba aku pinjem ponsel kamu" pinta Sutra kemudian.
"Buat apa, Mas?" Kama menyerahkan ponselnya.
Tak ayal Sutra langsung membuka aplikasi google dan mengetik 'cuddling' dipencarian. Hasil pencaharian google memuat banyak halaman yang membahas tentang masalah cuddling, atau disebut juga kelonan.
Sutra mengklik urutan teratas, lalu muncullah artikel yang berisi :
Enam manfaat kelonan bersama pasangan.
Sutra lantas meminta Kama membacanya.
Berikut penjelasannya :
Cuddlingย atau kelonan adalah suatu aktivitas yang kerap dilakukan oleh pasangan dengan posisi saling memeluk, mencium, atau membelai lembut satu sama lain. Tak ayal bila keintiman antara kamu dan pasangan dapat meningkat dengan sering melakukan kelonan.ย
Tapi, tahukah kamu kalauย cuddling tidak hanya menambah keintiman antara kamu dan pasangan, tetapi juga menyehatkan? Berikut beberapa manfaat kelonan untuk kesehatan.
Meredakan stres
Meningkatkan keintiman
Membuat tidur lebih nyenyak
Menurunkan tekanan darah
Mengurangi rasa nyeri pada proses pemulihan
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
__ADS_1
Tak berapa lama wajah Kama berubah merona, menandakan kalau ia sudah selesai membaca artikel itu.
"Udah selesai bacanya?" Kama mengangguk.
"Ayo donk, aku mau begitu..." pinta Sutra dengan wajah lesu. Ia betul-betul butuh tidur yang nyaman.
"A-aku harus gi-gimana posisinya Mas?" tanya Kama terbata-bata. Jantungnya mulai berderu kencang.
"Sini, kamu rebahan disebelah aku" Sutra mengatur posisi tidur mereka. Ia meminta Kama tidur terlentang sementara ia tidur menyamping mengahadap Kama. Kepalanya ia rebahkan di bahu Kama dan menempel di dadanya. Persis seperti bayi yang tidur dalam dekapan ibu. Tapi yang ini bayi besar, ada banyak bulu dibagian wajahnya alias brewokan.
Sebelah tangannya ia kaitkan di pinggang Kama, sementara kakinya lebih wow lagi. Kaki Sutra mengapit tubuh Kama, masuk diantara kedua kaki Kama dan pahanya bertumpu tepat diatas bagian inti si rambut keriting nan polos itu.
Ma-mass......
Kama sudah tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya diam terpaku, menikmati ketegangan yang menyerangnya dari kepala hingga jempol kaki.
Jangan tanya bagaimana gugupnya Kama saat ini. Pasti Sutra bisa mendengar riuhnya detak jantung Kama sekarang. Namun tampaknya itu menjadi alunan yang menina bobokkan pria bule Swedia itu. Ia langsung memejamkan mata, menikmati kehangatan dari dekapan perempuan yang paling dicintainya.
Ya Tuhaaan, aku gugup setengah mati... Rasanya pengen pipis. Tapi gak, gak boleh! Harus aku tahan! Kasian Mas Adrian yang udah lama gak tidur nyenyak. Lagian cuma kelonan kok, bukan yang lain
๐๐๐
"Mbak tadinya gak menyangka kalau Kama masih 16 tahun loh, Da" ucap Ajeng.
"Iya Mbak, Kama masih kecil tapi terpaksa dewasa karena keadaan" saut Ida.
"Maksudnya? Memangnya Kama kenapa?" dahi Ajeng berkerut, ia penasaran dengan pernyataan besannya.
"Kama tumbuh besar sendiri Mbak, tanpa sosok orangtua. Untung ada Wayan yang selalu menemaninya" Ida kembali teringat dengan kegagalannya menjadi seorang Ibu bagi Kama.
"Loh, kenapa begitu? Bukannya kalian tinggal bersama?" Ida menelisik.
"Dulu Ida sakit-sakitan Mbak. Ida sibuk dengan kesedihan Ida sendiri setelah ditinggal Bang Emran, sampai lupa mengasuh Kama..." mata Ida Ayu mulai berkaca-kaca.
"Mental Ida kacau waktu itu. Ingin memilih suami tapi terhalang restu orangtua. Apalagi Ida anak tunggal bapak dan ibu. Cuma Ida harapan mereka..." ternyata kacanya bukan kaca nako, tapi kaca anti gores hape yang tipisnya minta ampun hingga mudah retak. Bulir kristal yang mendesak dari sudut mata Ida akhirnya mengucur keluar.
Reflek Ajeng menarik tissue diatas meja, lalu memberikan pada besannya.
__ADS_1
"Hingga tanpa sengaja Ida luput dengan Kama. Ida gak menyangka kalau keadaan terpuruk Ida berpengaruh besar bagi Kama, Mbak..." tisue yang diberikan Ajeng langsung kuyup menampung airmata Ida.
"Kama susah berkomunikasi dengan lancar, susah punya teman, susah berbaur dengan orang, cenderung cuek dan tidak perduli dengan sekitar, itu karena Ida, Mbak. Ida penyebabnya!" Ida menarik tissue yang baru.
Astaga, jadi begitu ceritanya. Kasian Kama. Aku bahkan sempat menuduhnya yang bukan-bukan kemarin, batin Ajeng.
"Maaf, Da, Mbak baru tau ceritanya..." Ajeng mengusap punggung tangan Ida, menenangkan besannya.
"Gak apa-apa, Mbak" Ida tersenyum simpul.
"Ida juga mau minta maaf kalau ada sikap Kama yang sedikit aneh dimata Mbak. Mohon dimaklumi ya Mbak... Tapi Ida jamin, Kama itu anak baik. Dia tidak pernah neko-neko. Apa yang sudah di pilihnya akan di jalaninya sampai akhir. Hanya saja ia masih butuh banyak belajar untuk jadi seorang istri yang baik buat Adrian, Mbak. Maklum usianya baru 16 tahun..." kali ini Ida yang mengusap tangan Ajeng, memohon kesabaran dan pengertian Ajeng menghadapi putrinya.
"Hehehe, iya Mbak paham kok. Mbak juga bukan orangtua yang kuno, yang mewajibkan menantu untuk bisa masak atau pekerjaan rumah tangga lain. Yang penting Kama bisa menyayangi dan merawat Adrian dengan baik itu sudah cukup buat Mbak" Ajeng tersenyum tulus. Apa yang diucapkannya sungguh keluar dari hatinya.
Ajeng banyak belajar dari Mr.Will, suaminya yang santai dan modren, yang tidak mensyaratkan apapun kecuali cinta, sayang, dan perhatian tulus dalam keluarganya.
"Makasi ya Mbak..." saut Ida lagi.
"Iya, sama-sama"
"Oh iya, kalau soal itu gimana ya Da?" sambung Ajeng lagi. Ia teringat hal lain dari Kama dan Sutra.
"Soal apa, Mbak?" tanya Ida.
"Itu, gimana kalau Kama hamil? Usianya kan baru segitu, apa dia bisa?" Ajeng merasa khawatir.
"Ida belum terpikir sampai kesitu Mbak, tapi kita harus bicarakan dengan mereka secepatnya. Kalau perlu sekarang juga. Gimana menurut Mbak?" Ida berpendapat.
"Ya, boleh juga itu. Lebih cepat lebih baik. Apalagi Adrian sudah pulang dari rumah sakit. Kita gak tau kapan mereka akan mulai begituan kan, atau jangan-jangan..., mereka sudah...?" Ajeng tersentak. Ia baru ingat kalau tadi Sutra dan Kama pamit ke kamar dan belum turun juga hingga sekarang.
Sontak Ajeng dan Ida berdiri dari sofa. Mereka kompak melangkah bersama menuju lantai atas, ke kamar Sutra.
๐๐๐
Wah, gaswat!
Laki bini mau disidak emak-emak rempong gaes...
__ADS_1
Gimana ya?? ๐ค๐คฃ๐คฃ