When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Bonus Part S2 - KAMASUTRA


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian


Tepat jam lima sore Kama dan Sutra baru saja turun dari pesawat. Dari Bandara Soekarno Hatta mereka langsung menuju ke rumah keluarga Zanyar, bertemu dengan Ajeng, Mr.Will, dan Quinny.


"Assalammualaikum, Ibu ...," ucap Sutra begitu masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam. Ya Allah Sut, Kama ..., ibu kangen banget sama kalian." Ajeng menyambut kedatangan anak dan menantunya. Memeluk mereka bergantian.


"Ayah belum tau kapan liburnya sih, jadi kita belum sempet nyusulin kalian ke Trengganu," tambah Ajeng lagi begitu ia dan Kama sudah duduk di ruang keluarga yang tembus ke kolam renang dan taman belakang. Space favorite di rumah Zanyar.


"Oh iya, Biang kamu sehat kan? Pasti kehamilannya udah besar ya, masuk trisemester kedua." Ajeng beralih menanyakan ibu Kama.


"Iya, Bu. Alhamdulillah biang sehat. Dan udah masuk usia kandungan tujuh bulan," jawab Kama.


"Semoga aja pas Ida lahiran nanti ayah bisa cuti, dan kita bisa nengokin ke sana." Ajeng berharap bisa segera melancong ke Malaysia mengunjungi besannya.


Mendengar suara-suara di lantai bawah, Quinny langsung keluar dari kamarnya dengan berlari. Begitu sampai di bawah gadis itu langsung saja menerkam kakaknya, Sutra, dari belakang. Naik ke atas punggung Sutra layaknya adik yang minta di gendong oleh kakaknya. Kebetulan sekali Sutra baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di samping tangga.


"Adriaan ..., i miss you so much," pekik Quinny.


"Oh my God, hahaha ... You haven't changed, Quinny, still like a little girl (kau belum berubah, Quinny, masih seperti gadis kecil)."


Sutra tergelak tawa menyambut kelakuan adiknya. Di pegangnya erat tangan Quinny yang melingkar di lehernya agar tidak terjatuh. Lalu membawa gadis itu hingga ke sofa, bergabung bersama Kama dan Ibu mereka.


"Hei, don't you miss me? (apakah kau tidak merindukan aku?)" sungut Quinny begitu ia sudah turun dari gendongan Sutra.


"Off course, i miss you so, my Quin. My life is quiet without you (Tentu saja, aku sangat merindukanmu, Quinny ku. Hidupku Sepi Tanpamu)," saut Sutra. Kalimatnya itu memancing perhatian Kama dan Ajeng sekaligus.


"Huh, liar!" cetus Quinny sebal namun memancing gelak tawa semuanya.


"Hahaha ..." Mereka kompak menertawakan kelakuan Quinny yang begitu manja pada kakaknya.


Tak berapa lama Mr.Will pun keluar dari kamar. Pria paruh baya itu sudah tampak segar sehabis mandi saat pulang kerja tadi.


"Hei, boy ..., hei, fantastic girl ...," sapa Mr.Will pada anak dan menantunya, lalu bergabung bersama di ruang keluarga.


"Hai, ayah ..." Sutra langsung memeluk lalu mencium tangan ayahnya, diikuti oleh Kama.


"Bagaimana kabar kalian? Tell me about Trengganu," ucap Mr.Will.


"It's wonderfull, Ayah. Pulau Redang sangat indah, dan kita membangun resort yang terbaik di sana. Pokoknya ayah, ibu sama Quinny harus liburan ke sana," jelas Sutra antusias.


Apa yang dikatakannya memang benar. Resort yang dibangun oleh mertuanya di Pulau Redang Trengganu Malaysia adalah salah satu yang terbaik disana. Lokasinya persis di pinggir pantai dengan desain yang apik sesuai dengan apa yang digambar oleh Sutra Adrian Zanyar selaku arsitek yang menangani proyek itu.


Setelah berbincang sebentar Kama dan Sutra pun pamit ke kamar untuk bersih-bersih sekaligus menyambut waktu solat magrib.


"Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatu ... Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatu ..." Sutra mengusap wajah pertanda selesai melaksanakan solat magrib berjamaah dengan Kama. Kemudian Kama pun mencium tangan suaminya.


"Besok kita ke Depok jam berapa Mas?" tanya Kama sembari melipat mukena.


"Hm ..., kayaknya siangan aja ya, Babe. Aku pengen bangun telat besok pagi." Sutra tersenyum lebar.


I**h, Mas Adrian ..., pasti mau ngajak itu.

__ADS_1


"Baru juga sehari aku selesai datang bulan," protes Kama.


"Tapi udah satu minggu aku merana, Babe ..." rengek Sutra.


"Merana? Kayak disiksa batin aja kamu, Mas," saut Kama.


"Lagian kita kan lagi program punya dedek bayi, Sayaaang. Ayolah, pleeease ..." rengek Sutra lagi sembari memeluk pinggang Kama. Sudah tiga bulan ini alasannya selalu sama, yakni program bikin anak. Padahal pokok utamanya adalah kegiatan celap-celup bersama dengan kekasih hatinya itu.


"Hmm ...," jawab Kama singkat.


Memang sudah tiga bulan belakangan Kama dan Sutra rutin berkegiatan melelahkan jiwa raga di atas ranjang. Persis nama mereka. Kamasutra. Apalagi tempat mereka tinggal di Pulau Redang - Trengganu Malaysia, memiliki tempat yang indah dan romantis. Membuat kegiatan celap-celup mereka semakin wow saja. Sebab suasananya begitu mendukung.


Di sana setiap pagi Sutra seolah wajib mencurahkan benih cintanya pada Kama. Mengolahnya menjadi sebuah adonan yang sampai sekarang adonannya pun tak kunjung terbentuk. Luruh di tengah jalan. Kasihan.


Entah apa yang salah dari mereka sebenarnya. Tapi jika bicara soal kesehatan, hasil tes yang mereka lakukan menunjukkan hasil yang sangat baik. Dokter di Malaysia mengatakan kalau Kama dan Sutra seratus persen sehat dan tidak butuh obat atau pendorong apapun untuk melakukan program punya anak, mengingat usia mereka yang masih sama-sama muda. Sarannya hanya satu, yakni harus rajin berkegiatan terutama di saat subur.


Berkat saran itu Kama jadi ikhlas dan menuruti kemauan suaminya setiap saat. Maksudnya setiap saat bukan berarti setiap waktu begituan ya guys. Bisa hancur cangkang Kerang Simping kalau begitu, pecah berantakan. Hahaha.


Kama dan Sutra lantas turun ke bawah, menikmati makan malam bersama keluarga. Selesai dengan itu, mereka masing-masing melakukan kegiatan. Sutra dan Qiunny bertanding main play station dengan Mr.Will sebagai penonton. Sementara Kama berbincang dengan ibu mertuanya, Ajeng, di pinggir kolam renang.


"Ibu mau tanya nih, jadi kamu sama Sutra serius mau punya anak ya, Kama?" tanya Ajeng.


"Iya, Bu." Kama tersenyum.


"Kamu yakin bisa jalanin semuanya nanti?" Ajeng masih ragu pada menantunya.


"Insya Allah, Bu. Soalnya Mas Adrian bahas itu terus sama Kama, jadi yaudah Kama turutin aja dari pada dia kepikiran. Lagipula sampai sekarang Kama belum hamil juga, Bu. Kenapa ya kira-kira?" Kama bercerita pada mertuanya.


"Padahal hasil tes dokter kita berdua sehat kok, Bu," sambung Kama lagi.


Kama ..., punya anak bukan sebatas hamil dan melahirkan, tapi juga harus siap untuk merawat dan membesarkan. Dari jawaban kamu, Ibu gak yakin kamu siap. Hanya sebatas menurut pada Sutra.


Mungkin itu yang jadi alasan kenapa kamu belum hamil juga. Suatu saat waktu yang akan menjawab. Ibu akan selalu dukung kamu, nak ...


"Gak apa-apa, mungkin belum rezeki kalian. Yang penting jangan putus usaha dan doa." Ajeng menjawab dengan bijak. Ia mengelus rambut keriting Kama penuh kasih sayang.


"He-eh, iya, Bu." Kama tersenyum. Nyaman dengan kasih sayang dari mertuanya.


Tepat jam setengah sepuluh malam pertandingan game Sutra dan Quinny pun selesai. Quinny buru-buru naik ke kamarnya untuk tidur, sebab besok pagi ia masih harus berangkat ke sekolah.


Selesai berbincang satu jam dengan ayahnya, Sutra pun mengajak Kama naik ke atas.


"Babe, bobo yuk, ngantuk," ajak Sutra.


"Ibu, Kama ke atas dulu ya," pamit Kama.


"Yaudah, kalian istirahat gih." Ajeng mengiyakan.


Kama dan Sutra lantas naik ke atas, ke kamar pribadi Sutra. Selesai sikat gigi dan bersih-bersih, mereka berdua naik ke atas ranjang.


Klik !


Tak lupa Sutra mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur kecil. Kama juga sudah masuk ke dalam selimut, bersiap untuk tidur.

__ADS_1


"Babe ...," panggil Sutra.


"Ya, Mas ...," jawab Kama lirih, yang sedang dalam posisi tidur menyamping memunggungi Sutra.


"Kok tidur siiih ...," bisik Sutra sembari memeluknya dari belakang.


Seeerrrr !


Kama memang tidak pernah bisa santai setiap kali Sutra berbisik ditelinganya. Ada sensasi berbeda yang ia rasakan.


"Terus mau ngapain?" Kama segera berbalik menghadap Sutra. Menghindar dari bisikan-bisikan yang lain.


"Kerja," saut Sutra asal.


"Loh, memangnya Kak Azizah ngirimin kamu email lagi, Mas?" Kama menanyakan tentang pekerjaan Sutra di perusahaan property milik ayahnya.


"Bukan kerjaan yang itu, istrikuuu ... Tapi kerjaan kita berdua." Sutra memainkan sebelah matanya, seolah menggoda Kama.


Hahaha, mohon maaf ya guys. Ini novel anti mainstream. Jadi keadaannya terbalik, suami yang menggoda istri.


"Inget aja kalau soal itu. Kirain Mas Adrian udah lupa," ucap Kama.


"Mana mungkin aku lupa, Babe. Yaudah yuk kita mulai, yuk ...," ajak Sutra dengan senyum lebar.


Seperti malam sebelum-sebelumnya, mereka melakukan kegiatan yang sama. Kegiatan yang itu-itu saja. Anu ke anu terus anu-anuan. Pelakunya sama, tempatnya sama, tujuannya juga sama. Hanya gayanya saja yang bisa dibeda-bedakan.


Heran padahal inti gerakannya begitu-begitu saja, tapi kenapa selalu minta diulang ya guys? Adakah yang bisa memberi jawaban?


πŸƒπŸƒπŸƒ


Persis ucapan Sutra sebelumnya, pagi ini selesai solat subuh berjamaah, mereka kembali berkegiatan yang sama.


Celup-celup pasti roma kelapaaaa ...


Sutra menganggap kalau pagi adalah waktu yang baik untuk menyatukan jiwa raga dalam satu gua. Mentransfer benih-benih cinta yang melompat-lompat ingin bertemu dengan pasangannya. Apalagi mengingat kalau 'tegaknya tiang telepon' memang selalu terjadi di pagi hari. Waktu sakralnya seorang laki-laki dewasa siapapun dia orangnya. Bukan begitu wahai readers?


Eh, buat yang single di skip aja. Nanti kalau udah double baru boleh dipelajari ya. Kesabaran pasti berbuah hasil. Siapa tau bisa dapat suami yang persis kayak Mas Sutra Adrian Zanyar. Rezeki nomplok kan. Oke kita balik fokus ke cerita.


Pertandingan seru di play station pun lewat kalau sudah begini ceritanya. Sutra seolah bertemu dengan narkotika tingkat tinggi. Membuatnya ketagihan tak terbilang. Belum lagi yang dirasakan Komodo Lang di bawah sana. Tubuhnya yang dipeluk sekaligus dijepit begitu erat tanpa celah sedikitpun, membuatnya bergetar. Setiap inchi dinding Kerang Simping memberikan sensasi luar biasa. Seperti ada ulir dan gerigi yang tercipta secara alami di sana.


Oh, Simpiiing ..., you are amazing ..., fabulous ..., great ..., full of sensation ... Tak ada kata yang mampu menggambarkan keistimewaanmu, Honey ...


Ungkapan kebahagiaan yang dirasakan oleh Komodo Lang membuat Kerang Simping melayang hingga ke langit ke tujuh. Membuatnya semakin-makin dan makin menjepit hingga sang kekasih tak kuat lagi menahankan semburan bubur sumsum asin darinya. Maka tercapailah kenikmatan yang hakiki dari sang empunya. Lalu terkulai lemas dengan saling menatap dan memandang penuh cinta dengan peluh keringat di dahi.


Jangan tanya desahan yang lolos dari mulut Kama. Untuk kali ini terpaksa volumenya dimatikan dengan menyumbat bibir Kama dengan bibir Sutra. Keduanya terpaut jadi satu dengan Sutra sebagai pemandu. Luar biasa laki-laki satu itu. Ia mampu mengontrol istrinya disaat keadaan dirinya sendiri pun sudah diluar kontrol.


Penyatuan sempurna untuk kesekian kalinya telah terjadi diantara dua insan yang saling mengisi. Kama dan Sutra memadu kasih lagi dan lagi.


"I love you, Babe ... Makasih ya ..." Kalimat cinta dan penghargaan tak pernah luput dari bibir bule tampan bermata abu itu. Setiap jengkal tubuh wanita yang dicintainya adalah perhiasan. Jadi bagian manapun itu segalanya layak untuk disanjung dan disyukuri.


Tidak ada kata yang layak menggambarkan cinta sejati yang Sutra miliki untuk Kama. Hanya dia yang tau sebab hanya dia rasa. Yang pasti melebihi semua batas yang mampu diciptakan oleh manusia biasa. Jangan pandang otaknya yang selalu mesum, karena itu terjadi hanya pada Kama. Jangan pandang ucapannya yang selalu receh dan bodoh, karena itu terbentuk sebab kehadiran Kama. Intinya Sutra diciptakan untuk Kama. Begitupun sebaliknya. Kama dan Sutra like a Kamasutra.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Next tungguin bonus episode selanjutnya lagi ya guys, cekidot πŸ‘‡πŸ˜


__ADS_2