When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Selalu Bersama


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


Cup..


Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir Kama malam itu. Tanpa hasrat, murni kasih sayang. Sutra menahan keinginannya untuk menumpahkan cinta malam itu. Ia menyimpannya untuk rencana yang lebih besar lagi, dan itu bukan dirumah sakit.


Sandiwara Sutra terus berlanjut, ada rencana rahasia di otaknya yang akan membawa ia dan Kama ke moment yang lebih indah lagi.


"I love you..." Sutra menyelipkan kalimat itu disela kecupannya.


"Me too..." jawaban Kama reflek membuat Sutra tersenyum lebar. Bukan karena kalimatnya, tapi Sutra merasa lucu melihat tampang istrinya yang sudah kalang kabut lebih dulu.


Wajah polos Kama bersemu merah, bibirnya pucat, dan tangannya dingin. Pantas kalau Sutra berkali-kali jatuh cinta pada Kama, sebab ia begitu menggemaskan disetiap reaksi fisiknya.


Sejujurnya Sutra juga bukan orang yang santai, jantungnya pun tidak berhenti berderu setiap kali berdekatan dan bersentuhan dengan Kama. Namun ia sudah bisa mengatasi itu, tidak gugup dan salah tingkah lagi. Bahkan ia terus mencari moment disetiap kesempatan agar deru jantungnya terus memompa cepat, menjadikan Kama sebagai alasan darahnya mengalir deras hingga ke otak.


Aku hidup karenamu, untukmu, dan hanya denganmu


"U-udah malam, Mas. Kamu harus istirahat kan" ucap Kama sedikit gagap.


"Iya, bobo yuk" Sutra menggeser sedikit tubuhnya ke tepi ranjang. Namun Kama tidak menangkap maksudnya. Gadis itu malah menurunkan sandaran, membenahi bantal kepala Sutra dan menarik selimut menutupi tubuh suaminya.


Puk.. Puk..


Sutra menepuk lembut ranjangnya.


"Sini, Babe. Aku mau bobo sama kamu malam ini" ajaknya.


Seranjang? Mau ngapain??


"A-aku, aduh, perutku mules Mas" Kama mengelak.

__ADS_1


"Yaudah buruan ke kamar mandi sana. Aku tungguin disini" tapi jurus mengelak Kama tidak mempan buat Sutra. Laki-laki itu bukan Sutra yang dulu, benturan dikepalanya membuat dia semakin pintar mencari celah untuk memadu kasih dengan Kama.


Sepuluh menit lamanya Kama berputar-putar didalam kamar mandi. Ia berharap suaminya sudah lebih dulu tertidur. Tapi harapannya pupus saat Sutra berteriak memanggil.


"Babe, gimana??? Masih mules perutnya?? Kok lama banget? Aku panggilin suster mau? Minta obat buat kamu"


Ceklek !


Kama memutuskan keluar.


"Gak usah Mas.., udah gak apa-apa kok" saut Kama.


"Beneran?" Sutra meyakinkan, dibalas Kama dengan anggukan.


"Yaudah sini yuk, aku mau bobo sama kamu.." kembali Sutra mengajak Kama naik ke ranjangnya.


Kama melangkah pelan. Ia masih sedikit takut, walau dikamar mandi tadi ia sudah menenangkan pikirannya.


"Kenapa Babe? Kok kamu tegang banget gitu?" Kama sudah rebahan disamping Sutra sekarang.


"Hehehe, masa sih kayak gitu?" Sutra tertawa kecil mendengar pengakuan istrinya. Wajah salah tingkah Kama tampak jelas disana.


"Gampang kalau itu sih" Sutra lantas mengatur posisi tidur mereka. Ia naik keatas sedikit, memposisikan dirinya lebih tinggi hingga bibirnya sejajar dengan dahi Kama.


"Kayak gini aman kan.., yang penting aku bisa peluk kamu" ucap Sutra lagi. Ia memiringkan badannya menghadap Kama. Melingkarkan tangannya, memeluk Kama.


"Iya Mas..." Kama tersenyum lega.


Hmuuufftt, aku pikir kamu mau ngapain Mas


"Yaudah bobo yuk, baca doa dulu biar gak mimpi aneh-aneh" tak lupa Sutra mengecup puncak kepala Kama sebelum ia terlelap.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Hari yang dinanti pun tiba, Sutra sudah diijinkan pulang oleh Dr.Martin dan Dr.Ridwan. Selanjutnya dia akan melanjutkan terapi obat. Karena dari sekian banyak keluhan terhadap kasus benturan kepala, hanya satu yang sungguh-sungguh tersisa padanya, yakni sulit tidur.

__ADS_1


Walau ia menutup mata semalaman tapi ia sulit untuk tertidur lelap. Bahkan dua hari terakhir ia seranjang dengan Kama, ia masih bisa mendengar suara nafas Kama sepanjang malam. Itu menandakan kalau ia tidak benar-benar sedang tidur.


"Oke, kita coba dengan terapi obat ya, semoga dalam waktu dekat keluhan sulit tidur anda bisa segera hilang Mas Sutra, sembari mengatasi amnesia anda.." pesan terakhir Dr.Ridwan sebelum mereka meninggalkan rumah sakit. Ujung kalimatnya ia tekan agar menambah kesan watak demi mendukung sandiwara mereka soal amnesia Sutra.


Dr.Yoong juga sempat menitipkan pesan yang sama untuk keluhan itu by phone. Bahkan ia menyarankan agar Sutra datang ke Penang untuk penanganan lebih lanjut olehnya. Karena pasiennya yang membludak disana tidak memungkinkan ia untuk mengunjungi Sutra ke Jakarta seperti beberapa hari yang lalu.


"But, remember on thing, your husband will recover quickly as long as he stays by your side, always together, and repeating your memories while making new, sweet memories (tapi ingat satu hal, suamimu akan cepat sembuh selama ia berada terus disampingmu, selalu bersama, dan mengulang kenangan kalian sembari membuat kenangan manis yang baru)" kalimat terakhir Dr.Yoong pada Kama sebelum ia menutup sambungan teleponnya.


"Tadi Dr.Yoong ngobrol apa sama kamu, Babe?" Kama dan Sutra sudah berada di mobil sekarang. Mereka dijemput oleh supir keluarga William. Sementara Ida, Datuk Emran menyusul dibelakang dengan mobil lain.


Ajeng dan Mr.Will tidak ikut menjemput, mereka memilih menunggu dirumah sekaligus menyambut kedatangan anaknya serta besannya.


"Dia nyaranin kamu cek ke Penang, Mas" Kama menyimpan ponselnya ke dalam tas.


"Oh gitu" saut Sutra singkat. Ia sengaja ingin memancing reaksi Kama.


"Kasi aku waktu dua hari ya Mas, biar aku selesaikan urusan dikampus dulu. Setelah itu kita baru berangkat ke Penang" pancingan Sutra langsung ditangkap oleh Kama.


"Santai, Babe. Gak usah buru-buru. Aku baik-baik aja kok. Pelan-pelan aku pasti ingat semuanya" Sutra menatap Kama dengan senyum.


"Aku gak mau buang-buang waktu Mas, aku mau kamu cepet sembuh seperti semula" ucap Kama.


Yaaah, lebih asik gini Babe. Enak banget malah, aku bisa nempelin kamu tanpa takut kamu marah atau mikirin perjanjian pranikah kita


"Oke, aku ikut apa kata kamu"


Didalam pikiran Kama, ia terngiang dengan apa yang diucapkan Dr.Yoong lewat telepon tadi.


Selalu bersama, mengulang kenangan sembari membuat kenangan manis yang baru.


Mas, apa aku bisa melakukan semua itu? Duuh..., gimana sih cara buang rasa malu??


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Gampil! Tinggal kasi kucing Kam, biar gak mubazir...

__ADS_1


__ADS_2