
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Baru jam setengah tujuh pagi, tapi atmosfer diantara Kama dan Sutra sudah aneh akibat naiknya tiang telepon tadi. Kama bergidik ngeri dengan suaminya sendiri.
Bisa-bisanya Mas Adrian mimpi jorok dalam kondisi belum sadar begitu! Hiiii... Apa semua laki-laki pikirannya begitu ya?
Kama bingung harus menanyakan pertanyaan itu pada siapa. Dia tidak punya teman dekat laki-laki. Hanya Aji Wayan laki-laki yang paling dekat dengannya selama ini, tapi mana mungkin ia bertanya dengan Aji.
Rasa penasaran Kama belum juga hilang. Ia lantas mendekat pada Sutra. Mencoba berkomunikasi dengan suaminya itu sesuai dengan saran Dr.Martin.
"Mas, kamu lagi mimpi jorok ya? Kok bisa sih?" Kama duduk dipinggir ranjang Sutra.
Babe, aku gak mimpi jorok kok! Tadi itu normal, apalagi kamu kasi aku vitamin A. Ya tegak banget lah dia!
"Jangan-jangan setiap hari kamu mimpi begituan ya Mas?!" pertanyaan Kama semakin menuduh Sutra.
Enggak! Sumpah!
Reflek Sutra menggerakkan tangan dan kakinya sekaligus. Bukan gerakan kecil, tapi gerakan yang cukup mencengangkan. Laki-laki itu kesal dituduh yang bukan-bukan oleh istrinya sendiri.
"Eh, Mas, kamu gerak! Iya, tadi aku liat tangan sama kaki kamu gerak!" seru Kama girang. Ia terkejut sekaligus bahagia. Diambilnya ponsel untuk mengabari kedua orangtua mereka.
Wah, gawat! Aku ketauan. Yaudahlah sekalian aja aku kasi tau kalau aku udah sadar
Selesai Kama mengabari keluarga mereka, ia meletakkan ponselnya, lalu kembali duduk dipinggir ranjang Sutra.
"Mas aku seneng banget! Itu artinya sebentar lagi kamu sadar kan?" mata Kama berbinar, perasaan bahagia masih penuh dihatinya.
Pelan-pelan Sutra menggerakkan kelopak matanya, membukanya pelan dihadapan Kama.
"Maaas...!" teriak Kama histeris, kebahagiaannya semakin bertambah saja.
Ya Allah, Babe, sampe teriak begitu. Kamu bahagia banget ya
"Mas, kamu bisa liat aku kan?" sanking bahagianya ludah Kama sampai mencrot kewajah Sutra. Apalagi bangun tidur tadi dia belum sikat gigi. Bonus buat Sutra.
Duh, Babe, kecut!
"Ssshh.." Sutra menyipitkan matanya, menghindar dari percikan ludah Kama.
"Eh, maaf-maaf" Kama mengusap wajah suaminya dengan tangan.
"Aku seneng banget kamu udah sadar Mas.." saut Kama lagi.
"Kamu siapa?" tapi kalimat pertama yang keluar dari mulut Sutra adalah pertanyaan yang mengejutkan.
"Kok siapa sih? Aku Kama!" dahi Kama berkerut, rasa bahagianya berubah jadi bingung.
Ya aku tau lah Babe kamu Kama, tapi bukan jawaban itu yang mau aku dengar
__ADS_1
"Kama siapa?" tanya Sutra lagi. Ini fix Sutra lagi ngerjain Kama kayaknya.
"Kama Leandra Rahayu!" Kama menyebut nama lengkapnya.
"Siapa?" tapi Sutra belum juga puas.
"Mas, kamu gak lagi ngerjain aku kan? Jangan-jangan otak kamu tumpah waktu kecelakaan kemarin?!" wajah Kama mulai takut.
Eh, omongannya aduh! Gak ada yang lebih horor lagi Babe??
"Kamu siapanya aku?" tanya Sutra lagi. Memang ngeyel juga ni laki-laki.
"Istri kamu. Kita udah nikah dua minggu yang lalu" jelas Kama ragu-ragu. Ia masih bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya ini.
Nah, itu baru jawaban yang bener Babe
Lantas Kama pun menekan bel, memanggil suster jaga. Lima menit kemudian suster datang.
"Sus, suami saya sudah sadar Sus, tapi dia gak tau saya siapa!" seru Kama begitu suster mendekat.
"Wah, syukurlah Mbak. Soal itu saya akan tanyakan pada dokternya, sebentar" suster langsung mengabari berita ini pada Dr.Martin dan menunggu perintah selanjutnya.
"Oke, baik Dok. Jadi semua alat bantu sudah bisa dilepas ya, Dok?" tanya suster ditelepon.
"Baik, Dok. Akan saya lakukan" saut suster lagi lalu mematikan sambungan telepon.
"Gimana Sus? Apa kata Dr.Martin?" Kama memburu suster untuk memberitahunya.
Sembari melepas beberapa alat bantu ditubuh Sutra, suster menjawab,
"Maksud saya soal otaknya itu, gimana Sus?" Kama bertanya pada intinya.
"Satu jam lagi Dr.Martin akan visit kesini Mbak, beserta dengan Dr.Ridwan spesialis syaraf" jelas suster lagi.
"Apa gak bisa sekarang aja ya Sus? Saya bingung harus gimana dengan suami saya ini" ucap Kama khawatir.
"Mbak gak usah bingung. Temenin aja suaminya, ajak ngobrol. Kalau dia lupa, ingetin pelan-pelan. Terlalu lama tertidur kadang membuat kita lupa beberapa hal. Nanti untuk penjelasan medisnya akan diinfokan oleh Dr.Martin dan Dr.Ridwan. Kalau perlu, mungkin si Masnya juga akan di foto tengkorak kepalanya agar lebih jelas" suster menenangkan Kama lewat kalimatnya.
"Masnya juga, ngobrol dengan istrinya ya, Mas. Tanya apapun yang mau mas tanyain sembari menunggu dokter visit nanti" tambah Suster lagi pada Sutra.
Dua puluh menit berjalan, akhirnya urusan suster melepas alat bantu selesai. Ia juga sudah mengganti cairan infus Sutra dengan yang baru sesuai dengan perintah dokter. Cairan yang digunakan berbeda dari yang sebelumnya, mengingat pasien sudah sadar.
Sementara Kama sudah menelepon kesana kemari, mengabari berita kesadaran Sutra pada seluruh keluarga.
"Oh ya Mbak, pasien sudah boleh minum air putih sedikit-sedikit" info suster lagi.
"Baik, Sus"
"Oke, saya permisi keluar"
Sepeninggal suster, Kama kembali mendekat pada Sutra.
"Mas, aku mandi dulu ya. Ntar yang lain pada dateng aku belum mandi, malu. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal? Lima menit aja" pinta Kama.
__ADS_1
"Jangan" jawab Sutra singkat.
Enak aja kamu udah mau ninggalin aku Babe!
"Kenapa?"
"Aku mau ngobrol"
"Tapi aku belum mandi"
"Aku mau ngobrol" Sutra mengulang kalimatnya.
"Yauda deh. Mau ngobrol apa?" baru kali ini dalam hidupnya Kama mengalah. Ini salah satu bentuk dari perubahan sikap baiknya.
"Tadi kamu bilang, kamu istri aku kan?"
"Iya, emang"
"Buktinya mana?" Kama menunjukkan cincin kawin yang ada dijari manisnya.
"Cuma itu?" tanya Sutra
"Loh, jadi kamu mau bukti apa lagi, Mas?" Kama bertanya balik.
"Yang lain, yang bisa bikin aku ingat" pinta Sutra.
"Aku gak ngerti, maksud kamu?"
"Apapun terserah, pokoknya yang bisa bikin aku ingat sama kamu" pinta Sutra lagi.
"M..., dulu kamu itu dosen aku dikampus. Dosen yang paling dipuja-puja mahasiswi, kecuali aku" Kama teringat dengan awal pertemuan mereka, ia mulai bercerita.
"Terus?"
"Di kelas, di kantin, di koridor, semua cewek-pasti nyeritain kamu. Cuma aku yang gak perduli. Tapi kita malah sering ketemu secara gak disengaja"
"Hm..."
"Sampai akhirnya kamu nembak aku, terus ngajak merit. Udah itu aja. Inget gak?" Kama menyingkat ceritanya.
"Enggak" jawab Sutra datar.
"Yaudahlah kalo gak inget juga, terserah! Pokoknya aku istri kamu, titik!" saut Kama kesal. Kama bukan tipe perempuan yang pandai berkata-kata, apalagi pada orang yang membuatnya jatuh cinta, kalimat yang keluar dari mulutnya jadi singkat.
"Aku kan cuma minta diingetin, kok kamu jadi marah. Masa orang sakit kayak aku dimarahin? Kalau aku sehat, aku pasti gak bingung kayak begini kan.." ucap Sutra lagi. Kali ini dia sengaja memasang tampang kecewa, seolah sedih dengan jawaban ketus Kama barusan. Nah, drama pun dimulai.
Babe, maaf ya aku ngerjain kamu. Aku pengen buat kamu berubah Babe. Aku mau hubungan kita jadi hangat
πππ
Demi sebuah kehangatan, Sutra rela pura-pura bodoh dengan mengaku lupa
Apakah Sutra akan berhasil dengan niatnya gaes?
__ADS_1
Yuk kepoin di next eps, cekidot π