When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Chelsea Gawat


__ADS_3

Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


Chelsea langsung di larikan ke rumah sakit terdekat malam itu juga. Wajah Tuan Sakamoto sudah tidak karuan. Jangan tanya bagaimana suasana hatinya, tidak membunuh satu makhluk hidup saja sudah syukur. Sanking galaunya ia sampai memukuli dinding rumah sakit.


Chelsea adalah anak perempuan satu-satunya Tuan Sakamoto. Rasa sayangnya terhadap gadis itu, membuatnya rela menuruti semua kemauannya sejak kecil hingga setahun yang lalu Chelsea ngotot untuk kuliah di Indonesia. Wajah Chelsea yang sangat mirip dengan almarhumah istrinyalah yang menjadi alasan besar Tuan Sakamoto tak bisa menolak.


Tapi ternyata kebebasan yang ia berikan pada Chelsea kebablasan. Pria paruh baya itu merasa sangat tercoreng dengan kelakuan anak gadisnya. Bukan karena berhubungan cinta satu malam, melainkan karena hubungan itu malah berhasil menanamkan benih di rahim anak gadisnya. Seketika kemarahan Tuan Sakamoto semakin menjadi-jadi. Apalagi setelah ia bertemu dengan Dega, laki-laki yang sudah berhasil menghamili anaknya.


Kebodohan Dega yang tak paham bahasa Inggris membuatnya semakin muak saja. Terlalu bodoh untuk jadi calon ayah, menurut Tuan Sakamoto. Belum lagi kelakuan Dega yang sempat meludahinya setelah ia pukul waktu itu. Semakin menambah nilai minus seorang Dega.


Berselang lima belas menit, seorang suster keluar dari ruang gawat darurat.


"Siapa keluarga dari pasien bernama Chelsea?" tanyanya.


"Saya, saya ayah kandung pasien," jawab Tuan Sakamoto dalam bahasa Inggris.


"Ayo mari pak, dokter ingin bicara," ajak suster.


Tampak seorang wanita berusia empat puluh tahun duduk mengenakan jas putih. Dia adalah dokter kandungan yang baru saja memeriksa keadaan Chelsea. Sekarang tuan Sakamoto sudah duduk berhadapan dengannya. Ia menunggu penjelasan.


"Bisa bapak hubungi suami dari pasien sekarang?" Pertanyaan itu langsung keluar dari mulut dokter.


"What? Maaf, Dok, anak saya belum bersuami! Jadi saya lah yang bertanggung jawab penuh atasnya," tegas Tuan Sakamoto.


"Kalau begitu, tolong bapak hubungi ayah dari anak yang dikandung oleh pasien," pinta dokter lagi.


"Tidak! Orang itu tidak ada! Jadi tolong jangan tanyakan tentang dia! Saya lah yang bertanggung jawab penuh atas anak saya!" Tuan Sakamoto semakin mempertegas bicaranya.


"Maaf, Pak, kalau saya lancang atau ikut campur dengan urusan keluarga bapak. Tapi ini situasi darurat. Anak gadis anda harus segera ditangani sebelum terjadi hal buruk dengannya, sebab terjadi pendarahan yang sangat beresiko. Saat ini saya hanya bisa memberi transfusi darah padanya. Tapi untuk janin yang ada dalam kandungannya harus segera di atasi." Dokter pun tak kalah tegas menjelaskan.


"Yasudah kalau begitu segera atasi janinnya!" perintah Tuan Sakamoto.


"Sekarang yang jadi masalah adalah, anak gadis anda tidak mau kami melakukan apapun pada janinnya sebelum ia bertemu dengan ayah dari calon anaknya," ucap dokter.


Brak !


Tuan Sakamoto memukul meja dokter.


"Apa-apaan ini?! Kenapa anda yang mengatur! Lakukan saja yang terbaik untuk pasien! Paksa dia kalau itu untuk keselamatannya!" Suara Tuan Sakamoto meninggi.


"Sekali lagi saya mohon maaf, Tuan! Ini rumah sakit, bukan tempat mencari keributan! Saya punya wewenang penuh di sini! Jadi tolong, bersikaplah dengan sopan!" Dokter wanita itu berdiri dari kursinya, menatap sinis pada Tuan Sakamoto.


Apa? Dia berani membentakku?!


Tuan Sakamoto terperanggah, ternyata dokter wanita itu bisa lebih galak darinya.

__ADS_1


"Apa yang saya katakan adalah hal yang sebenarnya. Saya bukan seorang pemaksa, namun saya adalah penolong sesuai dengan ilmu yang saya miliki. Jika anda ngotot seperti ini anda akan menambah beban dan stres pada pasien yang sudah jelas semakin memperburuk keadaan. Jadi saya sarankan pada anda untuk mau memenuhi permintaan pasien," terang dokter.


"Lagipula ini menyangkut dua nyawa sekaligus. Tolong anda buka pikiran dan hati jika anda memang menyayangi anak gadis anda!" tambah dokter itu lagi tanpa melepas tatapan sinisnya.


"Saya akan__" Belum selesai bicara, dokter wanita itu sudah memotong ucapan Tuan Sakamoto.


"Saya hanya bisa menunggu sampai besok pagi. Jadi tolong anda bawa ayah dari anak yang dikandung pasien. Jika tidak saya tidak jamin anak gadis anda akan baik-baik saja kondisinya." tegas dokter lalu pergi meninggalkan Tuan Sakamoto di ruangannya.


Huh, seenaknya saja dia denganku! Dasar orang tua tidak punya perasaan! Ngamuk-ngamuk di rumah sakit malam-malam begini! Dia pikir dia siapa?! Tidak akan ada yang mau menolong jika kelakuannya tidak sopan begitu! gumam dokter yang ternyata bernama Ayumi Shuang, dokter keturunan chinese.


Dokter spesialis kandungan sekaligus anak sulung dari pemilik rumah sakit tempat Chelsea di rawat.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Kama, Sutra serta Aiman and the genk sudah meninggalkan rumah Dega. Karena kebetulan sedang berada di Depok, mereka pun memutuskan untuk bermalam di apartemen mungil Sutra. Sementara Aiman and the genk menyewa unit apartemen lain yang kebetulan di lantai yang sama.


Jam sudah menunjukkan ke angka setengah dua belas malam. Kama baru saja keluar dari kamar mandi selesai bersih-bersih.


"Kamu mau teh hangat, Babe?" tawar Sutra yang baru saja membuat teh hangat.


"Boleh," jawab Kama.


Mereka berdua lantas duduk di sofa sembari menghadap ke layar tv yang menyala.


"Kasihan Dega sama Chelsea ya, Mas," ucap Kama sembari menyesap tehnya sedikit.


"Hm, ya," jawab Sutra dengan tatapan kosong.


Lah, kenapa pula Sutra menatap kosong? Akting apalagi yang direncanakannya sekarang.


"Hm, ya." Jawaban Sutra masih sama.


"Mas, kamu kenapa?" Kama menoleh memperhatikan wajah suaminya.


"Hm, ya," jawab Sutra tak nyambung.


"Kamu sakit?" tanya Kama lagi.


"Hm, ya." Kama makin heran dengan suaminya. Seketika,


Plak !


Kama memukul wajah suaminya.


"Eh, aduh! Kok kamu nabok aku, Babe?" protes Sutra kaget. Ia langsung menoleh menatap Kama.


"Kamu kenapa, Mas? Ngelamun? Dari tadi aku ngomong jawaban kamu 'hm, ya' terus," tanya Kama.


"Ah, iya, aku ngelamun, maaf ...," jawab Sutra. Matanya menerawang membayangkan sesuatu.


Hebat beneer si Dega, sekali nyoblos langsung berhasil. Lah aku udah tiga kali kok gak ada tanda-tanda berhasil ya? Apa jangan-jangan salah posisi? Atau salah gaya? Atau salah jurus?

__ADS_1


Aaah, dasar be-gok lu Komodo! Menang gede doank, amunisinya isi angin! Pantes Kama belum hamil sampe sekarang!


Eh, eh, eh, apaan nih manggil-manggil Ndan? Bukannya kita sama-sama be-gok ya Ndan? Gimana mau hamil, kalau nyerang aja jarang? Lebih be-gok mana, gue apa elu Ndan? Masa kagak bisa jinakin istri sendiri!


Kurang ajar, ngeledek gue lu! Jangan ngelunjak sama komandan! Ntar gue pecat tau rasa!


Hahaha, kalau gue di pecat, lu gak bakal bisa nyerang seumur hidup Ndan. Mau pake apa gantinya? Terong? Timun? Atau pare? Bakal ditinggal nyonya besar kalau gitu ceritanya.


Apaa?? Oh tidaaaaaakkkk! Engak, gak mau! Udah deh kita akur ya, Komodo. Ntar gue minum jamu perkasa biar amunisi lu padet, dan berbobot.


(percakapan Komandan dan Komodo Lang selesai)


Aneh, Mas Adrian kenapa ya? Mimiknya berubah-ubah gitu. Dia lagi mikirin apa sih?


"Mas ..." Suara Kama menyadarkan pikirin tidak karuan Sutra.


"Ah, iya, Babe." Sutra menoleh dengan wajah lesu.


"Kamu kenapa sih? Heran deh," protes Kama.


"Aku salut sama Dega," jawab Sutra.


"Soal?"


"Soal penyerangannya," jelas Sutra.


"Emang Dega kapan nyerangnya?" tanya Kama heran. Dia pikir Sutra sedang membicarakan penyerangan Dega terhadap ayah Chelsea.


"Malam itu," jawab Sutra jujur.


Pembicaraan dua arah pun terjadi diantara Kama dan Sutra.


"Ha? Malam yang mana sih? Aku gak paham." Kama tampak berpikir keras.


"Aku mau niruin dia, Babe. Tapi aku gak pede sekarang. Besok aku minum jamu ya, tapi kamu jangan nolak, pleaaase ..." Sutra menatap Kama penuh harap.


Loh? Apa hubungannya nyerang Tuan Sakamoto dengan jamu? Ah, tapi biarlah, yang penting aku bisa bantuin Chelsea dan Dega untuk bersatu.


"Yaudah terserah kamu, Mas, aku ngikut. Jadi besok kita ke sana?" tanya Kama.


Alhamdulillah, Kama setuju.


"Kamu maunya di mana? Kamu aja yang pilih tempatnya, Babe. Aku siap," ucap Sutra penuh yakin.


Untuk beberapa saat dahi Kama berkerut, lalu,


"Mas, kayaknya kamu mulai gak nyambung deh. Mungkin kamu kecapekan. Yaudah istirahat aja yuk, besok kita sambung ngobrolnya." Kama mematikan layar tv lalu mengajak Sutra pindah ke ranjang.


Aaaah, aku gak sabar nunggu besok, Babe ... Aku bakal minum jamu yang super duper perkasa, biar jos gandossss.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Kasihan Sutra yang ngelamun dan menerawang lantaran iri melihat keberhasilan Dega...


Eh tapi, kayaknya keadaan Chelsea gawat. Gimana niiih?????? Kepoin yuk di next eps πŸ‘‡


__ADS_2