
--- Kama Pov ---
Pagi ini, aji, tante Lulu, beserta dua orang sepupu nya yang masih berusia 10 dan 12 tahun, Steve dan Liona, mengajak ku pergi ke Ancol.
Aji bilang hari sabtu begini disana pasti ramai, apalagi Dufan, banyak permainan seru disana yang membuat anak-anak hinga orang dewasa tertawa bahagia sampe pegel.
Baby Jason, anak mereka, yang baru berusia 2 bulan terpaksa tidak ikut, dia masih terlalu kecil untuk dibawa main seharian.
Karena itu sebelum sarapan, tante Lulu mengantar kan baby Jason beserta pengasuh nya ke rumah orang tua tante Lulu, sekaligus menjemput Steve dan Liona yang memang tinggal di rumah yang sama.
Aji adalah orang yang paling mengenal karakter ku, bahkan mungkin aji juga sudah curiga soal keanehan ku
yang selalu saja menangis di saat-saat tertentu dari sejak kecil, ini akibat PTSD ku, tapi dia tidak pernah bertanya ataupun membahas nya.
Aji juga tau dengan apa yang membuat ku bahagia, walaupun aku cuek,
tapi aku suka keramaian, aku suka mendengar tawa banyak orang, membuat ku merasa nyaman karena jauh dari kesedihan, hingga tak perlu membuat PTSD ku kambuh.
Hari sabtu ini seperti nya sudah mereka persiapkan untuk ku,
tante Lulu bahkan juga sudah memesan kamar hotel yang berada di kawasan Ancol, agar kami tidak perlu pulang ke rumah setelah capek seharian bermain disana. Hmm, kayak nya aku akan bermain sampai puas dan lemas, yeeeee.
Kami berangkat dari rumah aji jam 9 pagi setelah selesai sarapan. Aji menyetir mobil SUV yang dia beli dari hasil tabungan nya sewaktu bekerja sebagai konsultan hotel di Bali.
Jauh dari kesan kaya raya yang semestinya melekat di kehidupan tante Lulu.
Namun karena tante Lulu sungguh-sungguh mencintai aji,
hingga dia rela mengikuti gaya hidup sesuai kemampuan aji saat ini, walaupun orangtua tante Lulu tetap selalu memperhatikan mereka.
Sebenarnya jarak dari rumah Aji ke Dufan tidak jauh, namun karena Jakarta terkenal dengan macet nya, hingga kami harus menempuh waktu 1 jam berkendara.
Sekitar jam 10 pagi akhirnya kami sampai di Ancol. Terlihat beberapa mobil dan bus sewaan juga memasuki kawasan Ancol, aji bilang karena ini hari sabtu, jadi lebih ramai pengunjung nya.
Ini pertama kali nya aku ke Ancol, tapi sedikit nya aku sudah tau lah apa saja yang ada disini karena sering melihat info nya di tv sambil makan kripik. Yang pasti pantai disini tidak sebagus di Bali, kota asal ku.
"Kamu mau nya kemana, Kama? Dufan? Ecopark? Seaworld? Atlantis? Ocean dream? Atau kita ke Pulau Seribu naik speadboat?" tanya aji yang menyetir mobil mengelilingi area ancol
"Hmm, dufan aja aji. Gak papa kan Steve, Liona? Kita ke dufan" aku melihat ke arah Steve dan Liona,
memastikan bahwa mereka sependapat dengan ku. Dan sukurnya mereka berdua mengangguk kesenangan, yang berarti pilihan ku tepat.
Yeeee, berasa seumuran dengan mereka.
"Boleh kan tante, kita ke dufan aja? Steve dan Liona juga setuju" sambung ku lagi meminta persetujuan tante Lulu
"Off course donk. This is your day, Kama. Dan sudah lama juga di tunggu-tunggu aji" tante Lulu menjawab seraya melirik suami nya lalu tertawa kecil
Hmm, apa itu berarti aji udah lama nungguin aku datang ke Jakarta? Tapi salah nya sendiri gak mau nelfon aku sejak awal. Pasti dia gengsi. Hiih..!
Aji mengendarai mobil nya menuju ke dufan. Memang betul kata aji, dufan lebih ramai pengunjung nya.
Tampak dua bus yang baru saja menurunkan rombongan anak-anak di depan pintu masuk dufan. Kayak nya mereka berasal dari sekolah yang sama, mungkin seperti piknik sekolah gitu.
__ADS_1
Aji menurunkan kami berempat tepat di depan tempat pembelian tiket masuk, sementara dia memarkirkan mobil. Aku, Steve dan Liona bersorak ke girangan,
tuh benerkan yang kubilang tadi, kami bertiga seumuran, hahaha.
Ini kali kedua Steve dan Liona ke dufan. Pasal nya mereka baru setahun tinggal di Jakarta, setelah pindah dari Beijing, China.
Steve dan Liona adalah anak dari paman dan bibi nya tante Lulu. Tante Lulu sempat cerita pada ku, bahwa setahun yang lalu orangtua Steve dan Liona
mengalami kecelakaan parah di Beijing hingga meninggal dunia,
membuat mereka menjadi anak yatim piatu. Lantas mama tante Lulu berinisiatif membawa mereka pindah ke Jakarta sampai sekarang.
"Kama, nih. Kamu beliin tiket nya ya. I'm still here, waiting for my husband. Steve dan Liona ikut Kama aja" tante Lulu menyerahkan kartu kreditnya,
meminta ku yang membeli tiket masuk dufan, sementara dia terus melihat ke arah parkiran, mata nya seolah mencari-cari sosok aji.
Seketika aku tersenyum melihat sikap tante Lulu yang penuh perhatian seperti itu. Dia tampak sangat mencintai aji, terbukti dia terus menunggu aji di tempat aji menurunkan kami tadi. Kalau aku ntar nungguin siapa ya?
Memang kuakui wajah aji lumayan tampan, tinggi badan nya sekitar 170cm, kulitnya lumayan putih untuk ukuran cowok,
matanya tipis
namun teduh berwarna cokelat sama seperti ku, rambut nya bergelombang, hidung nya agak tinggi dan bibirnya tipis.
Tapi tante Lulu juga gak kalah cantik sih, tinggi nya sama dengan ku, rambut nya panjang dan lurus,
mata nya sipit menandakan dia keturunan chinese, hidung nya mungil sedikit tinggi, bibirnya tipis dengan sebuah lesung pipi yang membuat nya tambah manis jika tersenyum.
Aji sungguh beruntung mendapatkan tante Lulu, walau dengan perjuangan yang tidak mudah sebelum nya.
Mereka terhalang oleh restu orangtua, status sosial, bahkan perbedaan keyakinan.
Tapi cinta mereka sangat kuat dan tentu nya tidak luput dari campur tangan Tuhan yang memang sudah menakdirkan mereka untuk bersama sampai saat ini.
Aaah..ntah bagaimana nanti dengan kisah cinta ku. Aku belum pernah jatuh cinta dan tidak tau bagaimana rasanya.
Yang pasti aku akan menikah dengan laki-laki yang tidak tampan, yang baik dan menerima penyakit ku, memaklumi karakter ku, dan harus mau mengalah dengan ku!
Kalau tidak mau mengalah, ya tidak akan aku nikahi, simple kan?
Tak berapa lama kemudian aji datang dengan senyum lebarnya, dia langsung menggenggam tangan tante Lulu, lalu berjalan ke arah kami (aku, steve, dan liona).
"Udah beli kan tiket nya?" tanya aji
"Udah dooonk" aku, steve, dan liona menjawab kompak, maklum lah seumuran, kami bertiga udah gak sabar mau nyobain semua wahana di dufan.
Seperti nama nya Dufan, Dunia Fantasi, memang tempat yang dipenuhi dengan imajinasi dan angan-angan anak kecil hingga dewasa.
Dari puluhan wahana yanga ada di Dufan, semua nya di klasifikasikan berdasarkan tingkatan, yaitu Children Rides untuk anak anak, Family Ride untuk keluarga, Water Ride untuk main air, dan Thrill Ride untuk memacu adrenalin.
Rasanya satu hari gak akan cukup untuk mengeksplore semua permainan itu.
Sebagai orang dewasa, aku melewatkan beberapa wahana yang ekstrim seperti hysteria dan tornado.
__ADS_1
Aku tidak siap kalau harus copot jantung jika nekat menaiki nya.
Makanya aku lebih banyak mengikuti pilihan Steve dan Liona saja, nama nya juga seumuran. Hihihi
Sementara itu aji dan tante Lulu tampak seperti orang pacaran, genggaman tangan mereka tidak pernah lepas.
Bahkan mereka terlihat begitu mesra dengan canda tawa satu sama lain. Terkadang ku lihat aji membetulkan rambut tante Lulu yang tertiup angin menutupi wajah nya. Aaah, romantisnya! Bikin iri saja.
Eh tapi, apa yang bikin aku iri sih, toh aku juga tidak punya pasangan. Masa iya aku genggam tangan sendiri sanking erorr nya.
Tak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama 6 jam disini hingga pukul 4 sore. Kami juga sudah mulai lelah bermain hingga basah-basahan seperti ini.
Pasal nya wahana terakhir yang kami naiki adalah arung jeram, yang kami ulang hingga tiga kali bermain, hahaha. Kampiiiuuungan.
"Enough, tante capek ga kuat lagi. Hahaha" ucap tante Lulu seraya menertawai kelakuan kami semua
"Kita juga udah basah semua. Kita ke hotel ya" sambung aji
"Oke..." jawabku, Steve, dan Liona kompak, hingga kembali membuat kami berlima tertawa bersama seraya pergi menuju pintu keluar dufan.
Bener kan kata ku, kalau udah masuk dufan bawaan nya ketawa terus sampai mulut pegel. Ntar tinggal nyari tukang pijet bibir deh.
Aku sangat bahagia hari ini. Rasanya kekesalan ku lantaran aji pindah ke Jakarta sudah terbayar lewat kebahagiaan yang kudapat hari ini.
Pantas saja tante Lulu bilang aji sudah lama merencanakan nya. Aji memang is the best, dia tak cocok jadi paman, tapi lebih tepat menjadi kakak kandung ku sendiri.
Kami berlima terus berjalan keluar, melewati beberapa gapura hingga akhirnya sampai di pinggir jalan tempat aji menurunkan kami tadi pagi.
Lantas aji menyuruh kami untuk kembali menunggu disitu sementara dia pergi ke parkiran mengambil mobil.
Namun seperti nya Liona tidak mendengar ucapan aji, mungkin karena posisi nya paling pinggir di antara kami semua.
Dia lantas berlari menyebrang jalan menyusul aji, namun di waktu yang sama aku melihat sebuah mobil Jeep warna hitam berjalan cepat ke arah Liona.
Reflek aku menyusul Liona dan mendorong cepat tubuh nya ke pinggir jalan agar dia selamat, dan aku.....
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttt......!!!!!
(suara rem mobil yang mendadak)
πππ
--- Sutra Pov ---
"Hallo assalammualaikum ibu. Ibu, Sutra minta tolong pak Wiryo jemput Quiny sekarang ya bu. Ada hal mendadak. Sutra gak bisa pulang bareng Quiny, tolong ya bu.." dengan panik Sutra meminta pada ibu nya agar menyuruh supir menjemput Quiny adik nya.
"Walaikumsalam, kenapa nak? Ada apa? Kamu kenapa??" mendengar suara anak nya panik, ibu Sutra pun ikut panik sampai berpikir macam-macam
"Sutra baik-baik aja ibu. Ceritanya panjang, Sutra ga bisa jelasin di telfon. Nanti begitu Quiny sampai dirumah, biar dia yang jelasin semua nya. Tolong ya ibu, minta pak Wiryo jemput Quiny sekarang juga. Sutra kirim lokasi nya. Assalammualaikum.." ucap Sutra seraya menutup telfon dan segera mengirim lokasi ke ibu nya
πππ
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
__ADS_1
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)