
--- Kama Pov ---
"Mungkin sebuah kebetulan kita adalah Kamasutra. Tapi kamu harus tau, tidak ada yang terjadi di dunia ini selain atas ijin Tuhan, baik Tuhan kamu maupun Tuhan saya"
"Kama, niat saya ke kamu itu baik dan tulus. Meskipun kamu terus marah dan sering salah paham ke saya, saya gak akan berhenti berbuat yang sama. Karena itu semua benar-benar tulus dari dalam hati saya"
Kalimat nya selalu meneduhkan, membuat ku tenang dan gak norak lagi kayak tadi.
Iya sih, kalau di pikir-pikir
apa yang salah dengan nama kami? Toh itu juga pemberian orang tua, bukan keinginan kami. Jadi gak ada alasan buat ku merasa geli mendengar nya.
Otak ku aja yang harus aku scan ulang untuk membuang pose-pose gesrek yang ku lihat dari google waktu itu.
Dan memang benar kata nya, tidak ada yang terjadi di dunia ini selain atas ijin Tuhan.
Tuhan..
Bicara soal Tuhan, kemarin biang bilang kalau kami sebenarnya adalah muslim. Aku harus tau siapa Tuhan ku dan bagaimana cara ku berdoa sekarang.
Apa bisa ku tanyakan pada pak Adrian ya? Eh bukan, pak Sutra. Eh apa sih, terserah lah siapa nama nya, huuuffftt.
"Kita jadi ke dokter kan?" dia bertanya pada ku
"Hah? E-enggak usah pak, saya udah sehat kok" eeh dia malah ketawa, hiih, sebel nya aku!
"Yaudah kalau gitu saya antar kamu pulang sekarang"
Mobil sedan kuning nya melaju meninggal kan warung bubur ayam. Aku kembali teringat dengan rencana ku bertanya tadi. Kayak nya cuma dia orang
yang bisa ku tanyai saat ini. Karena aku gak mungkin bertanya pada aji maupun tante Lulu. Mereka jelas berbeda dengan ku.
"Emm, saya boleh nanya serius gak pak?"
"Boleh, silahkan. Kamu mau tanya apapun pasti saya jawab"
"Sayaaa, saya mau tanya soal Islam" aku sedikit takut mengucapkan nya, takut dia berpikir aneh-aneh tentang ku.
__ADS_1
Dan benar, dia langsung memaling kan wajah menatap ku. Aaah, pasti dia curiga.
"Oke, saya akan jelaskan semua nya" sukurlah dia mau, walau harus menjawab dengan senyum khas nya yang gak aku suka itu.
πππ
--- Sutra Pov ---
Sejujur nya aku kaget waktu Kama serius bertanya soal Islam. Kenapa ya? Apa jangan-jangan dia mau lebih mengenal ku?
Saat itu juga langsung ku iya kan. Aku menjelaskan garis besar tentang Islam pada nya saat perjalanan kami di mobil tadi. Dari yang kulihat,
ia begitu serius menanggapi. Kayak nya langkah ku untuk memiliki hubungan dengan Kama semakin dekat, dan aku gak akan menghayal kan Maria Marcedes lagi, aku janji, hehehe.
Aku baru saja sampai di rumah saat ini dan masuk dari garasi bawah rumah ku.
"Assalammualaikum"
"Walaikumsalam, udah sarapan Sut?" suara ibu menyambut ku
"Berenang. Itu sekalian kamu bawain kopi nya ayah dan cemilan nya Quiny, ibu mau ke kamar sebentar" aku pun bergegas membawa semua nya menemui ayah dan Quiny
Ku lihat ayah sedang duduk di pinggir kolam sambil sesekali menggoda Quiny. Ayah ku adalah seorang family man, dia selalu menghabiskan waktu bersama keluarga setiap weekend.
"Ayah" aku meletak kan kopi ayah dan cemilan Quiny di atas meja di dekat ayah
"Hi, boy" jawab ayah
"My Quin, this is for you" aq membungkuk sambil melebarkan tangan, bergaya seperti seorang pelayan yang menyerah kan sesuatu pada Ratu nya.
Hahaha. Quiny selalu senang di perlakukan begini oleh ku, dasar manja!
"Oke, thank you Adrian" uuh, ingin ku cubit pipi Quiny, gemas!
Aku lalu duduk di sebelah ayah, memandangi Quiny yang masih asik berenang.
"Hei, boy. Is she ok this morning? I mean, Kama"
__ADS_1
(Hei nak. Apakah dia baik-baik saja pagi ini? Maksud ku adalah Kama) ,ayah langsung menanyakan Kama.
"Kama baik-baik aja kok ayah" aku tersenyum pada ayah
"Oh ya ayah, Kama bertanya tentang Islam ke Sutra pagi ini"
"Why? She does not know Islam?"
(Kenapa? Dia tidak tau Islam?) ayah bertanya heran
Aku menggeleng,
"Kama Hindu, ayah"
"Woow, really? That's a big responsibility for you, boy"
(Wooow, sungguh? Itu adalah tanggung jawab besar buat mu, nak)
"Iya ayah, Sutra tau. Apa Sutra bisa ya ayah?" aku ingin tau pendapat ayah soal itu.
"Off course. Like your mom, she hold me with love till now"
(Tentu. Seperti ibu mu, ia memegang ku dengan cinta sampai sekarang) senyum ayah melebar, ia seperti membayang kan saat pertama bertemu ibu.
Aaah romantis nya, semoga kisah ku bisa dua kali lipat lebih romantis dari mereka. Bahkan melebihi Raiso dan Hamish Dadu, hahaha.
πππ
Apakah Sutra mampu mengemban tanggung jawab besar itu dengan Kama?
Yuuuk kita liat di episode selanjut nyaaaa π
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
__ADS_1