
--- Kama Pov ---
Pak Adrian?
Kok dia bisa tau sih kalau aku udah balik ke kost? Aku udah berusaha menghindar darinya, tapi dia malah datang. Aku pusing ah! Gak mau ketemu dia!
Tapi dia terus mengirimiku pesan wa
Sutra -
Kamu kenapa sebenarnya, Kama?
Saya salah apa?
.....
.....
Oke, kamu gak perlu balas pesan saya, tapi saya akan buktikan sama kamu.
SAYA GAK AKAN PULANG!
Ya Tuhaaaaan..! Terbuat dari apa sih dia itu?! Gak ada nyerah-nyerahnya! Aku gak sanggup melihat dia, aku gak sanggup mengusirnya pergi dari hidupku! Tapi aku juga gak mau mengkhianati Mini! Aku harus gimanaaaaa???
Eeh, udah jam 11 malam ternyata, dia pasti udah pulang. Aaah, sukurlah! Aku strees mikirinnya daritadi!
Tok..tok..tok..!
Seseorang mengetuk pintu kamarku, siapa ya?
"Misi mbak e.." suara mas Deko, aku lantas membuka pintu.
"Ya, mas.., kenapa?" tanyaku setelah pintu kamar terbuka.
"Mbak e.., itu loh mas guanteng, kasiaaan"
"Emang gerbangnya gak ditutup mas? Kan udah jam 11 malem"
"Wez tak tutop kabeh.. Tapi itu loh, si mas ndak mau pulang. Dia parker didepan gerbang. Katanya bakal teros nungguin mbak e disitu.."
Hmuuuffttt! Dasar keras kepala!!
"Yaudah mas, biar saya samperin. Makasih ya.."
Aku mengambil cardigan biru dibelakang lemari dan memakainya. Kemudian bergegas menemui pak Adrian diluar.
__ADS_1
"Bapak kok masih disini sih?" sengaja kutanyakan begitu, agar dia kesal dan segera pergi darisini.
"Nungguin kamu" jawabnya singkat
Oh Tuhaaaan.., aku semakin gak sanggup berlama-lama menatapnya!
"Yaudah cepetan, bapak mau ngomong apa? Udah mau ujan, jangan lama-lama!" aku mendengar suara petir beberapa kali
"Saya gak bisa ngomong cepat-cepat. Yang mau saya tanya ke kamu banyak soalnya!"
"Tapi ini udah malem, udah mau ujan lagi. Tuh, liat aja langitnya" aku menunjuk ke langit
"Gak papa kok! Yang keujanan kan saya, bukan kamu. Kamu cukup jawab semua pertanyaan saya dari situ"
Apa-apaan dia ini? Terus kalau dia kehujanan gimana? Dasar gila! Apa dia pikir aku tega membiarkan dia kehujanan??
"Bapak udah gila ya?" tanyaku kesal
Buuurrrrrrrrrrrr....!!! Seketika hujan turun dengan derasnya. Aku melihat sekujur tubuhnya basah diterpa hujan. Tapi dia sama sekali tak bergerak, ia bertahan dengan posisinya menghadap ke arahku. Ya Tuhaaan, sumpah aku gak tega! Dia betul-betul sudah gila! Dia bahkan gak memikirkan dirinya sendiri!
"Iya, kamu benar! Saya gila karena kamu!" dia berteriak menjawabku karena derasnya suara hujan.
"Sekarang tolong jelaskan, kamu kenapa? Saya salah apa?"
Aku hampir luluh melihat keadaannya, dia begitu gigih hanya untuk mengetahui keadaan ku. Tapi yang kutau aku harus mematahkan harapan nya. Aku harus menjauh darinya. Aku gak mau bahagia diatas penderitaan sahabatku sendiri!
"Gak ada apa-apa, pak! Saya baik-baik aja kok! Bapak juga gak punya salah apa-apa. Saya yang salah.."
"Saya salah kemarin. Saya.., saya terbawa suasana. Sebenernya.., saya gak punya perasaan apa-apa sama bapak!" akhirnya aku bisa mengatakannya.
Maaaaaaf! Maafin aku pak, Aku gak sanggup bahagia diatas penderitaan Mini. Aku terpaksa mengatakan itu. Tapi sumpah, didalam hatiku semua sudah penuh terisi oleh kamu. Bahkan otakku pun gak berhenti memikirkan kamu.
Aku tau, selain menyakitimu, aku juga menyakiti diriku sendiri. Tapi aku gak punya pilihan lain, aku gak mungkin menyakiti Mini. Mini satu-satunya sahabatku di kota ini. Aku..., aku minta maaaaf...
Maafin aku pak..! Aku sungguh-sungguh minta maaf..
Dia menatapku dalam, sorot matanya menusuk ke jantung hatiku. Aku tau dia pasti terkejut dengan kalimatku. Matanya berkaca-kaca, kayaknya dia begitu terluka karena aku.
Aku gak sanggup menatapnya lebih lama lagi. Dadaku sesak, sakiiiit sekali, seperti mau mati rasanya...! Ternyata begini rasanya patah hati...
Semoga Tuhan mau memaafkanku karena telah menyakitimu, pak..!
Tanpa sadar bulir kristal mengalir di kedua pipiku. Gawat! Jangan sampai dia tau kalau aku menangis! Aku mengusap cepat airmataku. Tapi..., apa yang kulihat ini? Pak Adrian berjongkok dihadapanku. Kenapa dia???
πππ
__ADS_1
--- Sutra Pov ---
"....saya gak punya perasaan apa-apa sama bapak!"
Kalimatnya mengulang-ulang ditelingaku. Walau suara hujan begitu kencang, tapi aku mendengar jelas ucapan Kama barusan.
Aku seperti sedang disambar petir, petir yang keluar dari mulut Kama! Petir itu menyambar sampai ke hatiku yang terdalam. Rasanya aku ingin mati saja! Ini mimpi atau apa bukan sih???
Begitu teganya Kama berbuat itu padaku. Apa salahku? Bahkan kebahagiaan yang kurasakan kemarin tidak lebih dari 24 jam. Dan sekarang aku sudah patah hati! Bukan, ini bukan patah hati. Ini lebih parah dari patah hati! Kama menipuku dengan kalimatnya! Dia menipuku!!
Harusnya aku tau dari awal, Kama gak akan mungkin jatuh cinta padaku, orang yang selalu membuatnya kesal dan marah-marah. Dari awal dia benci padaku, tapi aku terus ngotot mendekatinya. Aku begitu tergila-gila padanya sampai tidak berpikir pakai logika!
Sekarang dia sudah mengakui semuanya! Dia benar-benar menipuku! Bahkan menghancurkan semua harapanku padanya!
Ya Allah..., begitu bodohnya aku...! Pasti dosaku terlalu banyak hingga Tuhan menghukumku dengan cara ini!
Pantas hujan turun begitu derasnya, ternyata semesta setuju untuk menghakimiku malam ini.
Kakiku terasa lemah, seperti tidak bisa dijejakkan lagi. Aku benar-benar hancur saat ini. Rasanya aku ingin berteriak dan menangis, tapi aku laki-laki, aku gak mungkin melakukan itu. Terlebih lagi, Kama masih ada dihadapanku saat ini.
Aku memilih jongkok daripada harus tumbang karena kelemahanku. Aku pikir, pelan-pelan aku pasti bisa mengumpulkan kembali kekuatanku. Aku harus kuat! Aku gak mau terlihat lemah didepan Kama!
"Bapak kenapa?" huh, dia masih bisa bertanya begitu padaku! Sungguh perempuan yang gak berperasaan!
Aku memilih diam tidak menjawab. Aku takut emosiku tumpah seiring dengan rasa sakit dihatiku karenanya.
"Pak..." ujarnya lagi
Kumohon Kama, diamlah! Tinggalkan aku sendiri disini! Aku sudah tidak ingin mendengar suaramu lagi!
Aku berbalik membelakanginya, aku sudah tidak sanggup melihatnya lagi. Rasanya sungguh menyakitkan, bahkan mendengar suaranya pun hatiku sakit. Biarlah aku duduk disini sambil mendekap kedua lututku, menenangkan diri dari semua rasa sakit ini, hingga saat mampu nanti, aku pasti akan pergi dari sini.
πππ
Ada yang bisa ngerasain sakit hatinya Sutra gak???
Hiiikksss...hiikkksss....
TERIMAKASIH READERS YANG UDAH BACA SAMPAI PART INI ππ
KASI JEMPOL DAN TINGGALIN KOMEN YANG MANIS YA BIAR AKU MAKIN SEMANGAT π€
JANGAN LUPA VOTE NYA JUGA (he..he..he)
I Love U π
__ADS_1