
Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
"Dan ape? Kagak mungkin kan Papi lu bunuh gua, hehehe." Dega tertawa kecil, mencoba menyelipkan candaan agar pujaan hatinya tenang. Namun,
"Mungkin ..." Jawaban Chelsea sontak membuat Dega menelan ludah seraya melotot.
Ya Allah ..., habis cerita hidup gua di umur 24 tahun. Innalillahi ...
Dega terdiam. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Laki-laki itu terkejut sekaligus takut mendengar jawaban Chelsea barusan. Sementara Chelsea, masih belum berhenti menangis. Gadis itu menyesali perbuatannya. Ia tidak tau harus bicara apa saat bertemu dengan ayahnya nanti.
Selama sepuluh menit masing-masing dari mereka berkutat dengan pikirannya. Hingga akhirnya Chelsea yang bicara lebih dulu.
"Ga ..." Chelsea menyentuh lengan Dega membuat Dega tersadar dari lamunan.
"Aku cuma minta satu hal. Besok pagi tolong anterin aku ke bandara ya," sambung Chelsea.
"Terus gua pegimane?" tanya Dega dengan wajah polos. Ia sudah tidak bisa berpikir lagi. Mau ikut Chelsea tapi takut di bunuh. Tidak ikut Chelsea tapi cinta. Ah, pilihan yang sulit. Baru juga berapa jam yang lalu jadian sudah harus bubar karena keadaan.
"Kamu di sini aja. Aku khawatir Papi akan numpahin semua kemarahannya sama kamu. Jadi lebih baik kamu di sini, Ga." Chelsea menatap mata Dega dengan sendu.
Sejujurnya gadis itu sangat membutuhkan sosok Dega untuk selalu ada di sampingnya menghadapi masalah. Tapi apa boleh buat. Semua ini berawal dari keegoisannya yang ingin merebut Sutra dari Kama, hingga tanpa pikir panjang ia harus mabuk-mabukan bersama dengan Dega yang tidak salah apa-apa.
Kejadian satu malam yang mereka lakukan seminggu yang lalu murni kecelakaan tanpa di sengaja. Mereka berdua sama-sama tidak sadar telah melakukan hal itu. Bahkan di video yang merekam kejadian malam itu terlihat kalau dirinyalah yang membuka peluang dan mengajak Dega melanjutkan kegiatan mereka di dalam kamar. Sungguh kenyataan yang sangat memalukan baginya.
"Tapi gua ..., gua kagak bisa ngebiarin lu nanggung semuanye, Chels. Apalagi kan gua udah janji bakal tanggung jawab." Dega menolak untuk tetap tinggal walau hatinya di penuhi ketakutan. Untuk yang satu ini, Dega patut di acungi jempol.
"Papi aku bukan orang yang bisa memaafkan, Ga. Ini serius. Kamu bisa babak belur dan yang paling mengerikannya lagi mungkin kamu tinggal nama ..." Air mata Chelsea kembali menetes. Saldo air matanya seolah tak ada habisnya. Namun kali ini gadis itu menangisi laki-laki yang ada di hadapannya.
Chelsea paham betul bagaimana karakter ayahnya, Tuan Sakamoto. Memang benar kalau pria Jepang itu mencintai dan begitu menyayangi anak perempuan satu-satunya, yakni Chelsea. Namun jika sudah mencoreng dan mempermalukan harga dirinya, pria itu bisa melakukan hal di luar batas. Dan Chelsea sendiri sudah pernah menyaksikan itu dengan mata kepalanya saat ia masih kecil.
"Apa separah itu? Apa kagak ade kesempatan sedikitpun buat kita, Chels? Gua janji bakal bikin lu bahagia seumur hidup gua ..." Tampang Dega memelas menatap pujaan hatinya. Ia tidak ingin Chelsea meninggalkannya.
"Bukan, bukan soal itu, Ga ... Aku serius dengan kalimatku yang minta kamu bahagiakan, dan aku yakin kamu pasti bisa. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Keputusan ada di tangan Papi aku, bukan aku ..." Lagi-lagi air mata Chelsea menetes.
__ADS_1
"Kamu pikir aku mau kita pisah ...? Setelah semua kejadian ini aku baru sadar kalau cuma kamu yang selalu ada dan tulus sama aku. Tapi aku terlambat ... Harusnya aku menyadari itu dari awal. Harusnya aku gak perlu susah payah mengejar Adrian bahkan melukai Kama seperti kemarin. Aku, aku memang bodoh ..." Dega menghapus butiran air mata Chelsea yang tak ada habisnya.
"Aku gak bisa melihat kenyataan. Aku terlalu egois, aku di butakan oleh obsesi yang tak bertepi! Padahal di depan mataku ada kamu yang selalu menunggu dan menemaniku, Ga ... Seandainya dari awal aku jatuh cintanya sama kamu dan bukan Adrian, mungkin semuanya gak akan sekacau ini ..." Dega langsung membawa Chelsea masuk dalam pelukannya. Hatinya tidak sanggup melihat kesedihan yang begitu besar pada gadis pujaannya itu.
"Kagak ade kate terlambat untuk cinta, Chels. Gua akan pikirin pegimane caranye untuk ngomong ke bokap lu. Gua sayang ame lu, Chels. Sumpah ...," ucap Dega.
"Kasi gua waktu beberapa hari. Gua janji akan jemput lu gimane pun caranya," sambung Dega lagi.
Apapun caranya gua akan cari jalannya. Gua janji, Chels
Di sinilah cinta Dega dan Chelsea di uji. Sebesar apa usaha dan sejauh mana sanggup bertahan untuk mencari jalan menuju kebersamaan.
πππ
Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu Swedia. Kama dan Sutra pun pamit pulang dari acara wedding anniversary temannya. Mereka di antar oleh supir hingga sampai kembali ke penginapan The Iglo Glass.
Selesai bersih-bersih dan berganti pakaian mereka berdua langsung naik ke atas ranjang.
Oh ya, by the way, kok mereka bisa berganti pakaian? Memangnya ada? Ya, alhamdulillah mereka punya Aiman and the gank yang bersedia kembali ke resort mengambil koper yang berisi pakaian mereka masing-masing.
"Mas, besok pagi kita balik ke resort ya. Aku mau ketemu Chelsea," ucap Kama yang sudah masuk ke dalam selimut. Mereka berdua sudah rebahan di atas ranjang seraya menatap langit yang tampak indah malam itu.
"Buat apa lagi sih, Babe? Kamu kok baik banget sama dia? Aku heran." Sutra memandang wajah istrinya tak habis pikir.
"Justru aku kasihan sama dia, Mas. Dia pernah bilang sama aku, kalau selama ini dia selalu dapatkan apapun yang dia mau, kecuali kamu." Kama menyandarkan kepalanya di bahu Sutra.
"Lah, terus? Buat apa kamu kasihani dia, Babe? Setiap manusia itu sudah punya jatahnya masing-masing, dan kita gak bisa memaksakan kehendak seseorang untuk mau sama orang itu," jelas Sutra.
"Hatiku yang merasa kasihan dengan Chelsea, Mas. Kamu tau kan hatiku gimana? Aku bisa merasakan kesedihan orang lain sekalipun aku tidak mau perduli dengan orang itu. Dan aku bisa merasakan kesedihan Chelsea," ungkap Kama.
"Chelsea gak bener-bener mencintai kamu, Mas," sambung Kama lagi.
"Loh, kok kmu bisa tau?" Sutra menoleh menatap Kama.
"Hatiku yang bilang. Chelsea cuma terobsesi sama kamu, Mas. Dan kejadian dia ninggalin aq waktu main ski, sesungguhnya karena dia cemburu aq ngobrol akrab dengan Dega. Kamu cuma sebagai alasan pendukung. Bukan lagi yang utama buatnya." Kama menjelaskan apa yang di tangkapnya dari Chelsea.
__ADS_1
*Ya*h, kalo yang itu sih bukan hanya Chelsea. Aku juga cemburu, Babe! Kalian sih akrab banget pake ketawa-tawa segala, bikin orang kesel!
"Hem, gitu," jawab Sutra malas.
"Makanya besok kita balik ke resort ya. Aku mau ketemu Chelsea. Mau ngobrol dari hati ke hati," pinta Kama.
"Yaudah, tapi aku boleh minta sesuatu gak sama kamu, Babe?" Terlintas ide nakal di otak Sutra.
Langit malam yang begitu cantik terlalu sayang untuk di sia-siakan jika hanya sebagai peneman tidur mereka saja. Akan tetapi,
"Apa, Mas?" tanya Kama.
Sutra melepas kaos tidur yang ia kenakan lebih dulu.
Eh, mau apa Mas Adrian?
"Skin to skin contact," ucap Sutra seraya rebahan dengan melebarkan tangannya. Berharap Kama mau melakukan hal yang ia pinta. Sebuah senyum manja terurai dari bibir pink laki-laki bule Swedia itu.
"Ih, apaan sih?! Aku kan gak lagi demam, Mas." Kama menolak lalu masuk ke selimut lebih dalam.
Iiih, Mas Adrian! Pasti dia mau minta begituan lagi. Padahal tadi siang kan udah. Masa gak ada puasnya!
"Anggap aja aku yang demam, Babe. Pleaseee..." rengek Sutra sembari mendekap Kama dari luar selimut.
"Gak mauuuu," teriak Kama menolak.
πππ
Ah, ya amplop Sutraaaaa, gak ada puasnya. Heran deh π€
Itu anu itu terbuat dari apa sih? Bisa dua tiga sampe empat kali? Jangan-jangan ada tombol replay nya ya?? π±
Oh my God, jadi pengeeeeen π€£
Mari silahkan di cari pasangan halalnya gaes. Inget ya, harus yang halal. Kalo yang haram dosa...
πβοΈ
__ADS_1