When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Kama Hilang 2


__ADS_3

Jangan lupa bantuan LIKE dan VOTE-nya ya guys, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


Kuala Lumpur


Datuk Emran tampak sedang duduk di meja kerjanya sore itu. Ia baru saja selesai dengan semua laporan perusahaan yang masuk. Mengecek, menandatangani, lalu menyeleksi beberapa rekanan yang ingin bergabung dalam penanaman modal pembangunan condominium baru milik perusahaannya.


Hari ini suasana hati Datuk Emran kurang baik. Setelah bicara dengan anak perempuannya via telepon tadi pagi, pria paruh baya itu tampak gelisah. Ia mengkhawatirkan keadaan Kama walau sudah di awasi oleh Aiman and the genk, dan hanya bisa menunggu kabar lebih lanjut dari mereka.


Tiba-tiba sore itu ponsel Datuk Aiman berbunyi.


"Hallo, Datuk." Suara Aiman terdengar di ujung telepon.


"Ya, Aiman. Apa cerite?" tanya Datuk Emran.


"Perempuan tu dah tak betol, Datuk. Die ajak Kakak maen ski. Sekarang Kakak tak nampak, ai dengar suaranya menjerit. Ai lagi cari die lewat sinyal GPS terakhir." Aiman terdengar panik, suaranya naik turun sebab ia sedang berlari menuju lokasi sinyal earpice yang di gunakan oleh Kama.


Brak !


Mendengar kabar demikian, Datuk Emran berdiri lalu memukul meja kerjanya. Terkejut dan marah, memenuhi otak pria paruh baya itu sekarang.


"Macamane cerita??? Yu tak awasi die??? Aiman, ai tak mahu tau! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan die, nyawa korang yang jadi taruhannya! Cepat temukan Kamaaaa!" teriakan Datuk Emran memenuhi ruang kerjanya, hingga Azizah, keponakan sekaligus asisten pribadinya terkejut dan segera masuk ke ruangan.


Plak !


Datuk Emran membanting ponsel ke atas meja setelah selesai bicara. Tampak napas pria paruh baya itu tersengal-sengal menahan amarah. Kedua telapak tangannya bertumpu di meja, menahan badan yang sedang berdiri.


"E-excuse me, Datuk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Azizah ketakutan. Baru kali ini dia melihat bosnya begitu marah.


Datuk Emran terkenal sebagai pribadi yang tenang di mata karyawannya. Jarang sekali marah. Kalaupun ia marah pasti menyangkut hal serius, dan hanya sebatas marah biasa. Namun kali ini berbeda, sudah di luar batas, hingga ia berteriak sekencang itu.


Cukup lama Datuk Emran membiarkan Azizah berdiri dan menunggu jawabannya. Kepalanya sedikit tertunduk, seolah berpikir untuk melakukan langkah selanjutnya.

__ADS_1


Astaghfirullohaladziiim ..., ya Allah, lindungi Kamaaa. Ai tak nak terjadi apa-apa dengan dia. Huh, Sakamoto, yu nak tengok siape ai?? Okelah kalau macam tu!


"Zizah," katanya setelah 5 menit terdiam.


"Yes, Datuk," ucap Azizah.


"Hubungi sekretarisnya sekarang. Ai nak bercakap dengan lelaki tu. Sediakan file yang semalam, hantarkan terus untuknya. Katakan bahwa itu adalah hadiah perkenalan dari ai," perintah Datuk Emran.


"Maksud Datuk, Tuan Sakamoto Ryoma?" Azizah meyakinkan.


Datuk Emran mengiyakan lewat tatapan matanya.


"Satu lagi, siapkan prosedur penarikan saham Sony untuk perkembangan kilang mereka di Penang. Ai tak nak lagi berurusan dengan orang Jepang itu!" sambung Datuk Emran.


"But, Datuk." Azizah tampak khawatir.


"Why?" Datuk Emran melirik Azizah.


"Kita akan kehilangan 30% dari modal yang sudah kita tanamkan di sana, Datuk," terang Azizah.


"I don't care! Go do it now! (aku tidak perduli! segera lakukan sekarang!)," perintah Datuk Emran tegas.


"Udahlah lo gak usah ngelak, Chels! Gue udah hapal tipu manja lo yang bikin gue enek! Sekarang lo gak usah banyak alasan, lo bilang di mana Kama?" bentak Sutra pada Chelsea.


"A-aku gak tau, Adrian ...," jawab Chelsea gagap, takut ketauan dengan apa yang sudah ia lakukan pada Kama.


"Pengumuman untuk semua pengunjung, segera naik dan tinggalkan lintasan karena hujan salju akan turun." Tiba-tiba terdengar pengumuman lewat pengeras suara oleh petugas kawasan permainan. Mereka mengulangi kalimat itu beberapa kali dengan dua bahasa, yakni bahasa Svenska dan bahasa Inggris.


"Eh, apaan tuh katenye?" tanya Dega bingung dengan kedua bahasa itu.


Sutra makin panik mendengar pengumuman barusan. Ia semakin menekan Chelsea.


"Chels, cepat jawaab! Di mana Kama???" bentak Sutra lagi seraya menggenggam pergelangan tangan Chelsea dengan kencang.


"A-aku ..." Chelsea semakin takut sekaligus kesakitan. Air mata lolos bersamaan dari kedua sudut matanya.


"Jawaaab, Chels ...!!!" Lagi-lagi Sutra berteriak. Matanya sudah merah menahan amarah. Seketika mereka jadi perhatian banyak pengunjung lantaran suara Sutra yang begitu kencang terdengar.

__ADS_1


Dega tak bisa berbuat apa-apa, tak mampu membela pujaan hatinya yang kali ini sudah membuatnya kecewa. Ia paham sebesar apa kekesalan Sutra pada Chelsea hingga membiarkan Sutra melakukan hal demikian.


Tubuh Chelsea bergetar. Gadis itu sungguh-sungguh ketakutan. Ia tidak pernah membayangkan kalau seorang Sutra yang di kenalnya lembut, ramah, dan baik bisa berubah sangat mengerikan saat panik kehilangan Kama.


"Jangan paksa gue melakukan hal yang lebih kasar lagi dari ini! Jawaaaaaab!!!!" Sutra menghempas tangan Chelsea yang di genggamnya tadi. Tampak bekas merah di sana.


"Hiks, a-aku ..., aku ninggalin Kama di lintasan bawah, Adrian ..." Suara Chelsea bergetar. Akhirnya ia mengaku pada Sutra.


Mata Sutra semakin lebar menatap Chelsea, giginya beradu. Kemarahan sudah memuncak di benaknya. Spontan Sutra mengangkat tangan ingin menampar Chelsea. Tapi Dega dengan sigap menghalangi. Ia berdiri di depan Chelsea dan menangkis tangan sahabatnya itu.


"Sut, istighfar ...!" Dega mengingatkan.


"Percuma lu mukul die, Kama kagak bakal balik. Ayo, buruan kite cari die sebelum hujan salju makin lebat!" ajak Dega menarik tangan Sutra.


Sutra pun menghentikan aksinya. Namun masih menatap Chelsea sinis sambil mengatur napas.


"Lo denger baik-baik, Chels! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istri gue, gue pastiin hidup lo akan menderita sampai kapanpun!" Ancam Sutra lalu pergi meninggalkan Chelsea bersama Dega.


Dega dan Sutra lantas berjalan cepat ke lintasan untuk mencari Kama, tapi dua orang petugas ski menghentikan langkah mereka, melarang mereka turun ke lintasan.


"No, no, no, it's closed! (tidak, tidak, tidak, ini sudah tutup!)," ucap salah seorang petugas.


"But my wife is still in the arena. Please, let me go after her. (Tapi istriku masih di arena bawah. Kumohon, biarkan aku menyusulnya)," Sutra memohon pada petugas itu.


"I'm sorry, but we can't allow that. It was too dangerous. Let our officer look for your wife (Maaf tapi kami tidak bisa mengijinkan nya. Itu terlalu berbahaya. Biarkan petugas kami yang mencari istri anda)," ucap petugas yang satunya lagi.


Mau tidak mau Sutra pun mengiyakan kalimat petugas ski, sebab itu adalah kawasan mereka. Jadi mereka lah yang tau bagaimana kondisi tempat itu dengan baik.


Babe ..., kamu di mana? Ya Allah, kumohon lindungi istriku, ya Allah ...


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Kama di mana guys??


Ya ampuuun, apakah Kama baik-baik saja??


Aaaah, 😱😫

__ADS_1


Don't don't forget, dukungan LIKE dan VOTE poin atau koin untuk author ya guys. Biar aku semakin semangat nampol Chelsea dan bokapnya yang nakaaal 😁


Terimakasiiih πŸ™


__ADS_2