
Please jangan lupa tinggalin jempol dan vote nya ya biar authornya makin semangat π€π
happy reading..
.
.
Kama dan Sutra sudah berada didalam kamar sekarang. Proses check in mereka tidak memakan waktu yang lama karena Sutra sudah membayarnya lebih dulu lewat aplikasi online tadi.
Agar Kama tidak salah paham, Sutra memesan kamar deluxe twin bed, yang artinya kamar luas dengan dua tempat tidur ukuran single. Kama sudah duduk ditepi ranjang. Gadis itu melepas sepatunya lalu bersandar ditumpukan bantal sembari meluruskan kakinya. Sementara Sutra duduk di kursi sambil menyalakan televisi untuk menutupi kegugupannya berduaan dengan Kama di kamar.
"Mas, sini.." panggil Kama pada Sutra
"Hah..?" Sutra melongo
Duh.., mau ngajak apa dia? Ah, otakku makin gak beres ini!
"A-aku solat dzuhur bentar ya. Udah jam satu soalnya. Kamu pesen makan siang dulu gih, minta bawain ke kamar. Kaki kamu pasti masih sakit kan.." Sutra menepis semua pikiran kotornya, sembari beranjak ke kamar mandi.
Saat Sutra sedang mengerjakan solat, Kama memesan makanan untuk mereka berdua lewat telepon kamar. Tanpa perlu bertanya lagi Kama langsung memesan makanan sesuai dengan seleranya dengan dua porsi sekaligus. Gadis itu masih ingat saat di Pulau Tidung Sutra mengatakan, kalau apapun yang dia makan Sutra pasti suka. Walau saat itu makanan yang dipesannya tidak enak.
Selesai solat, Sutra kembali duduk di kursi, berpura-pura fokus melihat tayangan tv.
"Mas..," panggil Kama seperti sebelumnya.
"Hm.." Sutra menoleh, menatap Kama dengan lebih santai sekarang. Otaknya sudah ia cuci ketika wudhu tadi.
"Sini..!" Kama menepuk lembut ranjang tempat ia duduk bersandar. Pelan-pelan Sutra melangkah, lalu duduk kaku ditepi ranjang.
"Kok disitu sih?! Lebih deket mas!" Kama kesal Sutra tidak paham dengan maksudnya.
Aduh, dia ini mau apa sih sebenarnya? Aku udah berusaha santai tapi diginiin terus.., bisa kacau lagi donk!
"Kelamaan!" Kama menarik Sutra mundur sejajar dengannya, bersandar ditumpukan bantal.
Hah, a-aku mau diapain??
"Tangan kirinya angkat!" perintah Kama dan Sutra pun menurut.
Saat itu juga Kama menyelusup diatas lengan kiri Sutra, menjadikan lengan kokoh itu sebagai sandaran kepalanya. Tangan kanannya masuk kebawah celah badan Sutra, sementara tangan kirinya melingkar di atas perut Sutra. Kama memeluk Sutra diatas ranjang, berbaring miring mengapit laki-laki itu.
Kembali jantung Sutra berpacu cepat, ia seperti sedang mengejar Valentino Rossi di sirkuit balap, yang sampai lebaran gajah sekalipun tak mungkin terkejar olehnya. Telapak tangan Sutra ikut bereaksi. Kamar dengan suhu AC yang dingin bahkan tidak mampu mengeringkan keringat ditelapak tangannya.
Setelah nyaman dengan posisinya, Kama kembali berucap,
"Mas.., tadi kamu sempat ketemu dia?" tanya Kama santai.
__ADS_1
Gadis ini memang sungguh tidak bisa ditebak apa maunya. Dia bisa dengan santai menempel seperti cicak dengan Sutra diatas ranjang tanpa canggung sedikitpun. Sementara Sutra sudah ketar-ketir menerima aksinya dengan segala was-was serta gejolak hasrat yang melompat-lompat ingin keluar. Maklumlah, sebagai laki-laki normal Sutra juga punya napsu, yang susah payah direndamnya kuat agar tidak terjadi hal yang diinginkan, eh maaf-maaf, maksudnya hal yang tidak diinginkan.
"Si-siapa maksud kamu?" Sutra bertanya balik
"Abah"
"Oh, enggak. Aku kaget dan langsung ngejar kamu tadi. Takut kamu kenapa-napa" jawab Sutra jujur.
"Maaf ya, udah bikin kamu khawatir.." ucap Kama lagi.
"Tapi orangtua kamu lebih kawatir loh saat ini.. Apa gak sebaiknya kita kabarin mereka?" perlahan Sutra sudah bisa mengontrol dirinya, dan menunjukkan kedewasaannya atas permasalahan Kama.
Tidak ada jawaban dari Kama.
"M.., maksudnya gini, biar aku yang jelasin ke Aji kalau kamu butuh waktu sebelum ketemu Abah. Setidaknya mereka tau kalau kamu baik-baik aja sama aku" jelas Sutra lagi.
"Yaudah terserah kamu. Tapi jangan tanya kapan aku mau balik!" jawab Kama tegas.
"Iyaaa.." Sutra tersenyum simpul. Setidaknya ia berhasil membujuk Kama untuk yang satu itu. Karena bagaimanapun ceritanya pasti keluarga Kama akan curiga juga tidak melihat keberadaan Sutra bersamaan Kama menghilang.
Tak berapa lama bel kamar berbunyi. Pelayan hotel datang mengantar makanan yang dipesan Kama tadi. Kama dan Sutra lantas menikmati makanan itu. Mereka makan sambil sesekali ngobrol ringan, bahkan Kama tersenyum dengan jokes garing dari Sutra. Tidak biasanya dia seperti itu. Banyak hal dari Kama yang begitu mengejutkan hari ini. Sikap dingin Kama yang dihapalnya betul, perlahan-lahan mulai mencair.
Pasti ini ada hubungannya dengan kisah masa lalu dia. Apa itu artinya PTSD Kama berangsur sembuh?
Aku betul-betul bingung dengan sikap kamu, Babe.. Hari ini kamu berubah jadi manja dengan terus menempel padaku. Ini dirimu yang sesungguhnya atau bukan sih???
"Kok gak diabisin, Babe?" tanya Sutra sembari mengunyah suapan terakhirnya.
"Buat kamu aja, Mas" Kama menggeser piringnya mendekati Sutra
"Gak! A-aku udah kenyang" Sutra menolak.
Aduh, mati aku! Makanan yang dia pesan gak pernah enak! Malah dikasi lagi!
Tapi Kama malah menyuapi Sutra dengan paksa.
"Buka mulutnya! Haaak..." mau tidak mau Sutra kembali mengunyah dibuat Kama.
"Itung-itung gantiin tenaga kamu waktu gendong aku tadi" Kama tersenyum simpul.
Aah, senyumnya bikin aku rontok. Tiga piring lagi makanan gak enak ini pun aku mau kalau bisa liat kamu terus senyum, Babe..
Ternyata cinta bisa bikin bahagia walau diatas derita. Apalagi cinta Sutra untuk Kama, tidak terukur berapa besarnya.
Selesai makan mereka membenahi piringnya. Menumpuknya jadi satu di sudut meja. Lalu mereka pun kembali ke posisi semula sesuai dengan permintaan Kama. Yakni posisi hangat diatas ranjang seperti tadi.
"Mas.." panggil Kama
__ADS_1
"Hm.." Sutra sudah lebih santai sembari menikmati kehangatan badan Kama yang menempel padanya. Ia bahkan mendekap tubuh gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Gimana sih cara ngilangin rasa takut?" Kama yang nyatanya pintar, seketika jadi bodoh saat menghadapi masalah.
"Hadapi dan temui, itu sih menurut aku.. Kita gak tau apa yang ada didepan kalau kita gak maju" Sutra paham maksud Kama. Ia bahkan memberi sedikit pandangan agar pikiran Kama terbuka.
Pasti ini soal abahnya
"Terus setelah itu rasa takutnya hilang?" Kama bertanya lagi.
"Mungkin masih ada, tapi setidaknya kamu jadi tau hal yang kamu takuti itu salah alamat atau tidak.." jawab Sutra
"Maksudnya?" Kama heran.
"Misalnya gini, kamu ngeliat ada kain putih terbang diatas pohon, terus kamu ketakutan. Udah histeris gak karuan, eh begitu di dekati ternyata jemuran tetangga ketiup angin, pas kebetulan warnanya putih. Kan jadi salah alamat takutnya, hehehe..." Sutra menjelaskan sembari tertawa kecil.
"Oh.. Tapi gak lucu" jawab Kama sembari mengelus-elus perut Sutra.
Eh, ngapain dia sekarang? Kok ngelus-ngelus begitu?
"A-aku paham kok maksud kamu, Babe. Soal abah kan. Tapi pendapat aku tetap sama. Rasa takut kamu bertemu dengannya harus dilawan dengan cara hadapi dan temui dia. Setelah itu kamu akan tau apa yang seharusnya terjadi. Bukan hanya menduga-duga dalam diam seperti ini"
"Lagipula apa yang harus kamu takuti dengan abah?" Sutra menelisik.
"Aku takut kecewa, takut mengulang kisah lama" kembali Kama mengelus-elus perut Sutra.
E-ee-eh.., dia ngapain sih?? Apa dia gak tau kalau itu kelakuan berbahaya?!
"Gi-gimana kamu bisa tau kalau gak ketemu beliau dulu..? Jangan berprasangka yang buruk sebelum menghadapinya langsung" Sutra memberi pengertian dengan sedikit gagap. Ia merasa geli dengan aksi Kama mengelus perutnya.
"Lagipula seandainya abah kamu menyakiti kamu lagi, aku siap jadi perisai kamu. Tumpahkan semuanya sama aku. Aku pastikan aku akan selalu ada buat kamu!" ucap Sutra yakin.
"Sekalipun kamu mau marahin aku, mau mukul aku, atau mau berkata-kata kasar sama aku, gak apa-apa. Aku terima. Asal jangan tinggalin aku, jangan putusin aku kayak waktu itu!" ujung bibir Sutra tersungging, ia teringat dengan malam hujan lebat yang menyedihkan, saat Kama memutuskan hubungan mereka.
"Serius?" Kama mendongakkan kepalanya, ia menatap Sutra hingga pandangan mereka bertemu. Kama menggeser pelan tangannya dari atas perut Sutra naik ke dada laki-laki itu.
"Sa-" belum sempat Sutra menjawab, ucapannya terpotong.
"Gak usah dijawab Mas! Aku udah tau jawabannya" senyuman manis tercetak penuh dibibir Kama. Gadis itu memandang Sutra dengan penuh cinta. Ia bisa merasakan semua isi hati Sutra bahkan yang terdalam sekalipun. Betapa beruntungnya ia memiliki kekasih yang mencintainya sebesar itu.
πππ
Next kaka.., next...
Abis elus-elus perut Kama ngapain lagi ya kira-kira?? π€£
Cekidot di next eps
__ADS_1