
Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Kuala Lumpur
Kriiiing !
Telepon ruang kerja Datuk Emran berbunyi.
"Hallo, Zizah. Ya, oke, sambungkan," saut si pemilik ruangan.
"Ya, Hallo, Tuan Sakamoto. Apa kabar?" Sekarang Datuk Emran menggunakan bahasa Inggris. Dia bicara dengan ayah Chelsea.
"Baik, terima kasih Datuk. Maaf, ada masalah apa anda mencari saya? Bukannya urusan kita sudah selesai? Saya berjanji tidak akan mengganggu siapapun lagi dari anggota keluarga anda," ucap Tuan Sakamoto begitu sopan. Tutur katanya ia atur agar tidak menyinggung Datuk Emran sama sekali.
"Terima kasih untuk itu, Tuan. Tapi aku ingin bicara santai denganmu saat ini. Apakah aku mengganggu?" tanya Datuk Emran.
"Oh ya, baiklah. Tapi maaf, bisakah anda menunggu sebentar, Datuk. Saya ingin menitipkan pesan pada anak buah saya. Tidak lama, hanya tiga puluh detik." pintanya.
"Baiklah, silahkan. Aku tunggu." Beberapa saat tidak ada suara di ujung telepon. Tampaknya Tuan Sakamoto sedang ngobrol dengan anak buahnya. Dan benar tidak lebih dari tiga puluh detik suaranya sudah muncul lagi.
"Hallo, Datuk. Maaf sudah membuat anda menunggu."
"Tidak masalah. Begini, Tuan Sakamoto. Aku pikir aku ingin mempertemukanmu dengan menantu dan anakku dalam waktu dekat, bisakah?" tanya Datuk Emran.
"A-apa? Maaf, Datuk. Tapi untuk apa mereka bertemu dengan saya? Apa masih ada masalah lain? Atau anak saya melakukan kesalahan lagi?" tanya Tuan Sakamoto cemas. Sedikit ketakutan mulai menyerangnya. Ia takut jika ada masalah baru yang melibatkan dirinya dan Chelsea sekali lagi, tidak akan ada ampunan dari kakaknya, Tuan Yamamoto Ryoma.
"Oh, bukan, bukan itu pointnya. Kau tidak perlu khawatir, Tuan. Menantu dan anakku hanya ingin berkenalan denganmu, sebab mereka berdua adalah sahabat dari anakmu." Kalimat Datuk Emran justru membuat Tuan Sakamoto semakin bingung. Bagaimana mungkin Chelsea bersahabat dengan Kama dan Sutra, sementara kemarin sudah tercipta masalah sebesar itu? Lagipula untuk apa mereka harus bertemu dengannya?
"Maksudnya bagaimana, Datuk? Saya kurang paham?"
"Begini Tuan, ada hal yang ingin mereka utarakan, dan ini menyangkut isi video waktu itu. Sebagai sahabat dari anakmu, mereka ingin meluruskan isi video dan membahasnya bersama. Termasuk dengan teman laki-laki yang ada di video itu, sebab mereka berempat bersahabat," jelas Datuk Emran tapi Tuan Sakamoto semakin bingung.
"Dan aku harap kau bisa menerima permintaanku ini. Anggaplah ini sebagai jalan persahabatan di antara kita juga," ucap Datuk Emran penuh penekanan. Berharap sekaligus memaksa.
__ADS_1
Datuk Emran memang pintar, caranya bicara dengan Tuan Sakamoto tak menurunkan harga dirinya sama sekali. Ia tidak meminta apapun untuk masalah Dega dan Chelsea seolah tidak tau menau, namun mengutus Kama dan Sutra untuk langsung mengutarakannnya. Menunjukkan bahwa ia tidak mengurus hal sepele yang akan menjatuhkan imagenya sebagai pengusaha besar yang sibuk berbisnis.
"Oke, Datuk. Baiklah, saya setuju. Kapan dan di mana waktunya silahkan mereka yang atur," saut Tuan Sakamoto. Ia bersedia membiarkan Kama dan Sutra yang menentukan waktu dan tempat, sebab rasa takutnya pada Datuk Emran.
"Jangan, tidak bisa begitu, Tuan. Kau adalah pebisnis dan mereka hanya anak-anak. Biarlah mereka yang mengikuti jadwalmu. Kapan kau ada waktu luang? Biar mereka berdua berangkat ke Jepang secepatnya," ucap Datuk Emran.
"Bagaimana kalau di Jakarta, Datuk? Kebetulan saya sedang berada di Jakarta untuk seminggu ini," saut Tuan Sakamoto.
"Wah, bagus. Kebetulan sekali, dekat dari Kuala Lumpur. Baiklah, besok pagi mereka akan berangkat ke Jakarta untuk menemuimu." Datuk Emran tersenyum di balik telepon.
"Baik, Datuk. Saya tunggu."
"Oke, terima kasih," ucap Datuk Emran mengakhiri telepon.
"Deal, beres. Besok yu dan Kama berangkat ke Jakarta. Cakap langsung dengan Ajinomoto." Datuk Emran tersenyum pada Sutra.
Apa? Ajinomoto? Bukannya itu mecin?
"Maaf, Abah. Ayah Chelsea namanya Ajinomoto?" tanya Sutra Heran.
"Hahaha ..." Datuk Emran tertawa lepas.
Ah, sialan, aku di kerjain.
"Maka tu jangan belagak besar tapi tak de hasil. Latih lah sikit pistol tu, biar pandai. Ape musti Abah ajarkan caranye?" sindir Datuk Emran membuat wajah Sutra semburat merah lantaran malu.
Nyebelin banget ni mertua! Dia gak tau kalau anaknya horor. Mau minta jatah aja sulitnya bukan main. Baru juga tiga kali doank yang berhasil, gimana mau hamil!
Loh, kok? Masa sih Kama dan Sutra baru tiga kali begituan? Iya, masa gak percaya. Nih ya, di urut. Kesuksesan pertama adalah waktu malam hujan salju di Stockholm. Lalu kesuksesan yang kedua adalah siang hari di The Iglo Glas, dan yang ketiga adalah kemarin malam, saat baru sampai di Kuala lumpur. Sisanya gagal total dengan penolakan tegas. Bagi Kama, sekali tidak ya tidak, tanpa beribu alasan.
Nah, kira-kira apakah tiga kali nelan bubur sumsum bisa langsung membuahkan benih cinta di tubuh Kerang Simping? Hanya sang pemilik kehidupan yang tau, beserta authornya πβοΈ. Jangan lupakan aku yang setia goyang jempol untuk menentukan takdir semua pemeran. Hehehe.
"Hehehe, gak, Bah. Gak usah. Adrian sama Kama juga gak pengen buru-buru dapat hasil kok. Sedikasinya aja sama Allah. Mungkin sekarang kita masih di suru pacaran dulu, nikmatin saat-saat berdua." Sutra memilih jawaban yang tepat dan aman daripada harus kepancing gondok ngeladenin ledekan mertuanya.
"Good, bijak menantu, Abah. Bulan depan proyek Pulau Trengganu yu lanjutkan. Abah tak puas juge kalau yu tak tengok langsong kat sane. Sekalian pacaran lah, tanam teros sawah tu," perintah Datuk Emran.
Ngomongin soal sawah, aku jadi inget Dega. Kira-kira gimana ya video saat dia nyawah bareng Chelsea, hahaha. Jadi penasaran.
πππ
__ADS_1
Jakarta
Tuan Sakamoto baru saja mengakhir pembicaraan di telepon. Dahinya berkerut, entah apa yang ia pikirkan. Namun ia kembali mendekati kedua anak buahnya serta Dega yang terkulai tak berdaya di lantai.
"Hei, kalian bersihkan tubuhnya. Obati dia dan rawat hingga sembuh. Kasih makan yang enak dan vitamin yang terbaik. Aku tidak jadi membunuhnya," perintahnya.
"Baik, Tuan," saut dua orang anak buah itu. Mereka lantas mengangkat tubuh Dega, membawanya ke sebuah rumah. Memandikannya, mengganti pakaiannya, lalu mengobati lukanya. Tak lupa mereka menyediakan makanan enak serta vitamin untuk Dega.
"Makanlah, setelah itu kamu makan vitamin ini," tunjuk salah seorang laki-laki berbaju hitam.
Sambil duduk bersandar di kepala ranjang, Dega terpelongo dengan semua perlakuan mereka.
Ini ape bukan jebakan ye? Sejam lalu gua di pukulin, eh sekarang malah di obatin. Ape jangan-jangan di makanannye ade racun?
"Kagak, pasti lu bedua nyampurin racun di mari kan?! Lu kagak bisa mukulin gua ampe mati, sekarang lu mau nyuru gua nelen racun biar gua mati dengan sendirinye," tuduh Dega.
Salah seorang laki-laki itu lantas melahap potongan kecil ayam yang ada di piring Dega.
"Kalau memang ada racun, aku yang lebih dulu mati," ucapnya.
"Lah terus ngapain lu bedua berubah jadi baek sekarang. Aneh!" Dega masih belum percaya.
"Jangankan kamu, kita juga heran. Udah jangan banyak nanya! Mumpung bos lagi baik, ya lalukan saja," perintahnya.
Berhubung perutnya pun lapar dan tenaganya habis terkuras akibat terlalu banyak di pukuli, Dega melahap makanan di hadapannya tanpa mikir-mikir lagi. Hanya dalam waktu dua menit makanan itupun habis tak bersisa.
"Gayanya sok nolak, gak taunya laper juga," celetuk salah seorang laki-laki baju hitam.
"Yaelah setdah ah, botak! Lu kagak tau aje gimana loyonya gua abis di gebukin," umpat Dega kesal.
"Eh, gua ampir lupa. Ada kaca kagak sih di mari? Pinjem donk," pintanya, namun tak ada jawaban dari kedua laki-laki itu.
"Woi, lu bedua budeg? Gua mau pinjem kaca, buruaaaan," desak Dega.
Sembari menghela napas kasar, salah satu dari mereka pun memberikan cermin berukuran sedang pada Dega yang langsung di sambarnya cepat kilat untuk melihat wajahnya.
"Alhamdulillaaaaah, muka gua bae-bae aje, cuma lembam dikit. Aset nih, kagak ade yang nyamain. Untung lu bedua kagak gebukin ampe ancur. Kalo iye, gua gibeng juga lu!" ancam Dega. Memang lagaknya si Dega ini kelewatan, udah gak berdaya pun dia masih bisa ngancem penculiknya. Padahal sudah jelas dia kalah kalau dikroyok oleh dua orang itu.
Moga-moga lu kagak ilfil ye ngeliat tampang gua yang rada lembam, Chels. Tapi hati gua kagak kok, gua kagak berubah, tetep cinte mati ame lu. Ah, Indonesia emang belum merdeka sepenuhnye. Buktinye hati gua udah terjajah ame lu, Chels ... Cewek Jepang kesayangan gua ....
__ADS_1
Wajah Dega memerah mengingat calon bininya. Eh, bakal kawin ato kagak juga belum tau, udah calon bini aje. Hahaha.