
Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€π
-
-
Astagaaa, ya Tuhan, Kamaaaaaa...! Matiiii aku..! Babe, kamu kenapa gak mikir dulu sebelum ngomong??? Sekarang bagaimana aku menjelaskan ke ayah dan ibu???
Sutra melirik Kama dengan wajah frustasi. Susah payah tadi ia sudah mengalihkan perhatian ibunya, tapi lagi-lagi Kama mengulangi kata 'menikah' didepan mereka. Sekarang sudah tidak ada alasan untuk mengelak, mau tidak mau ia harus menjelaskan rencana besarnya itu pada kedua orangtuanya.
"Sutraa! Jelasin sama ibu! Ini maksudnya apa?" Ajeng mengeraskan suaranya.
"Darling, calm down! You are scaring him.." Mr.Will menenangkan istrinya, ia mengusap bahu Ajeng lembut.
Kama hanya diam. Gadis itu baru tau kalau Sutra belum menjelaskan soal rencana pernikahan itu pada kedua orangtuanya.
Upss, jadi Mas Adrian belum cerita ke mereka. Salah sendiri! Mana aku tau akan jadi begini
"Ibu jangan marah duluu.., Sutra minta maaf.." Sutra merengek pada ibunya sembari berwajah murung khas anak kecil yang baru saja dimarahi.
Hih, rupanya Mas Adrian punya sifat begitu. Aku baru tau. Coba saja nanti setelah menikah dia begitu, aku tinggal pergi. Aku gak suka dengan cowok manja!
"Yasudah, sekarang jelasin sama ayah dan ibu.." Ajeng selalu kalah kalau anaknya sudah merengek. Nada suaranya sudah kembali seperti semula.
"Sutra cerita dari awal ya.." kedua orangtua itupun mengangguk.
"Sutra ketemu Kama sekitar lima bulan yang lalu, dibandara, waktu Sutra baru balik dari Bali. Kita sama-sama gak kenal bu, tapi kita gak sengaja berinteraksi, walau hanya sekilas. Saat itu kita bahkan gak mengingat wajah masing-masing.."
"Tapi Tuhan mempertemukan kami lagi, dikampus yang sama. Sutra mengajar di kelas Arsin (arsitek interior) yang ternyata ada Kama disana. Saat itulah Sutra baru tau kalau Kama adalah orang yang Sutra temui dibandara.."
"Waktu berlalu tanpa ada kedekatan diantara kami. Yang kami tau, Kama adalah mahasiswa dan Sutra dosennya. Tapi rencana Tuhan terus berlanjut. Kami selalu dipertemukan tanpa sengaja dibanyak tempat. Mungkin ada tujuh kali itu terjadi. Sampai pada saat Sutra hampir menabrak Kama dikawasan Ancol waktu itu.."
"Jadi yang hampir kamu tabrak waktu itu adalah Kama?" suara Ajeng begitu terkejut. Ia sampai berdiri dari sofa menghampiri Kama.
__ADS_1
"Iya bu.." jawab Sutra.
Ajeng mengangkat bahu Kama, mengajak gadis itu berdiri lalu memperhatikan tubuh Kama lekat-lekat dari depan hingga belakang.
"Kamu gak apa-apa kan Kama..? Gak ada yang lecet kan..?" tanya Ajeng khawatir. Bisa gawat mereka kalau anak konglomerat seperti Kama lecet gara-gara kelakuan anak laki-lakinya.
Kama tersenyum dan menggeleng.
"Gak apa-apa, Tante.. Gak lecet sedikitpun"
"Ah syukurlah.." ujar Ajeng lega.
"Sutra terusin ceritanya bu?" tanya Sutra kemudian.
"Tunggu, ibu mau minum dulu biar kepala ibu gak pusing.." Ajeng berlalu ke dapur meninggalkan mereka. Terlalu mengejutkan buatnya mendengar semua kenyataan ini. Ia ingin menenggak air dingin agar pikirannya fresh.
Tak berapa lama Ajeng kembali bersama dengan Retno yang membawakan minuman dingin untuk mereka. Sutra lantas melanjutkan ceritanya. Satu-persatu ia jelaskan tanpa ragu, karena ia pun sudah terbiasa ngobrol terbuka dengan kedua orangtuanya. Hingga berakhir dengan cerita pembahasan menikah yang sudah ia utarakan pada ayah Kama beberapa hari yang lalu.
"What about your wishes?" giliran Mr.Will yang bertanya.
"For the first time i wish she's the one, Ayah.." jawab Sutra yakin.
"Hm, oke, let's get ready for the wedding.." saut Mr.Will dengan senyum charmingnya.
"Eh, tunggu dulu!" tapi Ajeng buru-buru menyela. Ia belum bisa terima dengan kenyataan yang begitu mendadak ini. Menikahkan anak laki-laki satu-satunya yang baru berusia 24 tahun.
"Itukan kemauan Sutra, kita belum tanya gimana dengan kemauan Kama.." sambung Ajeng lagi. Seketika mereka semua menatap Kama bersamaan.
Apa aku jawab jujur ya kalau sebenernya akupun belum siap untuk menikah. Tapi aku juga gak mau dipisahin dari Mas Adrian. Aku butuh dia sampai penyakitku benar-benar sembuh.
"Gak apa-apa, Kama jawab aja yang jujur. Jangan terpaksa dengan keadaan kalau Kama memang belum siap menikah.." Ajeng menatap lekat manik mata Kama, seolah bisa memahami isi hati gadis itu.
Duh, kalimat ibu kok gitu sih??? Ibu malah bikin Kama jadi ragu entar. Gawat aku! Bisa batal kawinnya! Huwaaaa...
__ADS_1
Babe, pliiiis kamu jangan goyah. Tetap konsisten dengan keputusan kamu kemarin, Babe...
Sutra tak habis akal, entah darimana datang ide dikepalanya untuk meyakinkan Kama agar konsisten dengan rencana pernikahan yang sudah mereka bicarakan sebelumnya. Laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. Ia buru-buru mentransfer sejumlah uang ke rekening photographer yang sedang mereka tunggu, lalu mengirim buktinya ke pesan wa Kama.
-Sutra-
Babe, ini bukti transfer tadi. Biaya foto wisuda sekaligus DP foto prawedd kita.
Aku juga udah pesan cincin lamaran buat kamu kemarin, udah aku DP juga, tinggal nyocokin ukuran jari kamu aja.
Pesan sudah terkirim. Sekarang tinggal bagaimana membuat Kama melihat ponselnya.
"Saya-" ucapan Kama terputus.
"Babe, coba cek dulu deh hape kamu" Sutra cepat-cepat bicara.
Ajeng melirik kesal pada Sutra
Apa sih Sutra, orang mau ngomong dipotong!
"Maaf Bu, barusan Om nya Kama missed call Sutra.. Siapa tau ada yang penting" Sutra menjelaskan.
"Kok ponsel kamu gak bunyi?" Ajeng menelisik.
"Daritadi pagi Sutra silent Ibu.., kan acara wisuda. Sutra lupa balikin mode suaranya" makin kemari Sutra makin lihai saja berbohong.
"Yaudah Kama liat dulu deh ponselnya.." Ajeng akhirnya mengalah dan membiarkan Kama mengecek ponselnya.
Kama lantas membaca pesan wa Sutra. Seketika iapun tersenyum dan paham dengan apa yang sedang dikhawatirkan oleh pacarnya itu.
Hehe, Mas Adrian...
πππ
__ADS_1