When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Dada Bulu


__ADS_3

Eh eh guys pencet LIKE dan VOTE-nya dulu donks, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—


sarang buruuuung, eh sarangheyo 😘😘


-


-


Kepala Kama bergerak perlahan. Ia baru saja bangun dari tidur nyenyak yang membuatnya seolah sedang rebahan di atas rumput Jepang pekarangan rumah Aji Wayan. Eh, tapi setelah di lihat baik-baik, ternyata Kama sedang berada di atas rumput milik suaminya. Yakni dada berbulu bak rumput berjejer rapi yang tumbuh secara alami di atas body wow seorang bule Swedia.



Astaga, sejak kapan Mas Adrian buka baju? Kok aku udah di atas rumput kayak gini?


Kama memundurkan tubuhnya perlahan, mengatur jarak kepalanya dengan dada bidang Sutra.



Ternyata gerakan Kama menarik kesadaran Sutra dari tidurnya. Ya, Sutra terpaksa ikut tertidur lantaran istri cantiknya sudah lebih dulu terlelap dalam pelukannya.


Awalnya Sutra masih memandang butiran salju yang terpampang di luar jendela kamar, sambil sesekali mencium puncak kepala Kama. Namun, setelah setengah jam berlalu, laki-laki itu merasa kalau sweater yang ia kenakan terasa basah. Setelah di cek, ternyata istri cantiknya itu ngences lumayan banyak. Kama begitu menikmati tidurnya hingga tanpa sadar ia sudah mengalirkan mata air dari bibir tipisnya.


Kok mata air? Sebab ences yang Kama alirkan lumayan banyak. Mungkin ia sedang bermimpi habis kumur-kumur lalu menyemburkannya sembarangan, yang ternyata tumpah di atas sweater suaminya sendiri.


Lantaran ulah Kama itu, Sutra terpaksa melepas sweeternya agar Kama tidak masuk angin tidur di atas pakaian yang basah. Ah, so sweet. Demi cinta Sutra rela melepas pakaiannya dan menahan udara dingin yang semilir-semilir terasa walau mereka di dalam ruangan tertutup.


"Hei, kamu udah bangun lebih dulu, Babe." Sutra mengelus puncak kepala Kama.


"Kamu ngapain buka baju, Mas?" Kama langsung melontarkan pertanyaan itu. Ia bahkan mengintip ke dalam selimut, memastikan kalau ia masih mengenakan pakaian lengkap. Kama curiga kalau Sutra melakukan hal yang di inginkan laki-laki itu saat ia tertidur.


Sutra melebarkan matanya, heran dengan reaksi berlebihan Kama.


"Terus kamu ngapain ngecek diri kamu sendiri kayak gitu?" Bukannya menjawab, Sutra malah bertanya balik. Kama hanya menggeleng.


"Huuufft, kamu curiga sama aku?" Sutra menghembus napas panjang.


"Aku gak mungkin melakukan hal itu saat kamu sedang tidur, Babe," ucap Sutra lagi. Kama hanya diam mendengar.


"Mana ada feedbacknya, jadi pasti gak seru. Soalnya ..., kamu kan jagonya kissing." Sekarang Sutra tersenyum jahil menatap Kama.


"Ih, apaan sih," ucap Kama sewot. Kama membalikkan badan lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengambil botol air minum di atas nakas lalu meneguknya sampai habis. Wajahnya terasa panas saat Sutra mengatakan kalau ia jago dalam berciuman.


Enak aja dia ngomong gitu! Padahalkan itu semua dia yang ngajarin! Tau dari mana aku kalau bukan dari dia! Pake bilang-bilang jago segala. Ih, nyebelin!!


"Babe ...," panggil Sutra.

__ADS_1


"Apa?" saut Kama tanpa menoleh.


Ah, dia ngambek. Iiih, gemesnyaaa.


"Liat sini donk," bujuk Sutra.


"Aku laper, Mas. Pesen makanan yuk." Kama menoleh dan mengajak Sutra memesan makanan.


"Hooh, aku juga laper banget, Babe. Dari kemaren malah. Tapi kamu gak paham," ucap Sutra seraya mengerjap-ngerjapkan mata. Wajahnya seketika berubah sedih dan memelas.


"Ha?" Kama menautkan kedua alisnya lalu mendekat pada Sutra.


"Kamu sakit, Mas? Kok matanya kedap-kedip gitu? Terus kenapa gak makan dari kemarin?" Sejujurnya Sutra memang belum makan sejak kemarin malam hingga pagi tadi. Kehilangan Kama membuat selera makannya juga ikut hilang. Namun maksud kalimat Sutra tadi bukanlah soal makanan. Ia lapar menikmati kehangatan bersama dengan istri tercintanya.


Oh, istrikuuuuu. Ini bukan soal perut, tapi bagian bawah perut. Kapan kamu akan memahaminya, sayang????


"Iya, Babe, aku sakit," jawab Sutra asal.


"Apanya yang sakit, Mas?" tanya Kama panik.


"Itu." Sutra menunjuk ke bagian bawah tubuhnya.


"Sakit perut? Ya pasti donk. Kamu sih gak makan dari kemarin! Siapa suruh coba?! Aku aja makan, masa kamu enggak," omel Kama.


"Jangan bilang gara-gara mikirin aku, kamu sampe gak napsu makan. Harusnya kamu inget Mas, kalau kamu sakit, aku yang lebih khawatir lagi, lebih kepikiran lagi. Kamu udah pernah sakit yang bikin aku nangis setiap hari, Mas. Aku gak mau terulang lagi. Aku maunya kamu sehat dan terus ada di samping aku!" Kama menambah omelannya.


Bukannya di pahami, Sutra malah di omeli. Ia sudah hilang kesabaran menunggu Kama sadar dengan kemauannya. Reflek Sutra menarik pinggang Kama, membuat tubuhnya terhempas ke atas dada bidang Sutra. Otomatis wajah mereka berhadapan sangat dekat. Napas mereka beradu, jantung mereka pun saling menabuh.


"Mas ...," ucap Kama lirih.


"Yang sakit bukan perutku, Babe. Tapi di bawahnya," ucap Sutra pelan.


"Apa? Paha?" Memang keluguan Kama belum ada yang bisa menandingi. Di bawah perut dia malah nebaknya paha. Kan luar biasa.


"Di atas paha tapi di bawah perut." Namun jangan panggil Sutra kalau ia langsung kehilangan kata-kata.


"A-apa itu?" tanya Kama gugup. Wajahnya langsung memerah.


"Kamu pasti tau. Kita ulang saat di Stockholm yuk. Aku pengen, Babe ...," bisik Sutra lembut di telinga Kama. Desahan napasnya menyapu cuping telinga Kama, membangkitkan birahi hingga menari-nari.


Blush ! Seerrr !


Wajah Kama memerah sempurna. Bulu kuduknya merinding hingga muncul keinginan berlebih. Sutra berhasil dengan pancingan pertamanya.


"Apa kita gak ma hmmmnnn." Kalimat Kama terputus seiring dengan menempelnya bibir Sutra ke bibir Kama. Menyumbat mulutnya lewat ciuman hangat penuh mesra. Awal dari aktifitas penyatuan mereka siang itu.

__ADS_1


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dega menggendong tubuh Chelsea naik ke atas ranjang. Mengelus kepalanya lembut seraya membenahi rambut Chelsea yang menutupi wajah.


Chels ..." Dega mengoles minyak kayu putih ke hidung pujaan hatinya. Di genggamnya tangan gadis itu dengan erat. Kekhawatiran tampak jelas di wajah Dega.


Ya Allah, ada ape sebenernye ame Chelsea, ya Allah?


Mulut Dega berkomat kamit mengucapkan doa.


Dega janji bakal jadi anak sholeh. Kagak bakal bo'ongin Nyak ame Babe lagi. Tapi tolong lindungi Chelsea, ya Allah ...


Dalam hitungan menit akhirnya gadis pujaan Dega pun sadar dan mulai membuka matanya.


"Chels, lu udeh sadar? Lu kenape, Chels? Ya Allah ..., gua takut setengah mati liat lu tiba-tiba aje pingsan," ucap Dega.


Chelsea memandang wajah Dega dengan sendu. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya akan ada banjir bandang dari mata indah gadis itu.


"Chels, haduuuh, lu kenape? Cerita donk ... Baru berapa jam yang lalu lu minta gua bahagiain, eh sekarang lu udah kayak begini. Asli gua khawatir, Chels." Dega mengusap lembut kepala Chelsea.


Chelsea bangkit lalu duduk di atas ranjang. Matanya tak lepas memandang Dega tanpa berkedip. Sebab hanya dengan sekali kedipan, tanggul di matanya akan jebol dan banjir bandang pun tak terelakkan lagi.


"Papi aku, Ga ...," ucap Chelsea lirih. Suaranya tertahan bersamaan dengan air mata yg masih terbendung.


"Kenape Papi, lu?" tanya Dega.


Tes ! Blurrrrr ....


Tangis Chelsea akhirnya tumpah juga.


"Papi udah tau soal kita ..., hiks ..."


Saat itu juga wajah Dega berubah pucat. Pikirannya tertuju pada adegan satu malam mereka seminggu yang lalu.


"Ma-maksud l-lu soal yang i-itu?" Dega tergagap.


"Iyaaa, hiks ..." Isak tangis Chelsea tak berhenti seiring dengan tubuhnya yang bergetar. Ketakutan jelas tampak di wajahnya.


Ya Allah ..., tamat riwayat gua!


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Gimana nasib Dega nih? Apakah dia akan tamat beneran??


Yuk kepoin di next eps guys πŸ‘‡

__ADS_1


Cekidot


__ADS_2