
Jangan lupa bantuan LIKE dan VOTE-nya ya guys, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas ππ€
sarang buruuuung, eh sarangheyo ππ
-
-
Saat dua insan yang di pertemukan lewat sebuah kata jodoh, lalu menikah, Allah mengikat satu sama lain dari segala segi. Hubungan yang sah di mata agama dan negara membuat gerak, langkah, dan setiap tarikan napasmu menjadi beriringan, berirama satu dengan yang lainnya.
Itu juga yang seharusnya di rasakan oleh pasangan fenomenal, Kama dan Sutra. Keadaan lagi-lagi mengharuskan mereka berpisah beberapa jam untuk saat ini.
Kama tidak bisa tidur semalaman. Walau lelah tapi matanya tidak terpejam sama sekali. Pagi itu petugas penginapan tempat Kama bermalam, baru saja mengantar sarapan dan secangkir teh. Kama tampak memegang mug teh di tangannya sembari bersandar dengan bantal.
Tenang, damai, dan menghanyutkan. Pemandangan di hadapan Kama memiliki ketiga makna itu. Sejauh mata memandang hanya terlihat hutan dan timbunan salju di sana. Lantas di mana letak menghanyutkannya? Hanya orang-orang special seperti Kama yang paham tentang itu. Kama seolah hanyut dengan suasana di The Igloo Glass, hingga membuatnya lupa dengan semua masalah yang sedang di alaminya.
Persis seperti suasana di Pulau Tidung Kecil, tempat kencan pertama Kama dengan Sutra waktu itu. Walau pemandangannya berbeda tapi membawa makna yang sama bagi Kama. Perempuan itu merasa kalau suasana yang demikian bisa membuat otaknya fresh, jiwanya cooling down, dan perasaannya terhanyut. Menghiburnya di kala terpaksa berpisah dengan kekasih hatinya, Sutra.
Hujan salju lebat tadi malam mengharuskan Kama bermalam di The Igloo Glass, sebab dari tempat ia terjatuh kemarin, penginapan inilah yang paling dekat. Beruntung Aiman and the genk segera menemukan Kama sebelum hujan salju menimbun tubuhnya dalam.
Kemarin setelah Chelsea meninggalkannya, Kama kesusahan untuk bangkit. Kakinya yang terkait di papan ski menyulitkan ia berdiri. Apalagi sebelah pergelangan tangannya terkilir karena perbuatan Chelsea, si rubah betina, gadis gila yang terjebak dengan keegoisannya sendiri.
Sedang asik menikmati pemandang di hadapannya, entah kenapa tiba-tiba saja hati Kama bergetar. Ada rasa sesak di sana. Kama lantas bangkit dari rebahan, duduk di atas tempat tidur lalu meletakkan mug yang ia pegang ke atas nakas.
Huuuuufffttt ..., kenapa ya? Perasaanku gak enak.
Seketika Kama menjadi gelisah. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari hal yang ia sendiri tidak tau apa.
Mas Adrian ... Apa terjadi sesuatu dengan Mas Adrian? Ah, ya Tuhaaan, ada apa ini??
Semakin ia telusuri ada apa dengan hatinya, Kama semakin gelisah. Ia lantas berdiri perlahan mencari ponselnya. Ya, ponsel baru yang di berikan Aiman tadi malam.
"Kalau ade ape-ape, Kakak call ai dengan ini," ucap Aiman saat menyerahkan ponsel kecil pada Kama tadi malam.
Namun sanking kecilnya ponsel itu, entah terselip di mana Kama pun tidak tau. Ia terus mencari di atas nakas, dan di segala tempat di dekat tempat tidur.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok tok.tok !
Aiman?
Kama lantas berjalan menuju pintu. Sampai di depan pintu Kama mengenakan jaket musim dingin serta sandal bulu untuk melindungi dirinya dari hawa dingin saat membuka pintu kamar. Namun,
__ADS_1
Brak !
Kaki Kama terselip dan ia terjatuh ke sebelah kanan. Tangan kanannya yang terkilir tak mampu menopang tubuhnya hingga kejadian itu tak bisa lagi di hindari.
"Aaaaaa ...," pekik Kama.
πππ
Sutra baru saja mengetuk pintu ke sembilan yang ada di hadapannya. Tidak ada jawaban dari sana.
Beberapa menit kemudian terdengar suara gaduh dari dalam.
Brak !
"Aaaaaa ..." Terdengar suara jerit dari dalam kamar.
Ssssshhhh, aduuuh sakitnya ... Ini gara-gara kelakuan Chelsea! Kalau aja dia gak memelintir tanganku pasti gak akan seperti ini. Awas kamu, Chels! Tunggu kado dari aku!
Kama mengibas-ngibaskan tangannya sembari terduduk di lantai.
Babe, itu kamu? Aku yakin itu suara kamu!
"Babeee, kamu di dalam Babe? Babee, buka pintunya, Babe. Ini aku, kamu kenapa???" Sutra panik. Ia yakin betul kalau suara jeritan dari dalam adalah suara pujaan hatinya. Sutra lantas membuka paksa pintu, menekan handlenya berkali-kali sambil mendorong, namun tidak terbuka.
"Babeeee ...," panggil Sutra lagi.
"Kamu kenapa, Babe? Sama siapa kamu di dalam?" tanya Sutra panik.
"Sendiri, Mas ...," ucap Kama.
"Buka donk pintunya," pinta Sutra.
"Gak bisa, Mas ..., aku jatuh." Kama berusaha untuk berdiri tapi tangan kanannya semakin sakit.
"Yaudah aku dobrak aja ya! Kamu minggir, jangan di belakang pintu!" Baru saja Sutra ingin menerjang pintu kamar,
"Tunggu, Tuan!" James buru-buru menahan.
"Kenapa lagi, James? Istriku jatuh di dalam, aku harus segera menolongnya!" seru Sutra.
"Jangan Tuan! Anda tidak boleh merusak properti orang. Tunggu sebentar di sini. Aku akan berlari cepat menemui petugas penginapan dan meminta kunci darurat." James langsung berlari.
Apa yang di katakan James memang benar. Sutra tidak boleh merusak properti orang sembarangan, jika bukan dalam keadaan darurat. Sutra terlalu terbawa emosi hingga begitu menggebu ingin bertemu dengan pujaan hatinya.
"Babe, tunggu bentar ya. Temenku lagi minta kuncinya ke petugas." Akhirnya emosi Sutra mereda.
__ADS_1
"Iya, Mas, aku tungguin." Dari balik pintu Kama tersenyum lebar. Walau tangannya sakit, tapi hatinya bahagia sekarang, tidak ada perasaan sesak dan gelisah seperti yang di rasakannya tadi.
Mas Adrian ..., ternyata kamu ada di sini. Pantas hatiku gak karuan sejak tadi ...
Kalau bicara soal hati, Kama memang pemenangnya. Ia serius menempatkan hati sepenuhnya hanya untuk Sutra seorang. Hanya Sutra yang mampu menyentuh, menggerakkan, bahkan mengontrol keadaan hati Kama.
Kesensitifan hati Kama terhadap Sutra tidak bisa di ragukan lagi. Terbukti dengan jarak berapa meter, hati Kama mampu merasakan keberadaan Sutra sekalipun ia terkesan cuek dan datar.
"Babe, kamu baik-baik aja kan? Aku khawatir banget sama kamu, Babe ... Kamu tiba-tiba aja ngilang kemarin sore ..." Sutra bersandar di depan pintu, mengungkapkan segala kegundahan hatinya.
"Aku baik, Mas, cuma ..." Kama menjeda kalimatnya.
"Cuma apa?" tanya Sutra khawatir.
"Cuma aku nyasar kemarin waktu main ski." Kama berbohong. Ia masih sempat menutupi kesalahan Chelsea di depan Sutra.
Sutra tersenyum smirk, kepalanya menggeleng, tak habis pikir dengan jawaban Kama.
"Aku udah tau kelakuan Chelsea, Babe. Kamu gak usah nutupin dari aku," ucap Sutra.
"Terus, kamu gak apa-apain Chelsea kan Mas?" Kali ini Kama yang khawatir.
"Hampir," ucap Sutra singkat. Teringat dengan wajah menyebalkan Chelsea.
"Hampir gimana?" Kama penasaran.
"Hampir aku bunuh, dia." Sutra menjawab asal.
"Maaaasss!" spontan Kama berteriak, takut dengan jawaban suaminya.
"Loh, kamu kenapa, Babe? Ada yang sakit?" Bukannya paham dengan reaksi Kama, Sutra malah jadi panik. Untung James sudah muncul di belakang Sutra.
"Ini kuncinya, Tuan." James menyerahkan sebuah kunci.
Grek grek, ceklek !
Akhirnya pintu kamar pun terbuka.
"Babee ..." ucap Sutra.
πππ
Yess, Kama sudah bertemu dengan Sutra..
__ADS_1
Aaaaahh, kita lanjut gak guys?
Di next eps π, cekidot !