When Kama Meet Sutra 1&2

When Kama Meet Sutra 1&2
Season 2 - Kama Takut


__ADS_3

Jangan lupa bantuan jempol dan votenya ya gaes, biar aku makin semangat nulis, kamsiaaa, arigato gozaimas πŸ™πŸ€—πŸ˜˜


-


-


Ida Ayu terus menenangkan Kama, mengalihkan pikiran-pikiran buruk Kama soal hilangnya Sutra. Ida mengatakan kalau Sutra pasti tidak jauh dari sekitar apartemen dan meminta Kama untuk sabar menunggu hingga malam.


Mereka juga belum mengabari keluarga Zanyar, takut membuat khawatir yang berlebihan.


Tiga jam berlalu Sutra belum juga pulang. Jangankan pulang, kabarnya saja pun Kama tidak tau.


"Biang..., huuuh..." Kama menghembuskan napas kasar.


"Ini udah gak bener, Mas Adrian gak ada kabar sama sekali. Kama gak bisa nunggu lebih lama lagi!" Kama bangkit dari duduk. Ia beranjak pergi menuju lift dan menekan tombol turun.


"Bang..., macemane ni? Buat sesuatu lah..." rengek Ida pada Datuk Emran. Wanita paruh baya itu ikut panik melihat reaksi putrinya.


"Kama, tunggu!" Ida mencoba menahan Kama, tapi terlambat. Ia sudah masuk dan pintu lift pun tertutup.


Melihat kepergian anaknya, Datuk Emran pun meraih ponsel dalam saku celana. Mencoba menghubungi seseorang.


"Hallo, pi you tengok Kama. Die baru je turun ke lobi" sautnya pada seseorang di ujung telepon.


"Baik Datuk" ucap orang itu lalu memutus sambungan telepon.


"Bang, jom lah kite susul Kama!" ajak Ida.


"Tak usah. Abang dah suroh anak buah tengok die" jawab Datuk Emran santai.


"Aneh lah Abang ni macemnye! Menantu hilang pun Abang santai je! Sekarang anak pun nak menyusul!"


Ternyata daritadi Ida memperhatikan gelagat santai suaminya. Sejak Kama panik kehilangan Adrian, Datuk Emran bersikap biasa saja. Seolah tidak tau apa-apa dan tidak sibuk mencarinya.


"So, Ida mau Abang macemane?" Datuk Emran bertanya balik.


"Cari lah menantu kita tu! Kan anak buah Abang banyak!" tegas Ida. Ia sudah kesal sekarang. Mungkin hormon hamilnya pun juga berpengaruh besar terhadap emosinya.


"Galaknye..., iyelah-iyelah..." saut Datuk Emran sembari tersenyum.


Ada yang aneh di sini. Di saat Kama panik kehilangan Adrian, tapi Datuk Emran bersikap biasa saja.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Surabaya


Pesawat charter yang di naiki oleh Sutra dan Azfar baru saja landing di bandara Juanda. Sutra yang masih terlelap pelan-pelan di bangunkan oleh Azfar.


"Mas..., Mas Adrian..., bangun Mas..." Azfar menggoyang-goyangkan tubuh Sutra.


Perlahan Sutra pun membuka matanya, melihat sekeliling dengan bingung.


"Eh, di mana ini?" tanya Sutra.

__ADS_1


"Kamu siapa?" tanyanya lagi.


Belum sampai lima menit Sutra membuka mata, Azfar kembali memainkan jarinya di depan wajah Sutra. Gerakan jari yang membentuk formasi membuat mata Sutra terfokus padanya, lalu


Tlik !


Azfar pun menjentikkan jarinya dan,


"Ayo Mas, kita turun" ajaknya pada Sutra.


"Oke" jawab Sutra. Laki-laki itu sudah berhasil membuat Sutra kembali mengikuti setiap kalimatnya.


Mereka lantas turun dari tangga pesawat dan langsung naik ke mobil penjemput yang membawa mereka dari landasan ke pintu bandara.


Sampai di luar bandara, sebuah mobil van sudah menunggu untuk membawa mereka ke tempat selanjutnya.


"Adrian..." seseorang laki-laki menepuk bahu Adrian dari bangku belakang mobil van.


Seketika Sutra tersadar dari pengaruh hipnotis Azfar. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, mendapati kesadaran maksimal lebih dulu lalu menoleh kebelakang.


"Loh, Bang A-" laki-laki itu menghentikan bicara Sutra dengan kode tangannya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Kama berkeliling gedung apartemen yang di tinggali ayah dan ibunya. Matanya terus mencari sosok Sutra di setiap sudut. Ia bahkan sudah dua kali mengulang berkeliling, tapi belum juga menemui suaminya itu.


Semakin lama kegelisahan Kama semakin besar. Hatinya yang semula tak tenang kini berangsur menjadi takut.


Dimana kamu Mas...?? Jangan bikin aku takut! Gak lucu! Awas aja kalau kamu ngerjain aku!!!


Atau mungkin ini seperti kejadian di Depok, Mas Adrian mampir dan belanja di mall??


Satu jam berkeliling akhirnya Kama berhenti di taman apartemen. Keringat menetes di dahinya. Bukan lagi karena capek tapi lebih ke rasa takut yang terus menghantui.


Tapi ini sudah 4 jam sejak aku pulang dan Mas Adrian belum juga kembali


Kama lantas terduduk di tepi taman, ia mendongak ke langit malam yang di penuhi dengan bintang.


Di tariknya napas dalam untuk menenangkan diri, berharap otaknya bisa berpikir jernih setelah itu. Namun yang ia dapati adalah dua bulir kristal menetes dari sudut kedua matanya.


Mas..., aku takut... Ya, aku ngaku, aku takut sekarang! Aku takut kehilangan kamu Mas... Dimana kamu Mas...???


πŸƒπŸƒπŸƒ


Tokyo - Japan


"Lapor Tuan, pemuda itu sudah tidak ada lagi di Langham Residence Jakarta" ucap Robin yang baru saja menelepon Tuan Sakamoto.


Sekedar mengingatkan Robin adalah anak buah Tuan Sakamoto yang berdomisili di Jakarta.


"Lantas di mana dia?" tanya Tuan Sakamoto.


"Tidak ada kabar lagi Tuan, maaf saya kehilangan jejaknya" Robin mengakui kelalaiannya.

__ADS_1


"Dasar bodoh!! Begitu saja kau tidak becus!" sontak Tuan Sakamoto memaki Robin.


"Apa saja yang kau lakukan di sana?! Aku membayarmu untuk bekerja, bukan main-main! Ingat, seluruh keluargamu aku yang membiayainya, jadi jangan main-main bekerja denganku! Kau tau itu, Robin??!!" amarahnya lepas.


"Ma-maaf Tuan, sekali lagi saya minta maaf. Iya, saya tau Tuan..." Robin tergagap menjawab.


"Pokoknya aku tidak mau tau, kau cari kabarnya sampai ketemu! Sekaraaaang!!!" teriak Tuan Sakamoto lalu memutus sambungan telepon.


Ia lantas membanting ponselnya ke sofa.


Kurang ajar!! Ada yang coba main-main denganku!! Pasti dia tau kalau aku sedang mengincar pemuda itu. Huh, siapa dia?? Siapaaaa????


πŸƒπŸƒπŸƒ


Pagi sudah berganti malam, tapi Dega belum juga pergi dari apartemen Chelsea. Total sudah dua malam ia bersama dengan Chelsea di sini.


Bagaimana bisa? Apa Dega tidak tuker baju dari kemarin? Jawabannya hanya satu, semua ada dalam genggamanmu. Ya, jaman sudah canggih sekarang. Apapun bisa kau pesan dan bayar lewat ponsel.


Sejak memutuskan untuk menemani Chelsea, Dega membeli pakaian secara online sebanyak 3 pasang termasuk dalamannya. Ia langsung minta di antar ke apartemen Chelsea. Ia lantas mandi dan berganti dengan pakaian itu setelahnya.


"Kamu gak pulang, Ga?" tanya Chelsea yang melihat Dega baru selesai mandi dan berpakaian rapi.


Dega menggeleng,


"Nungguin lu baikan" jawabnya enteng.


Baikan? Memangnya aku sakit apa?


Kesedihan Chelsea perkara kejadian tak sengajanya bersama Dega sudah reda sekarang. Gadis itu tak lagi menyalahkan dirinya sendiri, bahkan Dega. Ia malah menikmati waktu bersama dengan Dega 2 hari ini.


"Aku sehat kok" jawab Chelsea.


"E..., itu, anu e..., itu lu yang kemarin sakit gara-gara gua..." Dega menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi salah tingkah sendiri saat menyinggung perbuatannya yang menyakiti bagian inti Chelsea kemarin.


Ternyata bukan hanya Dega yang salah tingkah. Chelsea juga ikutan malu mendengar kalimatnya. Gadis itu berbalik membelakangi Dega.


Apaan sih? Kok bahas itu lagi...


"Gua kan dah bilang bakal tanggung jawab. Jadi gua kagak kemana-mana sebelum lu sembuh. Kalo lu ada perlu apa-apa tinggal bilang ke gua, biar gua yang kerjain" sambung Dega lagi.


Walau sebelumnya Chelsea tidak pernah menganggap Dega sebagai laki-laki sempurna, tapi kali ini ia cukup tersentuh dengan rasa tanggungjawab yang begitu besar dari Dega.


Dega tulus dengan niatnya. Ia sungguh-sungguh dengan kalimat yang sudah di ucapkannya untuk Chelsea kemarin.


Mulai saat ini hidup gua cuma buat lu, Chels...


Di sinilah letak pencarian terakhir sang playboy cap dua angsa, Dega. Ia tidak lagi mengepakkan sayap melirik setiap lekukan indah di hadapannya. Namun sudah terpahat di titik pendaratan sempurna walau harus di awali dengan ketidaksengajaan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Pasti makin kepo kan sama dalang penculikan Sutra...


Oh Sutraaaa, come to Kama, pleaseee...

__ADS_1


Yuk kita kepoin di next bab nya πŸ‘‡


__ADS_2