
“Sudah siap bang,” jawab Mala yang menyodorkan beberapa surat jalan itu ke Aska.
Setelah itu Aska mengambilnya dan memeriksa lembaran demi lembaran surat tugas tersebut. Matanya membelalak sempurna kemudian memandang Mala, “Banyak sekali yang dikirim. Apakah mereka adalah langganan sini?”
“Tidak tahu bang. Aku kan masih baru di sini jadi belum paham juga. Pak Broto yang menyuruhku menginput semua data untuk jadikan surat jalan,” jawab Mala yang tidak tahu apa-apa.
“Kalau begitu... aku pamit Teh. Waktu sudah semakin siang. Nanti bosnya marah lagi,” pamit Aska.
“Silakan bang. Hati-hati di jalan,” balas Mala.
Aska bergegas meninggalkan kantor itu untuk menuju ke area parkir. Sebelum pergi dari perkebunan Aska meminta untuk memeriksanya kembali. Ia sangat teliti dalam pengecekan barang. Pria bertubuh kurus itu tidak mau ada yang ketinggalan. Pak Ahmad pun setuju dan membiarkan Aska mengeceknya satu persatu.
Setelah selesai Pak Ahmad bersama Tono sudah berangkat terlebih dahulu tanpa berpamitan. Lalu Aska tidak sengaja melihat mobil Pak Ahmad sudah melesat jauh. Ia hanya memijat keningnya sambil berkata, “Kalau urusan melesat saja duluan. Lalu bagaimana aku yang tidak bisa membawa mobil? Aku harus belajar mobil jika ada waktu senggang. Jika tidak aku tidak bisa membalap Pak Ahmad di jalanan.”
Beberapa saat kemudian datang Romeo dan Pak Broto. Pak Broto langsung menepuk bahu Aska sambil memberikan perintah, “Kamu berangkat sama Roni saja!”
“Apakah bapak sudah menerima Mas Romi sebagai pegawai sini?” tanya Aska.
“Iya... Bapak sudah menerimanya. Kamu tahu kan kalau di sini sedang kekurangan sopir. Mobil banyak tapi nggak ada supirnya. Lalu bagaimana kalau secara bersamaan mengirim barang,” jawab Pak Broto.
__ADS_1
“Aku ingin belajar membawa mobil Pak,” ucap Aska.
“Nah itu lebih bagus. Jika bisa membawa mobil, kamu bisa mengantarkan buah-buahan ke tempat yang dituju,” sahut Pak Broto.
“Niat saya bukan itu Pak. Saya mengejar Pak Ahmad. Saya kesel sekali sama bapak tua itu. Bawa mobilnya nggak kira-kira. Langsung melesat seperti naga,” kesel Aska yang dibarengi Pak Broto dan Romi tertawa.
Kedua pria berbeda generasi itu tertawa mendengar kekesalan Aska. Bisa-bisanya belajar membawa mobil hanya karena membalap Pak Ahmad. Andaikan saja Aska tahu Pak Ahmad itu siapa? Pasti Aska terbengong tidak percaya.
“Kiriman ke Aska Food Internasional sangat banyak ya pak. Aku kira perusahaan tersebut tidak mengambil buah-buahan dari sini?” tanya Aska yang penasaran.
“Mereka selalu mengambil buah-buahan di sini. Sekalinya mengambil bisa berton-ton buah berkualitas bagus. Memang mereka sudah berlangganan dengan kita kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Itulah kenapa penghasilan perkebunan ini sangat melimpah ruah. Tapi tidak ada para pemuda yang mau bekerja di sini. Padahal di sini sedang kekurangan banyak pegawai. Seperti contohnya sopir di sini. Kita hanya memiliki lima sopir saja. Itupun mereka merangkap sebagai petani buah-buahan. Padahal aku memberikan upah yang cukup besar sekali. Seluruh kebutuhan keluarga para pegawai di sini sudah menjadi jaminan kita. Makanya kamu jangan heran jika setiap panen lembur dua hari dua malam. Jika banyak pegawai maka tidak akan menjadi acara lembur. Itulah aku bingung, bagaimana caranya aku bisa mengambil dua puluh orang menjadi pegawai,” ungkap Pak Broto yang sedang krisis pegawai.
“Kalau begitu kamu boleh turun tangan untuk menyeleksi pegawai. Aku tahu kamu sangat peka terhadap orang-orang yang memiliki semangat untuk bekerja. Dan satu lagi kamu bisa mengurusi semuanya untuk memasang iklan di koran dan internet. Soal biaya nanti kamu tinggal minta saja berapa,” pesan pak Broto yang membuat ada kebingungan.
“Pak maaf sebelumnya. Saya ini pegawai biasa dan hanya petani buah. Itupun saya hanya otodidak dari bapak. Saya juga belum menguasai semuanya. Kok bapak memberikan saya kepercayaan menyeleksi para pegawai? Apalagi lulusan saya hanya SMA. Saya nggak enak sama bapak,” ucap Aska yang benar-benar ketakutan.
“Enggak Aska. Kamu juga turut berperan di sini. Semenjak kamu masuk sekolah SMA, kamu sudah menjadi pegawai tetap sini. Meskipun kamu disibukkan kegiatan sekolah kamu yang banyak itu. Selain itu juga kamu memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sayang sekali bila kecerdasan kamu tidak diolah. Siapa tahu kamu bisa memegang perkebunan ini jika bapak tidak ada. Kamulah yang bapak andalkan menjadi orang penting di sini,” pinta Pak Broto yang disaksikan oleh Romeo.
“Tapi Pak... Saya tidak berhak memegang perkebunan ini. Harusnya anak bapak yang memegang perkebunan di sini,” tolak Aska karena tidak enak dengan Pak Broto.
__ADS_1
“Ini sudah menjadi ketentuan. Pokoknya kamu harus belajar lebih keras dan memegang perkebunan ini. Kamu adalah seorang pria yang bijaksana sekali. Kamu tidak boleh menolak itu karena kesempatan ini tidak datang untuk kedua kalinya. Kamu harus semangat untuk menjalani hidupmu. Berangkatlah... hari sudah siang. Pengiriman barang sampai jam dua saja. Karena hari ini adalah hari Senin. Ketentuan perusahaan tersebut memang begitu,” ujar Pak Broto yang meninggalkan Aska bersama Romeo sendiri.
Melihat kepergian Pak Broto, Aska menggelengkan kepalanya. Baginya perkataan Pak Broto itu tidak mungkin. Karena dirinya sadar kalau Aska adalah anak dari keluarga biasa. Apalagi ibu yang memiliki jiwa sakit. Lalu Romeo menepuk pundak Aska. Pria bertubuh gempal itu menatap Aska yang sedang kebingungan. Sedari tadi Romeo hanya diam saja. Ia sengaja berpura-pura tidak tahu akan masalah ini.
“Aska,” panggil Romeo.
“Iya,” sahut Aska. “Boleh nggak aku panggil abang?”
“Abang itu apa?” tanya Romeo yang tidak paham dengan panggilan Abang.
“Lho... Bukannya Abang sudah lama di sini?” tanya Aska yang bingung.
Jujur Romeo tidak tahu dengan sebutan Abang. Sebenarnya Romeo sudah lama tinggal di Indonesia. Namun ia tidak pernah bergaul dengan orang-orang seperti Aska. Dirinya membantu Christina untuk mengurusi pabrik. Beberapa hari ini Maria sang asisten Christina memintanya untuk pergi ke kebun. Maria memberikan tugas untuk Romeo agar memantau keadaan Aska. Romeo pun setuju atas permintaan Maria. Selain itu juga Maria meminta tolong kepadanya untuk menjaga Aska.
Sering sekali Maria datang ke perkebunan hanya untuk mengecek kabarnya Aska. Gadis bertubuh ramping itu sering menginap di rumah Winda. Iya menjadi saksi mata bahwa Aska sering mendapat perlakuan tidak pantas dari ibunya. Makanya Mario segera menurunkan Mario untuk melindungi Aska.
“Aska, Abang itu apa?” tanya Romeo lagi.
__ADS_1