Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Mulai Mengetahui Keluarga Aslinya.


__ADS_3

"Apakah kamu memiliki ponsel?" tanya Christina.


"Tidak punya Bu," jawab Aska tertunduk lesu.


"Bagaimana kamu tidak memiliki ponsel? Jika Ibu butuh kamu bagaimana?" tanya Christina.


"Uang yang aku dapatkan selama bekerja, uangnya diminta sama Bu Minah. Aku tidak memiliki uang sama sekali," jawab Aska.


"Ke mana uang kamu itu? Seharusnya kamu menyimpannya sendiri kan?" tanya Christina sambil mengerutkan keningnya.


"Uangnya selalu habis terus. Aku nggak tahu buat apa. Setiap aku tanya, uangnya berada di bank," jawab Aska.


"Apakah kamu tidak pernah menyelidikinya?"


"Sudah Bu. Uang itu masuk ke dalam kantongnya. Aku tanya buat apa uang itu? Dia tidak jawab apa-apa. Malah menyentakku dan disuruh mencari uang yang banyak. Itulah kenapa aku tidak bisa memiliki uang pribadi. Kalaupun bisa dia selalu memintanya."


"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kamu tidak boleh kembali lagi ke sana. ikutlah bersama ibu," pinta Christina.


"Apakah kita tidak melakukan tes DNA?" tanya Aska.


"Buat apa tes DNA? Bukankah kita sudah memiliki wajah yang sama? Cobalah lihat wajahmu yang mirip sekali sama Ibu. Matamu seperti elang mirip sekali sama ayahmu. Jadi tidak perlu tes DNA," jawab Christina.


"Jika ayahku masih hidup, lalu siapa yang tinggal bersamaku?"


"Ibu juga tidak tahu. Ibu juga tahunya tadi pas Pak Broto memberitahukan kalau ayahmu masih hidup. Ada perasaan bahagia di dalam hati ibu. Andaikan saja kalau ayahmu sudah tidak ada. Ibu sangat bersalah kepada ayahmu."


"Jadi, aku merasa masalah ibu dan ayah sangat rumit sekali. Aku belum bisa mengungkapkannya sekarang. Tapi ijinkanlah aku untuk membuka tabir rahasia kalian berdua."


"Kami nggak memiliki rahasia apapun Aska. Kalau ibu cerita sekarang masa ini sangat rumit sekali. Ibu tidak mau kamu terbebani sekaligus. Tunggu kakekmu datang."


"Apakah aku punya kakek?"


"Ya kamu masih punya kakek dan nenek. Mereka tinggal di Prancis dan menetap di sana selamanya. Ibu dengar mereka akan ke sini untuk bertemu kamu."

__ADS_1


"Apakah ibu memiliki masalah dengan mereka?"


"Tidak ada. Ibu tidak memiliki masalah sama kakek nenekmu. Ibu kan sibuk jarang sekali berkumpul bersama mereka. Jadi maklumlah."


"Kalau begitu syukurlah. Semoga masalah ini cepat terselesaikan."


"Tapi Bu, Ibu Minah itu siapanya kita?"


"Haruskah Ibu menjawabnya sekarang?"


"Iya Bu."


Christina menatap wajah sang putra seperti sangat ketakutan. Entah kenapa dirinya merasakan ada yang janggal kepada Sang putra. Iya tidak kuasa melihat Sang putra menderita. Hatinya bertanya-tanya, Ada apa dengan Minah? Apakah Minah menyiksa anakku? Jika ia maka tidak akan kubiarkan hidupnya bahagia.


Christina akan menyimpan pertanyaan itu di dalam hatinya. Suatu saat nanti dirinya akan bertanya kepada Aska. Untuk sekarang ia membiarkan Sang putra beristirahat.


"Aska," panggil Christina.


"Iya Bu," sahut Aska.


"Baiklah Bu. Terima kasih banyak," balas Aska dengan wajah penuh sumringah.


"Kalau begitu Ibu antar kamu ke kamar!" ajak Christina.


Christina akhirnya mengajak Azka menuju ke kamarnya. Jauh-jauh hari sebelum kedatangannya, Christina sudah menyiapkan kamar Sang putra. Jujur saja wanita paruh baya itu sangat bahagia sekali bertemu dengan Sang putra. Di sisi lain hatinya berubah menjadi penuh amarah.


Selama hidup bersama Minah, ternyata Sang putra sangat menderita sekali. Benar apa yang dikatakan oleh mata-matanya, Aska sering mendapat siksaan yang terkadang menyakitkan.


Banyak sekali teman-temannya yang menjauhinya. Karena setiap bertemu selalu saja Minah mengganggunya. Bahkan wanita tua itu membuat fitnah agar menjauhi Aska.


Sejujurnya Christina tidak menyukai Minah sama sekali. Sedari dulu wanita ular itu selalu mengganggu kebahagiaannya. Lalu, siapakah Minah sebenarnya? Yang selalu saja membuat onar di kehidupan Christina.


Setelah sampai di kamar, Christina menyuruh Aska masuk. Namun belum sempat masuk, Aska sudah melihat kemewahan kamarnya. Dirinya sangat bingung dan harus mengucapkan apa? Sementara itu di kampung Aska tidak pernah memiliki kamar yang bagus.

__ADS_1


Kamar yang sering ditempatinya tidak pernah terawat sekalipun. Sering sekali kamarnya berdebu dan kotor. Bagaimana merawatnya? Jika Aska tiap pagi berangkat kerja lalu malam pulang ke rumah. Minggu pun dirinya tidak pernah di rumah.


Bukan tidak pernah di rumah. Akan tetapi setiap di rumah ada saja drama yang tidak penting dari Minah. Salah satunya adalah panci berterbangan hingga menimbulkan suara yang mengenaskan bagi Aska. Bayangkan saja setiap hari libur, bagi setiap manusia hari itu adalah hari di mana bisa beristirahat. Berkumpul bersama keluarga dan menikmati suasana rumah.


Ini tidak. Malah suara-suara yang bisa membuat jantung tiba-tiba saja melemah. Untung saja Aska tidak memiliki penyakit jantung. Saat diam Minah selalu membuang seluruh panci di dalam dapur keluar rumah.


"Ini adalah kamarmu. Ibu sudah menyiapkan jauh-jauh hari," ucap Christina dengan lembut.


"Tapi Bu, aku tidak pantas mendapatkan ini," tolak Aska yang tidak pantas untuk mendapatkan kemewahan.


"Tidak, kamu tidak perlu menolaknya. Terimalah... Jangan kamu menolaknya," pinta Christina dengan lembut.


Terpaksa Aska menerima kamar itu. Bukan terpaksa namun Aska terkejut dengan hari ini yang serba mendadak. Bagaimana tidak dirinya hidup istilahnya menjadi gembel? Tiba-tiba saja hidupnya berubah menjadi anak konglomerat. Hatinya masih bertanya-tanya, Kenapa ini bisa terjadi.


Seketika Aska masuk ke dalam dan melihat kamar tersebut. Kamar yang didominasi dengan warna putih dan biru cerah membuat hatinya damai. Entah kenapa saat melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Aska merasakan bebannya berkurang.


Aska menatap kamar itu sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dirinya tidak sengaja menghitung berapa nominal saat sang ibu membuat kamar itu?


"Aku rasa ibu menghabiskan uangnya untuk membuat kamar ini," gumam Aska yang menghempaskan bokongnya di atas ranjang empuk.


Entah kenapa dirinya seakan tidak percaya dengan kenyataan ini. Hatinya masih bertanya-tanya tentang masa lalu kedua orang tuanya. Kemudian ada satu nama di dalam hatinya. Nama itu adalah Minah.


Mau tidak mau Azka akhirnya mencari jawabannya sendiri. Jika Minah bersalah maka dirinya tidak akan pernah melepaskan wanita tua itu. Ia tidak mau membuat semuanya menjadi kacau. Perlahan tapi pasti hatinya sudah mulai mencari jawaban yang sebenarnya.


Perkebunan buah milik Aska.


Pak Broto dan Bu Siti Baru saja sampai di rumahnya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah sambil tersenyum sumringah. Hati mereka sangat lega karena sudah menggiring Tuan mudanya kembali ke dalam pangkuan ibunya.


Namun mereka masih merasakan cemas yang mendalam. Cepat atau lambat Minah dan Benjamin menyerang mereka. Diam-diam mereka berdoa agar itu tidak terjadi. Kalaupun terjadi maka tuan muda harus melindungi sang ibu.


"Syukurlah, Hari ini aku bahagia melihat tuan muda sudah kembali ke pangkuan Nyonya Christina," ucap Bu Siti.


"Kamu benar Bu. Sedari dulu bapak berencana mengumpulkan mereka. Tapi," sahut Pak Broto yang menggantung.

__ADS_1


"Tapi apa Pak?" tanya Bu Siti.


__ADS_2