Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Memang Aku Anak Ayah.


__ADS_3

"Kamu tidak pernah salah sama sekali. Orang memaafkan itu lebih sulit ketimbang berbuat kesalahan. Aku yakin hatimu sangat lega sekali ketika Minah bercerita," jawab Adrian sambil tersenyum melihat sang putra bertambah dewasa.


"Sangat lega. Bahkan aku sendiri sudah tidak memiliki dendam apapun ke Minah. Biarkanlah Minah hidup bahagia. Sebagai gantinya karena dia telah merawatku. Aku akan mencarikan putranya yang telah hilang itu. Semoga saja sang putra bisa diketemukan dan kembali ke Minah," ucap Aska yang membuat Adrian tersenyum bahagia.


Itulah namanya manusia. Harus saling memaafkan meski berat. Sekarang beban hidup Aska mulai berkurang. Aska akan mengembalikan rencana selanjutnya. Yaitu menjebak Benjamin. Bagaimana dengan Adrian? Adrian tidak mempermasalahkan soal itu. Bahkan ia akan membantu Aska untuk menjalankan rencana tersebut.


"Ayah akan membantumu. Ayah juga sudah geram dengan Benjamin," kesal Adrian.


"Jangan lakukan itu ayah. Ayah adalah seorang polisi. Aku tidak mau ayah mendapatkan masalah besar," pinta Aska.


"Itu tidak bisa. Ini adalah perjanjianku bersama kakek Lione. Yang di mana sang kakek meminta Benjamin datang ke sini hidup-hidup. Berarti aku tidak membunuhnya sama sekali. Kamu juga tidak akan membunuhnya. Jadi kita tidak akan memiliki masalah besar. Ingatlah Benjamin memiliki hutang banyak kepada kakek Lione? Dia tidak akan bisa membayarnya begitu saja. Maka dari itu Benjamin akan menukarkan nyawanya dengan uang itu. Apakah kamu paham?" tanya Adrian yang sengaja membuat perjanjian itu kepada kakek Lione sebelum berangkat ke Milan.


Aska hanya menganggukkan kepalanya dan paham apa maksudnya. Setelah itu mereka memutuskan untuk tidur.


Sementara Luke naik ke atas sambil mengunjungi Minah. Luke menatap Minah dengan wajah bahagia. Pria itu diam-diam telah menaruh hati kepada Minah semenjak sekolah. Ia menyimpan perasaan itu sudah sejak lama. Untungnya Luke belum menikah sama sekali. Hal ini dikarenakan Luke lupa menikah. Ditambah lagi dirinya bekerja di kesatuan polisi pembasmi mafia.


Jujur Luke ketakutan jika ia menikah. Cepat atau lambat sang istri maupun anak-anaknya akan menjadi incaran. Yang di mana mereka tidak aman ketika melakukan aktivitas di luar rumah.


"Minah," panggil Luke.


"Ah iya Tuan Luke," sahut Minah.


"Kenapa sih kamu manggilku pakai tuan?" tanya Luke yang kesal dengan Minah.

__ADS_1


"Aku harus menghormatimu sebagai orang terpandang. Aku hanyalah orang biasa. Jarak antara kita itu sudah sangat jauh sekali," jawab Minah dengan jujur.


"Aku paham itu. Jadi kamu tidak perlu lagi memanggil tuan. Aku ingin kamu kembali ke masa lalu. Yang di mana kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan tuan. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Luke yang menghempaskan bokongnya di sofa.


"Kabarku baik-baik saja. Semoga saja aku bisa menemukan kedua orang tuaku. Aku memang salah dalam menjalani hidup ini. Aku dipaksa sama Benjamin hidup bersamanya. Tapi dia tidak pernah menyayangiku Dan mencintaiku. Bahkan ketika aku memiliki seorang anak. Benjamin telah memisahkan putraku. Aku nggak tahu di mana keberadaan putraku itu," jelas Minah yang membuat Luke terkejut dengan pernyataannya.


"Jadi selama ini kamu?" tanya Luke.


"Iya itu benar. Hingga akhirnya aku disuruh merawat Aska," jawab Minah.


"Kalau begitu kamu nggak usah ikut dengannya. Kamu sangat menderita sekali," ucap Luke.5


"Yang namanya takdir harus dijalankan. Banyak sekali pelajaran yang harus aku ketahui. Karena aku sendiri bukan manusia yang sempurna," sahut Minah. "Pulanglah ke rumahmu sana! Aku tidak mau kamu terkena masalah dengan istrimu! Jika istrimu marah! Aku tidak bisa bertanggung jawab!"


Mendengar nama Jamaludin, hati Minah terbakar dendam. Gara-gara Jamaludin hidupnya sangat berantakan. Andai saja jika dirinya tidak mengenal Jamaludin. Kemungkinan besar ia bisa hidup dengan tenang. Namun semuanya berubah, hidupnya hancur berantakan seperti ini.


"Aku tidak mau Jamaludin hidup. Aku tidak ingin Jamaludin bisa bernafas dengan lega. Gara-gara Jamaludin, hidupku berantakan sama sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Maka dari itu aku hanya ingin melihat Jamaludin mati mengenaskan," Minah menundukkan wajahnya lalu menangis terisak.


Luka yang melihat Minah hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana tidak Luke sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Minah. Jalan terbaiknya adalah menyembuhkan luka Minah dan membalutnya. Namun dirinya belum berani melakukan itu semua. Sebab hidupnya belum aman untuk menghabisi jaringan Jamaludin.


"Janganlah menangis seperti itu. Kamu tidak pantas menangisi masa lalumu yang kejam. Tersenyumlah bahagia jangan pernah menyerah pada keadaan. Setelah ini jadilah orang baik. Jika misiku selesai, Aku akan mencarimu. Doakan aku biar selamat," pinta Luke yang membuat Minah kembali menangis.


Pagi yang cerah di kota Milan. Akhirnya ada terdiam. Akan memikirkan cara, bagaimana dirinya bisa menjebak Benjamin? Lalu Aska melihat sang ayah sedang berganti pakaian.

__ADS_1


"Apakah kita tidak menjebak Benjamin terlebih dahulu? Mumpung di sini kita bisa melakukannya," tanya Aska yang membuat sang ayah menoleh ke arahnya.


"Bener-bener deh sifatku Yang ini dipakai!" Keluh Adrian.


"Memang aku anak ayah. Lalu aku anak siapa? Masa anak orang," tanya Aska.


"Sifat licikku ini jangan dipakai. Aku mau kamu memakai sifat baikmu untuk menolong semua orang," jawab Adrian yang kesal pada putranya itu.


Aska hanya menahan tawanya karena melihat sang ayah kesal. Tiba-tiba saja ponsel Aska berdering. Ia langsung meraih ponsel itu di atas nakas. Kemudian Aska melihat sang istri sedang menelponnya.


Aska menatap wajah Adrian sambil memberikan kode agar tutup telinga. Namun Adrian sendiri tidak mau. Adrian memutuskan meraih ponselnya dan duduk di sofa. Mau tidak mau Aska menggeser ikon hijau tersebut. Lalu dirinya menyapa, "Selamat pagi sayangku."


"Cih... Pakai sayang sayang segala," kesal Adrian yang membuka majalah Playboy.


Aska memilih diam dan mendengarkan suara Maria. Pagi ini dirinya malas berdebat dengan sang ayah. Ia memilih untuk tersenyum manis dan merayu Maria.


Di hotel bintang lima, Jamaludin sangat kesal. Semalaman dirinya tidak tidur. Ia sedang memikirkan caranya untuk menyingkirkan Aska. Namun ia sendiri belum mendapatkan ide itu.


Prang....


Prang....


Jamaludin membanting dua botol bir di lantai. Jujur saat ini dirinya marah. Semalam ia menghubungi para partner mafianya, tidak ada satupun yang mau mengangkatnya. Di sinilah Jamaludin semakin frustasi. Bagaimana caranya dia akan merebut Wicaksono Group tanpa bantuan siapapun?

__ADS_1


"Argh... Sial sekali malam tadi. Harusnya Fabio, kenapa orang itu datang kemari?" tanya Jamaludin dalam hati.


__ADS_2