Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Membatalkan Pertemuan.


__ADS_3

"Jadi, di sini Ibu menjadi korban penipuan secara tidak langsung," jawab Aska. "Apakah ibu tidak meneliti satu persatu poinnya yang menandakan kerjasama yang tidak menguntungkan bagi kita?"


Jujur Christina sangat terkejut sekali mendengar pernyataan sang anak. Baru kali ini Sang putra membeberkan sesuatu tentang surat kerjasama itu. Mau tidak mau Christina harus menelan kepahitan. Lalu, Apakah Christina merasakan rugi yang begitu besar dalam perusahaannya?


"Abang, kita tidak bisa memakai surat ini. kita harus mengubah poin demi point agar perusahaan ini tidak merugi besar hanya karena surat perjanjian. Mau tidak mau kita harus membatalkan pertemuan ini," kesal Aska.


"Anda benar tuan.kita tidak seharusnya gegabah untuk melakukan perjanjian ini tanpa harus memeriksa surat itu. Kalau begitu aku akan menghubungi orang itu untuk tidak ke sini," ucap Romeo.


"Kalau tidak mau ditekan saja! Kita tidak bisa melakukan tanda tangan di surat itu. Kalau mereka berpikir keras maka kita cari yang lain saja. Setelah ini aku akan mencari dalang dibalik semuanya. Kalau perusahaan ini merugi dan bangkrut, bagaimana kabar seluruh karyawan yang bekerja di sini? Apalagi Ibu sudah menargetkan membangun tiga pabrik di daerah pulau Jawa. Kalau pabrik itu sudah berdiri dan kita bangkrut itu tidak lucu namanya," jelas Aska yang memprediksi nasib perusahaan sang ibu di masa yang mendatang.


Romeo meraih ponselnya lalu menghubungi sang calon distributor bagian Singapura untuk tidak ke sini terlebih dahulu. Romeo menjelaskan tentang ada kesalahan yang harus diperbaiki dalam surat perjanjian itu.


Namun sang distributor itu bersikeras untuk datang bertemu. Romeo mulai terbawa emosi dan menahan untuk tidak mengeluarkan kata-kata kotor.


Aska yang dari tadi melihat Romeo mengerutkan keningnya. Sepertinya Aska mencium aroma yang tidak sedap. Pria muda itu langsung meminta ponsel Romeo untuk berbicara.


"Berikan ponsel itu kepadaku! Biarkan aku yang menanganinya!" perintah Aska dengan tegas.


Mau tidak mau Romeo memberikan ponsel itu kepada Aska. Dengan nada santainya Aska berbicara kepada sang penelpon itu. Ia memberitahukan salah membawa surat perjanjian. Akan tetapi sang penelepon itu tetap bersih keras datang menemui Christina.


Dengan cepat Aska mengambil keputusan. Agar masalah ini tidak menjadi rumit. Sang penelepon itu pun tetap saja menolaknya. Ia tetap saja menandatangani surat tersebut. Terpaksa Aska mematikan ponsel tersebut dan memakinya.


"Dasar distributor sialan!" bentak Aska yang membuat Romeo dan Christina terkejut.


"Sabarlah sayang... Jangan buat kekacauan. Nanti kalau sudah waktunya ibu akan membuatkan ring untukmu," ucap Christina yang membuat Aska matanya membulat sempurna.


"Maafkan aku Bu. Tidak seharusnya aku membuat kegaduhan. Tapi mau bagaimana lagi, Orang itu tetap bersikeras untuk menandatangani surat tersebut. Aku yakin pasti ada udang dibalik batu," ujar Aska dengan nada lembut.


"Bagaimana tuan Aska?" tanya Romeo.


"Kita terpaksa kembali ke kantor. Soal kasus ini berikan kepada pengacara jika orang itu ingin menuntut," jawab Aska.

__ADS_1


"Sebenarnya sih tanpa pengacara pun kita bisa melaporkan ke kepolisian kalau orang itu masih bersikeras menemui kita. Di sisi lain orang itu belum tanda tangan sama sekali. Jika sampai tanda tangan kita akan kalah telak. Apakah kamu paham soal itu?" tanya Aska.


"Ya, saya paham soal itu," jawab Romeo.


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. Aska akan mengevaluasi tentang surat perjanjian itu.


Di dalam perjalanan Christina meminta Romeo untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Christina teringat bahwa Sang putra tidak memiliki ponsel satupun. Jika Aska bermain ke suatu tempat,maka Kristina tidak bisa menghubunginya secara langsung. Mau tidak mau Christina harus membelinya.


"Sebelum kembali ke kantor. Kita pergi terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan. Aku teringat bahwa Aska tidak memiliki ponsel sama sekali," pinta Christina.


"Apakah aku harus memilikinya?" tanya Aska.


"Iya, kamu harus memilikinya. Jika tidak memilikinya Ibu susah menghubungimu," jawab Christina dengan tegas.


"Kalau begini saya menjadi susah. Bagaimana caranya tidur nyenyak kalau saya memiliki sebuah ponsel?" tanya Aska sambil mengeluh di kemudian dibarengi suara Christina dan Romeo sedang tertawa keras.


Sontak saja mereka terkejut atas pengakuan Aska. Bukannya anak zaman sekarang lebih mementingkan ponsel ketimbang tidur lelap. Ini malah kebalikannya, Aska mengeluh di saat memiliki ponsel karena tidak bisa tidur nyenyak.


"Iya, ada apa?" tanya Christina.


"Nyonya jangan lupa belikan laptop buat Tuan Aska," jawab Romeo yang membuat Aska menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Sepertinya aku memiliki anak yang unik sekali. Orang-orang berlomba-lomba untuk membeli ponsel agar bisa membantunya bekerja. Yang satu ini diberi ponsel langsung mengeluh," kesal Christina sambil menggelengkan kepalanya.


Aska tertawa terbahak-bahak melihat sang Ibu sedang kesal. Jujur dirinya memang tidak menyukai barang-barang seperti itu. Namun Aska sadar kalau sekarang adalah calon ahli waris sesungguhnya. Maka dari itu ia harus memiliki barang-barang tersebut.


"Ibu jangan kesal seperti itu. Ibu harus tersenyum kepadaku," ledek Aska yang membuat sang ibu menahan tawa.


"Mana ada ibu kesel sama kamu. Jujur saja aku memiliki putra sangat aneh sekali. Sudah tahu ibunya sultan, tidak meminta apa-apa," ucap Christina dengan lembut.


"Aku sih nggak jadi masalah. Punya ponsel atau tidak. Dulu pas di desa kami memakai HT. Jadinya kalau kita berkomunikasi selalu memakai itu. Kita tidak perlu membeli pulsa apapun," kata Aska jujur.

__ADS_1


"Ada benarnya juga nyonya. Di sana memang semua orang memakai HT. Karena sinyal di sana sering hilang. Makanya semua orang yang bekerja di sana memakai alat itu untuk berkomunikasi," timpal Romeo.


"Ya sudah. Kamu harus memiliki ponsel. Jangan menolak lagi. Soalnya barang itu sangat penting buat kamu. Ke mana saja kamu bisa mengecek seluruh pekerjaanmu hanya dalam satu benda pipih tersebut," lanjut Christina.


Aska akhirnya menurut dan mengalah. Ia juga tidak mau berdebat yang tidak penting seperti ini. Lalu Romeo membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Sambil menunggu jam makan siang, Christina dan Romeo mengajak Aska untuk pergi ke toko ponsel.


Aska terkejut sekali saat Christina membawanya pergi membeli ponsel yang memiliki logo apel digigit. Ia sangat bingung karena harganya mahal sekali. Ingin menolaknya Christina sudah membayar ponsel tersebut. Mau tidak mau ia menerima ponsel itu.


Tak lama Romeo membawa sebuah laptop dengan merek yang sama. Laptop itu juga sudah dibayar lunas oleh Romeo. Rasanya hati kecil Aska menolak ketika menerima barang mahal itu. Dengan terpaksa Aska menerima semuanya.


"Aku harus bilang apa ya dengan benda-benda ini. Benda ini sangat mahal sekali. Kalau dijual juga masih laku. Ah... Rasanya aku tidak akan menjualnya. Aku sudah lama tidak memegang benda-benda seperti ini. Kalau saja Minah tidak menyuruhku menjualnya. Kemungkinan besar aku masih memegang benda tersebut," ucap Aska dalam hati.


Selesai membeli barang-barang itu, Christina mengajak Aska untuk makan siang terlebih dahulu. Ia menuruti permintaan Christina.


Ketika berada di restoran mewah, Aska tidak sengaja melihat teman sekolahnya dulu. Ia ingin menyapanya namun ditahan Romeo. Kata Romeo Aska harus menjaga image agar tidak menjadi bumerang. Aska langsung menurutinya dan tidak banyak bicara.


Saat melintas di depan teman sekolahnya dulu, Aska terkejut melihat temannya itu. Bisa-bisanya teman tersebut membawa dua perempuan sekaligus.


Lain halnya dengan Romeo. Jujur Romeo sangat terkejut sekali melihat orang tersebut. Ternyata oh ternyata Romeo mengenalnya. Namun Romeo mulai menetralkan wajahnya tersebut. Ia menyentuh punggung Aska untuk tetap berjalan lurus mengikuti Christina.


Sesampainya meja yang ditempati Christina, Aska dan Romeo duduk berhadapan dengan Christina. Romeo mengambil ponselnya dan menghubungi pihak HRD. Pria bertubuh tinggi itu meminta untuk mengecek salah satu kepala divisi pemasaran yang berada di kantor. Setelah selesai mereka akhirnya memesan makanan.


"Ada apa? Kok sepertinya abang bingung?" Tanya Aska.


"Kata Aska benar. Kok Kamu sepertinya kayak orang dikejar penyakit hutang saja?" tanya Christina.


"Apakah kau harus jujur kepada Nyonya Christina? Kalau sebenarnya kepala divisi pemasaran dua sering tidak hadir di kantor?" tanya Romeo dalam hati.


"Abang kenapa sih? Ditanya kok malah diam saja? Apakah Abang ada masalah besar?" Tanya Aska sedang menatap ke meja tadi yang diduduki oleh ketua divisi pemasaran dua.


Ketika terdesak dengan kata-kata Aska, Romeo bingung menjawabnya. Entah kenapa dirinya ingin berbicara. Namun ia tidak ingin membuat pertengkaran atasan dan bawahan.

__ADS_1


"Abang ada apa?" tanya Aska sekali lagi.


__ADS_2