
"Belum pak, masalah masih banyak. Bapak tahu kan ada sebuah bangunan tua yang berada di bagian selatan kebun ini?" tanya Aska.
"Iya aku tahu itu. Saya dari dulu bangunan tua itu adalah peninggalan zaman kolonial Belanda. Tapi aku nggak tahu fungsinya buat apa itu? Nggak ada yang menempati siapapun di sana," jawab Pak Broto.
"Di situ tempat penyimpanan makanan kaleng dan kue kering milik Azka food internasional. Tapi Ibu nggak pernah menyewa tempat itu. Kami nggak pernah menyewa gudang di daerah luar. Di sana banyak sekali makanan kaling dan kue kering milik Aska food ditimbun. Bukan ditimbun tapi ditukar sama yang palsu saat ingin ekspor ke luar negeri," jelas ada yang membuat Pak Broto matanya membulat sempurna.
"Oh, kamu ke sini hanya karena itu?" tanya Pak Broto sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya ada penghianat di dalam perusahaan Aska food.
"Iya Pak. Hari ini ada penggerebekan di sana. Aku sedang mau ke sana untuk mengambil beberapa makanan yang ditukarkan. Maksudnya makanan palsu yang akan aku bawa untuk dicek di laboratorium," jelas Aska.
"Berarti ini pekerjaannya orang dalam. kalau sampai orang dalam melakukannya bisa dipastikan akan tamat jika tidak diungkap dengan cepat," ujar Pak Broto. "Makanya yang rame-rame itu mobilnya polisi toh?" Tak sangkain apa kok bisa seramai itu?
"Ya itu benar pak. Kami sekarang mau mengungkap semuanya. Kasihan Ibu yang sudah capek-capek membangun perusahaan ini hanya demi aku dan para penduduk di sekitarnya hanya untuk mengurangi pengangguran. Nyatanya mereka berkhianat tanpa tahu efek jangka panjangnya. Jika perusahaan ini bangkrut, maka kita akan menyumbang banyak pengangguran lagi," keluh Aska.
"Kalau begitu ya sudahlah. Pergilah... Jangan takut untuk mengungkap kebenaran. Karena kebenaran itu yang dibutuhkan oleh manusia yang jujur. Biarkanlah mereka membuat kamu jatuh. Kamu harus bangun lagi dan tidak boleh menyerah. Aku tahu kamu adalah pria kuat dan tidak gampang menyerah dalam keadaan. Kalau begitu pergilah. Bapak doakan kamu semoga sukses untuk mencari kebenaran," ucap pak Broto dengan tulus. "Semangatlah putra tercintaku Aska!"
Mendapat semangat dari Pak Broto dan Ibunda bersama ayahandanya, Azka melangkahkan kakinya menuju ke luar dan melihat Romeo sedang berdiri di depan kap mobil. Dengan wajahnya yang tegas Romeo segera membukakan pintunya untuk Aska. Aska langsung masuk ke dalam mobil dan Romeo memutari mobilnya lalu masuk ke dalam.
"Bagaimana? Apakah kita langsung ke sana?" tanya Romeo.
"Iya... Kita akan menuju ke sana secepatnya. Kita akan mengambil beberapa makanan palsu untuk dicek di lab," jawab Aska dengan serius.
Romeo akhirnya menyalahkan mobil dan menancapkan gearnya menuju ke selatan kebun ini. Saat menuju ke sana, Aska melihat ibu-ibu dan bapak-bapak sedang memetik buah. Beberapa hari yang lalu, Aska yang membuat pengumuman di internet ternyata tidak respon oleh sebagian masyarakat.
Dulu kebun biasanya sepi tidak ada orang sekarang sangat ramai sekali. Ditambah lagi dengan upahnya yang cukup menjanjikan membuat semua orang berbondong-bondong masuk ke dalam kebun. Aska cukup senang akan hal itu Dan dapat meringankan pekerjaan Pak Broto. Semoga kebun Pak Broto menjadi ramai dan menjadi ladang bisnis untuk semua perusahaan dan karyawan.
__ADS_1
Tidak sengaja Romeo melihat Aska sekilas yang sedang tersenyum bahagia. Romeo pun menegur Aska dan bertanya, "Ada apa? Kok Sepertinya kamu bahagia sekali? Apakah kamu sudah tidak tahan untuk menikah?"
"Aku bahagia karena melihat kebun di sana sangat ramai sekali. Untung saja aku membuat sebuah lowongan pekerjaan buat mereka. Jika tidak maka perkebunan itu menjadi sepi seperti ini. Tidak ada lagi yang namanya kerja lembur sampai malam. Aku memang menargetkan panen buah dengan cepat tanpa harus menunggu giliran. Dengan begitu pekerjaan menjadi cepat dan tidak perlu lama lagi menunggunya," jelas Aska yang membuat Romeo paham.
"Kamu benar. Aku sering sekali ke sini melihat tempat ini sangat sepi. Aktivitas pemetikkan buah di kebun ini hingga malam hari bahkan sampai pagi. Apakah ada lembur di kebun ini nanti malam?" Tanya Romeo yang fokus membawa mobil.
"Kata Pak Broto sudah tidak ada lagi. Mereka pulang pada waktu sore hari. Mereka bekerja hanya delapan jam saja. Tidak ada lembur hingga pagi. Semuanya aman terkendali. Tinggal satu yang belum selesai adalah mencari beberapa orang untuk berjaga di sana agar tidak ada penyerangan yang pernah ceritakan sama Pak Broto," tambah Aska.
"Memangnya ada penyerangan ya?" Tanya Romeo yang bingung karena di tempat ini ada penyerangan.
"Ya itu benar. Seperti biasa Minah yang melakukan penyerangan itu secara membabi buta. Kemarin di daerah timur sana Minah membawa golok lalu menyerang tempat itu tanpa ada yang jelas apa maksudnya.itulah membuat aku ingin mencari beberapa orang untuk berjaga di beberapa. Strategi yang bisa dilalui orang. Aku sudah tidak mau lagi Minah mengurusi kegiatan kebun itu dan menghancurkannya secara bertubi-tubi. Kasihan para pekerja yang saat itu sangat ketakutan sekali dan akhirnya mereka bubar. Untung saja mereka tidak terluka oleh Minah," imbuh Aska.
"Iya kamu benar. Jika Minah melakukannya bisa dipastikan kebun ini menjadi berantakan," kesal Romeo.
"Siapa yang bisa menghentikan orang itu? Aku nggak ngerti apa tujuannya orang itu? Aku bangga orang itu adalah orang tua kandungku. Tapi ternyata tidak. Malahan dia adalah musuh utama buat ibuku," ucap Aska.
"Apakah aku perlu mencarinya?" tanya Aska.
"Sepertinya kamu harus mencarinya. Agar masalah ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut menjadi lama," jawab Romeo.
"Berarti Minah bisa dikatakan menjadi tolak ukur masalah ini?" tanya Aska yang mulai mencoba mengkaitkan masalah satu dengan yang lainnya.
"Entahlah... Aku belum paham soal itu. Jika masalah ini dikaitkan dengan masalah perusahaan kayaknya sih iya. tapi kita harus mencarinya hingga mendetail siapa pelaku utama dalang dari semua masalah. Inilah yang cukup rumit bagi kita," jelas Romeo yang menghentikan mobilnya karena sudah sampai.
"Kalau begitu aku akan bertanya pada ayah. Aku ingin semuanya clear. Jujur selama aku tinggal bersamanya ada yang aneh dengan sifatnya itu. Aku mendapatkan hinaan dan janjian dari mereka terutama pada Minah," imbuh Aska yang sudah keluar dari mobil untuk melihat beberapa polisi yang masih sibuk dengan penyelidikan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita masuk untuk mengambil beberapa barang yang akan dijadikan sampel pemeriksaan di lab," ajak Romeo dengan semangat.
"Baiklah kalau begitu," balas Aska.
Kedua pemuda itu pun masuk ke dalam dan melihat beberapa polisi masih sibuk mengamankan barang-barang palsu lainnya. Untung saja di daerah itu tidak ada yang namanya wartawan. Jika ada wartawan maka bisa dipastikan perusahaan reputasinya hancur berantakan.
"Kok nggak ada wartawan ya?" tanya Aska kepada Romeo.
"aku memang menyuruh beberapa orang untuk berjaga di sini. Agar wartawan tidak masuk ke dalam. Tiket masuk maka seluruh wartawan meliput kegiatan penggerebekan ini. Jika itu terjadi maka kita bisa membuat sang musuh bertepuk tangan dengan gembira. Aku tidak mau itu," jawab Romeo dengan jujur.
"Syukurlah tidak ada wartawan. Jika itu sampai terjadi maka Bagaimana nasib perusahaanku itu? Aku tidak ingin perusahaan itu hancur berkeping-keping. Biarkanlah perusahaan itu berjalan apa adanya. Setelah ini kita akan memperbaikinya satu persatu mulai dari staff gudang hingga ke atas," tambah Aska yang membuat rencana selanjutnya untuk menopang adapun biar selamat dari badai ini.
"Amin," balas Romeo serempak.
Beberapa saat kemudian ada kepala kepolisian mendekati mereka. Kepada polisi itu menceritakan tentang penemuan barang-barang palsu yang tidak terdaftar dalam negara. Ditambah lagi dengan barang-barang asli yang baru saja ditemukan. Aska pun akhirnya tertarik untuk melihat barang-barang asli tersebut sebelum ke yang palsu.
"Ini pak... Semua barang aslinya berada di sini. Saya rasa barang aslinya hanya segini. Bisa dipastikan barang aslinya sudah diambil terlebih dahulu sebelum terjadi penggerebekan," tunjuk Pak Mukidi sambil menjelaskan sisa barang asli di situ.
"Berarti?" Azka mulai menganalisis Bagaimana nasib barang itu setelah dimasukkan ke sini.
"Maksud kamu?" tanya Romeo.
"Ini hanya analisisku saja.aku bisa pastikan ini barang dijual dengan label yang berbeda. Nggak mungkin Jika barang-barang ini ditumpuk terus pas waktu penggerebekan tersisa segini. Kalau begitu kita bentuk tim untuk mencari barang-barang itu dijual ke mana?" jawab Aska dengan serius
"Kalau begitu aku setuju. Kita tidak akan melakukannya sekarang. Kemungkinan dalam waktu dekat ini," sambung Romeo.
__ADS_1
"Kalau menurut analisis Bapak benar. Tidak mungkin barang-barang ini tertimbun lama. Hingga barang-barang seperti ini tinggal sedikit," sahut Pak mukidi yang membenarkan analisis Aska.
"Sekarang jadi pertanyaannya adalah di mana barang itu dijual?" tanya Aska.