Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Romeo Tanpa Juliet.


__ADS_3

"Berarti di hatimu yang terdalam itu, kamu sangat mencintai Aska. Ternyata Aska sangat beruntung dariku. Pertemuan singkat membuatmu menjadikan Aska sebagai suamimu. Kalau begitu rawatlah dia. Aku jamin kamu akan bahagia berada di sisinya," jawab Romeo yang setengah meledek Maria.


"Begitulah cinta yang tidak bisa ditebak. Tapi aku sekarang sakit hati karenanya," kesal Maria yang menghempaskan bokongnya duduk di sofa.


Sementara itu Aska hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Dirinya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Jujur saja Aska tidak bisa membuat Mala berhenti menangis.


"Sudahlah Mala... Jangan menangis lagi. Nggak enak ada calon istriku ikut bersamaku," ucap Aska.


Mendengar perkataan Aska, Mala makin kencang menangis. Dirinya tidak menyangka pria yang dikaguminya itu akan menikah. Tiba-tiba saja Bu Siti datang sambil membawa buah-buahan. Bu Siti tidak sengaja melihat Mala sedang menangis di pelukan Aska. Matanya membulat sempurna dan menegur Mala agar melepaskan Aska.


Setelah mendapat teguran Mala menatap wajah Bu Siti sambil sesenggukan. Bu Siti tahu kalau Aska segera menikah. Calonnya juga sudah ketahuan. Mau tidak mau Bu Siti memberikan keranjang buah itu ke Aska dan mengajak Mala pergi dari sana.


"Bu Siti," panggil Aska.


Bu Siti menoleh dan melihat harga sambil tersenyum manis, "Ada apa?"


"Ini buah anggur diberikan ke aku. Kalau habis Bagaimana Bu?" Tanya Aska sambil kebingungan.


"Biarkan saja. Di pohon masih banyak," jawab Bu Siti sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Terpaksa Aska membawa keranjang itu ke dalam. Lalu Aska menaruhnya di atas meja. Tidak sengaja Aska melihat Maria yang sedang kecewa. Dengan senyuman yang manis, Aska duduk di samping Maria sambil bertanya, "Kamu kenapa? Tiba-tiba saja cemberut seperti itu. Nanti cantikmu hilang."


"Pakai merayu segala. Maria itu sedang kecewa karena ulahmu. datang-datang sudah memeluk seorang wanita cantik di hadapannya," ucap Romeo yang baru saja mengambil air mineral di kulkas.


"Oh itu... Okelah aku jelaskan. Aku harap kamu nggak marah lagi sama aku," jelas Aska.


Akhirnya Aska menjelaskan apa yang telah terjadi dirinya dan juga Mala. Maria pun akhirnya paham dan tersenyum. Setelah menjelaskan semuanya, Aska meyakinkan hati Maria untuk tetap bersamanya.


"Jelaskan akhirnya apa yang terjadi aku dengannya?" Tanya Aska.


"Ya aku paham," jawab Maria.


"Kalau begitu bantu aku menjodohkan Abang dengan Mala. Aku ingin Mala ada yang menjaganya," pinta Aska.


"Artinya kamu menjodohkan gadis itu dengan Romeo?" tanya Maria.


"Iya. Aku sudah berjanji akan mencarikan seorang pria untuk menjaganya," jawab Aska.

__ADS_1


"Ide bagus itu. Aku akan membantumu menjodohkan Mala dengan Romeo," ucap Maria dengan tulus.


"Kamu belum memperkenalkanku dengan Mala. Aku sangat penasaran sekali dengan gadis itu. Aku harap gadis itu mau menerima aku," kesel Romeo pada Aska yang tidak mau mengenalkan Mala.


"Jangan kesel seperti itu. Lebih baik kamu usaha terlebih dahulu. Mumpung di sini kamu dekati gih. Anaknya baik dan lucu. Tapi usianya baru menginjak delapan belas tahun," ucap Aska.


"Boleh juga tuh. Aku mau," balas Romeo dengan senyuman sumringah.


Beberapa saat kemudian datang Bu Siti, Pak Broto, Pak Ahmad dan Mala. Mereka menyambut kedatangan Aska, Romeo dan Maria. Mereka sungguh terharu melihat Aska yang sudah kembali ke keluarganya.


Tak sengaja datang Winda dan Roni. Pasangan suami istri itu pun langsung mendekati Aska sambil menatap tajam.


"Diam-diam kamu ingin menikahi sahabatku itu ya?" tanya Winda menatap Aska tapi tangannya menunjuk Maria.


"Memangnya tidak boleh ya? Tapi sayang aku sangat menyukainya," jawab Aska.


"Bukan begitu. Hampir saja aku mendengar kamu menikah. Padahal pertemuan kalian sangat singkat sekali. Jujur ini sangat aneh buatku," puji Winda.


"Ya itu benar. Yang namanya jodoh harus dilaksanakan," ucap Aska dengan jujur hingga membuat seisi ruangan tertawa.


"Bawalah bang. Nggak bawa undangan ke sini kalian nggak bisa masuk," sahut Romeo.


"Memangnya harus memakai undangan?" Tanya Winda.


"Ya. Buat jaga-jaga pas waktu masuk ke dalam resepsi pernikahan tersebut," jawab Romeo.


"Okelah aku tahu maksud kamu apa? apalagi yang menikah adalah calon waris sesungguhnya dari Wicaksono Group. rasanya aku ingin sekali melihat tuan muda memakai baju pengantin dan tersenyum manis," puji Winda.


"Nanti dibagikan sama pengawal surat undangannya itu. Bagaimana kabar di sini?" Tanya Aska.


"Tidak begitu aman selama ada Minah di sini. Kelakuannya semakin buruk dan sering mengajak anak-anak muda ke rumah untuk... Ya gitu deh. Aku nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Minah," jelas Pak Broto.


"Memang sulit membuatnya orang itu sadar," ucap Aska.


"Jika aku membeli kampung ini bagaimana ya?" Tanya Aska.


"Kamu buat apa membeli kampung ini? Apakah kamu ingin membuat perusahaan baru lagi? Atau pabrik?" Tanya Pak Broto.

__ADS_1


"Aku nggak ingin buat apa-apa. Entahlah apa yang aku buat untuk selanjutnya," jawab Aska.


"Bagaimana di kampung?" Tanya Winda.


"Maksud kakak apa?" Tanya Aska balik.


"Tentang pernikahan itu," jawab Winda.


"Tenanglah.aku akan menyuruh catering untuk menyiapkan makanan spesial buat warga kampung di sini. Anggap saja aku sedang mengadakan syukuran atas pernikahanku ini dan mengucapkan terima kasih karena sudah diterima di sini," ujar Aska. "Langkah selanjutnya Aku ingin membeli rumah milik Minah. Aku ingin membuat sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu. Kemungkinan besar rumah itu akan dibangun kembali menjadi sekolahan."


"Kamu serius?" Tanya Pak Ahmad.


"Ya aku serius. Aku memang sengaja menendang Minah dari rumahnya. Sudah berapa kali aku diperlakukan seperti itu saatnya untuk balas dendam kepada orang-orang yang menyakitiku," jawab Aska dengan jujur.


"Kalau begitu tinggal hubungi aku saja. Nanti aku urus semuanya enaknya bagaimana? Oh ya... Rumah di belakang Mina ada tanah seluas lima puluh meter persegi. Tanah itu miliknya kakekmu sendiri. Kalau kamu buat sekolah harus izin dulu sama kakekmu," saran Pak Broto.


"Baiklah. Aku akan meminta izin kepada kakek untuk membangun ke sekolahan buat anak-anak kurang mampu," jelas Aska.


"Mana gadis yang bernama Mala?" tanya Romeo yang sedang mencari keberadaan Mala.


"Kenapa kamu mencari gadis yang bernama Mala? Ada apa sebenarnya?" Tanya Winda yang malas kepada Romeo.


"Aku ingin berkenalan saja," jawab Romeo tanpa perlu disaring.


"Jangan berbuat macam-macam," kesal Roni yang mengerti tabiat Romeo.


"Mala," panggil Aska.


Merasa namanya terpanggil, menatap wajah Aska, "Iya bang."


"Besok datang ya resepsi pernikahanku bersama Pak Broto," ucap Aska yang meminta Mala datang ke pernikahannya.


"Insya Allah bang," bales Mala yang memilih untuk diam.


"Oh iya... Malah ada yang mau kenalan sama kamu. Namanya Romeo. Tapi Romeo yang satu ini tidak memiliki Juliet. Aku harap kamu mau menjadi Julietnya," pinta Aska yang membuat Roni menatap tajam Romeo.


Waduh.

__ADS_1


__ADS_2