Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Aska Yang Masih Polos


__ADS_3

“Abang


enggak pernah mengerti apa yang aku rasakan,” jawab Maria yang tiba-tiba saja


merajuk.


Aska


yang melihat Maria merajuk langsung tertawa. Ia menghempaskan bokongnya di tepi


ranjang. Ia tersenyum sambil berkata, “Kamu itu malah merajuk. Kalau kamu merajuk,


aku enggak marah. Tapi aku malah menggoda kamu.”


“Kamu


enggak tahu apa yang aku rasakan setelah benda pusakamu masuk ke dalam,” jawab


Maria yang menarik selimut sampai ke atas kepala.


Entah


kenapa Maria malu mengatakan apa yang semalam dilakukannya bersama Aska. Ia


mulai bingung bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi.


“Abang,”


panggil Maria.


“Ada


apa?’ tanya Aska.


“Coba


dech... abang cari di internet. Perempuan yang sudah merasakan malam pertama


itu bagaimana rasanya?” tanya Maria balik.


Aska


menganggukan kepalanya sambil meraih ponselnya. Ia segera mencari apa yang


dikatakan oleh Maria. Setelah menemukan artikel tentang apa yang disuruh oleh


Maria. Bola matanya membulat semourna. Ia baru sadar kalau Maria sudah


dihabisinnya semalam dan merasakan kesakitan di area sensitifnya.


“Maaf,”


ucap Aska dengan lirih tapi tidak akan menyesali perbuatannya.


“Abang


sudah tahu?” tanya Maria yang menurunkan selimutnya dan meliht wajah Aska.


“Sudah,”


jawab Aska yang tertawa terbahak-bahak.


“Idiihhh,”


kesal Maria yang ingin memukul Aska.


“Ya... maaf...


mungkin aku kebablasan,” ucap Aska sambil tersenyum tengil. “Ya sudah aku


siapkan air hangat.  Agar kamu bisa


relax.”


“Baiklah,”


balas Maria sambil menganggukan kepalanya.


Aska


beraanjak berdiri langsung meninggalkan Maria dan masuk ke dalam toilet. Ia


membuka keran air dan mengisi bath up dengan air hangat. Ia melihat air yang


memenuhi bath up. Aska menyunggingkan senyumnya merasakan jantungnya berdetak.


Dalam hatinya betapa liarnya ia semalam melakukan olah raga bersama Maria.


Selesai


mengisi air Aska keluar dan menuju mendekati Maria. Ia mendekati Maria lalu


membungkukkan badannya. Ia mengangkat tubuh mungil Maria sambil membawanya ke


toilet. Ia akhirnya membaringkan tubuh Maria ke dalam bath up tersebut.


“Mau aku


mandiin?” tanya Aska yang mulai jahil.


“Argh!!!”


teriak Maria yang membuat Aska tertawa tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa


juga berteriak-teriak seperti ini?” tanya Aska yang menahan tawanya.


“Kamu


jahat banget sama aku!” kesal Maria.


“Aku


enggak jahat kok. Aku pria baik-baik yang ingin memebuat kamu bahagia,” ucap

__ADS_1


Aska tanpa penuh dosa.


“Keluarlah


sana! Aku ingin mandi sendiri,” ujar Maria yang membuat Aska memyetujuinya.


Mau


tidak mauAska akhirnya keluar dari kamar sambil meninggalkan Maria yang sedang


berendam. Lalu Aska memutar bola matanya sambil menatap dokumen itu.


“Aku


tidak akan membuat Jamaludin hidup bahagia!” geram Aska. “Aku akan merebut


Wicaksono Group dari tangannya semua!”


Dokumen


itu memang berisikan tentang bagaimana kronologi saat Frank kecelakaan. Lalu Aska


juga melihat beberapa saham milik Wicaksono Group dikuasai oleh Jamaludin. Bisa


dikatakan Jamaludin memiliki saham sebesar 65%. Yang dimana Jamaludin bisa


menguasai Wicaksono Group dengan mudah. Ditambah lagi Jamaludin itu bisa


mengendalikan dan memecat Damian tanpa hormat.


“Ini


tidak bisa dibiarkan! Semakin lama Jamal akan melakukan hal yang gila,” kesal


Aska dalam hati.


Beberapa


saat kemudian ponsel Aska berbunyi. Ia menuju ke nakas lalu meraihnya. Ia


melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu mengangkatnya.


“Halo,”


sapa Aska.


“Temui


aku sejam lagi! Nanti akan ada seseorang yang menjemoutmu. Ajak Maria juga!


Kita akan melakukan meeting bersama,” titah orang yang berada di seberang sana.


“Baik,”


balas Aska.


Sambungan


terputus.


Aska


dirinya merasakan ada yang aneh dengan sang paman.


Lima


beelas menit kemudian Maria sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia masih


dibantu oleh Aska untuk berjalan menuju ke kamar.


“Bagaimana?”


tanya Aska yang tidak khawatir sama Maria.


“Aku


enggak apa-apa. Sudah mendingan rasanya lega,” jawab Maria yang mengetahui


kalau Aska tidak peka terhadap dirinya.


“Ya udah


deh. Kamu duduk disini. Tadi ada Sheila kesini untuk membawakan baju kita,”


ucap Aska.


“Sheila


disini?” tanya Maria yang baru yang barru tahu ada Sheila.


“Iya...


Sheila disini. Ia akan mengerjakan perintah dari Abang Romeo dan Paman Frank,”


jawab Aska. “Kalau begitu aku mandi dulu.”


Maria


menganggukan kepalanya. Ia  segera masuk


ke dalam toilet. Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya sambil memejamkan


matanya. Ia merasakan ada yang tidak beres di dalam perusahaan Wicaksono. Aska


harus menampakkan dirinya ke publik kalau dirinya adalah ahli waris


sesungguhnya.


Di


sebuah ruangan yang luas Adrian bersama Christina duduk sambil menunggu


kedatangan Frank. Adrian hannya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.


Banyak sekali informai yang sedang dipegangnya saat ini.

__ADS_1


“Kamu


kenapa?” tanya Christina.


“Masalah


besar sudah berada di depan mata. Aku harus berdiskusi dengan Frank. Rencana


pertama aku gagal total ingin merebut semua saham Wicaksono.Minimal tujuh puluh


persen saja. Tapi  Jamaludin sudah


mendahului memiliki saham sebesar enam puluh lima persen.Aku sendiri bingung


apa yang harus dilakukan sekarang,” jawab Adrian.


“Lalu?”


tanya Christina yang terkejut.


“Iya...


aku harus bagaimana?” tanya Adrian.


“Bagaimana


dengan Aska?” tanya Christina yang mulai memiliki perasaan yang tidak enak.


“Aku


tidak akan bisa bekerja sendirian.Aku bukan pembisnis. Jika pebisnis aku tidak


akan meminta bantuan dengan Frank,” jawab Adrian dengan gelisah.


“Kalau


begitu baiklah. Kamu enggak boleh menyerah sedikitpun. Aku yakin masalah ini


bisa terselesaikan dengan cepat,” ucap Christina dengan pasrah.


“Maafkan


aku. Masalah ini semakin rumit,” sahut Adrian yang penuh penyesalan.


“Tidak


perlu meminta maaf sama aku. Seharusnya aku yang salah menarikmu ke dalam


masalah ini,” ujar Christina yang sedih. “Dimana Aska?”


“Aska


berada di hotel ini. Aku sengaja menyuruh asisten Aska memesan kamar hotel


dengan penuh kemewahan,” jawab Adrian tersenyum manis.


“Apa-apaan


kamu? Bisa-bisanya kamu pesan kamar hotel yang mewah,” kesal Christina yang


terkejut.


“Tenanglah...


Aska tidak akan marah sama sang asistennya. Dia akan mengeluh karena tellah


menghabiskan beberapa ribu euro uangku terkuras?” jawab Adrian sambil tersenyum


manis.


Christina


tidak bisa membayangkan jika Aska marah dan memakinya. Ia tahu bagaimana dengan


tabiat sang putra. Aska tidak akan pernah mau memakai barang mahal. Ia akan


menolak secara mentah-mentah. Karena ia memiliki prinsip hidup yaitu jangan


pernah boros dan menghamburkan unag.


“Kamu


enggak tahu siapa Aska?”  Kalau kamu tahu


bagaimana sederhananya dia hidup. Kamu akan tersentuh dan menangis,”  jelas Christina yang membuat Adrian tersenyum


manis.


“Kita beruntung


mendapatkan seorang putra baik hati. Semoga hidupnya mendapat berkah yang


banyak,” ucap Adrian.


Kembali


lagi ke kamar.


Aska


yang selesai membersihkan tubuhnya hanya bisa melihat Maria. Ia mengulurkan


tangannya sambil bertanya, “Apakah kamu enggak sakit lagi?”


“Sudah


enggak,” jawab Maria yang membuat Aska lega.


“Kalau


begitu ikutlah aku!” ajak Aska.


“Kemana?”


tanya Maria.

__ADS_1


__ADS_2