
“Abang
enggak pernah mengerti apa yang aku rasakan,” jawab Maria yang tiba-tiba saja
merajuk.
Aska
yang melihat Maria merajuk langsung tertawa. Ia menghempaskan bokongnya di tepi
ranjang. Ia tersenyum sambil berkata, “Kamu itu malah merajuk. Kalau kamu merajuk,
aku enggak marah. Tapi aku malah menggoda kamu.”
“Kamu
enggak tahu apa yang aku rasakan setelah benda pusakamu masuk ke dalam,” jawab
Maria yang menarik selimut sampai ke atas kepala.
Entah
kenapa Maria malu mengatakan apa yang semalam dilakukannya bersama Aska. Ia
mulai bingung bagaimana menjelaskan apa yang telah terjadi.
“Abang,”
panggil Maria.
“Ada
apa?’ tanya Aska.
“Coba
dech... abang cari di internet. Perempuan yang sudah merasakan malam pertama
itu bagaimana rasanya?” tanya Maria balik.
Aska
menganggukan kepalanya sambil meraih ponselnya. Ia segera mencari apa yang
dikatakan oleh Maria. Setelah menemukan artikel tentang apa yang disuruh oleh
Maria. Bola matanya membulat semourna. Ia baru sadar kalau Maria sudah
dihabisinnya semalam dan merasakan kesakitan di area sensitifnya.
“Maaf,”
ucap Aska dengan lirih tapi tidak akan menyesali perbuatannya.
“Abang
sudah tahu?” tanya Maria yang menurunkan selimutnya dan meliht wajah Aska.
“Sudah,”
jawab Aska yang tertawa terbahak-bahak.
“Idiihhh,”
kesal Maria yang ingin memukul Aska.
“Ya... maaf...
mungkin aku kebablasan,” ucap Aska sambil tersenyum tengil. “Ya sudah aku
siapkan air hangat. Agar kamu bisa
relax.”
“Baiklah,”
balas Maria sambil menganggukan kepalanya.
Aska
beraanjak berdiri langsung meninggalkan Maria dan masuk ke dalam toilet. Ia
membuka keran air dan mengisi bath up dengan air hangat. Ia melihat air yang
memenuhi bath up. Aska menyunggingkan senyumnya merasakan jantungnya berdetak.
Dalam hatinya betapa liarnya ia semalam melakukan olah raga bersama Maria.
Selesai
mengisi air Aska keluar dan menuju mendekati Maria. Ia mendekati Maria lalu
membungkukkan badannya. Ia mengangkat tubuh mungil Maria sambil membawanya ke
toilet. Ia akhirnya membaringkan tubuh Maria ke dalam bath up tersebut.
“Mau aku
mandiin?” tanya Aska yang mulai jahil.
“Argh!!!”
teriak Maria yang membuat Aska tertawa tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa
juga berteriak-teriak seperti ini?” tanya Aska yang menahan tawanya.
“Kamu
jahat banget sama aku!” kesal Maria.
“Aku
enggak jahat kok. Aku pria baik-baik yang ingin memebuat kamu bahagia,” ucap
__ADS_1
Aska tanpa penuh dosa.
“Keluarlah
sana! Aku ingin mandi sendiri,” ujar Maria yang membuat Aska memyetujuinya.
Mau
tidak mauAska akhirnya keluar dari kamar sambil meninggalkan Maria yang sedang
berendam. Lalu Aska memutar bola matanya sambil menatap dokumen itu.
“Aku
tidak akan membuat Jamaludin hidup bahagia!” geram Aska. “Aku akan merebut
Wicaksono Group dari tangannya semua!”
Dokumen
itu memang berisikan tentang bagaimana kronologi saat Frank kecelakaan. Lalu Aska
juga melihat beberapa saham milik Wicaksono Group dikuasai oleh Jamaludin. Bisa
dikatakan Jamaludin memiliki saham sebesar 65%. Yang dimana Jamaludin bisa
menguasai Wicaksono Group dengan mudah. Ditambah lagi Jamaludin itu bisa
mengendalikan dan memecat Damian tanpa hormat.
“Ini
tidak bisa dibiarkan! Semakin lama Jamal akan melakukan hal yang gila,” kesal
Aska dalam hati.
Beberapa
saat kemudian ponsel Aska berbunyi. Ia menuju ke nakas lalu meraihnya. Ia
melihat nama yang tertera di layar ponselnya lalu mengangkatnya.
“Halo,”
sapa Aska.
“Temui
aku sejam lagi! Nanti akan ada seseorang yang menjemoutmu. Ajak Maria juga!
Kita akan melakukan meeting bersama,” titah orang yang berada di seberang sana.
“Baik,”
balas Aska.
Sambungan
terputus.
Aska
dirinya merasakan ada yang aneh dengan sang paman.
Lima
beelas menit kemudian Maria sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia masih
dibantu oleh Aska untuk berjalan menuju ke kamar.
“Bagaimana?”
tanya Aska yang tidak khawatir sama Maria.
“Aku
enggak apa-apa. Sudah mendingan rasanya lega,” jawab Maria yang mengetahui
kalau Aska tidak peka terhadap dirinya.
“Ya udah
deh. Kamu duduk disini. Tadi ada Sheila kesini untuk membawakan baju kita,”
ucap Aska.
“Sheila
disini?” tanya Maria yang baru yang barru tahu ada Sheila.
“Iya...
Sheila disini. Ia akan mengerjakan perintah dari Abang Romeo dan Paman Frank,”
jawab Aska. “Kalau begitu aku mandi dulu.”
Maria
menganggukan kepalanya. Ia segera masuk
ke dalam toilet. Ia menyalakan shower dan mengguyur tubuhnya sambil memejamkan
matanya. Ia merasakan ada yang tidak beres di dalam perusahaan Wicaksono. Aska
harus menampakkan dirinya ke publik kalau dirinya adalah ahli waris
sesungguhnya.
Di
sebuah ruangan yang luas Adrian bersama Christina duduk sambil menunggu
kedatangan Frank. Adrian hannya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.
Banyak sekali informai yang sedang dipegangnya saat ini.
__ADS_1
“Kamu
kenapa?” tanya Christina.
“Masalah
besar sudah berada di depan mata. Aku harus berdiskusi dengan Frank. Rencana
pertama aku gagal total ingin merebut semua saham Wicaksono.Minimal tujuh puluh
persen saja. Tapi Jamaludin sudah
mendahului memiliki saham sebesar enam puluh lima persen.Aku sendiri bingung
apa yang harus dilakukan sekarang,” jawab Adrian.
“Lalu?”
tanya Christina yang terkejut.
“Iya...
aku harus bagaimana?” tanya Adrian.
“Bagaimana
dengan Aska?” tanya Christina yang mulai memiliki perasaan yang tidak enak.
“Aku
tidak akan bisa bekerja sendirian.Aku bukan pembisnis. Jika pebisnis aku tidak
akan meminta bantuan dengan Frank,” jawab Adrian dengan gelisah.
“Kalau
begitu baiklah. Kamu enggak boleh menyerah sedikitpun. Aku yakin masalah ini
bisa terselesaikan dengan cepat,” ucap Christina dengan pasrah.
“Maafkan
aku. Masalah ini semakin rumit,” sahut Adrian yang penuh penyesalan.
“Tidak
perlu meminta maaf sama aku. Seharusnya aku yang salah menarikmu ke dalam
masalah ini,” ujar Christina yang sedih. “Dimana Aska?”
“Aska
berada di hotel ini. Aku sengaja menyuruh asisten Aska memesan kamar hotel
dengan penuh kemewahan,” jawab Adrian tersenyum manis.
“Apa-apaan
kamu? Bisa-bisanya kamu pesan kamar hotel yang mewah,” kesal Christina yang
terkejut.
“Tenanglah...
Aska tidak akan marah sama sang asistennya. Dia akan mengeluh karena tellah
menghabiskan beberapa ribu euro uangku terkuras?” jawab Adrian sambil tersenyum
manis.
Christina
tidak bisa membayangkan jika Aska marah dan memakinya. Ia tahu bagaimana dengan
tabiat sang putra. Aska tidak akan pernah mau memakai barang mahal. Ia akan
menolak secara mentah-mentah. Karena ia memiliki prinsip hidup yaitu jangan
pernah boros dan menghamburkan unag.
“Kamu
enggak tahu siapa Aska?” Kalau kamu tahu
bagaimana sederhananya dia hidup. Kamu akan tersentuh dan menangis,” jelas Christina yang membuat Adrian tersenyum
manis.
“Kita beruntung
mendapatkan seorang putra baik hati. Semoga hidupnya mendapat berkah yang
banyak,” ucap Adrian.
Kembali
lagi ke kamar.
Aska
yang selesai membersihkan tubuhnya hanya bisa melihat Maria. Ia mengulurkan
tangannya sambil bertanya, “Apakah kamu enggak sakit lagi?”
“Sudah
enggak,” jawab Maria yang membuat Aska lega.
“Kalau
begitu ikutlah aku!” ajak Aska.
“Kemana?”
tanya Maria.
__ADS_1