Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Bingung Mau Ngasih Judul Apa?


__ADS_3

“Hus... jangan ngomong seperti itu. Aku rasa orang ini adalah paman Frank,” jawab Maria yang merasa itu adalah Pamannya Aska yang di mana tidak menceritakan apapun tentang kehidupan dengan keluarganya. 


“Kalau bukan?” tanya Aska yang mulai bingung dan diberikan hadiah itu kepada Maria. “Buat kamu saja. Aku tidak tertarik dengan hadiah itu.” 


Maria menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia tahu apa yang terjadi pada Aska. Kemungkinan Aska sedang waspada apa yang akan terjadi nanti. 


“Nanti aku buka dech apa isinya. Lebih baik kamu duduk di kursi. Aku akan menyiapkan makanan buat kamu,” ucap Maria yang membiarkan hadiah itu masih berada di meja. 


Lalu Aska menaruhnya dan matanya menuju ke arah Maria. Wanita berambut panjang sedang menaruh menu makanan yang berada di depan Aska. 


“Makanlah,” suruh Maria yang berusaha mencairkan suasana biar tidak terlalu sepi.


“Apakah kamu enggak makan?” tanya Aska.


“Hmmpp... bagaimana ya? Jamnya sudah malam,” jawab Maria yang agak malas ketika sudah malam. 


“Makanlah, nanti kita akan mencoba beberapa jurus di atas ranjang,” ucap Aska yang membuat mata Maria melotot sempurna. 


“Jurus apa?” tanya Maria yang bingung.


“Jurus apa ya? Aku lupa. Nanti aku ingat lagi,” ujar Aska dengan asal. 


Sebenarnya Aska hanya menggoda Maria agar cepat makan. Saat makan Maria tertuju terus ke arah hadiah itu. Lalu Maria berpikir, apa benar yang mengirimkan itu Paman Frank? Jika Paman Frank yang mengirimkannya ke Abang, ngapain juga? Bukannya tadi sudah bertemu dan mengobrol. 


Hampir lima belas menit kemudian, mereka menyelesaikan makan malam. Jujur Maria sangat penasaran sekali dengan sang Paman Frank. Ia menumpuk piring itu da membiarkannya di meja. 


Sementara Aska, Aska membuka kancing baju secara pelan-pelan. Ia memperhatikan gerak-gerik sang istri. Ia sangat serius sekali dengan wajah sang istri. Entah kenapa dirinya tersenyum melihat keadaan sang istri. 


Maria mengambil ponselnya lalu mencari nama Frank Agard **. di internet. Sedetik dua detik Maria menemukan nama Frank Agard. Ia menelusuri satu persatu. Tak sengaja ia membaca semua tentang informasi. 


Tiba-tiba saja Maria terkejut dan membuang ponselnya. Dengan cepat Aska memegang ponsel itu dan mendekatinya. 


“Kamu kenapa?” tanya Maria. 


“Aku tidak apa-apa,” jawab Maria yang ketakutan. 


“E... e... enggak,” jawab Maria. 


“Ada apa memangnya?” tanya Aska yang penasaran. 


“Kamu tahu nggak kalau Tuan Frank Agard memiliki saudara laki-laki. Dialah adalah Adrian Agard. Yang dimana Adrian Agard memiliki pekerjaan sebagai kepala polisi yang sekarang berdinas di Perancis,” jelas Maria tersenyum manis. 


“Itu ayahku neng,” sahut Aska. “Terus?” 

__ADS_1


“Apakah Abang nggak tahu? Kalau hotel ini adalah milik Paman Frank?” tanya Maria balik.


“Hmmp... apa-apaan ini?” tanya Aska dengan datar.


“Masa kamu enggak tahu, apa yang terjadi selama ini?” tanya Maria.


“Aku enggak tahu apa yang terjadi selama ini? Dan aku tidak memperhatikan mereka,” jawab Aska. “Yang penting judulnya adalah Paman Frank adalah pamanku.”


Maria menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Memang dia adalah paman kamu. Tapi apakah Abang enggak tahu? Kalau nama belakang Paman dan Ayah adalah nama berpengaruh di dunia bisnis di daratan Eropa maupun dunia,” tanya Maria.


“Setahuku hanya ada Wicaksono Group?” tanya Aska. 


“Wicaksono dan Agard adalah pebisnis yang berpengaruh di dunia. Saking pengaruhnya, mereka tidak pernah saling bergesekan,” jelas Maria. 


Aska hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia tidak peduli dengan nama Agard tersebut. Bahkan Aska biasa saja dengan sikapnya.


Ini sangat aneh sekali. Bukankah wajahnya harus terkejut dengan apa yang didengarnya? Satu kata buat Aska adalah 


Tidak.


Aska hanya bisa menatap wajah Maria karena sudah tidak paham apa yang dilihatnya. Hingga akhirnya Maria memutuskan untuk tidak membahas apa yang terjadi saat ini?


Aska mulai membuka bajunya dan melemparkan ke segala arah. Ia tidak lalu membuka ikat pinggangnya sambil berkata, “Nggak usah memperdulikan akan hal itu. Lebih baik aku tidur.” 


Maria langsung menaruh kaki jenjangnya berada di sela-sela kakinya Aska. Sambil tersenyum manjanya, Maria membuka kancing bajunya dengan pelan. Ia mulai memancing Aska dan membiarkannya untuk menyentuhnya. 


Aska hanya menelan salivanya dengan susah payah. Ia mulai merasakan tubuhnya panas dingin. Namun dirinya masih menahannya agar Maria bekerja dengan baik. 


“Abang,” panggil Maria. 


“Hmmpp,” sahut Aska. 


“Ayolah bang,” ajak Maria. 


“Ayo kemana?’ tanya Aska yang mulai mengerjai Maria. 


“Abang mah... lama banget,” kesal Maria yang mendekati Aska dan membuka kancing bajunya. 


“Lama bagaimana?” tanya Aska yang sengaja tangan Maria membuka bajunya. 


“Neng... neng lagi apa sih?” tanya Aska pura-pura tidak tahu. 


Wajah Maria langsung memerah dan menunduk. Akan tetapi tangan mungilnya masih membuka kancing baju Aska hingga habis. 

__ADS_1


Aska memeluk Maria dengan cepat lalu mencium bibir tipis milik sang istri. Hingga ia mulai gairah yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. 


Malam itu juga Aska langsung mengeksekusi Maria. Ia sangat menikmati permainan itu sambil mengeluarkan suara-suara indah yang menggema dengan indah. 


Pagi yang cerah di kota Paris, Aska mulai membuka mata dan melihat sang istri tanpa memakai benang sehelai pun. Ia menarik selimut itu dan menutupinya. 


Aska meraih ponselnya dan mengaktifkannya sambil bersorak kegirangan. Tiba-tiba saja ia mendapat pesan dari Frank lalu membacanya.


Isi pesan tersebut. 


Sudah kamu terima hadiah yang aku titipkan kepada pengawal tadi malam?


Aska pun curiga dengan apa yang ada di bungkusan semalam. 


Sedari malam Aska tidak membukanya. Ia mengerutkan keningnya sambil melihat bungkusan masih rapi. 


“Hmmp... apa yang dimaksud hadiah itu? Apa isinya?” tanya Aska yang langsung memakai baju dan mendekatinya. 


Terpaksa Aska membukanya lalu melihat beberapa dokumen tentang Jamaluddin. Ia membaca seluruh kejahatan Jamaluddin yang masih belum ketahuan. 


“Kenapa Paman memberitahukan ini semuanya ke aku? Bukannya diberikan ke ayah?” tanya Aska yang mulai bertanya-tanya. 


“Eugh,” Maria terbangun dari tidurnya dan membuka matanya. 


“Hmmp... Abang,” panggil Maria. 


“Ada apa?” tanya Aska yang mendekati Maria. 


“Abang jahat banget,” jawab Maria yang langsung memberengut. 


“Kamu kenapa?” tanya Aska yang mengerutkan keningnya.


“Abang nggak peka dengan neng,” jawab Maria yang meringis kesakitan. 


Aska yang tidak paham apa yang dirasakan oleh Maria. Ia pun tidak sadar kalau dirinya sengaja menghajar Maria hingga beberapa ronde. 


“Neng,” tanya Aska yang memandang wajah Maria yang kesakitan. “Kamu sakit?”


“Iya aku sakit,” jawab Maria. 


“Sakit apa?” tanya Aska yang tidak paham.


“Hmmp... ya sudah Abang mau enggak peka sama sekali,” jawab Maria membuang wajahnya.

__ADS_1


“Memangnya ada apa sih sayangku?” tanya Aska yang benar-benar tahu. 


 


__ADS_2