Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Ada Apa Dengan Keluarga Maria?


__ADS_3

"Maria masih berada di rumahnya. Tadi Ibu baru saja mendapatkan berita kalau Maria masih lemas," jawab Bu Tanti.


"Memangnya Maria sakit apa?" tanya Pak Budi yang bingung kalau putrinya sedang sakit.


"Maria sedang hamil muda. Sebentar lagi kita akan memiliki seorang cucu," jawab Bu Tanti.


Pak Budi tersenyum bahagia lalu melihat Bu Tanti. Penantian panjang yang saat ini dirasakan Pak Budi telah selesai. Iya ingin sekali memiliki seorang cucu agar bisa digendongnya. Akan tetapi Pak Budi sadar kalau cucunya itu akan tinggal di Paris bersama Aska dan dan Maria.


"Tapi kita tidak bisa menggendongnya," ucap Pak Budi yang bersedih.


"Aska sudah menawarkan rumah di sini. Bapak mau nggak tinggal di sini? Cepat atau lambat Aska dan Maria tidak akan pulang ke Indonesia," ujar Bu Tanti.


"Kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Pak Budi yang masih bimbang dengan keputusannya.


"Kita di sana sudah dibuang oleh keluarga besar. Memang sedih sih hati ibu selama ini. Mereka ingin sekali melihat keluarga kita hancur. Tapi mau bagaimana lagi. Kita di sana sudah tidak ada tempat sama sekali," jawab Bu Tanti.


Sebelum pergi ke Paris, Bu Tanti dan Pak Budi sudah berkonflik sama keluarga besarnya. Mereka meminta Bu Tanti dan Pak Budi segera meninggalkan rumah tersebut. Rumah di mana saat itu Maria baru dilahirkan dan menjadi dewasa seperti ini.


Bulan lalu sebelum berangkat ke sini, ada adiknya pak Budi meminta rumah itu. Namun Pak Budi tidak memberikannya. Setelah itu adiknya Kembali pulang dan memanggil para preman untuk mengusirnya. Hingga akhirnya mereka terlempar di jalanan.

__ADS_1


Mendengar hal itu Aska berinisiatif untuk membangun rumah di kota Paris. Ia sudah meminta izin kepada Christina agar membuatkan rumah buat mereka. Christina dan Adrian pun setuju membuatkan rumah buat mereka. Namun Christina meminta satu syarat kepada besannya itu. Christina tidak mau mereka kembali ke Jakarta. Christina sudah berjanji akan mencarikan pekerjaan yang layak buat mereka. Namun hari ini Pak Budi dan bu Tanti belum tahu dengan keadaan sebenarnya.


"Apakah kita akan menjadi gelandangan seperti ini?" tanya Pak Budi.


"Jangan pernah berkata seperti itu Pak. Kita nggak boleh berbicara seperti itu. Cepat atau lambat kita akan mencapai kebahagiaan yang seutuhnya," jawab ibu Tanti.


"Di mana kita tinggal? Sementara kita sudah tidak memiliki uang sepeser pun?" tanya Pak Budi lagi.


"Nanti kalau ketemu Maria kita bisa bicarakan ini lebih lanjut lagi. Kenapa keluarga kita selalu sial? Padahal rumah itu kita membeli sendiri dari hasil keringat pas waktu mengajar. Semoga saja Maria memiliki solusi yang tepat," jawab Bu Tanti sambil berdoa agar mendapatkan solusi yang tepat.


Kembali lagi ke rumah utama Wicaksono.


Tempat pukul 02.00 siang, Maria membangunkan Aska dengan wajah sedih. Setelah mendengar suara Maria, Aska akhirnya bangun dan melihat wajah sang istri yang sedang sedih. Betapa kagetnya Aska saat ini. Ia cepat-cepat bangun dan memandang wajah Maria. Tiba-tiba saja Maria memeluk Aska sambil berkata, "Rumahku disita oleh bank."


"Bagaimana bisa rumahmu disita?" tanya Aska.


"Aku nggak tahu. Katanya bapak dan Ibu memiliki hutang ke pamanku," jawab Maria. "Selama ini mereka tidak memiliki hutang apapun. Rumah yang aku miliki adalah pemberian dari orang tuaku sendiri. Mereka bekerja sebagai tenaga pendidik di Jakarta. Entah kenapa aku merasa tidak rela jika rumah itu harus disita oleh bank," jawab Maria.


"Kebetulan sekali... Nanti malam akan ada peresmian ahli waris. Beberapa hari kemudian, Aku ingin mengunjungi Jakarta. Sekalian aku ingin mengurus surat dan keperluan perusahaan Aska Food. cepat atau lambat perusahaan itu akan masuk ke dalam cabang Wicaksono Group. Aku usahakan untuk menengok rumah itu dan mencari apa penyebabnya. Lebih baik kamu tenang saja enggak usah terlalu mikir dalam-dalam. Kasihan nanti anak-anakmu yang melihat ibunya bersedih," pinta Aska yang tidak ingin melihat sang istri menangis.

__ADS_1


"Kamu nggak mengajakku ke Jakarta?" tanya Maria.


"Kayaknya nggak usah terlebih dahulu ya. Sebab kandungan kamu masih sangat muda. Mending kamu di sini biar dijaga sama ibu. Aku takut kamu kenapa-napa," jawab Aska yang membuat keputusan agar Maria tidak kemana-mana.


"Padahal aku rindu sama Jakarta," ucap Maria.


"Tunggu kandungan kamu masuk ke trisemester kedua. Kita akan pergi ke Jakarta dan kamu boleh minta apa saja," jelas Aska.


"Oh ya aku hampir lupa. Beberapa bulan lagi akan ada reuni sekolah. Ya sudah kalau begitu Aku mengalah. Nanti aku akan mengingatkan kamu untuk pergi ke Jakarta untuk menghadiri reuni sekolah," celetuk Maria.


"Nah itu benar. Nggak perlu takut. Aku di sana hanya seminggu saja atau dua minggu bersama Romeo dan Max. Soalnya tadi pagi Ibu memintaku untuk mengurus surat-surat tersebut," tambah Aska.


Maria mengangkat wajahnya sambil melihat Aska. Aska tersenyum lalu berkata, "Seharusnya aku mengajakmu ke Jakarta. Berhubung aku ingat perkataan Dokter Gerald. Jadi aku urungkan niatku sementara. Kamu baik-baik saja ya di sini."


"Lalu bagaimana dengan Jamaludin?" tanya Maria yang masih ketakutan dengan kelakuan Jamaludin.


"Sebentar lagi Jamaludin tertangkap oleh Paman Frank dan ayah. Sudah banyak sekali kejahatan yang dilakukannya. Mereka sudah menetapkan pasal berlapis. Yah bisa saja Jamaludin dikenakan hukuman mati. Begitu juga dengan Julia. Meskipun bukan hukuman mati, Julia akan dipenjara seumur hidupnya. Jika Sekarang berusia tujuh puluh empat tahun. Maka sisa hidupnya akan dihabiskan di dalam sel. Berita menyebarnya kejahatan Julia di dunia sangat heboh sekali. Banyak para masyarakat yang meminta untuk tidak memaafkannya. Sore nanti nenek Stefani akan muncul di hadapan publik. Semoga saja dengan kemunculan nenek Stefani asli. Dunia mengetahui bagaimana kondisi keluarga kita. Kamu nggak perlu takut lagi tinggal di Paris. Karena keluarga ini sudah dilindungi oleh anggota Blue Dragon," jelas Aska yang membuat hati Maria tenang.


"Kalau begitu ya sudah. Jika kamu tinggalkan aku di sini. Hatiku terasa damai dan sejahtera. Aku harap perasaan damai itu akan selalu bersama. Tapi aku minta, cobalah kamu merayu bapak ibuku biar tinggal di sini. Aku tidak akan bolak-balik ke Jakarta bila tidak mendampingimu," pinta Maria.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku akan berusaha merayu mereka untuk menetap di sini. Aku sudah memberikan rumah pribadi buat mereka. Semoga saja mereka mau menerimanya," ungkap Aska.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau ada rumah pribadi buat kedua orang tuaku?" tanya Maria.


__ADS_2