
"ini benar-benar gawat buat kamu Mar. Rumahmu sudah ditempati oleh bibimu itu. Bahkan mata-mataku sudah mengambil rekaman. Yang di mana rekaman itu menunjukkan kalau bibimu itu sengaja melakukannya."
Ucap Romeo dengan serius.
Aska memutar sebuah audio di ponsel Romeo. Ia sangat terkejut sekali sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak akan tinggal diam untuk melakukan hal yang tidak diduga.
"Kalau begitu kita makan terlebih dahulu. Setelah itu kita meluncur ke sana."
Ajak Max yang membuat mereka menyetujuinya.
Makan siang kali ini membuat Maria tidak semangat. Terutama dirinya sedang mengingat masa kecilnya dahulu. Rumah itu adalah rumah yang sangat berharga bagi dirinya. Jujur, selama ini Maria tidak mau menjual rumah itu.
Melihat sang istri tidak semangat, Aska akhirnya menyuapi Maria. Aska tahu perasaan Maria saat ini. Namun ketika mendapatkan suapan dari Aska, Maria tetap saja memakannya. Melihat hal itu, Romeo dan Max tersenyum lucu.
Selesai makan, mereka mereka bersiap-siap untuk pergi ke rumah Maria. Di dalam perjalanan, Maria ingin menangis. Hal ini dikarenakan rumah itu jangan sampai jatuh ke tangan si bibinya itu.
Waktu yang mereka tempuh hanyalah setengah jam. Untung jalanan tidak terlalu macet. Romeo diam-diam menghubungi pihak aparat. Romeo juga tidak akan tinggal diam. Sebab masalah ini sudah berjalan semenjak dulu. Hingga akhirnya Romeo memilih untuk membuat strategi.
"Aku sudah menghubungi pihak aparat. Pihak aparat itu adalah temanku sendiri. Yang di mana dia akan membantu masalah ini."
Ucap Romeo yang membuat Aska menganggukkan kepalanya.
"Boleh kalau begitu. Ini sudah melanggar hukum. Bisa-bisanya orang itu sangat lancang sekali menempati rumah yang bukan miliknya. Ditambah lagi orang tersebut sengaja mengusir sang pemilik dari rumahnya."
Sahut Aska yang menahan emosinya.
"Kapan kita sampai di sana?"
Tanya Maria
"Sebentar lagi. Kita akan sampai di sana."
Jawab Max yang masih berkonsentrasi untuk mengemudikan mobil.
Meskipun begitu Maria sangat khawatir sekali. Semoga saja masalah ini cepat selesai. Maria bisa terbebas dari masalah di Jakarta.
"Apakah kamu akan memanggil pengacara?"
__ADS_1
Tanya Romeo.
"Kalau keadaannya parah kita memanggil pengacara. Kalau keadaannya tidak parah. Dan bibimu mau mundur alon-alon. Kenapa kita harus memanggil pengacara? Kita akan berdamai dan rumah itu menjadi milikku selamanya."
Jawab Aska yang membuat Romeo menganggukkan kepalanya.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Aska sudah sampai tujuan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh sang mata-mata tersebut. Sang Bibi yang bernama Ambar itu sudah masuk ke dalam rumah tersebut. Barang-barang milik Maria maupun Bu Tanti dan Pak Budi dilemparkan begitu saja. Aska yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa yang harus kita lakukan untuk saat ini?"
Tanya Maria yang sangat kecewa sekali pada bibinya itu.
"Terpaksa deh kita akan melakukan eksekusi di sini. Di mana dokumen-dokumen milik rumah ini?"
Tanya Aska yang menatap wajah Max.
"Ada di lemari Bang. Biasanya Ibu menaruhnya di tumpukan-tumpukan baju paling bawah."
Jawab Maria dengan serius.
"Max, coba kamu masuk dan ambil surat itu. Kalau orang itu marah biarkan saja. Ini adalah perintah yang tidak dapat dicegah!"
Setelah mendapatkan perintah, Max akhirnya masuk. Sementara itu Ambar langsung marah kepada Max. Katanya Max tidak sopan masuk ke dalam rumahnya.
Akan tetapi Max membawa dua orang bertubuh kekar. Yang di mana mereka akan melindungi Max. Ia tidak memperdulikan akan omelan dari bibinya Maria. Dengan santai Max masuk ke dalam kamar Bu Tanti.
Saat masuk ke dalam kamarnya Bu Tanti, kamar itu masih bersih. Dengan tenang Max langsung membuka lemari milik Bu Tanti. Di sana Max mencari dokumen-dokumen tersebut. Hingga dirinya menemukan dokumen itu. Tidak sengaja Ambar yang datang memaki Max. Kemudian Max mengatakan, kalau sang pemilik Rumah ini mengizinkan masuk ke dalam kamar.
Alhasil Ambar tidak terima. Mau tidak mau Ambar keluar dan melihat Maria. Dengan cepat Ambar mendekatinya dan mengangkat tangannya.
Aska yang melihat akan hal itu, langsung jadi penengah. Pria itu tidak gentar terhadap ancaman Ambar. Bahkan Ambar sendiri masih berani ingin menarik tubuh Maria.
Untung saja saat itu Maria dilindungi oleh Aska. Dengan cepat Aska memeluknya dan memberikan perlindungan melalui tangan kokohnya itu.
Ketika ingin menariknya, tangan Aska menahannya dengan kuat. Lalu Aska menatap tajam ke arah Ambar.
"Begitukah sikapmu terhadap keponakanmu sendiri?"
__ADS_1
Tanya Aska dengan suara dingin.
"Dia bukan keponakanku!"
Geram Ambar yang matanya sudah memerah karena dipenuhi amarah.
"Bu! Ibu ini apa-apaan sih. Ini rumah bukan milik ibu. Ini rumah miliknya Bu Tanti Mama mertuaku. Kenapa Ibu bisa mengklaim ini rumah ibu sendiri? Kalau Ibu tidak sanggup membeli rumah ya jangan kayak gini Bu. Ibu Tanti sama Pak Budi mencari uang itu dari hasil keringatnya sendiri. Aku sendiri adalah muridnya. Aku mengetahui bagaimana susahnya mereka mencari uang. Tapi aku patut mengacungkan jempol buat mereka."
Jelas Aska yang menahan emosinya.
"Dia dulu adalah merebut kebahagiaanku."
Ucap Ambar dengan nada menggeram.
"Kebahagiaan yang mana Bu? Sejauh ini Bu Tanti sama Pak Budi adalah seorang guru di SMP daerah Karawang sana. Mereka tidak pernah pulang ke sini sama sekali. Meskipun sudah tidak bersekolah, aku masih mengunjunginya. Mereka jarang ke Jakarta bila ada perlu. Tanah ini dan bangunan ini sengaja mereka beli dari uangnya. Bukan hasil dari keluarganya. Coba Ibu kalau berada di posisi Bu Tanti. Apakah ibu mau merasakan hal yang sama? Kalau Ibu masih keras kepala seperti ini. Aku bisa melaporkan masalah ini ke aparat. Bagaimana Bu coba pikirkan sekali lagi. Oh ya, aku menyuruh temanku untuk mengambil dokumen itu. Karena rumah ini akan menjadi milikku."
Jelas Aska yang membuat Ambar terkejut.
"Bagaimana bisa rumah ini dijual? Rumah ini adalah rumahku."
"Rumah ini adalah rumah saya bu. Sebentar lagi saya akan mengurusnya. Setelah menjadi rumah saya. Ibu tidak berhak untuk mendatanginya lagi. Jika Ibu sampai mendatanginya. Aku tidak segan-segan melaporkan masalah ini ke pihak aparat terkait. Apakah ibu mau masuk ke dalam jeruji besi selama lima tahun ke depan?"
Sontak saja Ambar terkejut dan mundur. Mendengar kata jeruji besi, Ambar menggelengkan kepalanya. Entah kenapa Ambar sangat membenci yang namanya jeruji besi.
"Oh ya satu fakta yang belum kita ketahui selama ini."
Ujar Romeo sambil membawa ponselnya itu.
"Apa itu?"
Tanya Aska.
"Ternyata Ambar pernah masuk ke dalam jeruji besi sebanyak tiga kali. Kasusnya yaitu mengambil barang di pusat perbelanjaan tanpa membayar.'
Jawab Romeo yang mengetahui kasus tersebut.
"Apakah itu benar?"
__ADS_1
Tanya Aska.