Ahli Waris Sesungguhnya

Ahli Waris Sesungguhnya
Membuang Dendam.


__ADS_3

"Kenapa kita tidak melakukan baby moon saja? Kita seharusnya melakukan baby moon. Kalau di Bali itu kita akan mengadakan bulan madu," jawab Maria.


"Itu terserah kamu. Aku hanya membuatmu bahagia saja. Kamu mintanya ke mana? Aku menurutimu."


"Judulnya adalah yang penting bahagia?" tanya Maria sambil memandang wajah Aska.


"Iyalah. Masa kita hidup di bumi ini selalu sedih terus. Janganlah kita menjadi manusia yang penuh dengan kesedihan. Berbahagialah Jika perlu. Tapi jangan terlalu over."


"Bahagia itu sederhana Abang."


"Memang bahagia Itu sederhana. Tapi apakah manusia itu bisa hidup bahagia? Menurutku nggak semuanya orang bisa bahagia. Contohnya saja Jamaludin dan Jono. Mereka sengaja menghancurkan kebahagiaan orang demi sebuah ambisi. Kalau diteliti hingga mendalam, mereka tidak bisa bahagia. Itulah kenapa mereka sangat iri pada keberhasilan Wicaksono. Makanya definisi bahagia itu cukup sulit jika kita mengartikan secara sepihak. Ketimbang membahas semua itu lebih baik membersihkan tubuh lalu jalan-jalan dan mencari sarapan. Setelah itu kita kembali ke hotel dan bersenang-senang hingga malam."


"Apakah kamu serius dengan rencanamu itu?"


"Ya... aku serius dengan ucapanmu. Aku harus membuatmu bahagia. Aku ingin membuat kamu tersenyum."


Maria langsung menatap wajah Aska dan terharu. Ia seakan terbang ke langit hingga ke tujuh. Ia lalu menyimpulkan kalau kebahagiaan itu sangat sederhana saja.


Di tempat lain Fabian yang sudah bangun merasakan matanya bengkak. Ia menangis semalaman bukan karena kecewa. Tapi hidupnya sangat terharu. Ia tidak bisa membayangkan kalau dirinya bisa berkumpul seperti ini.


Fabian langsung bangun dan keluar dari kamar. ia melihat Luke bersama Minah sedang berdiskusi tentang pernikahannya. Luke sengaja mempercepat pernikahannya karena tidak ingin Minah dicibir oleh keluarganya.


Sedari dulu Luke sudah mengetahui kalau Minah tidak nyaman dengan keluarga besarnya. Ada adalah sattu keluarga yang tidak menyukai Minah. Dia masih memiliki keuntungan darah meskipun jauh. Selain itu juga dia memang membuat Minah celaka. maka dari itu Luke sengaja mempercepat pernikahannya. Agar dirinya bisa melindungi Minah.


"Ayah lagi apa?" tanya Fabian yang tidak kaku memanggil Luke dengan sebutan ayah.


"Ayah lagi menyusun tamu undangan," jawab Luke yang sedang menyusun siapa saja yang datang.


"Oh... maksud ayah bagaimana?" tanya Fabian yang menghempaskan bokongnya di hadapan mereka.


"Kami akan menikah dalam waktu dekat ini. Sedari dulu kami tidak terikat dalam tali pernikahan. Kami ingin sekali mengikat hubungan ini ke lebih serius," jelas Minah yang membuat Fabian terkejut.


"Rasanya itu ide yang bagus," puji Fabian.


"Kamu benar. Apakah kamu memiliki seorang kekasih?" tanya Luke.


"Aku belum memikirkan hal yang serius dalam hubungan percintaan. Aku ingin sekali memilikinya. Namun apa daya diriku serius dalam menghadapi waktu jam terbang sebagai dokter gizi," jawab Fabian yang berkata dengan jujur.


"Kamu itu sama seperti Aska. Dahulu Aska tidak pernah memiliki seorang kekasih Tapi tahu-tahunya menikah dengan Maria," ucap Minah yang membuat Luke terkejut.


"Apakah kamu serius mengatakannya?" tanya Luke yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya ayah. Aska menikah karena menolong Maria. Tapi lama kelamaan Aska jatuh cinta sama Maria," jelas Fabian.

__ADS_1


"Untung saja ibu tidak datang dan membuat kekacauan," sahut Minah.


"Apa yang ibu katakan?" tanya Fabian yang mengerutkan keningnya.


"Dulu ibu memang ditugaskan untuk menghancurkan pernikahan Aska. Tapi ibu enggak mau. Ibu sadar diri kalau Aska tidak perlu diperlakukan seperti itu," jawab Minah. "Semuanya itu rencana Benjamin, Julia dan Jamaludin."


"Aku tahu itu. Tapi aku saat itu tidak datang. Aku hanya mengirimkan sebuah kado yang berkesan," sahut Luke.


"Apa itu?' tanya Minah.


"Mobil yang dipakai sehari-hari. Katanya itu kado yang paling mahal ketika di antara kado lainnya" jawab Luke.


"Aska sedari dulu memang suka merendah. Dia bingung mendapatkan kado yang mahal. Aska adalah anak baik. Dia tidak pernah membuat masalah ketika berada di sekolah. Dia selalu membuat bangga kepada orang lain. Apakah ibu tahu kalau Aska adalah anak yang memiliki kecerdasan di atas rata?" tanya Fabian.


"Ibu sudah mengetahuinya. Bahkan ibu sendiri sering sekali melihat nilai-nilainya sangat bagus. Ibu percaya kalau kecerdasannya itu dari Tuan Adrian dan Kak Christina," jelas Minah.


Fabian menganggukan kepalanya. Memang apa yang dikatakan oleh ibunya itu benar. Gen yang dimiliki oleh Aska memang gen super.


"Fabian," panggil Luke.


"Ada apa ayah?" tanya Fabian,


"Rencana kamu apa setelah ini apa?" tanya Luke.


"Rencana aku setelah ini antara Jakarta dan Paris," jawab Fabian yang ragu atas keputusannya itu.


"Paman Frank ingin mengangkatmu sebagai ahli gizi dan upah yang sangat menggiurkan sekali. Tapi disisi lain, aku masih terikat dengan kontrak dengan Aska Food," jawab Fabian yang tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak.


"Mending kamu tidak usah melepaskan Aska Food. Kamu bolak-balik ke Paris dan ke Jakarta. Apakah kamu ingin lepas dari keluarga yang telah merawatmu itu?" tanya Minah yang tidak mengizinkan Fabian lepas dari keluarga yang telah merawatnya itu.


"Maksud ibu bagaimana?" tanya Fabian.


"Ibu menyarankan kamu jangan melepaskan Aska Food. Jika kamu melepaskan Aska Food berarti kamu melepaskan keluarga yang merawatmu. Bukankah Aska Food akan membangun perusahaannya di sini?" tanya Minah.


"Aku kurang tahu sih Bu. nanti aku tanyakan kepada Aska," jawab Fabian yang belum mengetahui kabar selanjutnya.


"kalau ada waktu kita akan pergi ke Jakarta. Kami ingin sekali menemui keluargamu itu. Ibu ingin berterima kasih kepada mereka yang telah merawatmu," ucap Minah dengan tulus.


"Baiklah. Rencananya Aska akan kesana. Aska ingin mengurusi perusahaan Aska Food," ujar Fabian. "Sekalian Aska akan pergi ke kebun. Aku belum bisa kesana dan diminta oleh Paman Frank untuk mengetes seluruh makanan yang berada di hotel dan perusahaanya itu."


"Tidak apa-apa. Lebih baik aku akan membicarakan semua ini kepada Aska. lagian juga ayah tidak mengenal daerah sana. Berhubung Aska ke Indonesia, kami akan kesana," jawab Luke.


"Okelah kalau begitu," balas Fabian yang tersenyum manis.

__ADS_1


"Kalau kamu butuh kopi ada di dapur. Ibu sudah menyiapkan segalanya buat kamu, Aska dan ayah," ucap Minah.


"Bukannya rumah kita berdekatan dengan keluarga Wicaksono?" tanya Fabian.


"Itu benar. Biarkanlah mereka kesini dan membuat kopi sendiri," celetuk Minah.


"Ibu ini ada-ada saja. Kok bisa Aska kesini hanya menumpang minum kopi langsung kabur," sahut Fabian yang paham sifat Aska yang itu.


"Ya... biarkan saja. Ibu sudah mengangkatnya menjadi anak," sahut Minah yang tersenyum manis. "Semuanya sudah tidak ada dendam sama sekali kepada kita."


Fabian tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Minah. Fabian mengucap rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ia tidak bisa membayangkan memiliki saudara angkat yang tengil seperti Aska. Cepat atau lambat jiwa tengilnya hadir seketika.


Sudah tiga hari lebih Aska belum juga kembali ke rumah. Kedua orang tuanya menggelengkan kepalanya. Mereka berharap Aska tidak menyiksa Maria sama sekali. Menyiksa disini buka arti sesungguhnya. Maksudnya adalah Aska tidak akan berolahraga ranjang sepanjang waktu.


Pagi itu juga Aska memutuskan untuk pulang ke rumah. Selain itu juga Maria sudah melakukan beberapa pemeriksaan. Kandungan Maria sehat dan bisa dinyatakan bepergian jauh.


Sesampainya di rumah, Aska disambut oleh Adrian. Pria paruh baya itu langsung menodong anaknya ke ruangan kerjanya. mau tidak mau Aska harus ikut dengannya.


"Ada apa ayah?' tanya Aska.


"Paman Luke meminta ikut dengan kamu bersama ibumu itu," jawab Aska yang membuat Aska mengerutkan keningnya.


"Memangnya mereka mau ngapain?" tanya Aska balik.


"Mereka ingin sekali bertemu dengan keluarga yang telah merawat Fabian. Mereka akan mengucapkan terima kasih dan memberikan hadiah,' jawab Adrian.


"Oh... aku tahu itu. Mereka adalah keluarga yang sangat baik sekali. Tidak apa-apa. Aku juga tidak ingin mereka keluar uang demi membeli tiket," ucap Aska yang menyetujui permintaan Luke.


"Kapan kamu berangkat?' tanya Adrian.


"Kami akan berangkat besok pagi. Kami ingin sekali melakukan perjalanan pagi," jawab Aska.


"Apakah kamu yakin dengan rencanamu itu? Ingatlah... kalau istrimu itu sedang mengalami morning sick kepanjangan. Bisa dikatakan dirinya belum normal," jelas Adrian yang memperingatkan Aska tentang kesehatan Maria.


"Kok ayah tahu tentang seputar kehamilan?" tanya Aska yang mulai curiga.


"Tahu. Bahkan ayah masih mengingat saat ibumu mengandung kamu. Ayahlah orang pertama yang belajar tentang ilmu kehamilan," jawab Adrian dengan jujur.


"Aku sepertinya aku harus belajar lebih lanjut," ucap Aska yang kalah pengetahuan dari Adrian.


"Saran ayah... lebih baik kamu belajar sedikit demi sedikit. bukankah hidup itu harus belajar? Jika kamu mengetahui semuanya, maka kami akan mendapatkan ilmu lebih," jelas Adrian.


Aska yang mengatakan wejangan dari Adrian sangat bahagia sekali. Ia baru sadar kalau sang ayah sering memperingatkan tentang apa artinya belajar. Aska berharap akan selalu belajar demi menambah ilmu pengetahuan.

__ADS_1


"Aku pamit," pamit Aska.


"Kamu mau kemana?" tanya Adrian.


__ADS_2